My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 20 - Memories


__ADS_3

Suara pagar dibuka membuatku terkejut. Aku langsung mengintip. Orang yang beberapa hari belakangan ini kurindukan sekarang berada hanya dalam jarak beberapa meter. Tora pulang. Pria itu kembali ke rumahnya sendiri. Keberuntunganku benar-benar datang.


"Apa yang harus kulakukan?" aku kebingungan sendiri, salah tingkah seperti cacing kepanasan. Muncullah ide untuk menjahilinya. Aku akan pura-pura tidur. Maka, aku pun berbaring tanpa selimut di sofa. Begitu dia menggendongku nanti, aku akan berteriak untuk mengagetkannya. Ekspresi wajahnya pasti lucu sekali.


Kudengar pintu dibuka. Tora melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal. Langkah kakinya terdengar jelas di lantai kayu. Mungkin dia sudah melihatku. Gaya tidurku pasti meyakinkannya bahwa aku sedang pulas.


Tora menarik resleting jaketnya. Tak lama kemudian, aku merasakan keberadaannya tepat di depanku. Kutahan diriku sendiri untuk mengintip. Ia pasti sedang berjongkok. Hembusan napas Tora menerpa wajahku.


"Tomomi," bisiknya di telingaku.


Rupanya dia berniat membangunkanku. Ini berbeda dari yang kurencanakan. Haruskah aku bergerak?


"Tomomi," Tora membelai wajahku. Jari-jarinya dingin sekali. Kurasakan bibirnya di pipiku.


Aku menarik napas dalam-dalam, lalu bergerak, tapi mataku masih terpejam.


Tora tak lagi memanggil namaku. Dia diam, tapi mengambil tanganku dan digenggamnya erat-erat. "Maafkan aku, Tomomi," ucapnya lembut. "Kau pasti marah padaku. Seharusnya aku lebih banyak bersamamu. Aku yang memaksamu tinggal bersamaku, tapi malah aku yang tidak ada di rumah."


Baguslah, Tora paham penderitaanku tanpa dirinya selama berhari-hari.


"Aku rindu padamu."


Aku pun sangat merindukannya. Detak jantungku bertambah cepat karena Tora mencium bibirku. Sudah tidak bisa ditahan lagi. Kubuka mataku secepatnya. "Tora-san," kataku ketika pria itu melepaskan ciumannya.


"Ah... Maaf," Tora terlihat salah tingkah. Perlu dicatat bahwa penampilannya sekarang tergolong menyedihkan. Lusuh dan dekil. Wajahnya berminyak dengan rambut yang mulai tumbuh di area rahang dan di atas bibirnya. Dan dia bau sekali. Apa dia tidak mandi selama di luar?


"Okaeri," ucapku.


Tora tersenyum. "Tadaima," balasnya.


"Tugasmu sudah selesai?"


"Sudah, syukurlah. Karena tugas-tugas itulah, aku jadi meninggalkan dirimu sendirian. Aku benar-benar minta maaf," Tora menundukkan kepalanya sebagai tanda penyesalan.


Tadinya aku ingin memarahinya, tapi melihatnya seperti ini, aku jadi kasihan. Tora bukannya bersenang-senang di luar sana. Dia bekerja sampai tidak mempedulikan dirinya sendiri. Bahkan, dia masih memikirkan aku dengan meminta Kei berkunjung ke sini setiap hari. Aku tidak boleh egois. "Tidak apa-apa. Ada Kei-san yang menggangguku," kataku.


Tora tergelak. "Sebaiknya aku mandi dulu. Badanku lengket sekali. Tunggu aku ya."


"Ya," jawabku tanpa tahu apa maksud permintaan Tora.


Cukup lama Tora mandi.


Kira-kira, untuk apa aku harus menunggunya? Bukankah seharusnya dia menyuruhku tidur? Lagipula, sudah jam segini. Aku harus sekolah. Ataukah aku tidak usah tidur saja? Tapi apa yang akan kulakukan sampai subuh nanti?


"Aku sudah selesai. Kau siap pindah ke kamar?" tanyanya setelah keluar dari kamar mandi.


"Eh? Tunggu sebentar! Pindah ke kamar itu... Maksudnya..." Aku bangkit duduk dengan cepat. Pertanyaan Tora barusan seperti ingin mengajakku melakukan sesuatu di dalam kamar. Atau pikiranku saja yang kotor? Yang jelas, jantungku ingin melompat keluar.


