
Aku melihat seseorang yang sepertinya kukenal. Mataku tidak dapat menangkap sosoknya dengan jelas. "Siapa itu?" tanyaku. Namun, dia tak menjawab, hanya melangkah mendekatiku hingga jarak kami hanya beberapa meter. Sosoknya seperti... "Ayah," panggilku.
Pria itu tersenyum padaku.
"Apakah ini benar-benar Ayah?" tanyaku lagi. Aku ingat betul wajah ayahku sendiri, masih sama seperti dulu. "Apakah aku... sudah mati?"
Ayah menggeleng.
"Lalu, kenapa aku ada di sini? Apa yang terjadi padaku?" aku bingung. Jika aku masih hidup, tentu aku tidak akan dapat bertemu Ayah. Apakah dia hantu Ayah? Kalau semua hantu seperti ini, aku tidak akan takut.
Ayah mengangkat bahu, tetap tersenyum. Senyum hangat itulah yang kurindukan darinya, yang tidak pernah diberikan oleh Ibu. Wajah Ayah mirip dengan Nenek. Dari Nenek, aku mendapatkan kasih sayangnya.
"Aku kangen," ucapku padanya tanpa menuntut jawaban atas pertanyaanku sebelumnya.
Ayah menoleh ke samping. Nenek datang menghampirinya, juga tersenyum padaku.
"Kalian... Sedang apa sebenarnya?" aku melangkah maju. Kucoba mendekati mereka. Ingin sekali aku memeluk mereka untuk melepas rindu. Namun, jarak kami malah semakin jauh. "Ayah? Nenek? Kalian mau ke mana? Biarkan aku memeluk kalian. Boleh kan?" Air mataku jatuh.
Nenek dan Ayah melambaikan tangan mereka padaku.
"Apa-apaan ini? Kenapa kalian pergi lagi?" aku terisak. Tapi tangisku terhenti oleh genggaman tangan seseorang di sebelahku. "Tora-san! Kau kembali!" Lega sekali mengetahui Tora masih hidup. Aku kembali mencari sosok Ayah dan Nenek, tapi mereka berdua tidak ada. "Tora-san, bagaimana kau bisa... Eh?"
Seketika, aku dan Tora berada di air terjun yang sangat tinggi hingga aku takut untuk melihat ke bawah. "Di mana ini, Tora-san?" tanyaku.
Tora tak langsung menjawab. Ia menatapku lekat-lekat dan berkata, "Tomomi, sampai kapan pun, kita harus tetap bersama."
Aku mengangguk.
Dan kami pun melompat. Angin menerpa tubuh kami, tetapi kami tetap bergandengan. Kami sedang terbang bebas menikmati keindahan air terjun ini. Percikan air membasahi pakaian kami sampai kami kedinginan.
Tiba-tiba, Tora melepaskan tangannya.
"Tora-san!" seruku. Setelah Ayah dan Nenek menghilang, Tora juga meninggalkan aku. Buruk sekali nasibku. Semua orang yang kusayangi pergi. "Tora-san..." aku meraung-raung memanggil nama Tora, sampai akhirnya tubuhku tercebur ke dasar air terjun.
Mataku terbuka lebar-lebar saat merasakan dingin dan basahnya air di wajahku. Hidungku sempat menyedot sebagian air dan menimbulkan sakit di dalamnya. Aku pun terbatuk-batuk, berharap dapat mengeluarkannya dari dalam tenggorokanku. Tengkukku nyeri dan kepalaku pusing. Mimpi buruk.
"Siapa?" aku menegakkan kepalaku sambil mengumpat di dalam hati. Tidak ada Ayah, tidak ada Nenek, dan tentu saja tidak ada Tora.
Terlihat 2 orang buram berdiri di hadapanku, tapi dari postur tubuhnya, mereka laki-laki. Mereka sedang tertawa. Menertawaiku, tepatnya, karena kusadari bahwa diriku sekarang sedang duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan terikat di belakang. "Selamat pagi, Tomomi-chan," ucap salah satunya.
