
Keheningan mendominasi kamarku. Tak satu pun orang yang berbicara sampai Tora pamit untuk pulang. Kawashima dan Tachibana memberitahuku apa yang terjadi pada Koizumi setelah Tora keluar. Rupanya yang Seiji bilang itu benar. Seiji sempat mengajak Koizumi kencan. Mereka kadang-kadang menghabiskan malam bersama di rumah Seiji ketika orangtua Seiji tidak ada di rumah.
Awalnya, Koizumi senang sekali sampai berbunga-bunga, mengira Seiji serius dengannya. Tetapi lama kelamaan, muncullah sifat asli Seiji yang hanya ingin memanfaatkannya. Entah sudah berapa banyak perempuan yang menjadi korban sebelumnya. Koizumi memohon-mohon agar Seiji tidak meninggalkannya karena dia sudah hamil anak Seiji. Namun, cowok ganteng tanpa moral itu tidak mempedulikan permintaan Koizumi dengan mengatakan bahwa ia tak lagi menyukainya.
Seiji lari dari tanggung jawab dan berencana untuk menjadikan aku korban selanjutnya. Aku sangat beruntung karena Tora datang tepat waktu. Jika tidak, mungkin aku dan Koizumi akan berlomba perut siapa yang lebih besar 4 bulan mendatang.
Koizumi sekarang sedang hamil 4 minggu dan mempunyai kemungkinan yang besar untuk dikeluarkan dari sekolah. Aku pun tidak yakin gadis malang itu akan santai-santai saja kalau perutnya mulai terlihat menonjol.
Walaupun tidak menanyakannya, aku menyimpulkan bahwa hubungan persahabatan antara Koizumi dan Tachibana serta Kawashima pasti sangat dekat, karena Koizumi mau berbagi cerita seperti ini bersama mereka. Bahkan, mereka memintaku untuk membujuk Koizumi agar dia mau memeriksakan janinnya ke dokter. Koizumi juga belum memberi tahu kedua orangtuanya mengenai hal ini.
Nampaknya meminta maaf saja tidak akan cukup kulakukan untuk Koizumi.
🐻🐻🐻🐻🐻
Kedatanganku kembali ke sekolah disambut baik oleh beberapa teman sekelasku. Mereka bersimpati atas apa yang terjadi 5 hari yang lalu, tapi mereka tidak tahu korban yang sebenarnya adalah Koizumi. Kursi Seiji di barisan paling belakang sudah kosong. Dia telah dikeluarkan dari sekolah pada hari itu juga. Aku memperhatikan Koizumi yang sedang melamun di kursinya, di baris ketiga dari depan, di paling kanan. Tentu saja aku tak langsung menyapanya. Hanya kupandangi perutnya dari tempat dudukku di baris kedua dari belakang, di paling kiri.
Ruang kelas kami memuat 25 orang siswa. Tadinya tempat dudukku berserongan dengan Seiji, tapi sekarang kursi Seiji kosong. Bahkan ada yang menaruh sepatu olahraga di mejanya, menandakan bahwa penghuninya tidak akan datang lagi.
Hari ini aku tidak sempat berbicara dengan Koizumi karena kedua temannya, Ueda dan Matsumoto, selalu mengikutinya ke mana pun. Aku akan menanyakan nomor teleponnya kepada temanku yang lain. Tapi sekarang, saatnya mengunjungi Misaki. Aku sengaja tidak mau dijemput oleh Tora karena kadang-kadang aku merasa gugup kalau berada di dekatnya.
Agaknya, kunjunganku ke kamar Misaki menimbulkan sedikit kericuhan. Ranjang sebelah Misaki sudah ada yang punya, yaitu seorang wanita berusia 30-an bernama Yamazaki Nao yang tidak mau dipanggil dengan namanya sendiri, melainkan dengan nama boneka kucing kesayangannya yang bernama Tora. Baru saja aku tidak mau mengingatnya, malah bertemu dengan Tora lainnya. Wanita itu selalu memeluk...Tora. Akan kupanggil dia Tora Kucing.
Misaki tidak akur dengannya karena wanita itu tidak mengizinkan ranjangnya dibersihkan suster, tetapi malah menyuruh Misaki melakukannya. Saat melihatku datang pun, ia tampak tidak senang. Aku memberi salam padanya, tapi ia tidak menyahut. Kedua mata sipitnya hanya menatapku curiga seolah dirinya ingin melindungi bonekanya karena aku akan berusaha untuk menculiknya.
Dengan cueknya, aku duduk di kursi sebelah ranjang Misaki, dekat jendela. "Maaf, aku baru bisa datang hari ini," kataku sungguh-sungguh. "Banyak kejadian selama aku tidak datang."
