
Hari yang membuatku berdebar-debar tidak karuan akhirnya tiba. Tora menjemputku pagi-pagi sekali. Tidak dibiarkannya aku berganti baju. Ia datang dan langsung mengangkut barang-barangku ke mobilnya. Setelah itu, ia kembali untuk menarikku keluar dari apartemenku. "Sayonara," ucapnya ketika menutup pintu di belakangnya. Laki-laki ini sangat girang sampai bersiul dan bernyanyi. Aku tidak tahu lagu apa yang ia gumamkan. Malah aku mengira itu adalah lagu tema Hanazawa-gumi.
"Aku kerja siang ini sampai malam. Jadi, setelah sekolah, langsung pulang ke rumah ya," perintah Tora ketika kami berada dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya.
"Kalau aku dapat mengingat jalan untuk pulang ke rumahmu," kataku.
"Kau pasti ingat! Rumahku terletak tak jauh dari sekolahmu."
"Benarkah? Kawasan elit?"
"Tidak juga. Rumahku tak sebesar rumah Makoto yang memiliki 2 lantai, tapi cukup untuk ditinggali 1 keluarga."
"Wah! Kalau begitu..." Aku terdiam, tidak jadi mengatakan sebuah ide cemerlang bahwa Tora bisa membawa Misaki untuk tinggal bersamanya. Jika aku memberikan ide tersebut, Tora pasti akan segera menyetujuinya. Sebaiknya aku tidak memancingnya untuk melaksanakan ideku karena hal itu sangat berbahaya.
"Kalau begitu?" tanyanya menunggu kelanjutan kalimatku.
"Kalau begitu Makoto-neesan lebih makmur daripada dirimu. Aku akan tinggal bersamanya saja," ledekku.
"Eh? Apa?" Mata Tora membelalak. "Awas ya!" ancamnya.
Aku menertawakan ekspresinya. "Kau tidak mungkin cemburu pada wanita kan, Tora-san?"
"Makoto sebenarnya laki-laki."
"Eh? Bohong!" Kali ini aku yang melotot.
"Memang bohong," Tora tertawa.
Kami tiba di sebuah kawasan perumahan. Aku langsung menyukai kawasan ini karena terlihat bersahabat dan bersih. Rumah-rumah di kiri-kanan yang kami lewati semuanya memiliki 1 lantai. Cat temboknya berwarna-warni. Atap yang kokoh baik untuk melindungi rumah dari angin topan. Aku jadi ingin tahu bagian dalam rumahnya.
"Yang itu," kata Tora, menunjuk sebuah rumah bercat putih di sisi kanan jalan.
Tak kusangka rumah Tora bercat putih dan nampak terawat. "Cantik," pujiku. Saat aku turun dari mobil, lebih jelas lagi terlihat bahwa rumah ini dilengkapi dengan papan nama bertuliskan "Tonomura". Sama sekali tidak seperti rumah Yakuza. Bila kubandingkan dengan rumah Makoto-neesan, rumah Tora tentu lebih sederhana. Nampaknya Tora tidak ingin kerepotan mengurus taman atau membersihkan halaman luas.
"Ayo," ajaknya setelah menurunkan barang-barangku yang tidak banyak. Aku hanya membawa sebuah koper dan sebuah tas. Tora membawanya dengan mudah. Badannya memang besar dan kuat. Ia memimpinku masuk melewati halamannya, lalu membuka pintu rumahnya. "Selamat datang."
Aku mengikutinya dari belakang. Bagian dalam rumah nampak lengang. Di sebelah kiri terdapat dapur dan meja makan. Beberapa meter di depannya adalah satu set sofa berwarna kuning tua yang mengelilingi meja kopi berbahan kayu. Di temboknya ada televisi berukuran besar dengan lemari kabinet pendek di bawahnya. Tora gemar sekali menonton. Di sisi kanan terdapat 3 buah pintu yang kuperkirakan adalah kamar tidur dan kamar mandi.
"Kamarmu di sana," kata Tora. Langkah panjangnya membelah lantai kayu rumahnya ke sebuah pintu terakhir dari tempatku berdiri.
