
Alice menangis sejadi-jadinya. Perasaannya sesak sekali. Hatinya sangat sakit. Tiba-tiba Manda dan Sisky memeluknya dengan erat dan ikut menangis. Mereka tidak benar-benar pergi jauh saat Alice dan Fauzan berbicara. Mereka mendengar semuanya.
Alice memukuli dadanya yang terasa sesak, tangisnya pecah. Gue udah melepas dia, gue udah berhasil dalam tahap ini, berhasil membuat dia membenci gue. Kenapa rasanya sesakit ini.
Lo gak sendirian, ada kita disini. Sisky dan Manda terus memeluk Alice sampai merasa tenang. Sisky memberikan air kepada Alice. Ini diminum dulu biar agak plong. Kita berdua siap dengerin lo kalau lo mau cerita.
Alice menarik nafasnya, akhirnya dia menceritakan semuanya kepada Manda dan Sisky. Manda dan Sisky begitu tercengang mendengarnya merasa kasihan dengan keadaan Afifah yang sebenarnya dan merasa kesal dan marah kepada perbuatan Alifah. Gue udah menceritakan semuanya. Satu permintaan gue, jangan memberi tahu siapapun termasuk ustadz Fauzan. Gue mau ustadz Fauzan menikah dengan Afifah. Dia berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari gue. Alice kembali meneteskan air matanya.
Pagi pagi sekali Fauzan berpamitan sepada abi dan umminya karena ada urusan kantor yang tidak bisa diwakilkan. Abi, umi, saya berangkat ke kantor dulu. Masalah tadi malam, tolong diselesaikan dengan damai dan bijak abi. Matanya menunjukkan rasa sakit dan harapan kepada kedua orang tuanya. Kemudian Fauzan pergi ke kantor karena jaraknya jauh sekitar 2 jam.
Abi, anak kita itu.. Umi merasa sedih saat melihat mata anaknya penuh dengan kesedihan dan harapan.
Alice Manda dan Sisky berada di rumah pak kiai. Apa yang ingin kamu jelaskan tentang tadi malam nak? Pak kiai memandang Alice.
Alice menarik nafasnya. Saya tidak akan menjelaskan apapun pak kiai, apa yang pak kiai lihat itulah yang terjadi dan saya akan menerima konsekuensi apapun.
Kemudian pak kiai beralih kepada Manda dan Sisky. Ada yang ingin kalian jelaskan kepada bapak?
Tidak ada pak kiai. Jawab mereka berdua yang menundukkan kepala.
__ADS_1
Pak kiai menghela nafas. Bapak akan bertanya kepada kalian. Apakah kalian akan berubah menjadi lebih baik lagi kedepannya? Mereka bertiga menganggukkan kepalanya. Pak kiai tersenyum. Bapak akan memaafkan kalian tapi tetap harus menerima konsekuensi sebagai hukuman.
Pak kiai, kesalahan yang saya lakukan sangat banyak dan begitu besar. Saya sudah mencoreng nama besar pesantren ini, saya sudah mengecewakan pak kiai, saya juga sudah mencelakai calon menantu pak kiai. Jadi saya memutuskan untuk keluar dari pesantren ini. Perkataan Alice membuat semuanya terkejut.
Manda langsung memegang lengan Alice. Lice, apa maksud lo? Lo mau ninggalin gue sama Sisky? . Gak lucu tau Lice. Sambung Sisky.
Alice memegang tangan kedua sahabatnya. Lo berdua tetap disini. Berubah menjadi lebih baik. Gue merasa udah gak pantes berada di pesantren ini.
Sisky melepas genggaman tangannya. Gak Lice, pak kiai kan udah memaafkan kita dan memberi kesempatan.
Alice menggelengkan kepalanya. Ini keputusan gue, gue harap kalian menghargai keputusan gue dan gue yakin kalian mengerti tentang ini. Keputusannya untuk keluar dari pesantren ini sudah baik. Dan dirinya tidak sanggup harus melihat pernikahan Fauzan dan Afifah. Kemudian Alice menatap pak kiai. Pak kiai, saya harap bapak menghargai keputusan saya ini.