"Tidak apa-apa, Tomomi. Apa yang terjadi pada dagumu?" Misaki menunjuk bekas luka di daguku yang tidak akan hilang selamanya.
"Aku terjatuh," jawabku sambil tersenyum sebodoh mungkin.
Misaki tertawa. "Lalu, kejadian apa yang kau maksud?"
"Aku mementaskan drama Cinderella."
"Sebagai siapa?" tanya Misaki bersemangat.
Senyumanku berubah menjadi senyuman kebanggaan dan Misaki langsung bisa menebak jawabannya. Aku senang bisa melihatnya seperti ini. Ceria dan bersemangat.
"Apa yang kalian omongkan?" tanya Tora Kucing kepada kami.
Karena Misaki enggan menjawab, maka akulah yang mewakilinya. "Aku jadi Cinderella dalam pentas drama."
"Kau? Gadis seperti kau?" Tora Kucing terheran-heran karena pasti dinilainya aku ini jauh dari sosok Cinderella yang jelita dengan gaun bagus dan rambut pirang indah.
"Ya, aku. Ada masalah?" tantangku, membuat Misaki melotot.
"Aku lebih cantik darimu. Lihat! Kulitku mulus bagai sutra. Lagipula... Ah! Kau kurus sekali!" katanya sambil menunjuk-nunjuk badanku.
"Memang sudah dari dulu aku begini."
"Ganti kacamatamu dengan lensa kontak! Ubah gaya rambutmu yang kusut itu! Pakailah krim penghalus kulit!" Nada bicaranya seakan dia adalah pakar kecantikan. Tapi perlu kuakui dia masih terlihat segar dan cantik untuk ukuran orang gila.
Aku hanya membetulkan letak kacamataku yang sebenarnya tidak bergeser sedikit pun dari lokasi. Aku terdiam karena tidak bisa membalasnya.
__ADS_1
"Pikirkanlah, untuk siapa kau ingin terlihat cantik."
Misaki dan aku saling menatap bingung.
"Kalian punya pacar atau orang yang disukai?"
Misaki menggeleng, sedangkan aku mengangguk karena tiba-tiba wajah Tora langsung muncul di kepalaku. "Kau sudah punya pacar?" tanya Misaki sambil melotot kaget.
"Belum!" jawabku buru-buru.
"Jadi, siapa orang yang kau sukai?"
"Kau tidak mengenalnya."
Ekspresi Misaki langsung berubah murung. "Iya ya. Aku tidak pernah keluar dari sini. Mana mungkin aku kenal," katanya.
Aku merasa bersalah karena menjawab demikian. Sungguh, aku tidak sengaja. Aku harus melihat senyumannya lagi. Mataku beralih ke kalender kecil di mejanya. Hari ini tanggal 29 Desember. "Misaki, bagaimana kalau kita merayakan malam tahun baru di luar?" ajakku bersemangat.
"Eh?"
"Aku akan membujuk dokter supaya memberimu izin untuk keluar. Kau mau?"
Misaki mengangguk mantap. "Mau sekali!"
Senyuman cerah milik Misaki membuatku sangat bersemangat dan antusias dalam menyambut tahun baru. Rencanaku adalah mengajaknya ke sebuah pasar malam kecil yang akan dibuka di dekat tempat tinggalku. Di sana akan ada kedai-kedai yang menjual makanan, juga suvenir musim dingin. Untuk acara terakhir, akan diadakan pesta kembang api tepat pukul 12 malam.
Aku berbicara dengan dokter Misaki sehari setelah aku mengajak pasiennya itu keluar. Tanpa memerlukan waktu lama untuk membujuk, sang dokter langsung memberi izin karena ia juga ingin melihat perkembangan Misaki. Dan dia bilang ini berguna supaya Misaki tidak terlalu stres karena terus-terusan berada di rumah sakit.
Tentu saja Misaki akan menginap di apartemenku. Maka itu, aku harus membersihkannya. "Aku nampak seperti orang norak," gumamku meledek diriku sendiri yang sekarang memegang sapu dan kain lap.
Tora tidak bisa ikut merayakan malam tahun baru denganku, bagus sekali tentunya, karena aku ingin ini sebagai malamnya para perempuan. Kumicho mengajak seluruh anak buahnya untuk makan bersama di sebuah restoran. Beliau sudah memesan tempat untuk merayakan tahun baru, juga para wanita cantik dan bertubuh seksi yang mau sekali menemani mereka semua. Membayangkannya saja membuatku mual.
Aku menjemput Misaki di rumah sakit. Kami berdua pergi ke apartemenku dengan taksi agar lebih cepat. Aku meminjamkan pakaianku dan membelikannya sebuah syal sebagai hadiah tahun baru. Dia senang sekali sampai ingin menangis. Selanjutnya, kami pergi ke tujuan utama.