"Ah! Bukan itu maksudku," Tora tertawa. "Kau nakal sekali, Tomomi-chan," ucapnya manja. Baru kali ini dia memanggilku dengan embel-embel chan. Dan itu membuatnya tampak seperti host. "Ada apa, Tomomi-chan? Bukankah kau senang dipanggil seperti itu?" tanya Tora dengan senyuman yang dibuat-buat. Menggelikan.


"Hentikan," kataku.


"Mari kita ke kamar, Tomomi-chan," Tora menghampiriku.


"Oi! Tunggu!" Aku menghindar dari tangkapannya.


Kami mengitari sofa beberapa kali sebelum Tora terjatuh karena kaki panjangnya terbentur meja kopi. "Aduh..." erangnya sambil memegangi tulang keringnya. Ia pun roboh di sofa.


"Rasakan!" seruku.


"Awas kau, Tomomi-chan!" Napas Tora tersengal-sengal. "Aku terlalu bersemangat," ia tertawa.


Aku duduk di sebelah Tora dan menyandarkan kepalaku di pundaknya. "Sebentar lagi jam 5. Sepertinya aku tidak akan tidur karena harus sekolah," kataku, lalu menguap.


"Tidurlah. Kau mengantuk," Tora mengusap-usap kepalaku seolah aku adalah anaknya.


Perlakuan Tora menenangkanku. Saraf-sarafku mengendur. "Kau sendiri?" tanyaku.


"Aku bisa tidur seharian karena libur. Maaf ya, Tomomi, membuatmu mengantuk."


Aku tergelak. "Mengantuk itu alami, Tora-san," kataku.


"Kalau begitu, tidurlah. Aku akan membangunkanmu satu jam lagi."


Kupejamkan mata beratku. Aku dapat merasakan naik-turunnya pundak Tora. Suasana hening seperti ini sangat menyenangkan. Tora tidak berbicara sedikit pun. Hanya tangan besarnya yang sedang mengelus-elus kepalaku. Aku sedikit terkejut karena dia mencium keningku. Dulu, Nenek yang biasa melakukannya jika aku tidak bisa tidur.


Aku sangat bersyukur mempunyai keluarga yang menyayangiku. Nenek dan kedua pamanku beserta keluarganya mau menerimaku sejak kecil. Walaupun Bibi Koharu tidak memperhatikanku, setidaknya ia tak pernah menyakitiku. Keluarga yang sebenarnya tidak akan berkhianat. Semoga ia memperoleh kebahagiaan seperti yang kurasakan saat ini.


Sekarang, Tora adalah keluargaku. Aku tidak akan mengkhianatinya.


Janji Tora untuk membangunkanku tidak dipenuhinya karena ia sendiri tertidur di sofa. Ketika terbangun, aku sedang berada di dalam pelukannya. Lengan Tora melingkariku erat sekali. Kakinya pun berada di atas kakiku. Ia benar-benar menjadikanku bantal guling.


Sinar terang matahari telah menembus jendela. Sudah terlambat untuk berangkat sekolah. Aku membolos saja.


Aku memperhatikan wajah Tora. Hidung lancipnya membuatku bertanya-tanya, apakah ia memiliki garis keturunan orang asing. Kumis dan jenggot tipis di wajahnya tidak menggangguku sama sekali. Tora malah nampak maskulin. Rambutnya sudah mulai panjang. Aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak membelainya.


Tora adalah Yakuza paling baik di dunia. Dia tidak pernah membunuh orang walaupun mungkin sering membantu mengurus mayat korban teman-temannya. Bergabung dengan klan Yakuza tidak lantas menjadikannya seorang penjahat. Dia menyayangi adiknya, juga sangat memperhatikan aku. Dari luar, dia nampak garang karena wajahnya memang menyeramkan, tetapi di balik itu, dia hangat dengan senyuman dan tawa renyahnya.


"Tora-san," bisikku.


"Hmmm..." Tak kusangka Tora mudah sekali dibangunkan. Ia mempererat pelukannya, hampir membuatku sesak napas. Baginya, yang berbadan besar, aku lebih seperti boneka. Perlahan-lahan, ia membuka matanya, lalu tersenyum. "Selamat pagi," ucapnya.


"Pagi. Kau tidak membangunkan aku," ujarku pura-pura cemberut.


