My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 10 - Confession


__ADS_3

Pemakaman Nenek berlangsung secara sederhana di rumah Nenek 2 hari kemudian. Aku mengenakan kimono hitam seperti anggota keluargaku yang lainnya. Kami mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang sudah datang, yaitu para tetangga dan kerabat dekat. Yang tidak disangka-sangka adalah kehadiran Kumicho. Dia pasti mengetahuinya dari Tora, tapi Tora sendiri tidak masuk ke dalam. Dan hari ini dia memakai masker, sehingga kumis dan jenggotnya tersamarkan.


Aku menghampiri Tora di luar untuk mengajaknya masuk karena di luar dingin, tapi dia menolak dengan alasan sebentar lagi Kumicho akan keluar.


"Tomomi, aku turut sedih," kata Tora pelan. Matanya memancarkan ketulusan.


"Terima kasih, Tora-san." Kami terdiam setelahnya, tapi pikiranku ke mana-mana. Rasa bersalahku muncul lagi.


"Kau baik-baik saja?"


"Aku hanya sedang berpikir. Seandainya aku tidak jadi ke Tokyo, mungkin Nenek masih sehat kan? Maksudku, mungkin aku bisa membujuknya untuk ke dokter. Aku pun bisa bekerja supaya dia tidak perlu lagi mencari uang."


"Ya, mungkin."


"Kau juga berpikir begitu? Akulah yang membuatnya meninggal. Nenek pasti menyalahkanku. Aku tidak termaafkan karena membuat orang yang kusayangi mati. Nenek selalu melindungiku, tapi aku tidak bisa melindunginya. Yang kulakukan hanya menelepon dan menceritakan apa yang terjadi di Tokyo, tapi aku tidak pernah mendengarkan keluhannya. Nenek selalu begitu, tidak ingin membuat orang lain khawatir." Aku memandangi foto Nenek yang terpampang di dalam rumah. Wajahnya selalu tersenyum, memunculkan garis-garis keriput di sekitar mata dan hidungnya. Lama-kelamaan, penglihatanku kabur oleh air mata. "Aku sayang padanya, tapi aku juga yang menyebabkannya meninggal." Suaraku semakin tidak jelas.


Tora menepuk bahuku dan meletakkan tangannya di sana. "Nenekmu orang yang baik. Aku bisa melihatnya dari foto itu," katanya.


"Ya kan? Tapi sekarang dia sudah tidak ada!" Aku terisak sampai beberapa orang memperhatikan aku.


"Dengarkan aku, Tomomi," Tora membungkukkan badannya untuk menyejajarkan matanya dengan mataku. "Aku tahu kau menyesal, tapi, seperti yang kubilang, nenekmu orang yang baik. Jadi, dia tidak mungkin menyalahkanmu. Menurutku, dia malah mendoakanmu supaya kau tetap semangat dan bahagia."


"Bagaimana kau tahu? Kau bahkan tidak mengenalnya."


"Kau yang bilang bahwa nenekmu tidak ingin membuat orang lain khawatir. Beliau tidak ingin melihatmu bersedih. Tegarkan dirimu, Ayase Tomomi."


Aku mengangguk. Di saat seperti ini, aku ingin Tora memelukku, tapi aku tahu itu tidak mungkin terjadi. Kata-katanya barusan sudah cukup menenangkanku. "Terima kasih, Tora-san."


Setelah acara selesai dan tidak ada tamu yang tersisa, aku, Paman Kazuya, dan Paman Yuji duduk di ruang tamu. Mereka bilang ada yang ingin dibicarakan denganku.


"Begini, Tomomi. Karena sekarang tidak ada lagi yang tinggal di rumah ini, kami berdua sudah memikirkan untuk menjualnya," kata Paman Yuji.


"Eh? Menjual rumah ini?" tanyaku.


Paman Yuji mengangguk. "Kau tahu, kami berdua sudah berkeluarga. Kami sedang dalam kesulitan..."


"Tunggu dulu! Jadi kalian pikir ini suatu kebetulan?" potongku.


