
Pria berkulit gelap dan berambut putih berjalan menghampiriku, melewati 4 pria yang sedang menundukkan kepala di kanan kirinya. Ia mengenakan setelan jas abu-abu serta sepatu hitam mengilap. Raut wajah dan cara berjalannya yang anggun menunjukkan kewibawaan dan karisma, walaupun ia tidak sebesar para pengawalnya. Sebuah cincin berbatu tersemat di jari tengah tangan kanannya. Ia tidak memakai kacamata hitam, sehingga aku dapat melihat sorot matanya yang ramah namun mengintimidasi. Aku sampai bergidik dibuatnya.
"Selamat siang," salamku padanya sambil menundukkan kepala, berusaha agar suaraku tidak terdengar gemetar.
"Selamat siang, Tomomi-chan. Namaku Hanazawa Tatsuya dari Hanazawa-gumi. Senang berkenalan denganmu," sapanya hangat. "Aku datang ke sini untuk berdoa."
"Oh, silakan, Kumicho," kataku sopan, lalu menyingkir.
Kumicho tergelak karena mendengarku memanggilnya demikian. Kerutan di matanya jadi terlihat jelas. "Maukah kau menunggu di bawah? Aku ingin sedikit berbincang denganmu," katanya. Kedua bola matanya memandangiku dari kepala sampai ke kaki. Aku melirik Tora yang sedang menatapku. Sepertinya Kumicho menyadarinya, sehingga ia bertanya, "Boleh kan, Tora?"
Tora terkejut. "Ya, Kumicho!" jawabnya tegas.
Jadilah aku menunggu pria tua itu berdoa. Aku duduk di kursi batu di pinggir kuil. Setelah mereka semua berdoa, Kumicho menghampiriku diikuti para pengawalnya. Kami berbicara sambil berjalan, sedangkan Tora dan teman-temannya berada di belakang. Baru kali ini aku dikawal oleh 4 orang pria. Terasa superior.
Yang diperbincangkan oleh aku dan Kumicho hanyalah obrolan ringan seperti soal keluarga dan sekolah. Aku menceritakan tentang ayahku yang telah meninggal dan ibuku yang tidak mau mengurusku, juga nenekku yang merawatku dari kecil. Kumicho serius mendengarkan. Sepertinya dia berempati padaku.
Kumicho pernah menikah dengan seorang gadis berusia 18 tahun, 10 tahun lalu. Gadis itu meninggal karena kanker hati. Kumicho nampak sedih sekali saat menceritakannya. Pasti ia sangat mencintainya. "Aku menyesal telah membiarkannya meninggal sendirian. Waktu itu aku sedang berada di Spanyol," kenangnya seraya menerawang mengingat kejadian menyedihkan tersebut.
"Aku ikut sedih mendengarnya," kataku, karena tidak tahu harus mengucapkan apa lagi.
Kumicho menganggukkan kepala. "Aku sudah mendengar sedikit tentang dirimu dari Makoto. Dan kupikir kau menarik sekali."
"Makoto-neesan sangat membantu."
"Ya. Dia pandai menari, tapi aku lebih mempercayainya untuk urusan keuanganku."
"Apa Anda punya anak dengan istri Anda?" tanyaku ingin tahu. Jika Kumicho mempunyai anak, maka mungkin anak itulah yang akan menjadi pemimpin Hanazawa-gumi kelak.
"Tidak. Aku sudah terlalu tua, sedangkan dia sakit-sakitan."
Aku menghela napas. "Setidaknya Anda sempat membuatnya bahagia. Aku yakin istri Anda meninggal dengan tenang karena dia tahu Anda sangat menyayanginya."
Kumicho agak terkejut karena kata-kataku barusan. "Bahagia ya. Apa kau bahagia bersama Tora?"
"Eh? Oh, kami tidak... Eeeh, maksudku, kami bukan sepasang kekasih," aku menunduk malu.
"Kau tidak perlu menyembunyikannya, Tomomi-chan," goda Kumicho. "Kalau begitu, sampai di sini saja. Ada tempat lain yang harus aku kunjungi. Sampai jumpa, Tomomi-chan. Senang berbincang denganmu."
Aku melambaikan tangan dan membungkukkan badan ketika mobil Kumicho beserta mobil pengawalnya berlalu dari hadapanku.
Rumah Paman Yuji tidak begitu jauh dari rumah Nenek, sehingga aku tinggal berjalan kaki. Sambil menikmati udara dingin Hakodate, aku menelusuri jalan di sekitar pelabuhan. Kedua sepupu perempuanku, anak-anak Paman Yuji, langsung menyambutku dengan pelukan. Agaknya mereka merindukanku. Mereka memuji-muji penampilan baruku yang tanpa kacamata, berambut halus, dan berkulit mulus. Tak jarang mereka membelai-belai kepalaku.