"Ah! Maaf, aku ketiduran," sesalnya. "Sudah terlambat ya?"


Aku mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku bolos saja."

__ADS_1


Tora menguap di hadapanku, membuatku membayangkan seekor bayi harimau yang baru bangun tidur. Sangat menggemaskan. Apalagi sekarang ia mengucek matanya. "Eh? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" tanyanya.


"Tidak ada apa-apa," sangkalku.


Tora mempererat pelukannya. "Katakan padaku!" perintahnya seraya tertawa.


Akan memalukan bila aku mengatakannya. "Tidak mauuu!" seruku.


"Kau tidak pernah mengungkapkan apa yang kau pikirkan."


"Karena itu tidak penting."


"Kalau tidak penting, kenapa kau memikirkannya?"


"Karena lucu."


"Aku lucu?"


"Bagaimana kau tahu itu tentangmu?"


Tora tertawa. "Aku mengenal dirimu dengan baik, Tomomi-chan," godanya.


"Ah! Lagi-lagi kau memanggilku seperti itu," aku cemberut.


"Bukankah itu panggilan yang manis?"


"Terlalu manis."


"Tomo? Tomo-chan?"


"Itu nama laki-laki!" protesku.


Tora terbahak. "Hari ini kita libur. Kau mau melakukan apa? Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tanyanya. "Aku akan menemanimu seharian," ia terlihat bersemangat.


Jadilah kami bersiap-siap untuk berangkat. Aku mengenakan pakaian lumayan bagus, atasan dan rok pendek, supaya mengimbangi penampilan Tora yang memang sudah sempurna dari sananya.


Kegiatan jalan-jalan kami didominasi oleh makan. Tora menginginkan aku bertambah gemuk. Dia terus mengawasi agar aku selalu menghabiskan makananku. Setelah makan, kami nonton film di bioskop. Kubiarkan dia memilih film yang disukainya. Kami kekenyangan karena saat menonton pun, dia membeli banyak snack. Tak heran badannya besar.


Namun, energi yang dihasilkan oleh makanan tersebut segera terbakar karena kami berjalan kaki. Tora tidak menggunakan mobil karena sedang dipakai oleh salah seorang temannya. Kami berkeliling dan akhirnya duduk di kursi taman karena kelelahan.


"Kau mau menemaniku mengunjungi Misaki?" tanya Tora. Anggukanku membuatnya senang sekali.


Ponselku berdering. Aku menjawab panggilan telepon yang tak kuketahui siapa orangnya. "Halo?" sapaku.


"Selamat sore. Dengan Ayase Tomomi?" tanya si penelepon yang adalah perempuan. Cara bicaranya sopan.


"Ya."


"Kami ingin menginformasikan tentang kondisi pasien bernama Tonomura Misaki. Karena itu, kami harap Anda datang ke rumah sakit."


"Sebaiknya Anda segera datang. Dokter Minami akan menjelaskannya secara langsung."


"Baiklah. Terima kasih." Kuputuskan sambungan telepon.


"Siapa?" tanya Tora.


"Rumah sakit jiwa. Kita berangkat sekarang," kataku.


Baru saja tadi kami berencana mengunjungi Misaki, ada telepon dari rumah sakit. Aku tidak bisa menyimpulkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Dokter Minami tentang kondisi Misaki hanya dari telepon barusan. Wanita yang menelepon itu sangat sopan, tak terdengar buru-buru atau panik. Mereka tidak pernah meneleponku sebelumnya. Dokter Minami pernah bilang bahwa Misaki sudah sembuh. Seharusnya tidak ada berita buruk. Kuharap semua baik-baik saja.


πŸ₯―πŸ₯―πŸ₯―πŸ₯―πŸ₯―


Kami datang ke rumah sakit secepatnya. Beberapa orang memperhatikan kami, mungkin karena mengenaliku yang dulu sering bolak-balik kemari. Kami langsung masuk ke kamar Misaki. Tora Kucing tidak ada di tempat, tapi ranjangnya berantakan. Di lantai, terdapat pecahan beling yang sesaat kemudian kuketahui adalah vas bunga milik Misaki. Dokter Minami dan 3 orang suster berdiri mengelilingi ranjang Misaki.


"Misaki," panggilku, lalu menghampiri mereka semua.


"Ah, Ayase-san," kata Dokter Minami.


