My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 29 - Revenge


__ADS_3

"Aku menyerah," kata Kei. Ia melepaskanku dan menatapku lekat-lekat. "Aku akan menemanimu, tapi kau harus janji, tidak boleh bertindak sendiri. Biar aku yang memimpin." Anggukanku membuatnya lega. Perlahan-lahan, Kei memutar gagang pintu dan menariknya. Setelah menyembulkan kepalanya ke luar, ia menjulurkan tangannya ke belakang.


Aku meraih tangan Kei dan mengikutinya. Kami melewati lorong gelap dan sempit yang dilengkapi dengan mayat-mayat Yakuza di lantai kayunya. Darah di mana-mana. Bau anyir menyengat hidungku. "Kau tidak punya senjata? Mungkin kau dapat menggunakannya untuk menembak seseorang," bisikku.


"Tentu punya, tapi tidak akan kugunakan sekarang," balas Kei.


"Kau tahu di mana Makoto-neesan dan Tora-san berada?"


"Kita akan menemukan mereka. Tenang saja."


Sepi sekali di sini. Bahkan, terlalu sepi untuk sebuah markas Yakuza. Tidak mungkin Hanazawa-gumi yang memiliki anggota sekian banyak mendadak sunyi. "Menurutku, ini aneh," kataku ketika kami melewati sebuah taman di bagian belakang markas.


"Apa yang aneh?"


"Apakah semua anggota klan tewas?"


"Kami siap mati demi klan, Tomomi-chan. Ah! Kau dengar itu?" Kei mengajakku memasang telinga.


Kucoba memfokuskan telingaku ke suara-suara sekitar. Selain suara angin, memang samar-samar seperti ada orang yang sedang berbicara. "Siapa itu?" tanyaku.


"Mari kita mencari sumbernya."


Kei memimpin langkah ke lorong lainnya yang lebih pengap dan gelap.


Suara itu semakin jelas terdengar. "Kalian lambat sekali!" bentak seorang pria dari dalam ruangan di sebelah kiri kami.


"Kumicho?" bisikku pada Kei.


"Tunggu di sini! Aku akan masuk. Jika terjadi sesuatu, larilah sejauh mungkin!" perintah Kei.


"Tapi, Kei-san, mungkin Tora-san ada di dalam."


Kei menggeleng. "Kau pasti bisa mencari jalan keluarmu sendiri. Serahkan ini padaku," katanya mantap, lalu menunjukkan gelangku lagi. "Percayalah padaku. Aku di pihakmu."


Tidak mungkin aku menuruti perintah Kei. Aku mengangguk, tapi bukan berarti aku setuju. Kalau dia masuk, aku harus berbuat apa? Aku bosan menunggu lagi.


Ketukan Kei menghentikan percakapan yang terjadi di dalam. Pria itu membuka pintu. "Permisi, Kumicho," ucapnya.


Buru-buru aku menempelkan daun telingaku ke daun pintu.


"Kei, coba lihat ini. Bahkan menangkap seorang perempuan saja mereka tidak sanggup," kata Kumicho. "Tora, di mana gadismu itu?"


"Aku tidak tahu," jawab Tora.


Kumicho menghela napas. "Mungkin kau yang mampu membuatnya mengaku. Lakukan apa pun agar dia bicara, Kei!"


Jantungku berdebar-debar seperti dipukul benda keras. Kei berkata tidak peduli pada Tora. Bukan tidak mungkin Kei akan menyakitinya.


"Aku tahu kalian bersahabat, tapi kau telah disumpah untuk melindungi nama baik Hanazawa-gumi. Semua pengkhianat harus dibasmi. Kau lihat berapa banyak korban berjatuhan hanya gara-gara pengkhianat itu."


"Aku memiliki sesuatu untuk Anda, Kumicho. Maukah Anda menunggu sebentar?" tanya Kei sopan.


"Tunjukkan padaku."


Selama beberapa detik aku tidak mendengar apa pun. Tetapi, tubuhku terhuyung ke depan karena pintunya terbuka. Kulihat Kei sedang memegang gagang pintu sambil mengedipkan sebelah matanya padaku.


Mungkinkah ini salah satu rencana Kei?


"Tomomi!" seru Tora yang sedang ditodong pistol oleh seorang Yakuza di tengah-tengah ruangan.