Setelah mencopot sepatu, aku menghampiri Tora yang sedang membuka pintu kamarku. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah tempat tidur untuk satu orang, meja belajar, dan lemari pakaian berukuran sedang. Dia pasti sudah mempersiapkan segala sesuatunya. "Kau yang membersihkannya?" tanyaku.
Tora mengangguk. "Kuharap kau nyaman," ucapnya sambil meletakkan koperku di lantai dan tasku di atas meja belajar. "Meja ini supaya kau bisa mengerjakan tugas sekolahmu."
Aku tidak dapat menahan tawaku karena Tora nampak seperti bapak yang baru saja mengadopsi anak sekolah. Gemas sekali rasanya melihat Yakuza unik ini. Dia sangat memperhatikan aku. "Terima kasih, Tora-san."
"Silakan bersiap-siap. Aku akan menunggu di luar. Akan kuantar kau ke sekolah."
Aku langsung duduk di ranjang begitu Tora keluar. Ranjang ini empuk sekali. Sebuah jendela besar di sebelah lemari pakaian membuatku dapat melihat bagian belakang rumah. Terdapat beberapa helai pakaian Tora yang dijemur di sana. Selama ini Tora melakukan semuanya sendirian. Benar-benar orang yang mandiri. Aku sering melihat kedua pamanku yang keperluannya selalu diurus oleh istri masing-masing. Dan sekarang aku mulai berpikir, apakah mungkin nanti aku pun harus mengurusi segala kebutuhan Tora. Aku belum mempunyai kemampuan seperti itu, tapi aku akan berusaha bila memang itulah yang seharusnya.
🥰🥰🥰🥰🥰
Kupenuhi janjiku untuk pulang tepat waktu. Tora telah memberikan kunci cadangan rumahnya padaku. Begitu tiba di rumah, tidak ada siapa pun. Rasanya agak aneh. Pemilik rumah ini jarang menghabiskan waktu di rumah, kecuali saat libur. Seperti apa Tora di rumahnya sendiri?
Tadi pagi aku tidak sempat memperhatikan, tapi dapurnya cukup bersih. Meja kopinya berdebu, begitu pun dengan televisi dan lemari kabinetnya. Di kamar mandi terdapat shower, bath tub, kakus, dan wastafel dengan cermin di atasnya. Rupanya Tora kadang-kadang berendam karena bagian dalam bath tub-nya sedikit licin. Lantainya juga dapat membuat orang terpeleset di bagian tertentu.
"Dia hanya membersihkan kamarku," gumamku sendirian. Suaraku bergema di kamar mandi.
Inginnya aku mengintip kamar Tora, tapi tidak jadi karena mungkin aku akan menemukan sesuatu yang menyeramkan. Walaupun tidak terlihat menyukai hal-hal yang berbau horor, bukan tidak mungkin dia memiliki topeng hantu seperti Makoto.
"Sebaiknya aku bersih-bersih saja," kataku sambil beralih ke belakang rumah untuk mengambil sapu.
Pukul 7 malam. Aku lapar dan si pemilik rumah belum juga pulang. Daripada mati kelaparan, aku memutuskan untuk mencari sesuatu yang bisa dimasak di kulkas. Aku ingat Nenek pernah memasak sejadinya karena tidak mempunyai ide masakan. Kalau begitu, aku pun akan memasak seperti itu. Kuambil sayuran dan bumbu-bumbu seperlunya. Aku tidak tahu apa yang akan Tora buat dengan bahan-bahan ini, tapi aku akan menggantinya besok.
Kubersihkan dapur Tora sampai kompornya mengilap. Aku memasak juga untuk Tora, kalau-kalau dia lapar, meskipun tidak seenak masakannya. Setelah makan, aku mengerjakan tugas sekolah yang seharusnya dikumpulkan minggu depan untuk membunuh waktu. Menunggu tidaklah membosankan bila aku mengerjakan sesuatu.
Aku menyalakan televisi pada pukul 10. Namun, berkali-kali tertidur. Aku bingung memilih, apakah aku tidur saja atau tetap menunggu kepulangan Yakuza sibuk itu.
__ADS_1
Sedetik kemudian, mataku terbuka dan aku pun terduduk di ranjang. "Eh?" Seingatku, tadi malam aku menonton televisi. Pasti Tora yang memindahkanku ke kamar. Aku pun bergegas keluar. "Tora-san," panggilku.
