
"Dia ingin merusak pintu klub, Bos!" seru si kumis, yang ternyata bernama Tora, penuh hormat.
"Oh ya?" Sekarang si bos botak sudah bisa melihatku dengan jelas. Ia memperhatikan aku dari kepala sampai kaki seperti scanner, lalu menggeleng. "Cih! Aku tidak tertarik. Terserah mau kau apakan dia," katanya cuek dan pergi begitu saja.
"Siap!" Tora melirikku. "Keluar kau, anak kecil!" perintahnya padaku.
Segera saja aku melangkah melewatinya seolah merasa jijik padanya. Kucoba untuk membuka pintu tebal itu lagi. Masih tidak bisa. Aku kebingungan, tapi daripada tidak bisa keluar, lebih baik aku meminta bantuannya saja. "Tora-san," panggilku sopan. Aku sedang mempermalukan diriku sendiri di depan orang asing.
"Ada apa?" tanyanya galak.
"Pintu ini berat sekali," aku tersenyum padanya semanis yang kubisa.
Tora berdecak kesal, tetapi ditariknya juga pintu itu, kuat sekali sampai membawa Koizumi yang sedang memegang gagangnya dari luar. Melihat itu, Tora langsung mengusir kami semua. Teriakan kerasnya membuat Koizumi dan kawan-kawannya berlari sekuat tenaga meninggalkan aku yang terjatuh karena didorong Tora. Pantatku sakit terbentur aspal basah. Ternyata hujan semakin lebat ketika aku di dalam.
Aku mengutuk ketiga cewek itu. Koizumi dan 2 temannya yang seperti kembar itu. Tak bisa dipercaya, aku tertipu. Mereka bilang ingin meminta maaf padaku, mengajakku jalan-jalan, bersenang-senang, tapi akhirnya mereka juga yang mencoba mencelakai aku. Setelah bangkit berdiri, aku melihat jam tanganku. Sudah tidak bisa pulang dengan kereta. Bus juga sudah tidak ada. Terpaksa aku harus jalan kaki.
Sepanjang jalan, segala caci-maki keluar dari mulutku. Aku beruntung karena hujan mereda. Tapi udara dingin tetap menusuk. Kuputuskan mampir ke sebuah minimarket untuk minum teh hangat. Setelah tenagaku pulih, kulanjutkan perjalananku. Lewat tengah malam, aku baru bisa merasakan hangatnya pemanas ruangan di dalam apartemenku. Dan aku pun tertidur sampai pagi tanpa mandi.
Keesokan harinya, aku terbangun dalam keadaan pusing, tulang-tulangku serasa remuk seluruhnya, dan kakiku pegal sekali. Belum lagi ditambah mimpi buruk soal klub penari telanjang itu. Di dalam mimpiku, Tora menjadikan aku salah satu penari dan, anehnya, aku mau saja, bahkan merasa senang bisa meliuk-liukkan badanku serta berputar-putar di tiang. Bapak-bapak mesum menontonku dengan antusias, menantikan aku melepas seluruh pakaianku. Benar-benar memalukan meskipun itu hanya sebuah mimpi.
Aku terlambat ke sekolah, sehingga harus menjalani hukuman di lapangan, yaitu senam tak berguna yang dipimpin oleh guru olahraga. Ada 5 anak lainnya yang juga terlambat. Kami semua dimarahi sambil melakukan gerakan-gerakan yang membuat kami nampak seperti orang bodoh. Hukuman kami tidak selesai sampai di sini. Kami harus menulis 'saya berjanji tidak akan terlambat lagi' sebanyak 10 halaman penuh. Dan semua harus selesai hari ini juga.
Kulirik Koizumi dan kawan-kawannya saat masuk kelas. Mereka bertiga memasang senyuman kemenangan. Rasa pusing di kepalaku langsung bertambah parah. Bisa kurasakan pelipisku berdenyut-denyut. Saat kukira mereka adalah orang-orang baik, seenaknya saja mereka mencelakai aku. Kalau aku benar-benar jadi penari telanjang, akan kuajak mereka semua!