Hanya sedikit orang yang memanggilku dengan embel-embel βchan. "Siapa itu?" tanyaku lagi. "Kenapa aku diikat? Apa yang terjadi?"
"Sepertinya kau tidak ingat."
Aku mencoba mengenali suara pria itu. Dari logat bicaranya yang kasar, aku menduga dia adalah Yakuza. "Kei-san?" aku mengedip-ngedipkan kedua mataku, berusaha memfokuskan penglihatan.
Pria itu tertawa. "Sayang sekali aku bukan Kei. Kau boleh pergi," perintahnya kepada pria yg satu lagi. "Sekarang, perhatikan aku baik-baik," ia menjambak rambutku dan mendekatkan wajahnya.
Rasa pedih mulai menjalar di kepalaku. Aku yakin beberapa helai rambutku copot. Kalau dia bukan Kei, lantas siapa? Aku masih belum sadar betul. Sesaat, aku mengira lensa kontakku terlepas. Namun, beberapa detik kemudian, penglihatanku mulai membaik. Dan wajah pria itu perlahan semakin jelas.
__ADS_1
Ia tersenyum licik di depan hidungku.
"Goro-san!" seruku. Napasku tercekat. "Aku pasti sudah mati."
Goro terbahak. Tawanya memenuhi ruangan.
Hanya ada kami di sini. Seingatku, Kei membekap mulutku. Setelah itu, di ruangan inilah aku berada. Aku tidak tahu tempat apa ini, tapi dari kondisi dinding dan lantainya, sepertinya ruangan ini masih terpakai karena cukup bersih. "Di mana ini?" tanyaku.
"Markas Hanazawa-gumi," Yakuza gempal itu mendorong kepalaku begitu saja. "Dan ruangan ini adalah tempat di mana kau akan menghadapi penderitaanmu," lanjutnya. Goro mengenakan kemeja dan celana panjang hitam. Perlahan, ia melepaskan 2 buah kancing paling atas kemejanya, memperlihatkan dadanya yang berwarna kehijauan. Itu pasti tato, entah gambar apa. "Kau masih ingat ini?" tanyanya sambil menunjuk sedikit cacat pada tatonya.
Aku tak memerlukan waktu lama untuk menyadari bahwa yang cacat bukanlah gambarnya, melainkan kulit Goro. Aku ingat telah menancapkan sebilah pisau di dadanya, juga kata-katanya bahwa para Yakuza akan menikmati penyiksaan mereka terhadapku.
Goro tersenyum puas. "Sepertinya mimpimu buruk sekali sampai menangis, memohon agar Tora tidak meninggalkanmu. Sungguh menyedihkan," ujarnya dibuat-buat seolah dia iba padaku. Menjijikan. "Aku tahu dia masih hidup. Tetapi tenang saja, Tomomi-chan. Dia akan mati setelah kami membunuhmu. Kalian akan bertemu di Surga."
Aku tidak yakin nantinya aku akan masuk Surga. Orang penuh dosa sepertiku rasanya tak pantas bersama Ayah dan Nenek. Secara tak langsung, aku telah membuat Misaki tewas. Seharusnya aku tidak mempertemukannya dengan Tora. Jika mereka tidak bertemu, mungkin kecurigaan terhadap mereka akan berkurang. Tetapi aku malah oke-oke saja menjalankan ide gila itu. Aku tahu risikonya, tapi masih saja kulakukan.
Dan sekarang, aku sedang menghadapi salah satu risikonya. Mati.
Nyawaku tidak berharga bagi siapa pun. Bahkan, Tuhan tak akan mau menerimaku di Surga. Aku berpasrah diri.
"Kau tahu? Jika sejak awal kau menunjukkan kecantikanmu seperti ini, sudah pasti aku akan mempekerjakanmu di klubku, Tomomi-chan," Goro kembali mendekatkan wajahnya ke hidungku. Ia mengendusku seperti anjing.