Tora tidak ada. Rumah ini sepi seperti kemarin. Kulirik meja makan. Sepiring makanan yang kubuatkan untuk Tora tadi malam telah menghilang.
"Setidaknya dia makan," aku mengangkat bahu. "Kurasa aku akan berangkat sekolah sendirian."
Sekolah berlangsung seperti biasa. Hari ini ada pelajaran Olahraga. Aku berhasil mempermalukan diriku sendiri dengan terjatuh di tengah lapangan basket karena terlalu bersemangat mengejar bola. Hasilnya, lututku lecet dan memar. Pada jam istirahat, aku pun terjatuh di tangga karena terburu-buru masuk kelas. Tulang keringku terantuk bibir anak tangga dan segera membiru. Benar-benar sial.
Orang-orang tua bilang, "Jika kau merasa sial di siang hari, malam harinya kau akan mendapatkan keberuntungan." Semoga itu benar. Aku tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Bagiku, hari-hariku biasa saja. Yah, sebelum bertemu dengan Tora. Bila kesialanku ini membuahkan hasil bagus, berarti pepatah itu benar.
Aku menunggu datangnya keberuntungan itu di rumah. Sendirian. Sudah kucoba mengirim pesan pada Tora, tapi dia tidak membalas. Tentu aku tidak berani meneleponnya karena tidak tahu tugas semacam apa yang sedang dilaksanakannya. Bisa saja dia sedang mengantar Kumicho menyelundupkan senjata atau menagih utang ke tempat-tempat suram atau malah bersenang-senang dengan saudara-saudara Hanazawa-gumi, ditemani wanita-wanita cantik bertubuh seksi yang meliuk-liuk di atas panggung klub penari telanjang.
Sudahlah. Aku berkhayal terus. Lama-kelamaan, aku semakin gusar. Lebih baik aku tidak memikirkannya sama sekali. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Aku sudah sial dari tadi pagi. Tak apa-apa kalau Tuhan mau menambah kesialanku. Toh sebentar lagi aku akan tidur. Mungkin besok tidak akan seburuk hari ini.
Namun, kenyataannya tetap sama. Tora berangkat pagi-pagi sekali sebelum aku bangun. Ataukah dia tidak pulang? Ini sama saja dengan tinggal sendirian di apartemenku. Meskipun kecil dan lembap, aku tidak pernah merasa kesepian seperti ini. Tora yang mengajakku tinggal bersamanya, tetapi dia juga yang meninggalkan aku di rumahnya. Apakah sebenarnya dia tidak mau aku di sini?
Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Akan kutunggu sampai dia pulang. Aku tidak boleh tertidur lagi.
Sengaja kutonton DVD film-film menegangkan agar mataku tetap terbuka. Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam dan aku terus menonton. Akhirnya, pukul 2 lewat 25 menit, bel pintu berbunyi. Jika Tora membawa kunci, buat apa dia menekan bel? Untuk memastikan, aku mengintip dari balik gorden.
Seorang pria sedang menunduk di depan pagar. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tapi ia mengenakan kemeja lengan panjang putih dan celana panjang hitam. Lampu di halaman rumah Tora tidak mampu memperjelas apa yang kulihat. Yang penting dia manusia.
Kuhentikan dulu film yang sedang kuputar untuk keluar. "Siapa?" tanyaku pada tamu itu. Setelah ia mengangkat kepala, barulah aku mengenalinya. "Kei-san?"
Host teman Tora itu memberikan senyuman cemerlangnya padaku, membuatku menaruh curiga bahwa ia sedang mabuk. Lagipula, untuk apa dia bertamu pada dini hari begini. "Selamat malam, Tomomi-chan," sapanya sopan. "Kau belum tidur."
"Aku sedang menunggu Tora-san."
"Boleh aku masuk?"
"Oh," aku baru sadar belum membukakan pintu untuknya. "Ya, tentu saja."
Kei masuk melewatiku dengan santai. "Boleh kupinjam kamar mandimu?"
Aku mengangguk sambil bertanya-tanya sendiri. Kei datang kemari, pasti mempunyai tujuan. Tidak mungkin ia mampir untuk sekedar buang air. Kuikuti Kei ke dalam.
"Tidak!" tukasku.
Ia tertawa kecil sebelum masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, terdengar suara air mengalir di wastafel.