Kumicho bertepuk tangan, lalu berjalan menghampiriku. "Kerja bagus, Kei," pujinya. Suara rendahnya seolah dapat menelan orang-orang yang mendengarnya. Penampilan Kumicho masih sama rapinya seperti saat pertama kali bertemu di kuil, di Hokkaido. Setelan jas abu-abu dan dasi. Namun, ekspresi ramahnya kali ini seolah menghilang dan digantikan oleh air muka datar.


Di dalam ruangan, terdapat sebuah meja kerja, lengkap dengan kursi kebesaran Kumicho. Ruang kerja Kumicho lebih luas dari kelasku. Di sebelah kiri ada sofa dan meja kopi. Itu pasti digunakan untuk mengobrol dengan relasi bisnis. Di sebelah kanan, berdiri lemari besar yang penuh dengan buku dan kertas. Sebuah perapian berada di sebelah lemari itu. Jendela berukuran besar dipasang di dinding yang menghadap luar. Mungkin kacanya anti peluru.


Aku tidak tahan untuk menghitung jumlah mereka. Ada 6 orang pengawal Kumicho, Kei, Tora, dan Kumicho sendiri. Tidak ada Makoto di sini.


"Ayase Tomomi," Kumicho menyebut namaku seraya mondar-mandir secara perlahan. "Kau mengecewakan aku, sangat mengecewakan," ia menggeleng.


"Lepaskan Tomomi. Bunuh aku saja!" seru Tora.


"Tidak. Aku tidak mau kau mati," sahutku.


Kumicho tertawa. "Tenang saja. Kalian bisa mati bersama jika itu yang kalian mau," katanya enteng. "Tapi ada yang tidak kumengerti di sini," pria itu berdiri di depan Tora. Tubuhnya tentu tidak sebesar Tora, tapi sorot matanya lebih mematikan. "Kau berani sekali datang sendirian ke ruanganku. Di mana Makoto?" tanyanya.


"Aku tidak tahu," jawab Tora.


"Hmmm... Sepertinya kau memang tidak ingin bicara. Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika begini?" Kumicho mengisyaratkan sesuatu pada Kei.


Segera saja Kei melangkah ke sebelahku, mengeluarkan sepucuk pistol dari balik jaketnya, dan menodongkannya ke kepalaku.

__ADS_1


"Aku tidak suka memakai cara ini untuk membuat seseorang mengaku, tapi kalau itu yang kau inginkan..." Kumicho menyipitkan matanya.


"Jangan!" seru Tora.


Napasku serasa terhenti ketika Kei menarik pelatuk pistolnya. Jantungku berdegup kencang sekali. Aku tak mampu mengeluarkan suara apa pun, juga tidak berani menatap Kei. Seluruh tubuhku gemetar. Keringatku meluncur deras.


Seluruh memoriku muncul bagaikan deretan gambar di depan mataku. Perceraian orangtuaku, kematian Ayah, kepergian Ibu, teman-temanku di Hokkaido, kepindahanku ke Tokyo, pertemuan dengan Tora dan Misaki, kebaikan Kei, keanehan Makoto, sampai detik saat aku berada dalam genggaman tangan Yakuza dan mereka siap meremasku kapan saja.


"Kumicho, kumohon, lepaskan dia!" Tora maju selangkah, membuat seluruh pengawal Kumicho serempak mengeluarkan pistol mereka dan mengarahkannya pada Tora. "Aku benar-benar tidak tahu di mana Makoto berada. Kumicho... Kei! Kau menyukai Tomomi kan? Kumohon, jangan menembak!"


Kumicho, yang awalnya kuhormati, sekarang akan menjadi penyebab kematianku. Ah, tidak. Akulah yang menyebabkan kematianku sendiri karena bermain api. Kumicho bukannya asal menangkap dan membunuhku. Ia hanya mematuhi peraturan klan. Aku sendiri yang terlibat di dalamnya. Parahnya lagi, aku adalah orang luar. Bagi Hanazawa-gumi, aku merupakan parasit yang menggerogoti sebagian tubuh klan dan akan meluas bila dibiarkan. Yakuza tidak akan melepaskan buruannya sampai ke mana pun.