"Kau pasti sudah punya pacar!" kata anak pertama Pamam Yuji, Sakura, bersemangat.
"Eh? Belum!" seruku malu-malu.
"Kau bohong!" balas adiknya, Hikari. "Buktinya, kau jadi cantik begini," ia membelai lagi rambutku. "Halus sekali. Kau sering ke salon?"
"Tidak. Aku hanya menggunakan vitamin yang kubeli di pasaran." Tak kusangka aku akan berkata demikian. Ini seperti iklan yang biasa kita lihat di televisi, di mana seseorang akan mengagumi rambut orang lain dan si pemilik rambut bagus itu akan menganjurkan untuk memakai produk yang diiklankan.
__ADS_1
"Siapa orangnya? Apakah teman sekolah?" Sakura masih saja penasaran tentang "pacar"-ku. Gadis manis berusia 13 tahun ini selalu saja ingin tahu.
"Tidak ada," jawabku.
"Aku akan membeli vitamin juga!" tegas Hikari, si adik yang hanya terpaut usia 1 tahun dari Sakura.
Kami bertiga mirip satu sama lain, sehingga orang sering menganggap kami saudara kandung. Padahal, aku bukan kakak kandung mereka, hanya ayah kami yang bersaudara. Aku makan malam di rumah Paman Yuji. Istrinya yang bernama Roko memasak untuk kami semua. Roko sangat cantik dan anggun. Aku suka memperhatikan gerak-geriknya di dapur. Dia pandai menggunakan pisau dan bisa memotong sama besar. Masakannya juga lezat sekali seperti masakan Nenek.
Aku pulang dengan jalan kaki, hitung-hitung sambil membantu perutku mencerna makanan, karena tadi aku makan banyak sekali sampai kekenyangan. Kupikir aku akan menyapa teman-teman dari sekolah lamaku besok sebelum aku kembali ke Tokyo. Jalan panjang yang sedang kulewati ini sepi karena memang sudah malam. Lampu-lampu berwarna kuning berbaris meneranginya, sehingga tampak indah. Di sebelah kananku berderet bangunan-bangunan besar yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang kargo yang dikirimkan oleh kapal ke Pelabuhan Hakodate. Dan di sebelah kiriku adalah laut lepas yang hanya dibatasi oleh pagar pembatas setinggi perut orang dewasa. Suara ombak di malam hari membuatku tenang.
Ponselku bergetar. Jantungku langsung melompat ketika membaca nama Tora di layarnya. Ketenanganku tadi tiba-tiba lenyap. "Halo," sapaku.
"Tomomi, kau di mana sekarang?" tanya Tora.
"Dekat pelabuhan."
"Aku akan ke sana. Tunggu aku ya." Klik. Telepon diputus oleh Tora.
Wajahku pasti sudah merah karena malu. Kuharap Tora tidak bisa melihatnya. Jantungku berpacu dengan cepat. Berkali-kali aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan, tapi tidak bisa membuatku tenang kembali. Aku berusaha menyembunyikan rasa gugup dengan memukul-mukul tiang lampu jalan yang berada tepat di sebelahku.
"Kau selalu ingin merusak properti ya." Suara Tora melonjakkan pundakku. Aku berbalik dan melihatnya sedang berjalan santai mendekatiku. Dia sudah berganti pakaian, artinya dia sedang tidak dalam jam kerja. Seperti biasa, Tora mengenakan jaket yang kerahnya dinaikkan sampai menutupi seluruh tengkuknya. Kumis dan jenggotnya masih lebat menutupi bagian bawah wajahnya. Yang berbeda hanya model anting pendek di telinga kirinya. Kalau dilihat orang lain, pasti disangkanya Tora adalah vampir yang ingin menghisap darahku. "Tidak kukira akan bertemu denganmu di sini," katanya lagi.
"Ini kampung halamanku. Kau sendiri?"
Tora menyandarkan dirinya di pagar pembatas jalan, sehingga sekarang kami berseberangan. "Aku menemani Kumicho ke makam."
"Lusa. Masih ada kunjungan bisnis Kumicho ke Sapporo. Kau?"
"Besok."
"Tadi pagi, apa yang kau doakan? Sepertinya banyak sekali," canda Tora, lalu tergelak.
Ternyata Kumicho memang terlalu lama menungguku hingga salah seorang pengawalnya bersin. "Kesehatan keluargaku, juga teman-temanku, termasuk Koizumi dan Misaki." Aku tidak memberitahunya bahwa dia ada di dalam daftar orang-orang yang kudoakan.
"Uhuk-uhuk! Hatchi!" Tora batuk dan bersin.
"Kau yang tadi bersin di kuil?" tanyaku.
Tora bergidik karena merinding. "Memalukan sekali," ia tertawa.
"Kalau begitu kau seharusnya cepat pulang. Jangan berada di luar terlalu lama," saranku.