"Kalau mau dikatakan seperti itu, ya ini mungkin suatu kebetulan," kata Paman Kazuya. Baru kali ini aku melihatnya begitu bersemangat. "Tapi ini juga demi keluarga kami. Aku yakin ayahmu juga akan setuju untuk menjualnya."


"Ayahku tidak ada!" Menjual rumah setelah pemiliknya meninggal adalah sikap tidak menghargai. Aku tidak suka karena mereka terkesan mengharapkan Nenek meninggal supaya bisa memanfaatkan rumahnya.


"Dengar, Tomomi," kata Paman Yuji lebih lembut. "Kami mengerti kau merasa sayang pada rumah ini. Hanya inilah kenang-kenanganmu dengan nenekmu. Karena itulah kami ingin membicarakannya denganmu. Kami ingin kau juga mengerti bahwa aku harus membiayai kedua anakku, dan Kazuya akan membuka sebuah usaha di rumahnya. Belum lagi kalau nanti kau ingin kuliah. Itu semua membutuhkan dana yang besar. Kau paham kan?"


Aku diam karena bingung. Omongan Paman Yuji ada benarnya. Rumah ini akan kosong karena kedua pamanku tidak tinggal di sini. Aku jarang pulang kampung dan mungkin tidak akan pulang lagi untuk selamanya. Kalau Nenek tidak ada, aku tidak mempunyai alasan untuk pulang. Aku memang lahir di Tokyo. Di sanalah aku akan menetap. Akhirnya, aku memberikan anggukan kepada kedua pamanku.


Keterlambatanku kembali ke Tokyo dipertanyakan oleh wali kelasku di sekolah. Berita cepat menyebar. Teman-temanku mengucapkan "turut berduka cita". Aku menahan tangis saat Koizumi memelukku dan berusaha bersikap biasa saja di sekolah. Padahal, di rumah, aku menangis berhari-hari. Memori tentang Nenek selalu datang. Raut wajahnya yang tenang dan ramah tidak bisa hilang dari ingatanku. Nenek adalah wanita yang baik. Dia sangat bersemangat di usianya yang sudah lanjut, tidak pernah mengeluh atau pun memarahiku, meskipun kadang-kadang aku membantah, seperti saat ia melarangku ke Tokyo tahun lalu. Nenek sudah seperti ibuku sendiri. Dia memberikan kasih sayang yang tidak diberikan oleh ibuku, juga ketegasan yang tidak sempat diberikan oleh ayahku.


Nenek hadir dalam mimpiku di malam-malam selanjutnya, seolah aku tidak merelakan kepergiannya. Namun, Nenek tersenyum dan mengusap-usap kepalaku tanpa berkata apa-apa. Hal itu membuatku mengerti bahwa aku harus melanjutkan hidupku sendiri. Nenek pasti melihat dan mendoakanku dari Surga.


Nilai-nilai ujian akhir caturwulan keduaku cukup memuaskan. Juara angkatan dipegang oleh anak dari kelas sebelah. Aku berada di peringkat ke-32 dari jumlah siswa satu angkatan 120 orang. Koizumi langsung mengajakku merayakannya dengan karaoke, tapi aku menolak karena ingin mengunjungi Misaki. Secara mengejutkan, Koizumi malah mau ikut denganku ke rumah sakit.


Aku menceritakan semuanya kepada Koizumi. Tentang siapa itu Misaki dan bagaimana ia bisa berakhir di rumah sakit jiwa. Sudah kukira Koizumi akan menggodaku bila aku menyebut nama Tora. Benar saja. "Jadi Tonomura-chan ini calon adik iparmu ya?" tanyanya dengan ekspresi jahil di kereta yang kami tumpangi menuju stasiun dekat rumah sakit. "Kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu pada cowok menyeramkan itu sih?" Aku tertawa karena Koizumi menyebut Tora sebagai cowok menyeramkan. "Kenapa kau malah tertawa? Lihat! Para perempuan sekarang sedang mempersiapkan cokelat untuk diberikan kepada cowok-cowok yang mereka sukai. Valentine!" serunya geregetan.