Kutunggu selama beberapa detik, tapi Kei tak juga menembakku. Aku tidak suka ini. Menunda kematian bagaikan penyiksaan luar biasa. Lebih baik Kei langsung menembakku sekarang atau tidak sama sekali. Tora bilang Kei menyukaiku tapi aku sudah tidak peduli pada hal itu. Dan aku yakin Kei juga tidak memikirkannya karena jika itu benar, dia tidak mungkin terus membohongiku. "Lakukan saja, Kei-san," kataku sambil memejamkan mata.


"Maaf, aku tidak dapat melakukannya," ucap Kei.


BRAK!


Seseorang mendobrak pintu ruangan. Setelah itu, banyak orang berhamburan masuk. Mereka semua memiliki pistol di tangan mereka dan mulai menodongkannya pada Kumicho beserta para pengawalnya. Ruangan ini menjadi sempit karena jumlah mereka bahkan lebih banyak daripada pengawal-pengawal Kumicho.


"Makoto Aya..." kata Kumicho.


Sedetik kemudian, Makoto menampakkan diri. Wanita itu berjalan masuk dengan percaya diri. Sepatu boots hitamnya langsung menarik perhatianku. "Kalian tak perlu repot mencariku karena aku sudah ada di sini," ujarnya. Senyuman lebar menghiasi wajahnya. "Sebaiknya kalian menyerah."


Beberapa dari pengawal Kumicho mengalihkan moncong senjata mereka ke Makoto. Agaknya mereka kebingungan siapa yang harus mereka tembak. Jelas jumlah mereka kalah, tapi mereka tetap harus melindungi Kumicho.


"Aku tidak tahu apa tujuanmu melakukan ini semua. Kalau kau mau harta, aku bisa memberikannya. Tapi jika kau ingin mengambil alih kedudukanku sebagai pemimpin Hanazawa-gumi, itu tidak akan terjadi," Kumicho mengatakannya dengan tenang. "Ah... Apa kau ingin menolong Ayase Tomomi?"


Makoto menggeleng. "Pikiranmu terlalu sempit, Yang Mulia Hanazawa Tatsuya. Kau tidak dapat menjadi pemimpin yang baik jika begini terus. Memang, Hanazawa-gumi telah berjalan berpuluh-puluh tahun, tetapi sama sekali tidak berkembang. Tindakan kriminalmu semakin tercium polisi. Ditambah lagi, kalian kerepotan hanya karena seorang gadis kecil. Dasar bodoh!" Ia terbahak.


"Rupanya kursi pemimpinlah yang kau inginkan. Manusia memang makhluk yang tak pernah puas. Saat kukira kau adalah orang kepercayaanku yang paling kubanggakan, ternyata kau berbalik membantu pengkhianat ini," Kumicho menunjuk Tora. "Akulah yang membesarkan kalian. Aku ini ayah bagi kalian!"


"Aku melakukannya dengan alasan yang telah menghantuiku selama 10 tahun pengabdianku sebagai seorang Yakuza! Sengaja aku bergabung dengan Hanazawa-gumi dan mendapatkan kepercayaanmu. Tentu kau masih ingat ketika aku, yang masih berusia 14 tahun, datang sendiri kemari. Sekarang kau pasti bertanya-tanya, mengapa anak perempuan seusia itu mengetahui lokasi markas Hanazawa-gumi," Makoto tertawa. Tak ada yang merespon ucapan Makoto, sehingga wanita itu melanjutkan. "Kau ceroboh karena langsung menerimaku tanpa memeriksa latar belakang keluargaku. Kau tidak tahu bagaimana kehidupanku selama ini. Bahkan, kau pun tertipu oleh nama palsu yang kugunakan."


"Lalu, apa yang menjadi tujuanmu sebenarnya?" tanya Kumicho.


"Kau! Kau telah membunuh kakakku!" Makoto akhirnya mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke hidung Kumicho. Kedua matanya menatap tajam mata pria beruban yang ada di hadapannya tersebut. "Kau lihat? Senjata pemberianmu ini akan menjadi senjata makan tuan," Makoto menyeringai.


"Hmmm... Mudah sekali kau berbicara seperti itu, Makoto."


"Namaku bukan Makoto! Nama keluargaku adalah Kiritani. Namaku adalah Kiritani Aya. Dan kakakku bernama Kiritani Miya. Teringat sesuatu, Kumicho?" Makoto menaikkan sebelah alisnya.


