
Rumah sakit jiwa tak seperti dugaanku sebelumnya. Kupikir akan ada banyak orang gila yang dikunci di dalam terali besi, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Sebagian pasien sedang bersantai di dalam satu ruangan sambil menonton televisi, sebagian lagi sedang berkebun, sebagian lainnya sedang menggambar saat aku berjalan melewati mereka.
Sejujurnya, aku tak suka rumah sakit karena penuh dengan aura orang-orang sakit yang mampu membuatku tertular. Tetapi penyakit jiwa tidak akan menular kan? Pasien bernama Misaki hanya ada 1 orang di sini. Secepatnya, suster mengantarkan aku ke kamarnya. Misaki berada di kamar kelas satu untuk 2 orang, tapi ranjang di sebelahnya tidak berpenghuni. Gadis itu menempati ranjang di samping jendela. Ia tersenyum melihat suster yang masuk. Tidak tampak seperti orang gila bagiku.
Aku melirik papan nama yang tertera di pintu kamarnya. Tonomura Misaki. "Jadi nama keluarganya Tonomura," gumamku, lalu masuk. Jantungku sedikit berdebar-debar waktu menghampiri ranjangnya.
Kulit Misaki pucat, badannya kurus seolah hanya tinggal tulang berbungkus kulit. Namun, raut wajahnya ceria. Rambutnya sebahu, hitam kelam, sama dengan Tora. Yang mirip lagi adalah bentuk hidungnya yang lancip seperti paruh burung. Ia menatapku cukup lama. Tiba-tiba, senyuman yang tadi ditujukan bagi suster, sekarang menghilang begitu saja. Misaki membuang muka, tak mau menatapku lagi.
"Ada apa, Misaki-chan?" tanya sang suster.
"Usir dia dari sini!" perintah Misaki tanpa menoleh. Ia terus melihat ke luar jendela.
"Tapi Ayase-chan datang untuk mengunjungimu. Kenapa tidak mencoba berkenalan dulu? Mungkin kalian bisa jadi teman." Suara suster ini lembut sekali. Aku jadi bertanya-tanya, apakah begitu seharusnya memperlakukan seorang pasien penyakit jiwa.
Misaki akhirnya menoleh ke arahku. Ia memelototi aku dengan mata bulatnya.
"Hai," sapaku, yang ternyata membuatnya semakin marah sampai matanya membelalak liar.
Aku keluar dari kamarnya dengan perasaan bingung. Bagaimana caranya mendekati Misaki? Baru kusapa, ia sudah membanting vas bunga kosong yang ada di meja sudutnya ke lantai. Mata liarnya jelas-jelas menandakan bahwa ia tidak suka kehadiranku. Maka sebaiknya aku keluar, daripada memperburuk keadaan. Biar suster saja yang menanganinya. Tapi apa yang harus kulaporkan kepada Tora nanti?
Di luar rumah sakit, aku menelepon Tora. "Maaf, Misaki tidak mau menemuiku," laporku. Tora diam sampai aku harus memanggilnya lagi supaya tahu dia masih ada di sana. Apa dia menangis? Tapi aku tahu dia pasti sedih. "Aku akan mencobanya lagi besok," lanjutku.
"Terima kasih," katanya singkat.
Esok hari, juga hari-hari selanjutnya pun hasilnya tetap sama. Misaki tetap membanting vas bunga kosong dari mejanya. Hebat sekali mereka selalu menggantinya dengan yang baru. Tak tega untuk melapor kepada Tora, aku pun langsung pulang. Aku berjalan ke stasiun sambil melihat toko-toko di sekitarku, memikirkan cara untuk berbicara dengan Misaki. Sungguh senangnya bila, setidaknya, ia tidak melempar vas bunga itu. "Tunggu sebentar!" Kuhentikan langkahku ketika menemukan ide cemerlang.
Aku menelepon Tora untuk meminjam uangnya. Kami bertemu di stasiun. Ia memberikan berlembar-lembar pecahan sepuluh ribuan padaku tanpa menanyakan untuk apa uang itu. Kelihatannya ia buru-buru. Mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Keesokan harinya, aku datang lagi ke rumah sakit. Tanpa meminta suster untuk mengantar, aku menghampiri kamar Misaki. Dari samping pintu, aku melambai-lambaikan tangan ke arah dalam kamar agar Misaki melihatnya. Kemudian, kukeluarkan sebuket bunga mawar pink yang telah kubeli memakai uang Tora, dan kulambai-lambaikan lagi. Tak terdengar suara apa pun dari dalam. Maka kuputuskan untuk mengintip. Misaki melongo melihat separuh wajahku. "Selamat sore," sapaku ceria, berharap ia balas menyapa.
"Bunga itu?" tanyanya.