"Ya, tapi..." Tora diam sebentar. "Ah, tidak jadi. Makoto menitipkan salam untukmu," Tora mengalihkan pembicaraan.
"Kau yang memberitahunya aku ada di sini?"
Tora mengangguk.
"Sampaikan juga salamku untuknya. Kenapa dia tidak ikut kemari?"
__ADS_1
"Pekerjaan Makoto lebih banyak daripada pekerjaanku," Tora tertawa renyah.
Ponselku bergetar lagi. Kali ini Paman Yuji yang menelepon. "Tunggu sebentar," kataku pada Tora, lalu menekan tombol hijau di ponsel. "Halo?" sapaku.
"Tomomi, nenekmu terkena serangan jantung. Sekarang kami sedang berada di rumah sakit. Cepatlah datang!" perintah Paman Yuji. Suaranya terdengar bergetar.
"Eh? Baik!" jawabku. "Tora-san, aku minta tolong. Antarkan aku ke rumah sakit."
"Rumah sakit mana?"
"Akan kuberi tahu di perjalanan."
🐞🐞🐞🐞🐞
Tora menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kami menghemat waktu karena jalan sudah sepi. Tibalah kami di rumah sakit. Nenek pasti sedang berada di Unit Gawat Darurat. Semoga keadaannya tidak seburuk yang kukira. Aku sudah membayangkan yang tidak-tidak saat kami melewati lorong yang dingin dan sepi menuju tempat Nenek berada.
Aku menghampiri kedua pamanku yang sedang duduk diam di ruang tunggu Unit Gawat Darurat. "Bagaimana Nenek?" semburku langsung kepada mereka.
"Dokter masih memeriksanya," kata Paman Yuji. "Kau siapa?" tanyanya pada Tora yang berdiri di belakangku.
"Dia temanku, namanya Tora. Dialah yang mengantarku kemari." Aku sengaja langsung menjawabnya karena tidak ingin Paman Yuji bertanya lebih lanjut. Penampilan Tora saat ini sangat jauh dari penampilan orang biasanya. Apalagi dia sedang flu. Kulihat dia memasukkan kedua tangannya di saku jaketnya dari tadi. Aku jadi kasihan padanya. "Tora-san, kau tidak perlu ikut menemaniku di sini. Lebih baik kau istirahat," saranku.
"Tidak apa-apa," kata Tora.
Setengah jam berlalu. Paman Kazuya yang terlihat paling gelisah. Pria kurus itu duduk, berdiri, duduk, dan berdiri lagi tanpa berkata apa pun. Paman Yuji berkali-kali menanyakan keadaan Nenek kepada suster yang lewat, tapi mereka selalu menyuruh kami menunggu sebentar lagi. Tora duduk tenang di pojok ruangan karena tidak mau menularkan penyakitnya.
Terlihat seorang suster setengah berlari melewati ruang tunggu. Paman Yuji mencegatnya untuk bertanya lagi. Kembali suster itu memberi jawaban yang sama. "Ini membuatku gila," kata Paman Yuji sambil menggelengkan kepala.
Pintu kamar Unit Gawat Darurat dibuka dari dalam. Dokter keluar menemui kami. "Yang mana keluarganya?" tanyanya.
"Kami semua keluarganya," jawab Paman Yuji.
"Sepertinya dia sudah sering mengalami serangan, tapi tidak memeriksakannya. Kondisinya sangat lemah saat dibawa ke sini. Sayang sekali dia tidak dapat bertahan. Saya benar-benar minta maaf." Dokter itu menundukkan kepala.
Benarkah yang kudengar? Aku tidak mempercayainya. Dokter itu pasti bercanda. Paman Kazuya menangis, sedangkan Paman Yuji menatap kosong. "Bohong!" seruku. Air mataku jatuh seketika. "Paman Yuji, Paman Kazuya! Ini bohong kan?" tanyaku pada mereka.
Kedua pamanku langsung memelukku. Kami menangis bersama seperti orang gila. Aku tidak malu lagi mengekspresikan diriku karena mereka juga melakukan hal yang sama. Meskipun ada Tora, aku tidak peduli. Lagipula, dia pasti melihat sebagian tubuhku di atap sekolah waktu itu.
Ini salahku, semua gara-gara aku. Seandainya aku tetap tinggal di sini, mungkin Nenek tidak akan meninggal secepat ini, mungkin aku bisa membujuknya untuk memeriksakan jantungnya. Nenek meninggal karena keegoisanku. Aku membayangkan Nenek kesakitan di rumahnya, sementara aku hanya memikirkan kesenanganku sendiri. Nenek pasti tidak akan memaafkan aku karena, secara tidak langsung, aku telah membunuhnya.
🥨🥨🥨🥨🥨
**bersambung ke chapter 10!
gimana chapter ini?
aku minta like dan comment yah 😁
matta ne**..
__ADS_1