Biasanya aku hanya makan kue cokelat buatan Nenek pada Hari Valentine. Nenek membuatnya dalam ukuran besar supaya bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga dan rasanya sangat enak. "Aku tidak pernah memberi cokelat kepada siapa pun," kataku.


"Eeeh? Kau tidak pernah menyukai cowok sebelumnya?" tanya Koizumi heran.

__ADS_1


"Tidak. Aku bahkan tidak pernah memikirkannya."


"Begini. Anggap saja Seiji-kun tidak sejahat itu. Apa kau akan menyukainya? Karena hubungan kalian bisa dibilang sangat dekat."


Aku mengangkat bahu. "Sepertinya tidak," jawabku singkat.


"Kenapa?" Seruan Koizumi kali ini membuat beberapa penumpang menoleh.


"Aku tidak suka cowok ganteng."


Koizumi terdiam. "Seleramu memang aneh ya," katanya datar. "Sudahlah! Tidak penting siapa yang kau sukai. Menurutku, lebih baik bila kau mengatakan apa yang kau rasakan sebelum nanti kau menyesal bila dia diambil orang."


Wajah Makoto langsung muncul di kepalaku. Wanita cantik itu memang nampaknya suka pada Tora. Aku bisa melihatnya saat ia tertawa-tawa di depan Tora waktu mereka berdansa. Ia bahkan memberitahukan nomor alarm rumahnya. Apa mungkin itu adalah strateginya apabila ingin mengundang Tora? Seketika, badanku merinding.


Aku mengangguk. "Wanita itu keren sekali," kataku.


"Eh? Benar ada cewek lain? Sungguh, selera kalian aneh!" Koizumi menertawakan aku dan Makoto. "Akan kubantu kau membuat cokelat!"


"Kau bisa?"


"Hei, jangan meremehkan aku ya. Aku sudah bisa membuat pancake sejak berumur lima tahun," ucap Koizumi bangga.


"Waaah... Kau bisa jadi peserta Iron Chef," ledekku.


"Diam kau!"


"Ah! Pilihkan bunga untuk Misaki ya!" pintaku pada Koizumi.


"Kau mau membawakan bunga?"


Misaki terkejut dengan kedatangan Koizumi, tapi dia senang karena mempunyai teman baru. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, Tora Kucing menyambut baik kehadiran Koizumi yang cantik. Mereka langsung akrab hanya dalam waktu beberapa menit. Misaki mendukung usaha Koizumi membujukku membuat cokelat. Dia tidak tahu bahwa aku akan memberikannya kepada Tora, kakaknya sendiri. Koizumi juga bisa menjaga rahasia itu.


Kami berada di kamar Misaki sampai suster mengusir kami. Saking asyiknya mengobrol, kami sampai lupa makan, sehingga perut kami keroncongan. Aku mengkhawatirkan Koizumi, tapi dia bilang tidak apa-apa. Akhirnya, kami makan takoyaki di pinggir jalan untuk sekedar mengganjal perut.


Aku pulang dengan hati senang. Hari ini aku berhasil melupakan kesedihanku yang kemarin-kemarin. Esok hari dan seterusnya, aku harus lebih bersemangat lagi.


Ponselku berbunyi. Koizumi mengirim pesan, "Aku baru saja sampai di rumah. Besok mainlah ke rumahku. Kita akan bikin cokelat."


"Apa memang penting?" gumamku.


🍫🍫🍫🍫🍫


Baru awal Februari saja, sudah banyak toko yang menjajakan cokelat dengan beraneka ragam bentuk dan isi. Cokelat biasanya manis, tapi aku lebih suka yang agak pahit. Tidak pernah terpikir untuk memberikan cokelat kepada seorang laki-laki. Di sekolah lamaku, aku selalu membawa kue cokelat buatan Nenek ke kelas jika ada sisa, dan teman-temanku langsung menghabiskannya dalam hitungan menit.


Bangun pagi dengan mata berair karena menangis membuatku tidak bersemangat. Aku bermimpi memberikan cokelat kepada Tora tapi Tora menolaknya dengan alasan sudah jadian dengan Makoto. Kemudian, Tora melemparkan cokelatku ke sungai. Aku mencari-carinya seperti kesetanan, berharap Tora mau menerimanya tahun depan. Sungguh mimpi yang aneh dan buruk sekali.