Jam istirahat kupakai untuk merebahkan kepalaku di meja, membuatku sedikit lebih tenang karena hanya ada beberapa orang di kelas, dan kami tidak pernah bertegur sapa. Jadi, mereka tidak akan bertanya apa pun padaku. Yang kuperlukan sekarang ini memang ketenangan. Aku pun memejamkan kedua mataku.
"Kyaaaa!"
Teriakan itu membuatku kaget sampai pundakku melompat.
"Ada pria menyeramkan di depan gerbang!"
Cewek-cewek pasti sedang memandang ke luar jendela dan menemukan sosok pria bertampang galak di bawah. Tapi tidak mungkin lebih menyeramkan daripada para Yakuza itu kan? Dan tadi malam aku sampai dibuat ngeri oleh hanya 2 orang Yakuza.
"Menggangguku saja," gumamku kesal.
Aku baru diperbolehkan pulang pada pukul 5 sore, lebih lama daripada yang lain. Selain harus menyelesaikan hukuman tulisan, aku juga diceramahi oleh Wali Kelas. Wanita paruh baya itu agaknya tak menyangka aku adalah murid yang bermasalah. Tapi, menurutku, mereka membesar-besarkan masalah keterlambatan ini karena masih belum melupakan perkelahianku dengan Koizumi. Kalau kubilang Koizumi-lah penyebab semuanya, apakah beliau akan percaya? Kurasa tidak.
Langkahku pelan sekali. Seragam blazer ini terasa berat di pundakku. Cuaca hari ini cukup bersahabat walaupun angin kencang berhembus. Dengan terus memandangi kaki pegalku ini, akhirnya aku berhasil keluar melewati gerbang sekolah.
"Hei, cewek."
Aku mendengar sebuah suara berat milik seorang pria. Tapi siapa yang memanggil siapa? Mungkin bukan aku. Jadi, kuputuskan untuk tidak mempedulikannya.
"Cewek!" Pria itu menambah volume suaranya. "Cewek yang tadi malam mampir ke klub penari telanjang!"
Deg! Jantungku seperti tertusuk.
Aku menegakkan kepalaku, mencari sumber suara. Kulihat seorang pria berkumis dan berjenggot di depan gerbang. Refleks, aku menunjuk wajahnya. "Tora-san!" seruku.
Tora mengenakan jaket. Rambut hitam kelamnya yang kelimis tetap disisir ke belakang. Melihatnya mengingatkan aku pada sosok vampir. Apalagi kerah jaketnya dinaikkan menutupi lehernya. Menyeramkan hingga membuatku merinding. Hanya, kali ini ia tidak memakai sarung tangan dan kacamata hitam, sehingga tidak menunjukkan bahwa ia vampir betulan. Tora versi hari ini, di tempat terang seperti ini, tetap membuatku bergidik karena sorot matanya yang tajam menjadi jelas terlihat.
"Aku menunggumu dari tadi!" teriaknya, membuatku terlonjak.
Apakah dia mau meminta pertanggungjawabanku karena pintu klubnya rusak? Kurasa kemarin aku tidak sampai merusaknya. Bahkan pintu itu tidak bergetar sedikit pun. "Aku? Kenapa?"
__ADS_1
"Kau ada waktu?" tanyanya ragu. Ia harus menundukkan kepalanya saat berbicara denganku karena tinggiku hanya mencapai bahunya.
"Mau apa?" Kurasa sebaiknya aku bertanya demikian. Kalau dia mau bertindak macam-macam, misalnya ingin merekrutku sebagai penari telanjang, aku bisa cepat-cepat kabur.
"Sebentar saja!"
Aku berpikir, lama sekali sampai mengernyitkan dahi, menimbang-nimbang ini dan itu. Tanpa sadar, aku sudah mencondongkan tubuhku ke arah gedung sekolah, bersiap-siap lari jika seandainya Tora berniat jahat. "Kalau kau mau memintaku menjadi penari, aku tidak mau," kataku ketus.
"Haa? Hahahaha!" Tora tertawa geli. "Bukan itu. Kau dengar sendiri kan bosku bilang dia tidak tertarik padamu?"
