My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 21 - Crash


__ADS_3

Tora tidak percaya Makoto melakukannya. Aku pun tidak ingin percaya. Tapi rasanya aku memiliki sifat skeptis yang membuatku mencurigai sesuatu. Yah, mungkin gangguan pada Tora Kucing memang datang dengan sendirinya. Mungkin tadinya Tora Kucing memberi tahu Makoto bahwa suaminya sudah tewas. Karena itu, Makoto juga mengiyakan. Lagipula, mereka baru bertemu lagi belakangan ini. Mungkin Makoto memang tidak tahu.


Tapi kenapa Makoto tidak mengakui dirinya mengetahui Misaki adalah adik Tora?


"Mungkin dia berpikir kau pun tidak tahu," jawab Tora ketika aku membahas hal ini di depan kamar Misaki.


"Apa Kei-san tidak cerita padanya?"


"Kei jarang bertemu dengan Makoto karena sebagian besar waktunya dihabiskan di host club."


Aku diam. Kalau Tora bilang begitu, aku tidak akan membantah lagi. Jadi kecurigaanku terhadap Makoto hanya sekedar dugaan. Tidak benar jika wanita itu yang mencoba memunculkan ingatan buruk Tora Kucing. Kejadian ini murni gangguan kejiwaan yang datang dari dalam diri Tora Kucing sendiri.


Jeritan Misaki mengejutkan kami. Dengan cepat, kami beranjak dari kursi.


Misaki menjerit-jerit sambil meronta-ronta. Kedua matanya terpejam. "Lepaskan aku!" jeritnya. "Sakit! Tolong! Tomomi!" Dia memanggil namaku.


"Misaki! Tenangkan dirimu!" aku mengguncangkan pundak Misaki, berusaha menyadarkannya. "Aku di sini."


Tora melongo. Baru sekarang ia melihat adiknya seperti ini. "Misaki," panggilnya.


Kalau dibiarkan begini terus, Misaki semakin tak terkendali. Tanpa ragu-ragu, aku mencari tombol pemanggil suster dan menekannya. Suara bel terdengar dari dalam kamar. "Misaki, ini aku," ucapku.


Kedua tangan Misaki menggapai-gapai udara, memukul-mukul tanpa arah. Kedua kakinya menendang-nendang. "Tomomi! Taiga-niichan!"


"Tora-san, bantu aku menahannya. Kalau tidak, dia bisa jatuh," kataku. "Tora-san!"


Tora baru menatapku setelah kupukul lengannya. Pandangannya sudah tidak kosong. "Misaki! Kau kenapa?"


"Sebentar lagi suster akan datang. Tenanglah, Misaki." Aku berkata demikian, tapi dalam hati, aku tidak sabar. Lama sekali. Haruskah aku memanggil sendiri ke meja mereka?


"Taiga-niichan! Aku takut!" teriak Misaki. Gadis itu seperti sedang bermimpi buruk. Mungkin mimpi tentang pemukulan Tora Kucing terhadapnya.


Akhirnya, suster datang. Ia terkejut melihat keadaan Misaki, lalu segera menghubungi Dokter Minami. Sang dokter tiba dengan tergesa-gesa. Kami memberi ruangan bagi dokter dan suster untuk memeriksa Misaki. Tak ada pilihan lain, Misaki harus disuntik obat penenang. Tak sampai setengah menit, Misaki lemas.


Aku memperhatikan Tora. Dari tadi ia memasang ekspresi shock. Wajahnya lebih pucat dari biasanya. Aku mengerti ia takut kehilangan Misaki, takut adiknya mengalami trauma yang sama seperti sebelumnya. "Misaki akan baik-baik saja, Tora-san," ucapku.


Tora menoleh padaku, masih dengan air muka yang sama. Mungkin dia heran karena aku menunjukkan sikap biasa saja, tapi sejujurnya aku pun khawatir. Bagaimana jika Misaki benar-benar kembali seperti dulu? Bagaimana bila kali ini lebih parah? Tentu aku tidak mengharapkan itu. Dan aku ingin terlihat kuat. Aku tidak boleh membuat Tora semakin lemah. Aku harus yakin tidak akan ada hal buruk yang menimpa Misaki.