Aku menceritakan mimpiku kepada Koizumi, tapi ia tidak peduli. Ia juga mengajak kedua temannya, Matsumoto dan Ueda, ke rumahnya. Mereka berdua sepertinya sudah sering main ke rumah Koizumi. Bangunan berlantai 2 dengan gaya minimalis itu berlokasi di komplek perumahan elit. Ibunda Koizumi adalah seorang ibu rumah tangga , sedangkan ayahnya adalah direktur dari salah satu hotel bintang lima di Tokyo. Koizumi mempunyai seorang adik laki-laki yang masih SD, bernama Ruki. Dia belum pulang sekolah saat kami ke rumahnya.


Ibu Koizumi menyuguhkan teh hangat karena di luar dingin sekali. Kue-kue kering juga tersedia di toples. Seperti yang sudah kuduga saat aku melihat Koizumi dijemput seorang wanita pada malam tahun baru, wanita itu adalah ibunya. Mereka berdua sama-sama cantik dan elegan. Di foto keluarga yang dipajang di tembok ruang keluarga, ayah Koizumi ternyata bertubuh gempal dan Ruki mewarisinya.


Kami meminjam dapur keluarga Koizumi yang luas dan rapi. Kompor dengan 4 sumbu, oven besar 2 susun, lemari es super besar dan kokoh, serta meja counter dengan desain menawan berwarna salem. Nenek bakal iri jika melihatnya.


Kami mencoba membuat kue cokelat. Resep Koizumi sedikit berbeda dengan milik Nenek, tapi keduanya sama-sama enak. Sejujurnya, aku tidak begitu bisa membedakan yang mana yang lebih enak. Menurutku, biskuit cokelat dari Tora waktu itu pun enak sekali. Padahal, itu hanya biskuit yang dibeli di minimarket. Jadi, bagiku, apa pun terasa enak, selama itu cokelat.


"Kau tidak takut berjerawat? Makan cokelat sebanyak itu," kata Koizumi heran melihatku yang paling banyak makan kue cokelat buatan kami.


"Tidak. Ini buktinya," aku menunjukkan pipiku yang bersih dari jerawat.

__ADS_1


"Kau tidak perlu memamerkannya seperti itu, Cinderella!" seru Koizumi.


Suasana dapur menjadi ramai dan mengasyikan ketika Matsumoto mulai menyanyi dengan suara sumbang, diikuti Ueda yang juga tidak mahir menyanyi. Aku dan Koizumi menertawakan gaya mereka.


Pada akhirnya, kami berhasil menyelesaikan kue cokelat yang kami inginkan. Rasanya sangat pas dan lezat sekali. Koizumi sudah mencatat bahan-bahan yang diperlukan beserta takarannya, lalu ia memberikan catatan tersebut padaku. Aku tidak mempunyai oven sebagus Koizumi, tapi kurasa rasanya akan sama enaknya.


πŸͺπŸͺπŸͺπŸͺπŸͺ


Tanggal 14 Februari jatuh pada hari Jum'at. Para siswa dan guru di sekolahku berbagi cokelat ke orang-orang yang dituju. Aku melihat wali kelasku memberikan sekotak cokelat kepada Taguchi-sensei yang menerimanya dengan malu-malu. Koizumi membawa cokelatnya ke kelas dan memakannya sendirian. Hampir semua penghuni sekolah merayakan Hari Valentine. Sebagian menangis karena ditolak, sebagian lagi tertawa-tawa gembira.


Aku buru-buru pulang setelah bel berbunyi. Kue cokelatku harus jadi tepat waktu. Dengan cekatan dan teliti, aku mengikuti apa yang ada dalam resep. Koizumi menulisnya dengan jelas sekali, sehingga sangat memudahkanku untuk melakukannya. Dengan cemas, aku menunggu ovenku berdenting. Kueku tidak boleh hangus atau terlalu lunak. Aku telah menyesuaikan apinya. Dan ketika mengeluarkannya dari oven, senyumku langsung melebar. Kueku matang sempurna.


