
Senin adalah hari yang mungkin kurang disenangi oleh anak sekolah. Karena harus melakukan upacara dibawah terik matahari, belum lagi jika amanatnya panjang sepanjang gerbong kereta api.
Berbeda dengan Asha, ia merasa senang karena hari ini neneknya serta Weida dan Adelard pulang.
Asha sekarang sedang menyiapkan sarapan untuknya dan Aksel. Tak berapa lama Aksel turun kebawah dan langsung memakan sarapannya itu. Suasana dimeja makan hening, hanya ada dentingan sendok dan piring.
"Sel hari ini mama, papa, sama nenek pulang jam berapa?" Tanya Asha memecah keheningan.
"Gak tau sore kali," Jawab Aksel dingin. Aksel melirik ke wajah Asha sejenak. "Sha gue mau lo bikinin nasi goreng buat bekal sekolah."
"Kamu beneran mau bawa bekal ke sekolah?" Tanya Asha bingung.
"Benerlah! Emang kenapa gak boleh?" Ketus Aksel.
"Y-ya gak gitu maksudnya. Yaudah besok aku buatin."
"Gak mau, maunya sekarang!"
Asha menghembus nafas panjang, "Nanti kalau terlambat gimana Sel? Besok aja ya?"
"Gue maunya sekarang cupu. Udah sana lo buatin dulu. Cepet. Yang enak pokoknya!" tukas Aksel.
Seperti biasa Asha hanya bisa menuruti perintah Aksel. Karena percuma Asha membantah jika pada akhirnya Aksel yang menang.
Asha segera mengeluarkan bahan-bahan dan langsung membuat nasi goreng. Tak berapa lama kemudian nasi gorengnya sudah jadi. Asha lalu memasukkannya ke dalam tepak dan langsung memberikannya kepada Aksel.
Tanpa berlama-lama lagi mereka berdua lalu berangkat ke sekolah.
Sesampai disekolah untung saja belum terlambat tetapi sudah banyak murid yang berangkat. Membuat Asha bingung bagaimana cara supaya ia tidak ketahuan jika ia berangkat bareng Aksel. Dilain sisi Aksel dengan pd nya malah langsung keluar mobil dan membukakan pintu Asha.
Asha yang diperlakukan seperti itu hanya diam seperti batu sambil membelalakkan matanya.
"Udah, cepet keluar! Atau mau gue gendong." Ujar Aksel. Asha yang mendengar itu langsung keluar dan berlari meninggalkan Aksel.
Murid lain yang menyaksikan Aksel berangkat dengan seorang perempuan hanya diam sambil mengucek-ngucek matanya, memastikan apakah itu Aksel atau bukan.
__ADS_1
"Lah itu bener Aksel?"
"Mimpi apa gue semalem, liat Aksel berangkat sama cewe."
"Mata gue kayanya rabun deh, perlu ke dokter mata ni gue."
"Beruntung banget tuh cewe."
"Ini kalau Cherry lihat bisa mati tu cewe."
Begitulah respon dari mereka. The girls yang baru saja memarkirkan mobil mereka juga menyaksikan kejadian tadi. Terlihat wajah Cherry yang memanas.
"Gue kemarin udah peringatin lo cupu, tapi lo malah ngelanggar. Lihat aja apa yang akan gue lakuin ke lo." Gumam Cherry sambil senyum smirik.
Sementara itu
Asha berlari meninggalkan Aksel dan terpaut jarak agak jauh darinya. Saat ia berbelok di koridor ia menabrak Varo. Asha hampir saja terjatuh tapi untung saja Varo dengan sigap menangkapnya. Mata mereka sempat saling menatap satu sama lain hingga akhirnya mereka tersadar lalu saling membuang arah pandangan.
Aksel yang sempat melihat kejadian itu langsung menarik ujung tas Asha dan langsung menyeretnya kekelas. Asha terlihat kewalahan mengikuti langkah Aksel hingga akhirnya mereka sampai di kelas 11 IPA-2. Aksel langsung melepaskan genggaman dan menyuruh Asha duduk.
Asha hanya diam melihat punggung Aksel yang semakin jauh, sambil memikirkan kenapa akhir-akhir ini tingkah laku Aksel agak aneh.
Skip Istirahat
"Kekantin sekarang yok! Nanti gak kebagian tempat duduk," ajak Varo.
"Ehh iya ayo," jawab Asha.
"Kita gak bakal kehabisan tempat duduk. Kan sekarang kita biasanya duduk sama 3F." Dira menjeda ucapannya sejenak lalu menghadap ke Asha. "Dan lo Sha, tadi kan Aksel bilang kalau kamu kekantin suruh tungguin dia. Nanti kalau lo kekantin duluan bisa marah-marah dia. Lo tahu kan kalau Aksel marah udah kaya singa yang nggak dikasih makan setahun." Ujar Dira sambil terkekeh.
"Ehem .... " Suara dehaman Aksel, Dira yang mendengangarnya langsung menghadap kebelakang dengan wajah kikuk.
"Siapa yang lo bilang kaya singa nggak dikasih makan setahun?" Ketus Aksel.
Dira menelan salivanya kasar, "Enggak Sel, itu kemarin aku lihat berita singa nggak dikasih makan satu tahun terus mati. I-iya gitu. He ... He .... " Jawab Dira gagap.
__ADS_1
"Dih kayanya bukan gitu deh Dir. Lo tadi bilang kalau Aksel marah kaya singa nggak dikasih makan setahun." Ujar Varo sambil terkekeh.
"Ck ... Bac*t beut lo dah Var!"
"Udah-udah ayo kekantin. Cacing-cacing dalem perut gue udah pada demo nih." Ujar Gavin sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Perut karet lo Vin. Dalem kelas aja perasaan lo makan terus dah." Jawab Verrel.
"Jangan gitu Rel, malu ni gua."
"Masih punya malu lo?"
"Halah banyak b*cot lo. Udah ayo sayang cus ke kantin." Ujar Gavin langsung menarik tangan Dira.
Verrel langsung menjitak kepala Gavin dan langsung menepis tangan Gavin di tangan kekasihnya. "Sayang sayang pala lo peyang. Lama-lama gue bunuh baru tau rasa lo."
"Anj*r! Sakit woy Rel. Gue kan cuma berjanda."
"BERCANDA." Jawab Asha, Aksel, Varo, Dira dan Verrel kompak.
Gavin memonyongkan bibirnya kedepan seperti seorang wanita yang sedang ngambek kalau sedang dicueki pacarnya.
"Ngapain mulut lo digituin Vin?" ujar Varo.
"Tau dah, jijik banget gua." Tambah Dira.
"Tu mulut udah monyong gak usah dimonyong-monyongin." Ejek Verrel.
"Apa yang kalian lakukan kepadaku itu JAH-HAD. Dah lah males pengen beli lamborgini. Gue sama Asha aja dah." Ujar Gavin lalu merangkul pundak Asha.
Hal tersebut sontak membuat Gavin mendapat tatapan tajam dari Varo dan Aksel. Karena itu Gavin lalu melepas rangkulannya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Udah-udah kalau mau berantem nanti aja. Sekarang makan dulu, kalau udah habis makan terserah lo semua dah mau ngapain. Udah laper banget gua, tadi pelajaran fisika bikin laper banget masa." Ujar Verrel.
"Yaudah kuyy, gas kantin." Jawab Dira dan mendapat anggukan dari mereka. Mereka berenam lalu berjalan menuju kantin bersama
__ADS_1