Suasana langsung berubah ketika kami masuk ke area pasar malam. Lampu-lampu kecil menghiasi pondokan-pondokan di sepanjang jalan, membuat malam tidak terasa gelap. Tadinya aku khawatir Misaki akan takut dalam keramaian, tetapi ternyata dia mampu menyesuaikan diri. Malah dia menunjukkan beberapa cowok yang menurutnya ganteng. Misaki sama antusiasnya denganku.
Kami makan dango, lalu main lempar gelang. Misaki berhasil mendapatkan sebuah boneka beruang berukuran sedang. Dia memeluknya erat sekali seperti tidak ingin melepaskannya. Selanjutnya, kami makan taiyaki. Tak kusangka nafsu makan Misaki sangat besar seolah akan mencoba semua makanan yang ada di sini.
Tepat setengah jam sebelum pukul 12 malam, ada pengumuman bahwa kembang api akan diluncurkan di sisi pasar sebelah Timur. Aku mengajak Misaki mencari tempat strategis supaya dapat melihatnya dengan jelas. Kami duduk di taman, dekat pondokan yang menjual aksesoris musim dingin seperti topi, syal, kaos kaki, dan sarung tangan.
"Aduh!" Misaki mengaduh karena terantuk lutut seseorang yang ingin duduk di sebelahnya.
Orang itu menoleh kepada kami. "Kau!" Dia menunjuk wajahku.
"Koizumi!" seruku.
"Temanmu?" tanya Misaki.
Aku mengangguk. "Kami sekelas," jawabku. Kulihat Koizumi cemberut. "Kau sendirian?" tanyaku padanya.
Koizumi diam saja.
"Namaku Tonomura Misaki. Salam kenal," sapa Misaki pada Koizumi.
__ADS_1
"Koizumi Rina."
Setelah itu, kami bertiga terdiam. Misaki tampak bingung berada di antara aku dan Koizumi, tapi dia tak menawarkan diri untuk bertukar tempat denganku. Kembang api yang kuharapkan dapat menghibur Misaki, dinyalakan tepat pukul 12 malam. Pendar cahaya berwarna-warni memantul di wajah kami masing-masing. Ekspresi yang seharusnya keluar ketika melihat kembang api, tidak terlihat di wajah Koizumi. Gadis itu menatap langit, tetapi pandangannya kosong.
Ponselku bergetar. Pesan dari Tora. "Selamat tahun baru, Tomomi. Tolong sampaikan juga ucapanku kepada Misaki!"
"Misaki, temanku mengucapkan 'selamat tahun baru' padamu," kataku pada Misaki.
"Siapa?" tanya Misaki bingung.
"Namanya Tora."
"Tora?" Misaki tertawa. "Seperti boneka kucing Yamazaki-san?"
Aku mengangguk dan ikut tertawa dengannya.
"Kalau begitu, sampaikan pada temanmu, 'Selamat tahun baru. Aku ingin sekali bertemu denganmu'," Misaki tersenyum manis sekali.
Muncul ide di kepalaku. "Bagaimana kalau kita foto bersama?" ajakku.
"Oke!" seru Misaki.
"Koizumi juga," kataku, membuatnya terkejut, tapi segan untuk menolak karena ada Misaki.
Kami bertiga berfoto dengan menggunakan ponselku. Misaki dan aku tersenyum sambil menunjukkan telunjuk dan jari tengah kami yang membentuk huruf V, sedangkan Koizumi bahkan tidak melihat ke kamera. Aku mengirimkan foto itu kepada Tora dengan tulisan, "Selamat tahun baru. Misaki bilang ingin sekali bertemu denganmu, Tora-san." Dengan ini, semoga Tora senang mengetahui Misaki baik-baik saja dan bahagia. Walaupun tidak dapat bertemu sekarang, aku yakin mereka akan bersama lagi pada akhirnya. Tora sangat menyayangi Misaki, juga sebaliknya, meskipun Misaki belum mengingat semuanya.
Koizumi beranjak pergi sebelum pesta kembang api selesai, sedangkan aku dan Misaki masih berjalan-jalan sebentar di sekitar taman sampai pukul 2 pagi. Aku khawatir Misaki kelelahan, sehingga kusarankan untuk pulang. Kami keluar dari area pasar malam dan melihat Koizumi masuk ke dalam sebuah mobil. Rupanya dia baru mau pulang juga. Yang mengemudi adalah seorang wanita paruh baya yang wajahnya mirip dengan Koizumi. Mungkin itu ibunya.