Setelah membungkusnya rapi dengan kotak berwarna putih berhiaskan pita merah, aku bergegas untuk ganti baju dan cuci muka. Aku berdandan sedikit dan merapikan rambutku. Setelah yakin dengan semuanya, aku berangkat.


Di dalam kereta, perutku sakit, jantungku berdebar-debar lebih cepat dari biasanya, bibirku tak bisa berhenti tersenyum. Apa seperti ini yang namanya jatuh cinta? Namun, sedetik kemudian, kekhawatiran mulai menyerang. Bagaimana kalau Tora tidak suka padaku? Bagaimana kalau mimpiku benar-benar jadi kenyataan? Pertanyaan semacam itu membuat semangatku turun. Tapi sebentar lagi aku akan sampai di Stasiun Shinjuku. Tak ada alasan untuk berhenti. Aku harus menemuinya.


Shinjuku ramai sekali seolah tidak ada tempat untuk berdiam diri. Seluruh pengunjung sangat menikmati hiburan yang tersaji di sini. Dengan cepat, aku menemukan Freeze. Aku menelepon Tora untuk memberi tahu keberadaanku.


"Halo, Tomomi," sapanya.


"Tora-san, aku ada di depan Freeze," kataku gugup.


"Eh? Aku tidak berada di Freeze. Aku sedang menunggu temanku. Jaraknya hanya beberapa blok. Kalau kau mau, datanglah kemari."


"Ya. Baiklah. Dari sini, ke arah mana?"


Tora memberi petunjuk. Kubiarkan koneksi telepon tetap tersambung karena tidak ingin salah jalan di kawasan Shinjuku. Aku menemukan Tora sedang berdiri sendirian di depan sebuah host club. Kali ini dia mengenakan syal rajutan. Ia tersenyum melihatku. Seketika, jantungku langsung menari-nari. Setelah mengucapkan doa dalam hati, aku mendekatinya.


"Hai," sapaku gugup.


"Tomomi, apa yang membawamu kemari?" tanyanya ingin tahu.


"Temanmu belum datang?" balasku. Kupikir aku harus memastikan situasinya aman. Aku ingin nantinya tidak ada orang lain yang tahu kalau aku menyatakan cinta padanya. Karena jika aku, amit-amit, ditolak, aku tidak harus menyembunyikan mukaku di depan umum.


"Belum."


"Oh."


Aku menyemangati diriku sendiri. Dengan segenap keberanian, aku menyerahkan kotak berisi kue cokelat hasil kerja kerasku itu. "Untukmu. Selamat Hari Valentine!" kataku.


"Eh? Benar untukku?"


Aku mengangguk keras-keras. Tingkahku jadi aneh. "Sebenarnya aku..." Debat berlangsung di kepalaku. "Aku...suka padamu, Tora-san!" seruku, tidak berani menatap langsung matanya, sehingga langsung menunduk. Aku berkeringat meskipun malam ini dingin.


Tora terlalu lama membisu.


Terdengar suara tepukan tangan dari arah kanan, tepatnya dari depan pintu host club. "Luar biasa!" seru seorang pria. Ia menghampiri aku dan Tora. Gaya jalannya elegan sekali. Yang paling menarik perhatian adalah sepatunya yang hitam mengilap. Pria itu bertubuh kurus tapi tingginya hampir sama dengan Tora. Wajahnya tampan menawan. Rambut coklatnya panjang sampai tengkuk dan bergaya blow out. Ia mengenakan kemeja putih dan blazer hitam yang tidak dikancing, dipadukan dengan celana panjang hitam. Jarinya mengenakan beberapa cincin perak. Penampilan ala host. "Gadis cantik menyatakan perasaannya kepada pria ganteng. Sungguh luar biasa!"


**🐢🐢🐢🐢🐢


bersambung ke chapter 11!


gimana chapter inihh? siapakah cowok tampan pengganggu itu? πŸ˜‚


aku minta like dan comment yahh..


matta ne**...

__ADS_1


__ADS_2