Dua orang suster memberiku celah untuk menengok Misaki. Napasku tercekat ketika menangkap luka-luka di wajah gadis itu. Tulang pipinya bengkak, sekeliling keningnya ditutup perban, dan sudut bibirnya lecet.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Tora panik. Nada suaranya tinggi.


"Maaf atas kelalaian kami dalam mengawasi pasien," Dokter Minami angkat bicara. "Dia berkelahi dengan teman sekamarnya," ia membungkukkan badan sedalam-dalamnya.


"Yamazaki-san?" tanyaku. Pantas saja dia tidak ada.


Dokter Minami mengangguk. "Bisa kita bicara di ruanganku?"


Aku dan Tora mengikuti dokter itu ke ruangannya. Kami melewati kamar-kamar pasien lainnya. Kebanyakan dari mereka sedang menangis dan melamun. Aku jadi bertanya-tanya, apakah ini dampak keributan bagi orang gila.


Dokter Minami duduk di kursi kebesarannya, sedangkan aku dan Tora duduk di seberang mejanya. "Menurut suster yang melihat kejadian itu, Misaki dipukuli oleh Yamazaki-san. Kepalanya dibentur-benturkan ke dinding. Yamazaki-san sedang kami periksa. Kebetulan dia bukan pasienku. Sepertinya dia mengalami ketakutan hingga memicu rasa ingin membela diri," katanya.


"Tapi Misaki tidak pernah dan tidak ingin menyakiti siapa pun," ujarku.


"Aku tahu, tapi Yamazaki-san juga memiliki sobekan di pelipis kiri. Mungkin Misaki sempat memukulnya dengan vas bunga."


"Lalu, apa yang menjadi penyebab rasa takut yang dialami Yamazaki-san?" Aku tahu mengapa Tora Kucing menjadi gila. Makoto pernah menceritakan garis besarnya padaku. Tapi, menurutku, Tora Kucing bukan orang yang akan sembarangan memukul. Apalagi, kuperhatikan belakangan ini, hubungannya dengan Misaki membaik. Dia tak lagi menyuruh-nyuruh Misaki. Juga, seharusnya pikirannya tenang karena sering berkebun.


"Hmmm..." Dokter Minami enggan menjawab pertanyaanku. Ia melirik ke arah Tora.


"Oh, dia teman Misaki dan aku. Kami memang ingin mengunjungi Misaki hari ini," kataku. "Namanya... Namanya Matsutomo Hideki," aku mengarang nama Tora sembarangan. Kupakai nama palsu itu untuk berjaga-jaga bila Makoto datang dan bicara dengan Dokter Minami. Makoto juga berkaitan dengan insiden ini karena ia sering membesuk Tora Kucing. Mungkin saja pihak rumah sakit juga memanggilnya.


"Yo," sapa Tora, yang kuanggap tidak sopan.


"Aku tidak tahu detailnya, tapi dokternya mengatakan bahwa Yamazaki-san mengalami depresi berat karena kehilangan suaminya yang berselingkuh dengan wanita lain. Gangguan kejiwaannya dapat muncul karena dipengaruhi oleh pikiran-pikiran negatif di dalam dirinya, sehingga ia berhalusinasi. Penyebab paling utama adalah ingatan tentang perselingkuhan suaminya," jelas Dokter Minami panjang lebar.


"Jadi maksudmu, di dalam bayangan Yamazaki-san, Misaki adalah wanita simpanan suaminya?" tanya Tora.

__ADS_1


Dokter Minami mengangguk. "Bisa jadi. Yamazaki-san sangat menyukai kecantikan. Dia ingin terlihat cantik karena dia berpikir dengan menjadi cantik, maka suaminya akan kembali padanya. Akan tetapi, suaminya tetap saja memilih wanita lain. Mungkin Yamazaki-san menganggap Misaki sebagai ancaman dan dia mulai berhalusinasi. Kemudian, dalam bayangannya, Misaki menertawakan dirinya yang kalah cantik atau lebih tua. Bahkan, bayangan terburuk adalah Misaki ingin mencelakainya, sehingga ia merasa harus membela diri."


Ini sedikit berbeda dengan versi Makoto. "Bukankah suaminya tewas dalam kecelakaan?" tanyaku.


"Tidak, Ayase-san. Suaminya masih hidup."


