
Alice sedang duduk di cafe untuk menunggu Sisky dan Manda. Dirinya sangat kesal kepada dua sahabatnya itu. Sepertinya mereka memang sengaja memasukkan dirinya diperusahaan milik Fauzan. Pantesan mereka berdua terutama Sisky menyuruh dirinya untuk tetap menunduk sebelum tanda tangan kontrak kalau tidak mau salto didepan direktur. Bukan salto yang terjadi malah setruk dan serangan jantung mendadak Dan bodohnya dirinya malah menuruti intruksi Sisky yang sangat menyebalkan. Dirinya tidak bisa mundur begitu saja karena sudah terlanjur menanda tangani kontrak.
Widiihh kenapa tuh muka ditekuk. Manda dan Sisky duduk menghampiri Alice.
Kalian berdua sengajakan masukin gue ke perusahaan ini supaya bisa ketemu sama Fauzan? Alice kesal kenapa mereka melakukan itu.
Gak maksud apa-apa Lice. Gue pengen kita bertiga tuh bekerja ditempat yang sama. Inikan mimpi kita pas waktu esema, masih inget gak lo? Terang manda diangguki oleh Sisky.
Alice memijit kepalanya. Iya gue inget. Tapi kenapa harus diperusahaan ini. Sisky menghela nafas. Kan gue sama manda udah kerja disini, kan tinggal narik lo aja suruh kerja disini.
Hmmm bener. Manda menimpali sambil minum kopi yang dipesan Alice sehingga membuat yang punya melotot. Lagian emangnya kenapa kalau diperusahaan ini?
Alice merasa geregetan. Masalahnya perusahaan ini milik Fauzan.
Masih dengan sabar Manda dan Sisky menjelaskan. Iya perusahaan ini milik ustadz Fauzan. Emangnya kenapa sih? Harusnya kita senang dong kita bekerja pada perusahaan ini yang notabennya milik guru kita. Sisky memicingkan matanya. Benar. Lo kenapa deh kayak kebakaran jenggot gitu. Lo takut sama perasaan lo sendiri yang masih belum move on dari ustadz Fauzan?
Alice gelagapan sekaligus kesal. Enggak gitu guys. Bodo ah terserah kalian aja.
Ya emang harusnya gitu. Manda dan Sisky tertawa.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Alice berangkat ke kantor. Dirinya tidak mau telat dihari pertama bekerja. Sayang sarapan dulu. Teriak ibunya.
Iya mah, Alice hanya memakan sepotong sandwich dan meminum segelas susunya dan langsung berpamitan pada keluarganya. Papa dan abangnya hanya bisa bengong melihat tingkah Alice yang tidak ada anggun-anggunyya sedangkan ibunya berkacak pinggang. Kemudian senyum misterius tersungging dibir mereka.
Alice sampai dikantor yang kebetulan berbarengan dengan Fauzan. Alice menyapanya sebagai bentuk hormat kepada bosnya yang dibalas anggukan oleh Fauzan yang membuat Alice kesal kemudian dirinya langsung pergi ke lif tapi didepan lif banyak orang sehingga membuatnya menunggu. Beberapa menit kemudian barulah sampai diruangannya yang letaknya berada disamping ruangan Fauzan. Telpon berdering menghentikan kegiatan Alice yang sedang menghidupkan komputer. Suara diseberang sana langsung terdengar dengan begitu datar yang menyuruhnya untuk keruangan bosnya. Alice langsung bergegas. Ternyata didalam ada seorang laki-laki yang sedang menyusun laporan dan membacakan agendanya.
Gibran perkenalkan dia Alice sekertaris kedua yang akan membantu kamu dalam menyusun laporan dan menghendel kegiatan saya. Saya harap kalian bisa bekerja sama dan profesional. Dengan tersenyum lebar Gibran menjawab. Siap pak. Kemudian Gibran berkenalan dengan Alice dengan sok gantengnya. Membuat Fauzan memelototkan matanya. Sadar dirinya sedang dipelototi bosnya segera duduk kemudian Alice pun duduk dan menerima arahan dari Gibran sebagai senior. Sesekali Fauzan melirik Alice yang sedang serius. Kemudian ada suara ketukan dari luar yang membuat kegiatan mereka berhenti. Fauzan menyuruhnya masuk.
Deg. Alice terpaku.
Seorang wanita cantik berhijab berdiri ditangannya membawa makanan. Wah ternyata rame. Ini dari ibu, kamu belum sempat sarapan. Fauzan tersenyum tipis dan mengucapkan terimakasih. Kemudian atensi perempuan itu teralihkan kepada seorang gadis yang sedang terdiam menatapnya.