Keesokan paginya, kami tidak bisa bangun karena terlalu mengantuk. Kami tidur sekitar jam 4 pagi karena keasyikan mengobrol. Misaki masih memikirkan kata-kata Tora Kucing mengenai kecantikan. "Aku tahu setiap perempuan ingin terlihat cantik, tapi pasti ada saatnya perempuan ingin seorang laki-laki memuji kecantikannya secara langsung. Bukankah begitu?" tanyanya padaku. Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya mengangguk. "Apalagi kalau yang memuji adalah pria yang disukainya. Bukankah perempuan itu akan senang sekali?" lanjutnya. Aku kembali mengangguk. "Kalau begitu kau memang harus mengubah penampilanmu, Tomomi!" ujarnya bersemangat. Aku sendiri yang menyudahi pembicaraan kami dengan alasan sudah mengantuk. Bahkan, aku berpura-pura menguap.
Kami minum susu dan makan roti untuk sarapan. Setelah Misaki meminum obatnya, aku mengantarnya kembali ke rumah sakit. Aku sengaja langsung meninggalkannya supaya dia bisa beristirahat. Siapa tahu, baginya, ranjang rumah sakit lebih nyaman daripada futon-ku.
Tak ada yang ingin kulakukan hari ini, sehingga aku pulang, lalu tidur lagi untuk membayar jam tidurku tadi malam. Sore harinya aku bangun dengan kepala pusing. Aku lupa makan siang.
Malam harinya, aku malah teringat pembicaraanku dan Misaki. Apa betul kacamata ini membuatku jelek? Rasanya kacamata sudah menjadi bagian dari keluargaku. Nenek, Ayah, dan Bibi Koharu berkacamata. Kalau aku menggantinya dengan lensa kontak, mungkin wajahku akan terlihat aneh, kecuali jika aku secantik Cinderella. Rambutku juga. Tora Kucing bilang rambutku kusut. Aku memang hampir tidak pernah ke salon. Sudah lebih dari 4 bulan sejak terakhir kali Nenek memotong rambutku. Sekarang panjang rambutku sepunggung dengan poni lurus yang sudah mencapai cuping hidungku. Biasanya aku hanya mengikat ekor kuda. Tapi karena sedang musim dingin, aku membiarkannya tergerai. Ya, memang terasa kusut kalau aku menyisirnya. Kuraba kulit pipiku yang kasar dan kering. Angin dingin membuatnya bertambah tandus. Rupanya penampilanku memang buruk sekali.
"Semakin lama dipikirkan, malah semakin menyedihkan. Lebih baik aku nonton," kataku sendirian. Maka, aku pun menyalakan televisi. "Kenapa pas sekali sih?" ucapku datar begitu layar televisi menayangkan iklan produk pelembab kulit. Aku beralih ke depan cermin, memperhatikan bayanganku sendiri. "Kucoba saja."
Aku berhasil menjadikan hampir seisi kelasku gempar dengan memakai lensa kontak pada hari pertama masuk sekolah di tahun baru. Tidak disangka-sangka, teman-temanku yang perempuan memuji penampilan baruku, sedangkan yang laki-laki berceloteh, "Cinderella telah kembali." Malu sekali.
Beberapa teman sekelas mulai mengajakku mengobrol ringan. Sejak kejadian dengan Seiji, sikap mereka memang sedikit berubah. Orang-orang yang dulunya menganggapku tidak ada, sekarang menilaiku sebagai pahlawan perempuan. Hal itu tidak membuatku bangga, karena aku tidak bisa menyelamatkan Koizumi hingga mengganjal di pikiranku. Jadi, aku meminta nomor telepon Koizumi kepada teman-temanku. Mereka memberitahuku tanpa menanyakan tujuannya.
Saat istirahat, aku mengirim pesan kepada Koizumi, memintanya untuk bertemu denganku sepulang sekolah di atap. Tak ada balasan darinya, tapi aku yakin dia akan datang. Koizumi sempat melirikku di kelas, yang artinya dia menerima pesanku.
Bel berbunyi. Aku bergegas ke atap setelah menolak ajakan teman-temanku ke karaoke. Pertama kalinya dalam tahun baru ini aku ke atap lagi. Segalanya di sini mengingatkanku pada Seiji. Sedang apa dia di penjara, apa dia makan dengan baik, apa dia cukup tidur. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepalaku. Bagaimana pun, dia tetap salah seorang temanku. Kebaikannya tidak pernah kulupakan.
Suara pintu tertutup mengagetkanku dari lamunan tentang Seiji. Aku menoleh dan melihat Koizumi sendirian di depan pintu, menatapku dengan tajam. Wajahnya cemberut seperti yang belakangan ini ia tunjukkan. Dia berjalan pelan menghampiriku hingga jarak kami hanya beberapa meter. "Ada apa?"
🐙🐙🐙🐙🐙
**bersambung ke chapter 8!
gimana chapter 7 ini guys? minta like dan comment yah
__ADS_1
semoga kalian suka cerita yg model begini 😁
matta ne**...