Seketika, air muka Kumicho berubah pucat. Kedua matanya terbelalak. "Miya-chan... Punya seorang adik?" tanyanya.


Tak ada yang tahu latar belakang seseorang sampai orang itu mengakuinya sendiri. Kurasa aku mempercayai cerita Makoto, atau Kiritani, kali ini. Ia bukan menginginkan kedudukan Kumicho, melainkan membalas dendam atas kematian kakaknya. Sepuluh tahun lalu, usianya baru 14 tahun. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak SMP ketika menghadapi kejadian mengenaskan seperti ini? Dia sangat menyayangi kakaknya seperti Tora menyayangi adiknya.


"Tujuanku bergabung dengan Hanazawa-gumi adalah untuk ini. Aku menunggu saat yang tepat untuk membunuhmu, Kumicho! Sungguh suatu kebetulan Tomomi muncul dan membuat kekacauan ini. Pergerakanku dapat teralihkan. Aku telah menghabisi seluruh orang kepercayaanmu dan membuat sebagian besar anggota klan menjadi pendukungku. Mereka semua menunggu berita kematianmu!"


Ini bukan salah Kumicho. Kiritani Miya sendiri yang telah memilih untuk tetap bersama suaminya, sehingga tidak mau kembali ke keluarganya. Aku teringat pada Bibi Koharu yang rela meninggalkan keluarganya demi kekasihnya. Kami memang khawatir sambil mengharapkannya kembali, tapi kami mengerti pilihan hidupnya. Aku pun mungkin akan melakukan hal yang sama bila menjadi istri Tora. Bagaimana pun, seorang istri harus ikut dengan suaminya. Aku akan ikut ke mana pun Tora pergi.


Pundak Kei bergetar. Ia tertawa keras sekali. "Lalu, kau juga mendukungnya?" tanyanya pada Tora. "Lucu sekali karena dialah yang membunuh adikmu."


Sekarang Tora yang seperti sedang melihat hantu. "Jadi itu benar? Makoto? Kau yang melakukannya?" Tora terpukul atas kematian Misaki dan ia harus menerima kenyataan bahwa yang membunuh Misaki adalah temannya sendiri. "Kau tahu dia adikku kan?"


"Jangan termakan kata-katanya, Tora!" sergah Makoto tanpa menjawab Tora.


"Masih tidak mau mengaku?" Kei tidak menjauh dariku tapi tanpa kusadari ia telah menurunkan pistolnya dari kepalaku.


"Diam kau, Kei!"


"Bukankah kau dan kakakmu sama saja? Kalian sama-sama mencintai seorang Yakuza."


"Sudah kubilang, diam!" teriak Makoto.


"Menurutku, kau menyia-nyiakan hidupmu di sini, Kiritani Aya. Kau hanya memikirkan balas dendam sampai harus menjadi Yakuza dan menunggu selama bertahun-tahun. Kau mencintai Tora-kun, tapi menyakitinya. Semua orang yang ada di ruangan ini tahu bahwa kaulah yang meracuni Misaki. Malang sekali nasibnya. Padahal, dia sedang bahagia karena bisa bertemu lagi dengan kakaknya."


"Aku bukan dirimu yang bisa melakukan apa pun sesukanya! Kau bergabung dalam klan ini karena tidak memiliki pekerjaan. Kau pengangguran. Kumicho menyuruhmu menjadi host dan kau mau-mau saja. Pekerjaan hina semacam itu hanya dilakukan oleh orang-orang hina sepertimu!"


"Jangan menghinaku karena kau tidak tahu apa yang kukerjakan!" protes Kei yang memang menyukai pekerjaannya. "Melihat orang lain tersenyum bahagia membuatku ikut bahagia. Sudah saatnya kau berhenti memikirkan masa lalu. Selama 10 tahun ini kau masih saja berharap kakakmu masih hidup. Dia sudah meninggal. Dan aku yakin kakakmu tidak ingin kau menderita seperti ini."


Makoto mengalihkan pistolnya pada Kei.


"Makoto, tenangkan dirimu!" teriak seorang Yakuza anak buah Makoto. "Fokuslah pada tujuanmu!"