Alice.. Wanita berhijab itu memeluk Alice yang membuat Alice kaget. Pelukannya erat sekali sehingga membuat Alice tidak bisa bernafas. Aduuh gue gak bisa nafas.
Dengan tersenyum Alice menjawab. Kabar gue baik. Gue baru balik dari Amerika dan gue bekerja disini. Kemudian mata wanita itu berbinar. Wah kamu bekerja disini bareng Fauzan. Alice mengangguk.
Alice giliran menanyakan kabar wanita itu. Kamu apa kabar Afifah? Yah wanita itu adalah Afifah.
Dengan senang Afifah menjawa. Alhamdillah aku baik, kamu tau gak? Aku juga udah sembuh dari penyakit aku. Dan aku udah menikah dan punya anak. Kapan kamu menyusul aku. Jangan sampai membuat seseorang jadi bujangan tua hehe. Matanya mengerling menatap Fauzan. Perkataan Afifah membuat hati Alice senang dan sakit secara bersamaan. Dirinya senang karena Afifah sudah sembuh dari penyakitnya dan bisa hidup dengan bahagia. Tapi hatinya sakit sekali saat sadar bahwa sumber kebahagiaan Afifah adalah Fauzan dan mereka sudah mempunya anak. Sekuat tenaga Alice menahan air matanya dan menutupinya dengan senyuman. Iya nanti aku juga nyusul kamu.
__ADS_1
Ehem.. Fauzan deheman menghentikan kegiatan mereka berdua. Sudah sana pulang nanti Aira nangis nyari ibunya.
Alice, nanti kamu main yah ke pesantren. Aku pulang dulu assalamualaikum.
Setelah kepergian Afifah, Alice meminta ijin sebentar untuk ke toilet. Dirinya menumpahkan air matanya. Hatinya terasa sesak. Setelah cukup lama, dirinya membasuh wajahnya dan memberi sedikit bedak agar tidak terlihat habis menangis. Saat kembali diruangan Fauzan, Gibran sudah tidak ada hanya ada Fauzan dan dirinya saja. Alice marasa canggung. Kemudian Alice pamit untuk kembali ke ruangan sebelah. Suara Fauzan menghentikannya. Mau pergi kemana? Alice menoleh yang sudah berada diambang pintu. Mau keruangan saya pak.
Tetap disini jangan pergi lagi. Alice menatap Fauzan dan Fauzan pun sedang menatapnya. Perkataan Fauzan begitu ambigu. Alice menundukan kepalanya tidak kuat ditatap oleh Fauzan. Saya gak kemana-mana kok pak.
Tapi nyatanya kamu pergi meninggalkan saya. Suara Fauzan begitu dingin. Alice mengangkat kepalanya menatap Fauzan yang masih menatap dirinya. Ada kecewa, sedih dan rindu yang terlihat jelas dimatanya. Alice ingin menangis.
Tiba-tiba Fauzan bertanya lagi. Apakah kamu sudah bahagia sekarang? Alice menarik nafasnya yang sesak. Iya gue bahagia melihat hidup lo udah bahagia bersama istri dan anak lo. Jangan ditanya lo pasti udah bahagiakan?. Alice tertawa getir.
Saya belum bahagia. Alice terperangah mendengarnya. Maksud lo apa? Jangan mempermainkan perasaan seseorang apalagi seseorang itu sudah memberikan lo kebahagiaan yang sempurna.
Emosi Fauzan terpancing. Nyatanya siapa yang mempermainkan perasaan seseorang?
Dengan suara parau Alice menjawab. Maaf. Hanya kata itu yang bisa Alice ucapkan atas masa lalu mereka. Tapi lo gak boleh mempermainkan perasaan istri lo. Lo harus mencintainya dengan sepenuh hati.
Akan saya lakukan. Saya akan mencintai istri dan anak-anak saya. Akan saya jaga apa yang sudah menjadi milik saya. Tidak akan pernah saya lepaskan untuk pergi lagi. Perkataan Fauzan membuat hatinya sakit ada rasa tidak rela. Kemudian Alice pergi begitu saja dari ruangan itu. Hatinya benar-benar tak terselamatkan lagi.
__ADS_1
Fauzan menarik nafasnya. Dirinya sudah berjanji. Kali ini tidak akan pernah membiarkan Alice pergi lagi. Sudah 5 tahun dirinya menunggu dan sudah waktunya Fauzan mempersiapkan sesuatu untuk mengakhiri semua penantiannya.
jangan lupa di like komen and vote 😍