Lagi-lagi Makoto berbohong. Aku tidak melihat pengaruhnya bila Makoto mengatakan yang sebenarnya. Maksudku, toh Tora Kucing bukan siapa-siapaku. Jika Makoto bilang suaminya masih hidup, memangnya aku akan melakukan apa? Karena begitu menyebalkan, aku jadi berpikir bahwa Makoto-lah wanita yang menjadi simpanan suami Tora Kucing. Lalu tanpa merasa berdosa, dia datang menjenguk Tora Kucing untuk menyatakan kemenangannya.


Tentu itu merupakan pikiran-pikiran jelekku saja. Aku berusaha mengenyahkannya. Sekarang, yang terpenting adalah Misaki. Gadis malang itu pernah menjadi korban kekerasan. Jika ia mengalaminya lagi, aku takut akan berpengaruh pada kejiwaannya. Tetapi bila bisa membela diri dengan memukul balik Tora Kucing, mungkin Misaki baik-baik saja.


Aku kasihan pada Misaki, tapi juga pada Tora Kucing. Tidak dapat kubayangkan melihat Tora berselingkuh. Dengan janji-janji yang selama ini diutarakannya, rupanya Tora juga mengungkapkannya kepada orang lain. Rasanya pasti sangat menyakitkan. Jika menjadi Tora Kucing, mungkin aku pun akan menghuni rumah sakit ini. Aku bisa gila kalau pacarku selingkuh.


🎈🎈🎈🎈🎈


Kamar Misaki sudah sepi begitu aku dan Tora kembali. Mata Misaki masih terpejam. Napasnya teratur. Aku baru menyadari luka membiru di lengan bawah Misaki, juga bekas cengkeraman di pergelangan tangannya. Tora Kucing pasti menahan tangan Misaki dengan tangannya sendiri. Kuat sekali dia.


Aku jadi ingat ketika Seiji nyaris memperkosaku. Seseorang dapat memiliki kekuatan lebih jika sedang menginginkan sesuatu. Adrenalinnya pasti memuncak. Mengerikan bila dipikirkan, tapi itulah manusia. Menakutkan.


"Kenapa dia tega sekali melukai adikku?" tanya Tora. Kedua matanya tetap menatap wajah Misaki.


"Dia tidak sadar ketika melakukannya," kataku. Kuharap Tora memaklumi tindakan Tora Kucing. Aku sendiri tidak mengerti kenapa Tora Kucing menganggap Misaki sebagai ancaman. Apakah Misaki mengingatkannya akan wanita simpanan suaminya? Misaki memang gadis cantik, tapi bukankah Tora Kucing menyukai para perempuan cantik? Mengapa dia tidak menyerang Makoto yang juga cantik?


"Aku tahu. Aku hanya sedang berpikir, apakah mungkin pikiran-pikiran negatif Yamazaki-san berasal dari luar."


"Maksudmu?" Aku menatap Tora, penasaran pada pendapatnya.


"Waktu itu Yamazaki-san sempat bertanya apa hubunganku dengan Misaki. Kubilang aku adalah kakaknya. Dia nampak terkejut, lalu berkata bahwa dia menyukai Misaki. Dia juga memberikan pesan padaku."


"Pesan apa?"


"Jangan biarkan Misaki bernasib seperti dirinya."


"Eh?"


"Bila Yamazaki-san begitu memperhatikan Misaki, kenapa dia malah memukulinya seperti ini? Kurasa, ada hal lain yang mempengaruhi kejiwaan Yamazaki-san. Selama ini dia baik-baik saja kan?"


Aku mengangguk. Ya, dari saat Tora Kucing menjadi teman sekamar Misaki sampai sebelum kejadian ini, aku tidak melihat kejanggalan dalam dirinya. Wanita itu memang cerewet, sinis, dan terobsesi pada kecantikan. Namun, kadang-kadang dia mengobrol dengan kami layaknya orang sehat. Tatapan matanya pun tidak kosong. Bahkan, dia yang menyuruhku berdandan. Hal itu menandakan bahwa dia normal.


"Bukankah ini aneh?" lanjut Tora.


Kalau dipikir lagi, ini memang aneh sekali. "Apakah kita harus menemui dokter yang menangani Yamazaki-san? Ah! Apakah kau mau di sini saja menemani Misaki?"


Tora menimbang-nimbang. "Aku ikut denganmu."


