
Goro kembali tertawa, lalu berjalan mengitariku yang masih terikat tak berdaya di kursi. "Kuakui kau berani mati, Tomomi-chan, tapi di mana menariknya? Aku telah mendapatkan izin dari Kumicho untuk bermain-main denganmu." Langkah kakinya mantap berhenti di belakangku. Dilepaskannya ikatan tanganku, membuatku bebas.
Secepatnya aku melompat menjauhi Goro. Kucoba membuka pintu, tapi tidak bisa, seperti yang telah kuduga. Aku berbalik menghadap si gempal keparat itu. Melihat wajahnya saja sudah membuatku muak. Ingin sekali aku menyerangnya, tapi aku tidak boleh gegabah karena bisa-bisa aku yang kena batunya. Kurasa lebih baik aku menunggu sambil memikirkan sesuatu agar dapat keluar dari sini.
"Tak perlu malu-malu seperti itu, Tomomi-chan. Kau sering melakukannya dengan Tora kan? Ataukah Kei sudah mendahuluiku?"
Aku diam saja karena memang tidak mungkin aku menjawabnya.
"Oh? Kau belum pernah? Beruntungnya aku," Goro menertawai Tora dan Kei. "Bodoh sekali mereka, tidak mau memanfaatkan kesempatan yang ada."
Aku terhina! Aku tidak segampang itu menyerahkan keperawananku kepada orang lain. Yang ada di kepala Goro hanya seks. Karena itulah dia cocok mengurusi klub penari telanjang. Benar-benar pria bejat.
"Aku tidak akan menyakitimu kalau kau menuruti semua perintahku," katanya. "Kau pasti kedinginan kan? Kemarilah, aku akan memberikanmu kehangatan," Goro merentangkan tangannya seolah menyambut pelukanku.
Dengan baju basah, dingin memang menusuk tubuhku. Kepalaku pusing, kedua tanganku mulai gemetar. Ini tidak sama dengan saat berhadapan dengan Seiji. Goro adalah Yakuza. Tora pernah cerita bahwa Yakuza tidak akan mengampuni orang-orang yang telah mempermalukan mereka karena harga diri mereka sangat tinggi. Itu membuatku yakin Goro serius ingin membuatku menderita.
Langkah Goro cepat sekali menuju tempatku berdiri. Lantai bergetar akibat hentakan kakinya.
Tidak mungkin aku menahan tubuh Goro dengan tenagaku, sehingga aku merunduk dan kabur melalui sisi samping badan Goro. Kugunakan kursi sebagai penghalang antara aku dan dia.
Goro berbalik. Ia tersenyum. "Kursi itu tak mempan terhadapku. Kalau kau sungguh-sungguh, lawan saja aku. Tapi hal itu tidak ada gunanya. Lebih baik kau menurut," ia berjalan mendekatiku.
Tora tidak akan datang menyelamatkan aku seperti dulu. Kami sudah tak ada hubungan lagi. Dia tidak peduli lagi padaku. Lagipula, dia tidak mungkin mampu melawan seluruh anggota Hanazawa-gumi.
Lebih baik Tora tidak usah datang, daripada melihatku dalam situasi terburuk sepanjang sejarah hidupku begini.
"Ada apa, Tomomi-chan? Kau tidak ingin bersenang-senang? Aku telah melepaskan seragamku," Goro maju selangkah lagi, membuatku mengangkat kursi itu untuk menghalangi gerakannya. "Aku suka perempuan sepertimu yang selalu ingin melawan. Menarik sekali. Menyerahlah, Tomomi-chan," Yakuza itu menghentakkan kakinya.
Kukerahkan tenagaku untuk memukulnya dengan kursi, tetapi Goro menangkap kaki kursi dan menariknya hingga terlepas dari peganganku.
Goro melemparkannya ke dinding dan seketika kursi rapuh itu patah. Ruangan ini kosong. Tak ada lagi yang dapat kugunakan sebagai penghalang. Satu-satunya yang kupunya hanyalah kekuatanku sendiri. Tapi rasanya aku tidak akan menang melawannya.
Biasanya, dalam kondisi seperti ini, si perempuan akan berpura-pura lemah dan menurut, lalu berbalik menyerang ketika si laki-laki lengah. Mengambil risiko seperti itu bukanlah caraku. Melihat wajah mesumnya membuatku ingin muntah. Jika dipikir lagi, akhirnya akan sama saja. Mau Goro berhasil memperkosaku atau tidak, aku pun bakal tetap mati.
Kalau begitu, aku harus memaksanya membunuhku. Lebih cepat, lebih baik. Aku tidak mau menderita.
