
Menjelang sore Alice baru kembali dari rumah sakit untuk melihat keadaan Afifah. Alice marasa kasihan dengan keadaan Afifah. Afifah bercerita padanya tentang saudara kembarnya yang ada di pesantren atas permintaannya untuk menggantikan dirinya untuk sementara waktu sampai dirinya sedikit membaik. Afifah tidak ingin siapapun tahu tentang penyakitnya termasuk orang tuanya. Afifah hanya memberi tahukannya pada saudara kembarnya Alifah. Mereka berdua saling menyayangi sebagai saudara meskipun jalan yang diambil berbeda. Alifah juga ingin saudara kembarnya itu berubah menjadi lebih baik dengan berada dipesantren selama menggantikan dirinya. Dia terinspirasi dengan Alice dan teman-temannya.
Setibanya Alice dipesantren, dirinya langsung dihadang oleh dua sahabatnya yakni Manda dan Sisky.
Kalau kalian mu marah-marah dan membenci gue, gue gak peduli. Alice langsung masuk kedalam kamar mandi.
Sisky dan Manda masih stay ditempatnya untuk menunggi Alice selesai dari kamar mandi.
Lice lo dipanggil sama bu nyai. Manda memberi tahukan pada Alice yang hanya dibalas deheman dan berlalu menemui bu nyai.
Manda jadi sedih melihatnya. Persahabatannya jadi renggang seperti ini. Entah siapa yang salah dan benar, yang pasti sebagai sahabat seharusnya dirinya berada disamping Alice. Sis, gue kasihan sama Alice dan merasa bersalah. Seharusnya kita berada disampingnya saat-saat seperti ini. Entah siapa yang salah dan siapa yang benar gue gak peduli.
Siski yang mendengar penuturan Manda pun hatinya merasa sedih. Iya Man. Gue juga merasa salah apalagi habis adu bacot sama Alice. Yuk kita susulin ke rumah bu nyai. Lanjutnya. Kemudian mereka berdua menyusul Alice.
Setelah sampai dirumah bu nyai, Alice dipersilahkan duduk. Pak kiai, bu nyai, ustadz Fauzan dan Afifah alias Alifah sudah menunggunya.
__ADS_1
Dengan senyum bersahaja, pak kiai menanyakan kabar Alice untuk memulai obrolan. Alice menjawabnya dengan sopan. Pak kiai duduk di single sova, bu nyai dan ustadz Fauzan duduk disebelah kanan sova, Afifah dan Alice duduk disebelah kiri sova.
Pandangan Fauzan tidak lepas dari Alice. Kali ini dia tidak bisa berbuat banya untuk membelanya apalagi didepan orang lain yakni Afifah. Dirinya tidak ingin orang lain curiga kepada dirinya dan Alice.
Nak Alice, bapak tanya sebenarnya apa yang terjadi? Pak kiai memulai pertanyaan
Belum sempat menjawab, Datanglah Najwa dan Zara untuk menyajikan minum. Saat Najwa menaruh minum didekat Alice dan Afifah, Alice membisikkan kata maaf kepada Najwa dan hal selanjutnya adalah byuurr Alice menyenggol tangan Nazwa sehingga minuman itu tumpah ditangannya.
Najwa lo apa-apaan sih! Alice memarahi Najwa. Sedangkan Nazwa masih belum memahami dan kebingungan untuk menjawabnya.
Hal selanjutnya adalah tindakan Alice yang tidak terduga dan menciptakan keributan dan kekesalan. Harus nya lo tumpahin ke dia. Alice menunjuk Afifah lalu menyiram tangan Afifah. Alifahpun memulai dramanya.
Astaghfirullah Alice! Apa yang kamu lakukan?! Bunyai marah kepada Alice atas tindakan yang barusan Alice lakukan.
Fauzan menenagkan umi nya. Sabar umi, istighfar jangan marah sama Alice.
__ADS_1
Bu nyai menarik nafas dan beristighfar. Bagaimana umi tidak marah sama Alice, perbuatan Alice itu sudah keterlaluan apalagi dia melakukannya didepan kita dan didepan abi mu. Dimana rasa malu dan hormatnya? Kemudian bunyai menghampiri Alifah yang nenangis. Kamu tidak papa nak? Alifah menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
Alice, kenapa? Fauzan menatapnya dengan dalam untuk mecari kebenaran didalam mata Alice. Namun Alice melengos dan menghindari tatapan Fauzan.
Pak kiai menarik Nafas kemudian berkata. Nak Alice, bapak tidak tau kejadian sebenarnya seperti apa, tapi bapak mendengar bahwa kamu sudah berusaha mencelakai Afifah dengan mendorongnya didanau. Kenapa kamu melakukan itu nak? Kalau ada sesuatu ya monggo diomongin baik-baik, tidak perlu sampai seperti itu. Bapak dan para ustadz dan ustadzah tidak pernah mengajarkan perilaku tidak baik seperti itu. Dan barusan kamu menyiram Afifah dengan air panas. Bapak harap kamu menyadari kesalahan kamu dan meminta maaf pada Afifah.
Dengan tidak ada sopan santun Alice menjawab. Apa yang pak kiai dengar mungkin adalah benar. Tapi saya eggak akan minta maaf.
Dengan penuh sabar bunyai mencoba bertanya dengan halus. Alice kamu kenapa berubah lagi seperti dulu nak? Ibu senang kamu sudah banyak berubah menjadi lebih baik akhir-akhir ini. Tapi kenapa kamu seperti ini lagi? Kalau ada masalah kamu bisa cerita sama ibu. Tidak harus berlaku buruk seperti kemarin dan beberapa saat lalu.
Saya tidak pernah berubah bu, saya memang seperti ini. Saya sudah muak dengan semua ini dan berpura-pura berubah menjadi lebih baik agar bida cepat-cepat cabut dari pesantren ini. Jawaban Alice membuat semua yang mendengarnya merasa geram.
Fauzan yang mendengarnya merasa sakit atas apa yang diucapkan Alice. Jadi selama ini dirinya mencintai Alice sendirian dan perjuangannya sia-sia.
Dibalik wajah sembabnya, Alifah menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Manda dan Sisky yang mengintip diluar tidak habis pikir dengan apa yang barusan mereka saksikan. Mereka sangat mengenal Alice dan mereka tau bahwa Alice menyimpan sesuatu.
jangan lupa di like komen and vote😍