Terus terang, aku sedikit sakit hati dibilang seperti itu. Memangnya aku tidak menarik sama sekali ya? "Jadi, untuk apa?" tanyaku.
Tora kembali serius. "Sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu. Boleh?"
"Bantuan apa?"
"Tidak bisa membicarakannya di sini."
Aku mengerti. Dia adalah seorang Yakuza. Pasti ada peraturan-peraturan yang tidak ingin dilanggarnya. "Sekarang?"
Tora mengangguk.
Maka, kami pun pergi ke sebuah kedai kopi di dekat sekolah. "Silakan memesan apa pun yang kau mau," katanya sambil membaca menu. Aku cukup tahu diri untuk tidak memesan makanan atau minuman mahal, tapi aku lapar karena melewatkan makan siang. Jadi, kuputuskan untuk memesan sandwich dan segelas teh manis hangat supaya memberiku energi. "Kopi saja," ujarnya kepada pelayan.
"Aku belum tahu namamu," katanya lagi setelah pelayan itu pergi.
"Aku juga belum tahu namamu," balasku.
"Namaku Tora."
Tora diam saja. Ia enggan memberi tahu nama aslinya padaku. "Panggil saja aku dengan nama itu. Tidak penting memberi tahu nama kepada orang lain."
Sombong sekali. "Kalau begitu, aku pun tidak mau menyebutkan namaku."
"Kau ini kenapa sih?" Pria yang seharusnya menyeramkan ini memiliki ekspresi yang lucu sekali kalau sedang marah begini, membuatku ingin menunjuk hidungnya sambil tertawa. Sehabis menarik napas beberapa kali, akhirnya ia tenang.
"Ayase Tomomi," kataku.
"Eh?"
"Namaku Ayase Tomomi. Salam kenal," aku menundukkan kepala di hadapannya, mencoba bersikap sopan karena dia terlihat lebih tua dariku.
"Berapa umurmu?"
"Enambelas."
"Boleh kutanya kenapa kau masuk ke klub tadi malam?"
"Kau lihat sendiri ulah cewek-cewek itu."
"Mereka teman-temanmu?"
"Aku menganggapnya demikian sebelum aku masuk ke dalam klub."
"Mereka mengganggumu ya?"
__ADS_1
"..."
"Kau tidak melaporkannya ke kepala sekolah?"
"..." Ada apa dengan orang ini? Kenapa bertanya terus?
"Apa kau takut menghadapinya?"
Oke! Ini aneh! Dia bilang mau meminta bantuan, tapi yang dilakukannya sekarang malah menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan bodoh. "Tidak, aku tidak takut," jawabku tidak sabar.
"Bagus," katanya. "Karena aku ingin kau pergi ke sebuah rumah sakit untuk bertemu adikku, Misaki."
"Tunggu sebentar. Kau takut pada adikmu sendiri?" tanyaku heran. Mana ada kakak laki-laki yang takut pada adik perempuannya? Apalagi kakaknya menyeramkan begini.
"Bukan itu alasannya! Jangan selalu menyimpulkan sesuatu semaumu!"
"Hei, aku hanya bertanya!" debatku.
"Bisa mendengarkan aku sampai selesai?"
"Tidak bisa, karena itu tidak masuk akal."
"Kau kan belum mendengarnya!"
Perdebatan kami menimbulkan keributan di kedai itu, sehingga pelayan terpaksa mengusir kami dari sana karena Tora berniat membalikkan meja makan. Tora menyuruhku menunggu di depan kedai, sementara ia sendiri mengambil mobilnya yang diparkir di sekitar situ. Ia berjanji akan mengantarku pulang jika aku mau mendengar ceritanya. Aku setuju karena badanku sakit, persediaan uangku menipis, dan langit mendung.
"Belok kiri di perempatan selanjutnya," kataku memberi petunjuk ke arah apartemenku.
Tora diam selama 2 detik. "Sebenarnya aku mengikutimu kemarin," katanya. "Sempat terpikir untuk memanggilmu, tapi aku tak tahu siapa namamu. Dan kau sepertinya lelah sekali. Jadi..."