Aku meneliti keuntungan yang dapat kumanfaatkan ketika menghadapi orang seperti ini. Goro tidak begitu tinggi, sehingga aku mungkin bisa membuatnya sedikit terganggu. Kuambil ancang-ancang dengan mengepalkan kedua tanganku. Hal itu membuat Goro tertawa, tapi aku tidak peduli. Kucoba meninju wajahnya setelah yakin jaraknya tepat. Goro sibuk tertawa, sehingga tidak memperhatikan lesatan tinjuku yang mengarah ke hidungnya.
Goro mengaduh. "Kau benar-benar perempuan jalang!" ia balas meninjuku.
Tenaganya besar sekali. Terlalu besar hingga membuatku terjatuh. Sudut bibirku berdenyut. Kutendang tulang kering di kakinya sekuatku.
"Kurang ajar! Kau membuatku marah! Kau harus mati di tanganku!" Goro kesakitan. Ia menerkamku, menindihku dengan tubuh besarnya, menjepitku hingga tidak dapat bergerak.
Aku berada di antara kedua pahanya, tak bisa kabur. Kutinju-tinju perut dan pahanya, tetapi ia nampak tidak merasakan apa pun. Aku berteriak, berusaha membalikkan badan untuk merangkak menjauhinya.
"Diam kau!" Goro mengambil kepalaku, lalu membenturkannya ke lantai. Satu kali, dua kali, tiga kali.
Seketika, pandanganku kabur. Kudengar suara resleting dibuka. "Jangan lakukan itu!" seruku lemah. Aku mengerjap-ngerjapkan mata supaya penglihatanku normal kembali. Rasanya pusing sekali sampai kukira aku sedang melayang di udara. Bagian belakang kepalaku mungkin sudah bocor karena aku mencium bau darah. Air mataku langsung keluar melewati pelipisku. Napasku melemah.
Aku berharap aku mati sekarang.
"Ada permintaan terakhir?" tanya Goro penuh kemenangan.
"Bunuh... Bunuh aku sekarang..."
"Sayang sekali aku tidak dapat memenuhinya, Tomomi-chan. Kau harus tetap hidup dan menikmati semuanya terlebih dahulu," Goro menciumi leherku. Sangat menjijikan.
Jika ada harapanku untuk melawan, akan kulakukan. Kudorong badan Goro agar menjauh, tetapi tenagaku seolah telah habis. Perutku mual ketika Goro membuka kancing celanaku. Seluruh tubuhku bergetar. Kupejamkan kedua mataku dengan anggapan bahwa ini hanya mimpi buruk.
Banyak suara yang tertangkap oleh telingaku. Aku tidak tahu suara apa itu. Apakah itu suara para malaikat pencabut nyawa? Apakah aku benar-benar sudah mati? Kukira seseorang hanya dijemput oleh satu malaikat ke alam baka. Kenapa ini banyak sekali? Tapi aku bersyukur karena telah mati sebelum dinodai oleh Goro.
Suara itu semakin jelas terdengar. Semakin jelas dan semakin dekat. Hingga aku menyadari suara pintu didobrak dari depan. "Tomomi!" panggil seorang pria yang baru saja masuk.
Aku tidak memerlukan waktu lama untuk mengenali suaranya. "Tora-san?" panggilku dengan suara serak. Tora datang. Tora datang tepat waktu seperti saat itu. Aku lega.
Suara-suara yang kutangkap tadi adalah kegaduhan yang terjadi di luar ruangan. Aku tidak tahu siapa yang sedang berkelahi, tapi itu berarti Tora tidak sendirian. Tidak mungkin dia masuk seenaknya ke sini tanpa ketahuan. Apakah dia bersama Makoto? Mengapa Makoto tidak menangkapnya?
"Kau menggangguku!" Goro menggeram. Ia bangkit berdiri. Udara segar menerpa tubuhku. "Tak kusangka kau datang ke sini. Sepertinya kau membawa bala bantuan. Tapi tidak apa-apa. Akan lebih menarik bila kau menonton kami bersenang-senang."
"Tidak akan kubiarkan kau menyentuh Tomomi sedikit pun!"
Perkelahian tak terhindarkan. Situasi ini mengingatkanku pada kejadian di atap sekolah. Tora berkelahi dengan Seiji untuk menyelamatkanku. Kali ini, dia melakukannya lagi.
"Kau bahkan tidak mencintainya, Tora. Untuk apa kau susah-susah kemari?" tanya Goro dengan napas tersengal-sengal.