"Ayase-san," panggil Dokter Minami yang telah selesai memeriksa Misaki.


"Ya?"


"Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan pada otaknya. Yang aku khawatirkan adalah adanya gangguan pada sistem sarafnya karena kepalanya mengalami benturan berulang kali, ditambah kemungkinan trauma yang terjadi sebelumnya muncul kembali."


"Bukankah Misaki sudah sembuh dari trauma itu?"


"Seharusnya begitu," Dokter Minami mengangguk-angguk. "Ini hanya untuk memastikan. Juga, aku tidak dapat mengambil kesimpulan hanya dengan gejala barusan. Mudah-mudahan ini hanya bersifat sementara."


"Lakukan apa pun yang diperlukan, Dokter!" ujar Tora. "Yang penting dia sembuh," pria itu sudah pasrah menyerahkan semuanya ke tangan Dokter Minami.


Sang dokter tersenyum pada Tora. "Kami akan berusaha melakukan yang terbaik. Ah, sebaiknya malam ini dia ditemani seseorang. Kalau begitu, aku permisi," Dokter Minami meninggalkan kami di kamar Misaki.


Aku dan Tora saling menatap. Ekspresi Tora menunjukkan bahwa ia ingin menjadi orang yang menjaga Misaki, tapi ini akan sangat berbahaya baginya. Selain soal Misaki, Tora harus memikirkan pekerjaannya sebagai Yakuza. Bisa saja salah satu rekannya menelepon, sehingga ia harus meninggalkan Misaki demi pekerjaan.


"Aku saja," kataku.


"Tidak. Kau harus sekolah," cegah Tora. "Biar aku saja."


"Kau harus bekerja. Aku bisa berangkat sekolah di pagi hari setelah Misaki bangun."


Tora terdiam, terlihat menimbang-bimbang, kemudian mengangguk. "Aku merepotkanmu lagi," katanya menyesal.


"Tidak apa-apa. Aku ingin menjaga Misaki."


"Kata 'terima kasih' tidak akan cukup untukmu, Tomomi," Tora membelai pipiku sambil tersenyum.


"Percayalah padaku, itu cukup."


Tak lama setelah Tora pulang, seorang suster datang menjemput Misaki untuk melakukan pemeriksaan lanjutan yang tadi dimaksud Dokter Minami. Aku diminta menunggu di kamar saja karena hanya sebentar.


Kurasa seumur hidupku ke depan akan dipenuhi dengan menunggu. Sudah berapa lama aku menunggu Tora pulang kemarin, sekarang aku menunggu Misaki. Keluarga Tonomura senang sekali menyuruhku menunggu. Aku pun tergelak sendiri.


Malam-malam begini di rumah sakit membuatku merinding karena teringat cerita teman-temanku soal rumah sakit angker. Apalagi, sekarang aku sendirian. Segera saja aku keluar dari kamar. Di luar lebih terang walaupun sepi. Kebanyakan pintu kamar telah ditutup dan tak ada seorang suster pun yang lewat maupun sedang di mejanya.


Sekarang lorong panjang rumah sakit ini malah lebih menakutkan lagi. Terdengar dentingan elevator dan gelinding roda ranjang dorong, tapi tak ada yang keluar dari elevator. Mataku menyipit.


Aneh sekali.


Daripada dimakan hantu, lebih baik aku kembali ke kamar. Sebuah ranjang dorong dan seorang suster di belakanganya melewati kamar Misaki. Aku menghela napas lega. "Tidak ada hantu, Tomomi," ucapku pada diriku sendiri.


Di rumah Tora, aku juga sendirian, tapi tidak semengerikan ini. Aku tidak suka seluruh panca inderaku sensitif, seakan suara apa pun jadi mencurigakan atau benda apa pun jadi menyeramkan.


Kelegaanku bertambah ketika Misaki sudah kembali ke kamar. Meskipun sedang tidur, setidaknya ada orang lain di ruangan ini. Pada akhirnya, yang kulakukan hanya tidur di kursi keras yang terletak di samping ranjang Misaki. Sesekali aku terbangun karena suster Misaki mengecek keadaan Misaki, seperti tekanan darah dan suhu badannya. Misaki sendiri belum sadar betul. Dirinya masih dipengaruhi oleh suntikan yang tadi diberikan oleh Dokter Minami. Aku tidak menyangka pengaruhnya akan berlangsung selama ini.