Kebingungan melanda Makoto. Sorot matanya liar. "Semua itu benar! Salahkan saja aku! Aku yang bersalah atas semua ini! Aku membiarkan kakakku satu-satunya menikah dengan seorang pemimpin Yakuza karena kupikir dia akan bahagia. Aku juga yang membunuh Misaki karena kupikir, dengan begitu, Tora akan mendukungku lantaran mengira itu adalah perintah Kumicho. Kau tahu, Tora? Aku sendiri yang berinisiatif untuk melakukannya!" Makoto tertawa. "Aku juga yang memanfaatkan informasi tentang kepindahan Tomomi ke rumahmu dengan menyebarkannya di sekolah Tomomi agar dia datang pada Kei. Di sanalah Goro menunggu untuk melenyapkannya. Tapi apa hasilnya? Orang ini menghalangi niatku!" ujarnya seraya menatap Kei penuh kemarahan. "Kau memang pantas mati, Kei!"


"Makoto! Jangan kau lakukan itu!" cegah Tora yang langsung melompat ke depan Kei untuk melindungi sahabatnya itu.


"Tora-san!" seruku. Aku tidak mau Tora ditembak, juga tidak mau Kei ditembak. Aku tidak mau ada yang mati di ruangan ini.

__ADS_1


Kening Makoto berkerut-kerut. Pikirannya pasti tidak terkendali, sehingga ia lupa tujuan utamanya. "Minggir, Tora!" teriaknya.


"Tidak," kata Tora. "Aku percaya kau tidak akan menembak."


"Aku mencintaimu, Tora. Kumohon, minggirlah. Biarkan aku membunuhnya!"


Kalau dibiarkan, Makoto akan menembak Tora dan Kei. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku yakin Makoto tidak akan puas hanya dengan membunuhku. Ia tidak peduli padaku. Baginya, aku hanya sebuah pion yang dapat digunakan untuk memperlancar misinya. Tapi daripada tidak sama sekali. "Tembak saja aku, Makoto-neesan," kataku, menyelip di depan Tora, sehingga moncong pistol Makoto hampir menempel di keningku.


"Apa yang kau lakukan, Tomomi?" tanya Tora sambil mencengkeram pundakku, mencoba menggeserku ke samping, tapi aku menolak.


Makoto mendengus. Ekspresinya menandakan keheranannya pada kami bertiga. "Kalian berebut peluru pistolku? Perlukah aku mengadakan perlombaan? Hebat sekali... Kau rela mati demi mereka?" tanyanya padaku. Bola matanya menusuk mataku.


Aku mengangguk. "Aku tidak ingin ada yang mati lagi di depanku. Jika nyawaku dapat ditukar dengan mereka, maka aku akan sangat senang," kataku.


"Jangan dengarkan dia, Makoto!" seru Kei yang melangkah cepat ke sampingku dan mengarahkan sendiri pistol Makoto ke jantungnya. Pria itu menoleh padaku. "Kau tidak boleh mati," bisiknya.


Sikap Kei malah membuatku menangis. Aku memang tidak pernah mengerti dirinya, tapi aku tidak ingin dia mati. Aku pun tidak ingin Tora mati. Yang sepantasnya mati adalah aku karena telah menyebabkan semua ini terjadi.


Makoto tertawa sinis. "Kalian benar-benar membuatku muak!" teriaknya.


Kumicho mengangguk-angguk. "Begitu ya," ujarnya pelan. Terlihat kesedihan mendalam di wajahnya. Ia pasti juga sangat kehilangan istrinya, sama seperti Makoto yang merindukan kakaknya. Apalagi, ia tidak sempat bersama istrinya di saat-saat terakhir. Aku dapat menangkap penyesalan dalam kata-katanya ketika kami mengobrol di Hokkaido. Di satu sisi, Kumicho adalah seorang pemimpin klan Yakuza, Hanazawa-gumi. Di sisi lain, dia adalah Hanazawa Tatsuya yang memiliki cinta untuk Kiritani Miya.


"Gara-gara kau, kakakku mati sendirian, keluargaku berantakan, hidupku penuh dengan kegelapan! Dan kau masih tenang-tenang saja seperti itu! Sebaiknya kalian semua mati!" Makoto tertawa melengking.