"Laki-laki bejat sepertimu tidak tahu soal cinta. Mengorbankan diri demi orang yang dicintai, aku akan melakukannya dengan senang hati."
__ADS_1
Perkataan Tora membuatku menangis. Baru kudengar lagi Tora mengeluarkan kalimat seperti itu. Terasa hangat sekali.
Goro terbahak. "Perempuan hanyalah sebuah alat. Kau akan membuangnya jika telah bosan atau rusak."
Kurang ajar sekali si gempal itu. Kukumpulkan tenagaku untuk duduk, sementara Tora dan Goro kembali berkelahi. Rasanya seluruh dunia sedang berputar mengelilingiku. Kuraba bagian belakang kepalaku. Benar saja, darah membasahi 3 jariku. Aku menggeleng agar pandanganku cepat pulih. Butuh waktu beberapa detik untuk melihat dengan jelas.
Tora terkena pukulan di wajah dan perutnya. Ia pun membalas dan berhasil menendang dada Goro, membuat Yakuza botak itu terhuyung ke belakang. Tora lebih besar daripada Kei, sehingga ia dapat menjadi lawan seimbang bagi Goro.
"Kalian berdua sama-sama membuatku kesal!" Goro marah dan kembali menyerang Tora.
Aku berguling ke samping. Dengan sekuat tenaga, aku bertumpu pada lututku agar dapat bangkit. Tak lupa, kukancingkan lagi celanaku. Belum juga terlihat siapa yang akan menang. Aku ingin sekali membantu Tora, tetapi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kurasa aku belum sanggup untuk berdiri karena kepalaku pusing sekali.
Akhirnya, Tora berhasil membuat Goro babak belur. Tora menarik kerah kemeja Goro dan memukul wajahnya berkali-kali. Darah segar mengalir dari hidung, pelipis, dan sudut bibir Goro. Kali ini aku benar-benar menginginkan kematiannya.
Goro sudah tidak dapat membalas, tapi masih hidup. Tubuhnya tergeletak begitu saja di lantai.
Tora beralih padaku. "Ayo, Tomomi. Bisakah kau berdiri?" tanyanya sambil memeriksa kepalaku. "Parah sekali. Kugendong saja. Naiklah, Tomomi," katanya sambil berjongkok membelakangiku.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menurutinya.
Tora mengangkat kakiku, lalu berdiri. "Aku akan mengeluarkanmu dari sini, Tomomi. Tapi kita harus mencari Makoto terlebih dahulu."
"Makoto-neesan?" Aku teringat cerita Goro tentang Makoto. "Tora-san, kenapa kau bersamanya?" bisikku.
"Eh? Ada apa, Tomomi?" tanya Tora polos.
"Makoto-neesan yang membunuh Misaki!"
Tora melongo. "Mengapa kau selalu mencurigai Makoto?" tanyanya.
"Karena Goro-san yang mengatakannya. Makoto-neesan berkomplot untuk membunuh kita semua. Kau benar tentang Kei-san, tapi Makoto-neesan juga mempunyai rencana yang sama," jelasku. Kali ini akulah yang memberi tahu informasi penting. Tora harus percaya padaku. "Sebaiknya kita pergi saja dari sini, Tora-san."
"Tapi..."
"Apa yang kau pikirkan? Aku tidak bohong!"
"Tora, Tomomi," panggil seorang wanita dari luar.
"Itu Makoto-neesan," bisikku.
"Aku akan mencari tahu. Sebaiknya kau di sini saja," Tora menurunkanku dengan mudah.
"Kau lebih aman bersamanya daripada di luar. Jangan membuat suara apa pun! Makoto tidak tahu kau di sini. Tunggu sampai aku kembali!" Tora menempelkan telunjuk di bibirnya dan menutup pintu rapat-rapat.
Segera saja kulangkahkan kakiku ke daun pintu untuk menguping. Kupasang telingaku lebar-lebar.
"Bagaimana?" tanya Makoto pada Tora di luar.
"Tomomi tidak ada di dalam. Kita cari ke tempat lain," ajak Tora.
Sekarang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak suka menunggu. Duduk, berdiri, mondar-mandir, duduk lagi, berdiri lagi, mondar-mandir lagi. Jika keluar, mungkin aku akan bertemu dengan orang-orang yang mengincarku. Kepalaku ini bisa jadi dihargai mahal oleh Kumicho. Barang siapa yang berhasil memenggal kepalaku, akan mendapatkan sejumlah uang.