"Tapi tadi kau memanggilku 'cewek'!" protesku. "Dan juga, kenapa kau tahu sekolahku?"
Tora tertawa renyah. "Tadi pagi juga, aku mengikutimu." Aku mendengus kesal karena benar-benar tidak menyadarinya. Pria itu mengangkat bahu sebelum memberhentikan mobilnya di depan gedung apartemenku.
"Besok aku akan ke rumah sakit setelah pulang sekolah untuk bertemu Misaki. Terima kasih sudah mengantarku. Maaf, membuatmu repot, khususnya di kedai itu," kataku malu.
"Tidak apa-apa. Kalau kau perlu bantuanku..." Tora mengeluarkan selembar kartu nama dari kantong jaketnya, "hubungi saja aku."
Aku membanting pintu kamar mandi. Segar rasanya mandi di saat perut kenyang. Tadi aku dan Tora sempat membeli hamburger di pinggir jalan dan memakannya di dalam mobil. Setelah habis semuanya, baru ia mulai bercerita soal adiknya.
Ayah dan ibu Tora sudah bercerai sejak ia masih berumur 10 tahun. Ia tinggal bersama ibunya, sedangkan adiknya, Misaki, bersama sang ayah. Lalu, ibunya meninggalkannya 6 tahun kemudian. Tora berhenti sekolah dan memilih untuk bekerja. Ia sempat ke rumah ayahnya, tapi Misaki dilarang untuk menemuinya. Ayahnya menikah lagi dan membawa Misaki pergi. Lima tahun kemudian, Tora bertemu dengan Misaki di jalan. Mereka hanya bertukar nomor telepon karena waktu itu Tora, yang berusia 21 tahun, sudah masuk dalam organisasi Yakuza. Kadang-kadang mereka saling menelepon, hanya untuk menanyakan kabar. Namun, tampaknya Misaki tidak ingin kakaknya mengkhawatirkan dirinya. Padahal, gadis itu menderita sekali di rumah ayah mereka karena ibu tirinya selalu menyiksanya dan sang ayah selalu pulang dalam keadaan mabuk.
Misaki tak lagi menghubungi Tora selama 2 tahun, sampai akhirnya Tora membaca berita di koran bahwa seorang gadis ditemukan oleh seorang office lady di jalanan. Pakaiannya compang-camping, rambutnya kusut berantakan, seluruh tubuhnya penuh memar. Ketika wanita itu bertanya, Misaki mengoceh tak karuan dan berteriak-teriak. Foto Misaki terpampang jelas di halaman koran. Setelah itu, Misaki menjadi penghuni rumah sakit jiwa.
Tora tidak diizinkan berhubungan lagi dengan keluarganya walaupun boleh menikah. Karena itu, dia tidak dapat sesuka hati mengunjungi Misaki, karena memang begitu peraturan yang ada di dalam gengnya. Tora tidak memberitahuku hukuman apa yang akan ia terima kalau melanggar aturan. Yang pasti, bukan hal yang kusukai.
Agaknya, aku mengingatkan Tora akan adiknya. Kami seumur. Tora selalu membawa foto Misaki kecil dan foto keluarga mereka. Anak yang manis sekali. Sayangnya, ia bernasib buruk. Hal ini membuatku bersyukur atas apa yang kumiliki sampai sekarang. Misaki tak punya siapa pun di sampingnya, sedangkan aku masih punya nenek. Tora merasa bersalah karena tidak bisa membawa Misaki bersamanya. Oleh karena itu, ia berniat membantu pengobatan Misaki sebagai tanda permintaan maaf darinya.
Cerita Tora membuatku kasihan pada mereka. Mungkin nasibku akan sama jika tidak diasuh oleh Nenek. Dan aku akan membantu mereka sebisaku. Aku pun memutuskan untuk menelepon Nenek sebelum tidur. "Halo? Nenek, aku kangen," kataku setelah tersambung.
🐰🐰🐰🐰🐰
**hello..chapter 2 selesai!
silakan like dan comment 😊
__ADS_1
matta ne**..