"Dia hanya mencuci muka," gumamku.
"Kau sedang menonton apa?" tanya Kei yang telah keluar saat aku mematikan televisi.
"DVD."
"Boleh aku ikut menonton?"
"Eh? Sudah kumatikan." Sebenarnya apa maksud orang ini datang kemari? Meminjam kamar mandi dan menonton film seenaknya.
"Kau punya makanan? Aku lapar."
Yang tersisa hanya makanan untuk Tora yang kumasak dengan sepenuh hati. Aku tidak ingin memberikannya pada Kei. Harapanku adalah Tora pulang dan memakannya. Tapi makanan itu pasti sudah dingin. Malangnya nasib perempuan yang menunggu pacarnya pulang. "Makan saja punya Tora-san. Kurasa dia tidak akan pulang malam ini," aku menghela napas.
Kei makan dengan lahap seolah sudah berhari-hari dia tidak makan. Ia meletakkan piring makannya di bak cuci piring, lalu menyandarkan dirinya di sana.
Suasana jadi hening karena tak ada satu pun di antara kami yang berbicara.
Aku menunggunya menjelaskan tujuan kedatangannya, tetapi dia hanya memberikan ekspresi datar. "Sebenarnya, kau mau apa? Tora-san tidak ada di sini."
"Belakangan ini Tora-kun mendapatkan banyak tugas dari Kumicho. Dia minta maaf karena tidak bisa menemanimu."
"Dia menyuruhmu mengatakannya padaku?"
Kei mengangguk.
Tora tidak bisa mengatakannya sendiri. Bahkan, dia tidak bisa mengetiknya dalam pesan singkat. Dia malah meminta orang lain untuk menyampaikannya. Bagus sekali. "Aku akan meneleponnya," kataku tidak sabar.
__ADS_1
"Jangan!" cegah Kei.
"Kenapa?"
"Sekarang dia sedang bersama Kumicho. Mereka mengadakan pertemuan dengan salah satu relasi bisnis Kumicho. Walaupun kau menelepon, mungkin dia tidak akan menjawabnya."
"Jadi sekarang Tora-san sudah naik pangkat?"
"Semacam itulah," Kei melipat lengannya di depan dada.
"Lalu, tujuanmu datang kemari?"
"Oh, aku hanya diminta Tora-kun untuk melihatmu sebentar."
"Apa?"
"Aku sudah melihatmu. Kalau begitu, aku pulang ya," Kei beranjak dari tempatnya bersandar ke pintu keluar. Kubiarkan dia keluar sendiri.
Esoknya, Kei datang lagi. Begitu pula dengan esok dan esoknya lagi. Aku mengambil kesimpulan bahwa jika Kei datang, itu berarti Tora tidak pulang. Aku tidak percaya Tora tega melakukannya padaku. Menyuruh orang lain melihatku dan melaporkan keadaanku. Lalu, jika sudah tahu aku baik-baik saja, maka ia bisa terus bekerja tanpa pulang ke rumah. Terkadang, mungkin lebih baik memiliki pacar yang bukan Yakuza.
Aku tahu Tora akan mendapat masalah jika tidak melaksanakan perintah Kumicho. Tapi bukankah dia bisa mengabarkannya sendiri padaku? Apa susahnya menelepon atau mengirim pesan lewat ponsel? Aku toh tidak akan memarahinya.
Menyebalkan sekali kalau tidak ada Tora.
"Aku pulang ya," pamit Kei ketika berkunjung lagi. Tiap kali datang, dia hanya meminta makanan dan meminjam kamar mandi. Penilaianku terhadapnya sedikit berubah. Awalnya, kukira dia hanya pengganggu, tetapi ternyata dia baik karena mau saja disuruh ini-itu oleh Tora. Entah kenapa, Kei yang dulunya cerewet, sekarang jadi pendiam. Seperti menahan diri untuk tidak bicara banyak. "Tomomi-chan," ia menghentikan langkahnya, lalu berbalik.
"Ya?"
"Kalau memasang tampang suram itu setiap hari, kau tidak akan pernah bahagia," katanya.
"Eh?" Aku baru sadar wajahku datar saja dari kemarin-kemarin. Di sekolah, aku menolak mengobrol dengan teman-temanku, juga tidak memperhatikan pelajaran dengan baik. "Ini gara-gara Tora-san," aku melirik ke kanan.