Keesokan paginya, aku terbangun di sisi ranjang Misaki. Gadis itu telah membuka matanya. Ia tersenyum melihatku. "Pagi, Tomomi," sapanya. Luka-luka di wajahnya tidak lantas membuatnya buruk rupa. Misaki tetap manis.


"Pagi," balasku sebelum menguap lebar. Tengkukku pegal sekali, juga sepanjang tulang belakangku.


"Sepertinya aku telah membikin onar."


Aku tertawa kecil. "Apa yang kau rasakan sekarang?" tanyaku.


"Pusing, nyeri, dan sebagainya."

__ADS_1


"Kau ingat kejadiannya?"


Misaki mengangguk. "Aku memukul Yamazaki-san dengan vas bunga," katanya.


"Kau hanya membela diri."


"Taiga-niichan pasti marah."


"Tidak. Dia tidak marah." Tora tidak marah, tapi cemas bukan main. Aku bersyukur pria itu memperbolehkanku menemani Misaki. Aku hanya takut Kumicho tahu tentang pelanggaran yang dilakukannya. Entah bagaimana bila itu terjadi.


"Yamazaki-san berdarah banyak sekali. Aku sampai menjerit sendiri karena takut. Ia memberontak ketika suster menangkapnya. Setelah itu, semuanya gelap."


Aku mengelus-elus pundak Misaki untuk menenangkannya.


"Tomomi, apakah kau pernah memukul orang?" tanya Misaki. "Aku tahu Yamazaki-san tidak bermaksud melukaiku. Maksudku, dia sayang padaku. Tapi aku tetap memukulnya."


"Aku... Pernah memukul orang," kataku jujur sambil menunduk malu. Aku tersenyum agar Misaki membalasnya.


"Yang benar? Siapa?" Kedua mata Misaki berbinar. Rasa ingin tahunya besar sekali.


"Koizumi Rina."


"Eh? Memangnya kenapa? Ah... Aku boleh tahu?"


Aku mengangguk. "Dulu kami tidak akrab karena dia mengira aku mendekati cowok yang ditaksirnya. Tetapi dia salah paham. Dia membenciku, begitu juga sebaliknya. Kami berkelahi sampai dihukum skors selama 5 hari," kenangku. Sekarang, setelah aku dan Koizumi berteman, kejadian buruk di masa lalu itu terasa lucu.


"Tentu saja dia salah paham. Kau kan menyukai Taiga-niichan," goda Misaki, membuatku semakin malu. "Itu berarti aku lebih parah darimu, Tomomi. Aku tidak membenci Yamazaki-san. Malah aku kasihan padanya. Dia mengira suaminya telah tewas. Padahal, masih hidup."


"Eh? Kau tahu soal ini?" tanyaku. Kenapa Misaki tahu, sedangkan Makoto tidak? Kecurigaanku muncul lagi.


"Aku tahu dari suster yang merawatnya."


"Oh..." Aku harus mengubur keinginanku untuk menyalahkan Makoto. Wanita cantik itu tidak bersalah karena dia memang tidak tahu apa-apa. Aku tidak boleh bersikap subyektif.


"Yamazaki-san pernah bilang bahwa kau mengenal temannya yang sering berkunjung ke sini."


Aku mengangguk. "Namanya Makoto Aya. Dia teman kakakmu," kataku.


"Oh ya?" Mata Misaki membelalak. "Pantas saja wanita itu sering menanyakan Taiga-niichan."


"Eh? Apa yang dia tanyakan?"


"Awalnya, dia hanya tahu aku memiliki seorang kakak laki-laki. Lalu, dia jadi penasaran dan bertanya lebih jauh. Siapa namanya, seperti apa orangnya, apa pekerjaannya, di mana rumahnya. Aneh sekali. Jika dia temannya, kenapa dia tidak tahu?" Ekspresi Misaki berubah bingung.