Refleks, aku membuang muka.
"Sialnya, kau malah berpacaran dengan Tora. Awalnya, kukira Tora tulus mencintaimu, tapi ternyata dia hanya memanfaatkanmu. Kasihan sekali kau."
Rupanya sudah menjadi rahasia umum bahwa Tora memalsukan pernyataan cintanya. Aku benci sekali karena akulah yang menjadi korban. Bukannya aku menginginkan orang lain yang menjadi korban. Akulah yang bodoh. Mau-maunya saja dimintai bantuan oleh orang tak dikenal. Padahal, sudah tahu orang itu adalah Yakuza.
"Kei-san?" aku ingat. Waktu itu aku melihat Makoto dan Tora masuk ke hotel milik ayah Koizumi. Lalu, Kei menyapaku. "Kenapa dia bisa berada di sana?"
"Untuk memperingatkanmu, bodoh! Kau pikir dia hanya kebetulan lewat? Kei telah banyak membantu kalian, tapi kalian malah makin seenaknya. Tak ada yang dapat dilakukannya selain mematuhi perintah Kumicho."
"Dari saat itu Kumicho tahu mengenai Misaki?" tanyaku tidak percaya bahwa Kumicho tidak melakukan apa-apa selama ini.
"Kumicho tidak memberikan perintah untuk menangkap kalian. Dia hanya meminta seseorang mengawasi dari dekat, yaitu bertemu langsung dengan Misaki. Kau tahu siapa orangnya."
"Makoto-neesan." Napasku tercekat hanya karena menyebut namanya. Pantas saja Makoto tiba-tiba datang ke rumah sakit. "Apakah ini suatu kebetulan dia mengenal Yamazaki-san?"
"Tidak. Makoto sama sekali tidak mengenal siapa Yamazaki Nao. Dia memanfaatkan informasi yang didapatnya dengan mudah dari wanita gila itu, juga dokternya."
"Karena Yamazaki-san menyukai perempuan cantik."
"Betul sekali," kata Goro. Sekarang ia bersandar di dinding. "Kau membohonginya dengan berkata tidak dekat dengan Misaki. Makoto adalah orang yang cerdik, sehingga ia tidak langsung percaya padamu. Malam harinya, sebuah informasi penting berhasil disampaikan, bahwa kau dan Tora berada di kamar Misaki," Goro tertawa.
Jantungku memukul keras. Aku dan Tora bersantai, mengira tak ada yang harus dikhawatirkan. Tetapi ternyata mereka selangkah di depan kami. "Lalu, kalian membunuh Misaki?" tanyaku. Membayangkan mereka mengawasi Misaki dari dekat saja sudah membuatku merinding.
Goro tersenyum puas.
"Misaki tidak bersalah!" seruku. "Siapa orangnya? Siapa orang yang tega membunuhnya? Katakan padaku!"
__ADS_1
Tawa Goro memenuhi ruangan.
"Lebih baik kalian membunuhku saja! Misaki tidak bersalah! Tak akan kumaafkan!" aku berteriak-teriak dan meronta-ronta layaknya orang gila yang baru saja ditangkap dan siap dibawa ke rumah sakit jiwa. "Kalian semua sampah! Lepaskan aku! Lepaskan!"
"Diam kau, jalang!" Sebelah tangan Goro meninjuku tepat di tulang mata sebelah kiri.
Kepalaku pusing seketika. Tulang mataku berdenyut-denyut, sakit sekali.
Goro kembali menjambak rambutku. "Makoto telah berusaha membuat wanita gila itu marah, memanipulasi ingatan buruknya. Makoto bahkan tidak mengenalnya, tetapi ia mampu melakukannya. Namun, usaha itu gagal karena Misaki bisa bertahan," geramnya. Kedua matanya membelalak seakan ingin melompat keluar.