"Untukmu," aku tersenyum, lalu melangkah masuk. Kuberikan sebuket bunga itu ke tangannya yang kurus.
"Terima kasih," ucapnya pelan. Nampaknya ia malu menerima bunga dariku. Manis sekali.
"Namaku Ayase Tomomi. Senang berkenalan denganmu, Misaki," aku menundukkan kepalaku.
"Tonomura Misaki. Salam kenal. Tapi...kau siapa?"
Aku duduk di sebuah kursi dekat ranjangnya. "Oh! Aku diminta kakakmu untuk datang mengunjungimu," jawabku.
Misaki tersenyum ramah. "Mungkin kau salah orang. Aku tidak punya kakak," katanya.
__ADS_1
"Eh?" Apa Misaki hilang ingatan? "Kalau begitu...kau ingat mengapa kau berada di sini?" Kucoba untuk memancing ingatannya.
"Hmmm, aku hanya ingat seorang wanita membawaku kemari, tapi dia tidak pernah datang lagi sejak itu."
Aku terdiam. "Lalu, ayah ibumu?"
"Mereka sudah bercerai sejak aku kecil. Aku bahkan tidak ingat bagaimana wajah Ibu karena aku tinggal bersama Ayah. Kemudian, Ayah menikah lagi. Aku pergi dari rumah setengah tahun yang lalu karena tidak tahan dengan perlakuan ibu tiriku. Teman-temanku masuk SMU, sedangkan aku berkeliaran di jalanan. Aku dipukuli dan dicaci oleh orang-orang seperti kucing tersesat. Dan di sinilah aku sekarang." Misaki menceritakan apa yang terjadi padanya saja, tapi tidak menyebutkan dirinya pernah bertemu dengan Tora. Baginya, Tora tidak ada.
"Teman-temanmu?" tanyaku pelan.
"Aku punya beberapa teman dekat, tapi mereka tidak pernah datang menjenguk. Mungkin mereka pikir aku benar-benar gila," Misaki tertawa getir.
"Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu, Misaki. Orangtuaku pun sudah bercerai, lalu aku tinggal bersama nenekku di Hokkaido, tepatnya di Hakodate."
"Wah! Aku ingin sekali pergi ke sana!" ujarnya bersemangat.
"Oh ya?"
Kami mengobrolkan tentang banyak hal. Karena tinggal di prefektur yang berbeda, maka kami bisa membandingkannya, misalnya perbedaan iklim atau makanan khas. Hal itu membuatku teringat akan kampung halaman.
Walaupun aku lahir di Tokyo, tetapi keluarga Ayah adalah penduduk Hokkaido. Ayah pindah ke Tokyo untuk mencari pekerjaan. Ia adalah salesman sebuah perusahaan percetakan. Karena pekerjaannya yang menumpuk, kadang-kadang harus menemani klien sampai larut, ia lebih memilih tidur di kantor. Mungkin itulah sebabnya Ibu tidak tahan pada sikap Ayah yang tidak memperhatikan keluarga. Setelah bercerai, Ayah tinggal di sebuah apartemen kecil yang dekat dengan lokasi kantornya. Waktu itu, aku belum tahu apa-apa. Aku tahu ini semua dari Nenek karena rupanya Ayah sering menelepon Nenek untuk sekedar bercerita.
Rumah kami berada di Hakodate, sebelah selatan Hokkaido. Saat musim semi, bunga sakura bermekaran. Kami sekeluarga pergi ke Benteng Goryoukaku yang sekarang menjadi taman umum untuk ber-hanami, yaitu sekitar bulan April. Dan pada musim dingin, kadang-kadang kami pergi ke kawasan Abuta untuk main ski atau sekedar menikmati pemandangan Desa Niseko. Kami juga mengunjungi Sapporo Yuki-matsuri di Sapporo untuk melihat ratusan patung es dengan tema yang bervariasi.
"Tomomi?" panggil Misaki, mengagetkanku. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Tidak. Aku hanya teringat nenekku," aku tersenyum malu.
"Oh...seandainya aku juga punya keluarga sepertimu," ujar Misaki sambil menunduk. "Selama aku di sini, tak ada yang datang mengunjungiku."
Kasihan sekali Misaki. "Berarti aku yang pertama?" tanyaku bersemangat, ingin membuatnya melupakan hal-hal yang menyedihkan.
Misaki mengangguk. "Selamat ya," katanya sambil tersenyum.
Sejak itu, aku selalu membawakan bunga untuknya setiap kali datang.
Kupandangi wajah Tora yang sedari tadi diam saja. Jenggotnya sudah bertambah panjang beberapa milimeter. Matanya menerawang, entah pikirannya melayang ke mana. Aku tidak berani untuk mengagetkannya. Jadi, aku hanya menunggu sambil bertanya-tanya, apakah Tora tidak percaya padaku.