Di dalam film, biasanya si wanita akan mengingkari janjinya dan kabur menyusul kekasihnya. Atau di dalam game, si wanita akan bersusah payah melawan musuh hingga akhirnya memenangkan permainan sebelum kehabisan darah. Tetapi ini realita. Tak ada kata "cut" dan "load". Kalau terbunuh, maka aku tidak dapat mengulang lagi. Nyawaku hanya ada satu. Bila hilang, selesailah sudah.
Game over.
Aku tidak takut menghadapi serangan Koizumi dan kawan-kawannya, tapi kali ini, lawanku jauh berbeda. Baru bertemu Goro saja, nyaliku langsung menciut. Ini memang salahku memulai permainan dengan Yakuza, sengaja melibatkan diri di dalam jaringannya karena kasihan terhadap seorang gadis seusiaku yang menjadi gila akibat ulah keluarganya sendiri.
Namun, semua sudah terjadi. Sejak awal, aku tahu konsekuensinya. Dan sekarang aku harus menerimanya. Aku tidak tahu lagi siapa yang disebut pengkhianat. Tora mengkhianati klannya, Kei dan Makoto mengkhianati sahabat mereka, dan aku mengkhianati diriku sendiri. Aku terlalu percaya diri ketika berniat mempertemukan Tora dan Misaki. Aku ingin melakukannya, tapi aku takut ketahuan.
Apa yang kutakutkan, itulah yang terjadi.
Sekarang Tora sedang bersama orang yang membunuh Misaki. Besar kemungkinan Makoto membunuh Tora sekalian. Tentu saja Kumicho akan memberikan tanda jasa kepadanya. Makoto tidak tahu keberadaanku, tapi wanita keji itu pasti dapat menemukanku dengan cepat. Bila bukan dia, pasti orang lain.
Tak lagi terdengar suara dari luar. Aku tidak tahu akan ke mana jika keluar sendirian. Bisa jadi aku malah akan bertemu Yakuza, bukannya pintu keluar. Lagipula, aku tidak bisa meninggalkan Tora begitu saja.
"Tomomi-chan!" Seorang pria membuka pintu sambil memanggil namaku.
"Kei-san!" pekikku terkejut. Sial sekali.
Air muka Kei nampak cemas. Keringatnya banyak sekali. "Syukurlah kau tidak apa-apa," katanya setelah melihat Goro di lantai. "Ikutlah denganku!"
"Ke tempat kematianku? Tidak, terima kasih."
"Bukan. Aku tidak akan membunuhmu, Tomomi-chan. Kita harus keluar dari sini."
"Aku tidak percaya lagi padamu!" Aku melangkah mundur. Seketika, aku menjerit karena tangan Goro mencengkeram kakiku. Sekuat tenaga, aku menarik kakiku agar terlepas, tetapi cengkeramannya semakin kuat. "Lepaskan aku!" teriakku.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa lari lagi, Tomomi-chan," Goro menatapku beringas. "Tangkap dia, Kei!"
Kei menghampiri kami dan menendang wajah Goro hingga membuatnya pingsan lagi. "Kau masih tidak percaya padaku?" tanyanya.
Aku diam saja.
"Aku bahkan bisa membunuh Kumicho kalau kau mau."
"Tidak!"
"Dengarkan aku, Tomomi-chan. Aku dapat mengeluarkanmu dari sini."
"Kau cukup membantu jika waktu itu kau tidak menangkapku di depan rumah Nana-chan."
"Aku melakukannya untuk menyelamatkanmu."
"Apa tidak salah? Kau hampir saja membuatku diperkosa bajingan yang baru saja kau tendang itu! Kalau Tora-san tidak datang tepat waktu, kalian tidak perlu repot membunuhku karena aku akan membunuh diriku sendiri."
Kei menunduk. "Maafkan aku," ucapnya.
Aku sama sekali tidak mengerti pria ini. Awalnya, dia baik sekali padaku, lalu menangkapku, dan sekarang mau menolongku lagi. "Sebenarnya kau ada di pihak siapa?" tanyaku.
Kei mengangkat ujung lengan jaketnya. Sebuah benda logam melingkari pergelangan tangannya. Ia tersenyum ketika aku meraba saku celanaku yang telah kosong. "Aku di pihakmu, Tomomi-chan," jawabnya mantap. "Aku sudah bosan menjadi anjing peliharaan Yakuza."
"Oh ya? Kukira kau adalah anak emas Kumicho," kataku sinis.
"Kau tahu aku tidak dapat mengundurkan diri. Mereka pasti akan mengejarku ke ujung mana pun. Karena itu, aku membuat kehebohan ini. Akulah yang melaporkan kalian pada Kumicho."
"Lalu, kau mau berpura-pura mati di tengah kekacauan ini?"