Jadi benar, penyerangan Tora Kucing terhadap Misaki disebabkan oleh ingatan buruk yang kembali muncul. Dugaan Tora pun benar, bahwa ada seseorang yang sengaja mempengaruhi Tora Kucing untuk menyakiti Misaki. Tetapi kami tidak mengira orang itu adalah Makoto.
Goro mengelus pipiku dengan jari-jari gemuknya. "Karena itulah, Makoto kembali ke sana untuk meracuninya," ia tertawa. "Siapa sangka Makoto malah bertemu Tora. Sungguh suatu kebetulan yang bagus."
"Malam itu..."
"Ya! Malam saat kau menemui Kei di depan host club dan aku melihat kalian sedang berada di dalam gang sempit," ucap Goro cepat.
"Kei-san?"
"Kei berpihak pada kami, sayang. Dia tidak akan menjadi pengkhianat seperti Tora."
"Lalu kenapa dia mencegahmu membunuhku?"
Goro melepaskan kedua tangannya dan membelakangiku. "Awalnya aku pun tidak mengerti, tapi sekarang aku tahu maksudnya. Kei ingin menangkap kau dan Tora sekaligus. Kei berperan dengan baik, bersikap seolah-olah kau adalah orang yang penting baginya. Dia berhasil membuatmu menerima kehadirannya. Perempuan yang sedang patah hati memang mudah sekali terpengaruh oleh laki-laki lain," ia tertawa licik.
"Saat di hotel itu?"
"Kei tidak pernah menelepon Tora. Yang dia hubungi adalah Makoto," Goro tersenyum. "Kei jugalah yang meminta Makoto memisahkan kalian berdua. Tora setuju saja karena dia tidak pernah mencintaimu. Kasihan sekali kau, Tomomi-chan," kata Goro berlagak iba.
Tega sekali mereka mempermainkan aku. Tora hanya memanfaatkanku dan Kei mengkhianatiku. Kei telah merencanakan semua ini dari awal dan aku tidak menyadarinya sama sekali. Tora pergi meninggalkan aku dengannya. Situasi tersebut dimanfaatkannya secara penuh dengan berpura-pura baik padaku, sehingga aku termakan oleh ketulusan palsunya sebagai seorang teman. Host itu benar-benar busuk.
Aku tidak yakin mereka mengetahui di mana keberadaan Tora sekarang, tapi kemungkinan besar Tora bodoh itu akan cepat tertangkap karena ia masih tidak tahu bahwa Makoto juga ingin menangkapnya. Jika Makoto berhasil menemukan Tora, sudah dapat dipastikan Tora tidak akan selamat.
Inginnya aku mensyukuri bila Tora juga mati, tapi waktu bertemu dengannya di bawah jembatan itu, Tora terlihat lemah, rapuh, tak lagi penuh dengan harapan. Aku tidak mau mempercayai setiap omongan yang keluar dari mulutnya, tapi bagaimana bila itu benar? Perkataannya tentang Kei terbukti. Host busuk itu memang berniat membunuhku.
Tora dibodohi, begitu juga denganku. Kami adalah korban pengkhianatan yang dilakukan oleh teman-teman kami. Anehnya, kamilah yang menyebabkan semua ini terjadi.
Ini tidak sama seperti perkelahian dengan Koizumi, Matsumoto, dan Ueda yang sebatas pukul-pukulan. Kali ini, nyawalah taruhannya.
Aku sudah siap mati, Tora juga. Jika tidak siap, kami tidak akan melanggar peraturan klan. Sejak semula, kami tahu akibatnya. Karena itu, kami tidak akan apa-apa. Hanya sampai di sinilah hidup kami.
"Bunuh saja aku sekarang," kataku.
π£π£π£π£π£
**bersambung ke chapter 28!
kok chapter ini mengerikan ya? aku yg nulis tapi paa dibaca lagi kok malah deg2an wkwkwk~
__ADS_1
minta like dan comment yg banyak yaaahh
matta ne**...