"Benar dia bilang begitu?" tanyanya padaku untuk kesekian kalinya. Tapi kalau aku jawab, dia pasti bengong lagi. Mungkin dia terlalu shock dengan laporanku tentang Misaki yang tidak ingat padanya. Yah, mau bagaimana lagi? Aku hanya berkata yang sejujurnya. Siapa tahu Tora punya ide untuk membuat adik kesayangannya mengingat sesuatu.
Kami berdua sedang duduk di sebuah kedai ramen. Dua buah mangkuk berisi ramen pesanan kami telah disediakan di meja, tapi belum disentuh sama sekali. Sebenarnya aku sudah lapar. Ditambah udara dingin malam ini membuat lapisan lemak di dalam tubuhku menipis. Kurasa sebentar lagi perutku akan berbunyi. Tetapi karena Tora belum memperlihatkan selera makan, maka aku juga belum mau mengambil sumpit.
"Aku harus menemuinya," gumam Tora, lalu menoleh padaku. "Temani aku menemuinya!"
__ADS_1
"Eh? Kau mau menemuinya?"
"Dia pasti ingat kalau sudah melihatku," Tora menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Kau mau dihukum?" Aku mengingatkan statusnya sebagai anggota Yakuza.
"Tapi kalau seperti ini... mungkin Misaki tidak akan mengingatku selamanya," kata Tora. Pria itu menghela napas, bingung apa yang harus dilakukannya.
"Tenang saja, Tora-san. Aku akan membantu mengembalikan ingatannya. Percaya padaku!" ucapku meninggikan diri sendiri. Padahal, aku mengatakannya hanya untuk menyemangati Tora. Aku tidak punya ide apapun di kepalaku, apalagi membuat keajaiban. Aku pun mengambil sumpit dan mulai menjepit ramen-ku yang sudah dingin.
Mengapa aku mau-maunya terlibat dalam masalah keluarga Tora? Kalau sekarang aku tidak mau peduli, sudah terlambat. Semakin lama, aku semakin tak tega pada Misaki. Malah aku menganggap gadis itu sebagai seorang adik. Dia sangat polos dalam menceritakan apapun. Kadang aku merasa bersalah karena merahasiakan beberapa hal tentang diriku, misalnya aku pernah berkelahi dengan Koizumi dan kawan-kawan.
Di sekolah, aku sudah menjadi bahan gosip. Hal ini dikarenakan Tora yang hampir setiap hari menjemputku sepulang sekolah. Sosok Tora yang misterius dengan kumis dan jenggotnya itu memang ditakuti oleh sebagian besar penghuni sekolah. Mereka mengira aku anak Yakuza atau berpacaran dengan Yakuza. Mau dibilang begitu pun, tak masalah bagiku. Yang penting, sejak Tora rajin mampir, Koizumi tak lagi berani membuat masalah denganku. Aura 'jangan dekat-dekat' langsung melekat pada diriku.
Aku selalu sendirian saat makan siang, jam olahraga, dan praktek laboratorium. Tak ada yang mau menemaniku. Tidak masalah. Aku selalu bisa mengobrol dengan Misaki. Bahkan, aku membawakan buku-buku pelajaranku agar bisa dibacanya. Misaki mempunyai ketertarikan pada pelajaran Sejarah. Dia senang sekali kalau aku menghadiahinya buku-buku tentang sejarah dalam maupun luar negeri.
Misaki tidak diizinkan keluar dari rumah sakit karena tidak punya tempat tinggal. Aku ingin sekali membawanya pulang, tapi keadaan apartemenku yang sempit itu tidak mendukung. Dokternya pun mengatakan bahwa Misaki harus minum obat tepat waktu. Bila tidak, trauma akan kembali mengejarnya dan membuatnya mengingat hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam hal ini, penyiksaan yang dilakukan oleh ibu tirinya, yang nantinya akan berakibat buruk pada tingkah laku Misaki, seperti menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri.
"Ayase Tomomi!" panggil Taguchi-sensei dengan suara keras.
"Eh?" Aku tersentak dari lamunanku tentang Misaki. "Ya?"
"Kau yang akan menjadi pemeran utama wanita."
"Untuk apa?" tanyaku tidak mengerti. Sebagian besar murid di kelasku tertawa.
"Drama Cinderella."
"Cinderella?" Aku membelalakkan kedua mataku sebesar yang kubisa karena tidak percaya.
"Dan yang akan menjadi pangeranmu adalah...Hiromitsu Seiji."
Seketika kelas langsung heboh, sementara aku hanya bengong. Aku? Cinderella? Tidak mungkin!
😈😈😈😈😈
**hello..balik lagi!
semoga cerita ini banyak yg suka. amiiinn..
aku minta like dan comment yah!
matta ne**...
__ADS_1