"Mungkin dia takut salah orang."


"Tapi katamu dia temannya."


"Ya, tapi mereka jarang mengobrol."


"Eh? Maksudmu?" Aku ingin tahu cerita Misaki. Di wajahku pasti sudah terbaca ekspresi kesenangan.


"Ya, aku mengatakan bahwa kakakku dulu kuliah di luar negeri, pekerjaannya adalah sebagai akuntan. Kubilang namanya Tonomura Masaki."


Aku tertawa mendengarnya. "Kenapa kau membohonginya?"


"Habisnya aku bosan karena dia bertanya terus. Aku bersyukur karena telah melakukannya. Sekarang, setelah tahu bahwa dia juga seorang Yakuza, bukankah akan menjadi masalah jika dia mengetahui keberadaanku sebagai adik kandung Taiga-niichan?"


"Kau benar," aku masih terbahak. Makoto pasti sedang bingung. Mungkin dipikirnya Misaki hilang ingatan. Misaki memang waktu itu tidak mengingat Tora, tetapi sekarang dia sudah sembuh.


"Kepalaku jadi sakit gara-gara tertawa," kata Misaki sambil memegangi perban di kepalanya. Gadis itu memang tertawa lebih keras daripadaku. "Kurasa sejak dia berkunjung kemari, Yamazaki-san jadi pemurung."


"Eh?"


Sekarang air muka Misaki berubah serius. "Aku sering memperhatikannya, Tomomi. Yamazaki-san yang biasanya selalu ceria setelah berkebun, belakangan ini malah diam saja. Waktu kutanyakan, dia tidak menjawab dan memilih tidur. Ah, apakah itu sebabnya dia marah padaku?"


Menurutku, tidak. Dokternya sendiri yang mengatakan bahwa ingatan tentang mantan suaminyalah yang menyebabkan pemukulan itu. "Tunggu sebentar!" seruku.


Terakhir kali aku bertemu Tora Kucing adalah saat Tora mengunjungi Misaki untuk pertama kalinya di sini. Ketika itu ia sedang berkebun bersama Makoto. Sikapnya masih biasa saja. Ketika aku kembali ke sini setelah berbicara dengan Makoto pun, Tora Kucing masih biasa saja, bahkan dia menggoda Tora.


"Ada apa, Tomomi?" tanya Misaki.


"Mungkinkah memang Makoto-neesan yang... Ah tidak mungkin!" Aku berusaha mengenyahkan kecurigaanku pada Makoto. "Kenapa selalu dia yang kucurigai?"


"Kau menduga wanita itu yang menjadi penyebab Yamazaki-san marah?"


Aku menatap Misaki sebelum mengangguk. "Aku tahu ini terdengar aneh, mungkin juga aku cemburu padanya, tapi kurasa Makoto-neesan merupakan orang yang memancing ingatan Yamazaki-san akan mantan suaminya. Yang membuatku bingung adalah Makoto-neesan sendiri tidak tahu bahwa mantan suami Yamazaki-san masih hidup."


Misaki memiringkan kepalanya. "Dia tahu, Tomomi."


"Eh?"


"Ya. Dia berada di sini waktu suster memberitahuku. Dia pasti mendengarnya. Saat itu dia sedang menunggu Yamazaki-san mandi."


Jadi dia berbohong lagi. Tapi belum tentu dia yang menyebabkan ini semua. Untuk apa dia tega melakukannya? Jika menyukai Tora, maka dia pun harus menyayangi Misaki.


"Kau yakin dialah penyebabnya?" tanya Misaki.


"Tidak," aku menggeleng.


"Sudahlah, Tomomi. Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja selama berada di sini. Dan kau harus berangkat ke sekolah sekarang," Misaki mengingatkan.


Aku langsung melirik jam dinding. "Aku terlambat!" seruku.

__ADS_1


Misaki tertawa. "Pergilah. Aku tidak apa-apa. Terima kasih telah menemaniku."


Aku benar-benar terlambat ke sekolah karena harus pulang dulu. Tora tidak ada di rumah ketika aku pulang, sehingga aku belum bisa menginformasikan keadaan Misaki. Aku dihukum oleh guru Olahraga atas keterlambatanku dengan berlari keliling lapangan basket sebanyak 3 kali. Benar-benar merepotkan.