Kei mengangguk. "Kita akan berpura-pura mati. Aku yang meminta Makoto mengajak Tora-kun kabur meninggalkanmu. Tetapi, dia mengacaukan rencanaku dengan membuat Tora-kun datang ke sini. Entah apa tujuan Makoto sebenarnya," Kei menghela napas. "Dan bisa-bisanya Tora-kun mempercayai orang yang telah membunuh adiknya sendiri."
"Jadi benar, Makoto-neesan yang telah membunuh Misaki."
"Aku melaksanakan perintah Kumicho untuk menangkapmu, tapi aku bersedia mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkanmu," Kei menatapku lurus.
Apakah aku dapat mempercayainya? Bisa saja dia malah membawaku kepada Kumicho. Aku ingin keluar dari sini, tetapi risiko yang kuambil sangatlah besar jika aku ikut dengan Kei. "Bagaimana dengan Tora-san?"
"Jika pintar, tentu dia akan selamat."
"Bagaimana kau bisa mengatakannya dengan mudah? Dia itu..."
"Dia bodoh karena datang ke sini untuk menyelamatkanmu. Membunuhku ada dalam daftar rencananya karena aku telah menangkapmu dan kalau menemukan aku, dia pasti akan melakukannya. Aku tidak peduli padanya, mau selamat atau tidak. Aku sengaja membuat kalian terpisah karena akan lebih mudah membebaskan satu orang. Tapi siapa sangka dia termakan omongan Makoto untuk melakukan misi penyelamatan palsu. Makoto sama sekali tidak ingin kau bebas, Tomomi-chan."
"Aku tahu Makoto-neesan yang membunuh Misaki. Dan kau membahayakan nyawa temanmu sendiri! Bagaimana kalau Tora-san keburu dibunuh Makoto-neesan?" tanyaku sambil menunjuk hidung Kei.
Yakuza sekaligus host itu tertawa. "Makoto tidak mungkin membunuh Tora-kun karena ia menyukainya. Ia berharap Tora-kun tewas dalam misi ini. Dengan begitu, ia bisa membunuhmu sesukanya."
Makoto jahat sekali, tega melihat orang yang dicintainya sendiri tewas. Aku tahu dia tak punya pilihan selain mematuhi perintah Kumicho. Ini pasti sangat sulit baginya karena dialah yang membunuh Misaki. Aku yakin dia tidak akan mengakuinya. "Tapi... Bagaimana dengan perasaan Tora-san yang sebenarnya?" Aku masih tidak ingin menerima kenyataan bahwa Tora tidak tulus mencintaiku. Namun, jika tidak mencintaiku, untuk apa dia datang dan mengatakan ingin menyelamatkanku?
"Tora-kun mencintaimu, Tomomi-chan. Kau harus percaya itu," Kei tersenyum. "Sebaiknya kita segera keluar dari sini."
"Aku ingin bertemu Tora-san," kataku.
"Kau tidak mendengarku? Aku tidak mau menolongnya."
"Tapi aku ingin kita semua lari bersama." Aku pengecut, tidak berani melakukannya sendirian, sehingga mengajak orang yang lebih mampu. Aku tidak pantas mengajak Kei ke tempat berbahaya. "Ah, tidak. Aku yang akan pergi mencari Tora-san. Kau kabur saja dari sini, Kei-san."
"Apa? Kau tahu itu tidak mungkin terjadi! Kau sudah gila, Tomomi-chan!" Suara Kei meninggi. Ekspresi keheranan timbul di wajahnya.
"Kau takut dibunuh Tora-san?" Pertanyaanku itu mengejutkan Kei. "Sejak awal, aku memang telah bersumpah untuk selamat atau mati bersama Tora-san. Jika ia mati, maka aku pun akan mati. Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan memikirkan dirinya. Aku juga tidak ingin menjadi orang gila dan menghuni rumah sakit jiwa seperti Yamazaki-san. Tora-san memiliki bagian terbesar dalam hidupku. Aku tidak peduli bila kami akan mati."
"Hentikan!" seru Kei seraya memelukku, membuatku terkejut. "Jangan bilang kau akan mati!"
"Tidak apa-apa, Kei-san. Aku siap..."
"Oi!" Kei mengguncang badanku, mempererat pelukannya. Dengan lembut, ia membelai rambut kusutku.
Kami berada dalam posisi ini selama beberapa menit. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Kei, tapi aku berharap dia mau membiarkanku menyusul Tora.
😬😬😬😬😬
**bersambung ke chapter 29!
bagaimana iniii? adakah yg bingung sama Kei? 😂
minta like dan comment yah guys...
__ADS_1
matta ne**...