Saat mereka hendak kembali, tiba-tiba bu nyai memanggil Alice.
Alice..! Saya ingin bicara sebentar dengan kamu. Kemudian Alice mengangguk dan menyuruh teman-temannya kembali lebih dulu.
Tiba-tiba bu nyai memeluk Alice. Alice terkejut. Bunyai melepaskan pelukannya dan memegang tangan Alice. Ibu tau kamu sebenarnya anak yang baik. Keputusan kamu untuk pergi dari pesantren ini akan menyakiti perasaan seseorang. Awalnya aku memang kurang menyukaimu tapi anakku mencintaimu. Aku ibunya, aku tau seserius apa perasaannya kepadamu nak. Bagaimana dengan perasaanmu? Apakah kamu tidak mencintai anakku?
Sekuat tenaga Alice menahan tangisnya. Bu perasaan saya tidaklah penting. Saya bukan wanita baik-baik, saya tidak pantas untuk ustadz Fauzan. Dia berhak mendapatkan wanita yang baik seperti Afifah. Saya berharap ustadz Fauzan akan bahagia menikah dengan Afifah. Disini saya merasa sebagai orang ketiga ditengah perjodohan ustadz Fauzan dengan Afifah dan tentu saja saya harus pergi. Ada seorang wanita yang lebih pantas bahagia bersama ustadz Fauzan dan saya tidak mau membuat ustadz Fauzan melawan orang tuanya. Maafkan saya jika banyak salah sama ibu. Saya pamit. Assalamualaikum.
__ADS_1
Alice sedang bersiap-siap dan memasukkan barang-barangnya kedalam tas. Lice lo beneran mau pergi hari ini juga?. Manda dan Sisky membantu Alice merapikan barang-barangnya.
Iya guys. Bertemanlah dengan Afifah nanti, dia lebih banyak butuh support.
Lo gak mau pamitan dulu sama ustadz Fauzan?! Alice menghentikan kegiatannya. Gue gak akan sanggup guys. Pembicaraan semalam udah cukup buat gue.
Manda kesal. Lo jangan gitu dong. Pikirkan juga perasaan ustadz Fauzan. Dia pasti kecewa, marah, sedih banget.
Alice menyeka air matanya. Lo kasih surat ini ke dia. Gue gak mau dia lihat gue pergi.
Kemudian Alice berpamitan kepada para ustadz dan ustadzah dan kepada teman-teman santri lainnya termasuk Alifah. Alice membisikkan sesuatu. Hari ini gue kalah tapi bukan kalah. Gue mengalah demi Afifah saudara kembar lo. Gue akan tetap jadi pemenang seperti tadi malam Alifah atau Lili. Alifah diam membisu dirinya terkejut bahwa Alice telah mengetahui semuanya. Dan Alice pun pergi diantar oleh pak satpam sampai depan jalan raya.
Fauzan baru pulang pada saat malam hari. Pekerjaannya dikantor begitu banyak sampai rapat beberapa kali. Dirinya membeli banyak coklat untuk Alice. Malam ini dia berencana untuk mengajak Alice berbicara mengenai hubungan mereka. Meskipun Alice sudah memutuskannya, tapi Fauzan tidak akan menyerah.
Baru saja pulang, kamu mau kemana lagi nak? Umi menghampiri Fauzan diambang pintu.
Fauzan memegang tangan ibunya. Mau keluar sebentar umi. Kemudian Fauzan pergi. Baru beberapa langkah suara umi menghentikannya. Alice sudah pergi nak. Fauzan berbalik dan menghampiri ibunya. Pergi kemana umi?
Umi menarik nafas. Pulang kerumahnya. Dia memutuskan untuk pergi. Kami harus menghargai keputusannya untuk pergi dari sini. Untuk pertama kalinya Fauzan menitikan air matanya didepan ibunya. Kemudian ibunya memeluknya.
__ADS_1
jangan lupa di like komen and vote😍