"Ayase-chan, tak kusangka kau terlambat," kata salah satu teman saat aku masuk kelas untuk mengikuti jam pelajaran ke-3.


"Aku bangun kesiangan," aku berbohong.


"Oh ya? Tadi malam kau melakukan apa saja dengan pacarmu? Kemarin kau tidak masuk sekolah karena pergi dengannya kan?" goda temanku, membuat seisi kelas menjadi heboh. Matsumoto dan Ueda ada di antara mereka. Pada akhirnya mereka semua menunggu jawabanku.


Sial! Mereka pasti melihatku di jalan. "Kami tidak melakukan apa-apa kok," pipiku memanas. Wajahku pasti merah sekali.


Mereka kecewa dan heran. "Padahal kalian tinggal bersama," celetuk salah satunya.


Deg! Jantungku seperti dipukul sebuah balok besar. "Dari mana kalian..." Adakah yang melihat aku dan Tora pulang bersama?


"Tadi ada yang mencarimu," kata Matsumoto.


"Ya. Seorang wanita cantik. Dia langsing sekali sampai membuatku iri," tambah Ueda yang menunjukkan ekspresi kagumnya. Kemudian, teman-teman yang lain ikut menambahkan pujian terhadap wanita itu. "Namanya Makoto Aya," sambungnya.


Untuk apa Makoto mencariku? Apakah dia ingin mengakui kebohongannya? Aku pun berbohong padanya. Jika ia mengakuinya, aku tidak yakin akan melakukan hal yang sama karena ini menyangkut Misaki dan Tora. Aku tidak bisa sembarangan memberikan informasi yang berhubungan dengan nyawa seseorang. Kalau Makoto memang jahat, tentu ia akan mengadukannya kepada Kumicho.


"Memangnya dia siapamu?" tanya Matsumoto.


"Oh. Dia temanku," jawabku asal dan berhasil menghebohkan seisi kelas dengan pujian-pujian terhadapku. Bila tahu Makoto adalah seorang Yakuza, mereka pasti ketakutan.


"Wanita itu yang memberi tahu kami bahwa kau dan pacarmu yang ganteng itu tinggal bersama. Dia memang informan yang tahu segalanya tentangmu ya. Kalian pasti dekat sekali."


Tidak. Kami tidak sedekat itu. Dan sekarang aku tidak ingin dekat-dekat dengannya. Aku tidak tahu apa tujuannya memberikan informasi tidak penting seperti itu kepada teman-temanku. Lagipula, bagaimana dia tahu? Tora tidak mungkin menggembar-gemborkan kepindahanku ke rumahnya. Apakah mungkin Kei? Bisa jadi host itu sedang mabuk dan mengungkapkan semuanya. Kurang ajar kau, Kei.


Guru Matematika masuk ke kelas untuk mengajar. "Ayase Tomomi," panggilnya. "Kepala Sekolah memintamu ke kantornya sekarang."


Sejak masalah Seiji, aku belum pernah lagi dipanggil oleh Kepala Sekolah. Kurasa aku tidak melanggar peraturan sekolah. Jadi, mungkin ini masalah lain.


Rupanya informasi soal tinggal bersama Tora telah menyebar ke mana-mana. Kepala Sekolah memberikan ceramah khusus untukku dengan tujuan menanamkan nilai-nilai moral pada diriku. Dia pikir aku menjual diriku pada seorang pria hidung belang. Tora tidak sebejat itu. Selama ini Tora sopan sekali. Kepala Sekolah bahkan tidak tahu bahwa aku menunggu kepulangan Tora selama berhari-hari.


Cepat sekali berita menyebar di sekolah ini hanya gara-gara seorang Makoto Aya. Tapi wanita itu tidak menyebutkan pekerjaan Tora. Yah, tentu saja, hal itu akan mempermalukan dirinya sendiri karena ia pun seorang Yakuza.


Aku harus membuat perhitungan dengan Kei karena dialah biang keladinya.