Bertanya pada dokter Tora Kucing setidaknya akan memperjelas gangguan kejiwaan yang dialami pasiennya. Aku tidak tahu bagaimana Tora Kucing bisa masuk ke sini. Jika baru belakangan ini saja Makoto rajin menengoknya, mungkin Tora Kucing memang dibuang oleh keluarganya.


⚾️⚾️⚾️⚾️⚾️


Tak kusangka, ternyata dokter Tora Kucing adalah seorang perempuan berdarah campuran. Hidungnya mancung sekali dan rambutnya pirang. Entah ayah atau ibunya yang orang barat. "Debby," katanya memperkenalkan diri. "Silakan duduk."


Aku dan Tora duduk di hadapan sang dokter.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan bahasa Jepang yang bagus.


"Kami ingin menanyakan tentang pasien Anda yang bernama Yamazaki Nao," kata Tora. "Latar belakang keluarganya, penyebab penyakitnya, dan lain-lain."


"Apakah kalian keluarganya?"


"Bukan, tapi ini berkaitan dengan kasus pemukulan terhadap Tonomura Misaki."


"Berarti kalian keluarga dari gadis itu. Kami dilarang untuk memberikan informasi tentang pasien kepada orang yang bukan keluarganya. Namun, untuk masalah ini, sepertinya aku bisa membantu sedikit," Dokter Debby tersenyum.


Ada perasaan lega karena dokter cantik ini mau membantu kami.


"Yamazaki-san mulai dirawat di sini sejak tahun lalu. Dia diantar oleh suaminya sendiri. Awalnya, dia menangis walaupun sudah menduga bahwa sang suami akan meninggalkannya. Saat pertama kali bertemu dengannya, aku merasa Yamazaki-san adalah seorang wanita yang tegar. Aku merasa ia bisa sembuh dari depresinya. Namun, pengkhianatan yang dilakukan suaminya memadamkan semangat hidupnya. Ia hampir bunuh diri. Untunglah kami datang tepat waktu. Ia nyaris menjadi pasien pertama yang lompat dari atap rumah sakit ini."


"Jadi benar, suaminya masih hidup?" tanyaku.


Dokter Debby mengangguk. "Tapi Yamazaki-san berpikir bahwa suaminya sudah meninggal. Dia tidak ingin melihat suaminya lagi. Karena itu, dia terus menanamkan anggapan pada dirinya untuk melupakan suaminya."


"Lalu, apa yang menjadi penyebab Yamazaki-san menyerang Misaki?"


"Ingatan terhadap perselingkuhan itu muncul kembali. Sewaktu aku tanyakan, ia berbicara tidak jelas bahwa Misaki akan merebut suaminya, Misaki tak pantas untuk suaminya, Misaki jahat. Sekarang ia sedang kami isolasi agar tidak melukai orang lain maupun dirinya sendiri."


"Mungkinkah ingatan itu muncul karena dia melihat suatu kejadian yang mengingatkannya pada suaminya atau faktor-faktor lain?" Tora terlihat begitu ingin tahu tentang hal itu.


Sejujurnya, aku mulai berpikir bahwa kasus Tora Kucing hampir sama dengan Misaki. Hanya saja, Tora Kucing menolak untuk mengingat kembali. Memori buruk tersebut menimbulkan pikiran-pikiran negatif di dalam kepalanya. Bila waktu itu Misaki juga menolak ingatannya tentang Tora, mungkin sekarang Misaki-lah yang diisolasi.


"Bisa," jawab Dokter Debby. "Ingatan itu dapat muncul secara tiba-tiba dengan sendirinya, maupun dipengaruhi oleh faktor luar. Misalnya, ada seseorang yang mencoba membuatnya mengingat kembali tentang kejadian buruk. Kudengar dari Dokter Minami bahwa Misaki juga mengalaminya, tetapi ia berhasil melewati masa itu dengan baik. Untuk kasus Yamazaki-san, memorinya merupakan memori buruk, sehingga akibatnya akan lebih berbahaya."


"Tunggu sebentar, Dokter. Anda bilang ini sama dengan Misaki?" tanya Tora.


"Hampir sama," kata Dokter Debby.


"Itu berarti..." Tora menatapku. "Ada kemungkinan seseorang mencoba memancing ingatan Yamazaki-san."


Pikiranku segera terbuka. "Makoto-neesan?"


🎲🎲🎲🎲🎲


**bersambung ke chapter 21!


adakah yg tidak dimengerti?


minta like dan comment yah guys..


matta ne**...

__ADS_1


__ADS_2