"Kau sudah gila, Makoto," Kei menggeleng.


Kumicho melangkah pelan ke belakang meja kerjanya. Pria berambut putih itu membuka laci.


"Mau apa kau?" tanya Makoto yang kemudian mengalihkan pistolnya pada Kumicho.


"Bila itu maumu... Maka jadilah," Kumicho mengambil sebuah pistol kecil dari dalam lacinya dan menodongkannya ke pelipisnya sendiri.


"Kumicho!" seru para Yakuza pengawal Kumicho. "Jangan!"


"Semoga kami dapat bertemu kembali di kehidupan mendatang."


DOR!


Hening.


Semua ini bagaikan sebuah film dengan sutradara dan para pemain kawakan, bagaimana mereka membuatku ikut merasakan yang sebenarnya. Tetapi begitu aku berkedip, ternyata ini merupakan kenyataan.


Tubuh Kumicho terjatuh lunglai begitu saja di sebelah meja. Lubang di pelipisnya mengeluarkan darah segar. Seketika, pandanganku gelap karena Tora menutup mataku dengan tangannya. Percuma. Aku telanjur melihatnya.


Kumicho tewas sebagai Hanazawa Tatsuya.


"Kenapa... Kenapa? Kenapa!" Makoto terisak. Mungkin wanita itu menyesal karena bukan dia yang membunuh Kumicho atau ia tak menyangka Kumicho begitu mencintai kakaknya hingga melakukan bunuh diri. Entahlah.


Tak ada yang berani bergerak, tapi tak lagi saling menodongkan senjata.


Pemimpin Hanazawa-gumi telah tiada. Para anggotanya tak lagi memiliki figur seorang ayah bijaksana yang mampu memimpin mereka. Namun, aku tak bisa berhenti memikirkan alasan Kumicho bunuh diri. Kumicho bukanlah orang jahat. Beliau memang melakukan tindakan kriminal, tetapi ia memiliki hati yang hangat. Kurasa ada hal yang seharusnya dibiarkan tanpa jawaban.


Kei berlutut di depan jasad Kumicho tanpa berbicara sepatah kata pun. Setelah beberapa menit dalam diam, ia beralih ke laci meja kerja Kumicho yang masih terbuka, tempat Kumicho mengambil pistol. Kei mengeluarkan sebuah bingkai foto dari sana. Dipandanginya foto tersebut. "Dengan ini, Hanazawa-gumi resmi dibubarkan," katanya. Ia berjalan ke hadapan Makoto dan memberikan foto itu padanya.


Tangis Makoto semakin menjadi karena melihat foto itu. Ia jatuh berlutut, mulai meraung-raung seperti orang gila.


Kei pergi meninggalkan kami yang masih tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Makoto membanting foto itu sampai kacanya pecah berkeping-keping, tapi jatuhnya tak jauh dari kakiku, sehingga aku dapat mengintipnya. Dua orang, laki-laki tua dan gadis remaja, sedang tersenyum. Wajah mereka menggambarkan pancaran kebahagiaan. Di bagian bawahnya terdapat tulisan tangan "Tatsuya-san and Miya-chan. Our Memories".


"Tomomi, kita pulang," ajak Tora.


Aku mengangguk.


Tak lama setelah aku dan Tora berada di luar ruang kerja Kumicho, terdengar suara tembakan yang membuat pundakku lompat. "Siapa yang..." tanyaku tanpa menyelesaikan kalimatku.


"Makoto memenuhi janjinya," jawab Tora.


"Janji apa?"


"Dia pernah bersumpah akan mengakhiri hidupnya sendiri bila orang yang dicarinya telah mati. Aku tidak menduga orang yang dimaksud adalah Kumicho."


Aku menarik napas dan menghembuskannya. Menarik dan menghembuskannya lagi. Tarik, buang, tarik, buang. Tangisku meledak dalam pelukan Tora. Seketika, aku merasa lelah sekali. Aku ingin tidur.


πŸ–ΌπŸ–ΌπŸ–ΌπŸ–ΌπŸ–Ό


**bersambung ke chapter selanjutnya!


gimana chapter ini? adakah yg bisa nebak ceritanya bakal begini? wkwkwk~

__ADS_1


minta like dan comment yaaah...


matta ne**.....


__ADS_2