🦇🦇🦇🦇🦇


Maka berdirilah aku di depan host club tempat Kei bekerja. Seperti biasa, suasana Shinjuku selalu ramai. Lampu host club menyala terang di antara lampu gedung-gedung lainnya, sangat kontras dengan langit yang hampir gelap. Penerima tamu sempat mengira aku ingin masuk untuk bersenang-senang, tapi begitu kujelaskan maksud kedatanganku, dia langsung masuk dengan wajah cemberut. Laki-laki itu pasti terpaksa memanggilkan Kei.


Tak lama kemudian, Kei keluar dengan tergesa-gesa. Ia mengenakan kemeja putih polos yang dipadukan dengan jaket hitam, serta celana panjang jeans. "Tomomi-chan, sedang apa kau di sini?" tanyanya sambil menoleh ke kiri-kanan. Ia menarikku ke sebuah gang sempit dan tidak terkena sinar lampu agar tidak ada yang melihat kami. "Seharusnya kau tidak boleh kemari," katanya.


"Apa?" Aku ke sini untuk membuat perhitungan dengan Kei, tetapi host itu malah berkata demikian. Pasti dia merasa bersalah, sehingga sengaja ingin menghindar dari topik yang akan kubicarakan.


"Tora-kun tidak ada di sini."


"Aku tidak mencarinya, tapi mencarimu."


"Aku? Ada apa denganku?" Kei terlihat bingung dan menunjuk wajahnya sendiri.


"Aku ingin bertanya. Apakah kau yang memberi tahu tentang kepindahanku ke rumah Tora-san kepada semua orang di Hanazawa-gumi?" tanyaku langsung ke pokok permasalahan.


"Eh?" Kei terperanjat. "Mungkinkah..." Kei berpikir. "Ah, tidak mungkin. Tapi..."


"Kenapa kau berbicara sendiri, Kei-san?" Aku menaikkan alis untuk menantangnya.


"Begini... Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas soal itu, Tomomi-chan," Kei berubah serius. "Aku yakin Tora-kun tidak akan bercerita padamu."


"Tentang apa?"


Kei diam sebentar. Dia tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti ini sebelumnya. Itu berarti memang ada hal serius yang menyangkut Tora. Aku tidak jadi membicarakan topikku padanya karena tidak begitu penting sekarang. "Adakah yang mengikutimu? Atau adakah yang mencurigakan?" tanyanya.


"Kaulah yang mencurigakan. Jangan membuatku bingung, Kei-san," jawabku.


"Sedang apa kalian?" tanya seorang pria bersuara berat yang kebetulan melihat kami di gang. Kepalanya botak licin dan badannya gempal.


"Goro-san," kata Kei.


Aku penasaran dengan apa yang ingin Kei bicarakan. Tetapi, sebaiknya aku menunda untuk bertanya. "Selamat sore," sapaku pada Goro.


"Apakah ini cinta segitiga?" Goro tertawa, lalu menghampiri kami. Tubuhnya yang gempal hampir tidak muat di dalam gang.


Kei ikut tertawa. "Kalau kau berada di sini, namanya menjadi cinta segiempat. Tomomi-chan laku keras!" serunya.


"Aku bukan barang dagangan," kataku datar, membuat mereka berdua terbahak.


"Tomomi, datanglah ke klubku. Kau pasti bisa menarik lebih banyak tamu," Goro tertawa lagi.


"Oi, oi, oi. Itu sangat tidak terpuji, Goro-san," protes Kei yang bergeser ke tengah antara aku dan Goro.


"Tomomi, jangan banyak bergaul dengan Kei," Goro mendorong Kei ke tembok sisi kanan. Awalnya, kukira itu hanyalah dorongan pelan, tapi Kei mengaduh kesakitan. Goro sendiri maju selangkah ke arahku sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebilah pisau. Sorot mata yang tadinya ramah, sekarang berubah menjadi tajam sampai keningnya berkerut.


🗡🗡🗡🗡🗡


**bersambung ke chapter 22!


gimana chapter ini? sudahkah menegangkan? hehehe..


minta like dan comment yg banyak yaaahh!! 😆

__ADS_1


matta ne**...


__ADS_2