"Tidakkah kau berpikir bahwa dia sangat memperhatikanmu?"
Angin dingin malam ini membuatku merinding. "Apanya yang memperhatikan? Dia tidak pulang selama berhari-hari. Aku seperti orang bodoh yang menungguinya terus. Lama-kelamaan, aku akan mati sendirian seperti istri Kumicho."
Kei tertawa. "Kalau Tora-kun tidak memperhatikanmu, aku tidak akan datang setiap hari. Aku bersedia membantunya semampuku karena melihatnya sangat mengkhawatirkanmu. Dia merasa bersalah sekali padamu, Tomomi-chan."
Kata-katanya benar juga.
"Tersenyumlah. Keberuntungan akan datang pada orang yang selalu tersenyum," Kei melebarkan senyumannya.
Aku tidak pernah melihat Kei tersenyum seperti ini sebelumnya. Biasanya yang terpancar di wajahnya adalah senyuman ala host yang menjijikkan.
"Kalau begitu... Aku pulang dulu."
"Terima kasih, Kei-san," ucapku.
Jam 3 pagi begini, apa yang akan kulakukan? Aku tidak mengantuk sama sekali. Mungkin aku tidak akan bisa tidur walaupun mencobanya. Semua tugas sekolah telah kuselesaikan. Aku tidak memiliki keinginan untuk membaca buku atau menonton televisi.
Kei benar. Cemberut dan murung hanya akan memperburuk nasibku. Aku jadi bertanya-tanya, apakah senyuman Kei terhadap para pelanggannya itu tulus. Setiap hari dia menemani para wanita. Jika tidak tersenyum, tentu tamu-tamunya akan merasa tidak nyaman. Apalagi, Kei adalah host terlaris di klubnya. Kesalahan sedikit saja, para tamu tidak akan datang lagi. Apakah Kei menyukai pekerjaannya?
Mataku berat, tapi otakku belum juga lelah. Aku malah sempat membayangkan bagaimana jika aku dan Tora berpisah. Apartemenku sudah ditempati orang lain, sehingga aku luntang-lantung di jalanan. Tak punya uang, tak punya tempat tinggal. Akhirnya seseorang menemukan dan menjadikan aku sumber uangnya di klub penari telanjang. Masa depanku, yang seharusnya berada di samping Tora, berubah seratus delapan puluh derajat. Aku dipelihara oleh seorang bapak tua berperut buncit untuk dijadikan budak seks.
Aku terlalu takut, sehingga memilih untuk tetap di sini. Bagaimana pun juga, ini adalah rumah Tora. Di sinilah ia tinggal. Keyakinanku bertambah seiring meningkatnya kepercayaanku padanya.
Aku meringkuk di sofa besar milik Tora sambil memikirkan di mana pacarku itu sekarang. Apakah masih di klub, atau sedang mengantar Kumicho, atau malah sedang bersama Makoto? Sampai sekarang, aku masih mempunyai sedikit rasa cemburu pada wanita itu. Masalah ini memang ada pada diriku. Aku tidak tahu pasti apakah Makoto menyukai Tora. Dia tidak pernah mengatakannya secara langsung.
Omong-omong soal Makoto, aku jadi ingat ketika kami bertemu di rumah sakit. Bagaimana kalau dia tidak percaya pada cerita palsuku tentang Misaki? Apa yang akan dilakukannya jika mengetahui bahwa Tora juga sedang mengunjungi Misaki? Mungkinkah dia akan membocorkan rahasia ini kepada Kumicho? Makoto adalah orang kepercayaan Kumicho, sehingga besar kemungkinannya dia tidak akan mengkhianati Hanazawa-gumi dengan ikut merahasiakan hal ini. Bila sudah tahu, apa yang akan dilakukan oleh kakek berambut putih itu? Membunuh kami?
Bulu kudukku langsung tegak seperti kucing.
🐈🐈🐈🐈🐈
**bersambung ke chapter 20!
minta like dan comment yah..sebenernya 1 chapter 2000an kata nih terlalu panjang gak sih? kan ada orang yg bosen baca kalo terlalu panjang 😅
__ADS_1
matta ne**...