
"Bagaimana keadaan bayimu?"
Pertanyaan balasanku membuatnya terkejut. "Bayi apa? Aku tak punyai bayi!" katanya, mengalihkan matanya dariku. Ia bohong.
"Koizumi, maafkan aku karena menyebabkan semua ini terjadi padamu."
Koizumi tertawa sinis, lalu menggeleng. "Jadi, kau sudah tahu bahwa aku hamil. Kau sengaja memanggilku ke sini hanya untuk mempermalukan aku? Ya, aku hamil anak Seiji. Dia berjanji akan bertanggung jawab, tapi ternyata... Kau puas sekarang?" Air mata jatuh di pipinya.
"Dia tidak menyukaiku!" Selanjutnya, kami berdua terdiam, sementara angin dingin menusuk tubuh kami masing-masing. Aku tahu ini berat sekali bagi Koizumi dan dia tidak bisa menanggung ini sendirian. "Kau sudah memberitahu orangtuamu?" tanyaku.
"Tidak ada gunanya, karena aku akan menggugurkannya."
"Jangan!"
Koizumi menatapku dengan matanya yang berair. "Apa kau mau melahirkan anak dari laki-laki seperti itu?"
"Kau sangat menyukai dia kan? Maksudku Seiji." Aku maju mendekati Koizumi yang tiba-tiba bungkam. "Anak yang ada dalam perutmu itu adalah keturunanmu, Koizumi. Apa kau tega membunuhnya?"
"Aku... Aku iri sekali padamu, Ayase-chan," Koizumi mulai terisak.
"Aku?"
Koizumi mengangguk. "Kau selalu mengambil keputusan yang benar. Kau berani menghadapi Seiji sendirian. Kau juga memiliki orang yang berada di belakangmu untuk melindungimu."
Tidak tahu harus berkata apa, aku hanya diam. Baru kali ini ada orang yang mengatakan iri padaku. Kurasa semua itu hanyalah keberuntungan. Jika Tora tidak datang, aku mungkin akan bernasib sama dengannya.
"Waktu pementasan Cinderella juga begitu. Kau cantik sekali dengan gaun itu. Dan kau berhasil menyelamatkan alur cerita ketika aku merobek bajumu. Sungguh... Kau membuatku iri!"
Kubiarkan Koizumi mengeluarkan segala ocehannya. Jika dia mau memukul, aku tidak akan menghindar atau menahannya. Tapi apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak terbiasa menghadapi orang yang sedang menangis, sehingga aku jadi salah tingkah. Aku bukan orang yang bisa berkata-kata manis untuk menyenangkan orang lain.
Akhirnya, Koizumi menenangkan dirinya sendiri. Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
"Maaf, karena aku tidak tahu," ucapku.
"Dari tadi kau hanya meminta maaf. Kau benar-benar membuatku muak," kata Koizumi ketus.
Aku pasti nampak seperti orang bodoh baginya. Yang mengundangnya kemari adalah aku, tapi sekarang malah dialah yang mendominasi pembicaraan.
"Tapi aku senang bisa mengatakan semuanya padamu, Ayase-chan," Koizumi tersenyum.
"Eh?"
"Aku memaafkanmu. Aku juga minta maaf untuk sikap burukku dan teman-temanku. Kau benar. Tidak seharusnya aku menggugurkan kandunganku. Bayi ini tidak berdosa. Baiklah. Aku akan pulang sekarang," pamit Koizumi.
"Aku akan menemanimu berbicara dengan orangtuamu," kataku.
Koizumi menggeleng. "Tidak perlu. Aku harus berusaha sendiri," katanya sambil tersenyum, lalu berbalik.
Kurasa aku berhasil memperbaiki hubungan pertemananku dengan Koizumi. Awalnya, aku mengira Koizumi bertindak jahat kepadaku hanya untuk kepuasannya sendiri, tetapi ternyata dugaanku melenceng jauh. Akulah yang secara tidak sadar menyebabkannya melakukan itu. Bahkan, aku juga mempunyai andil dari penyebab kehamilannya. Memang, selalu ada alasan untuk segala yang terjadi. Aku tidak menyangka Seiji adalah salah satu orang paling jahat di dunia. Aku beruntung Koizumi mau memaafkanku.
__ADS_1
Walaupun usianya masih sangat muda, Koizumi memutuskan untuk melahirkan dan merawat bayinya. Tidak seperti Ibu yang tega meninggalkan aku. Tapi, sekarang aku malah merasa lega karena Nenek dan keluarga Ayah yang merawatku. Jika hidup bersama Ibu, barangkali aku akan sama dengannya.
Aku melamun dengan pikiran-pikiranku sampai tiba-tiba merasakan dingin di kepalaku. Seketika, aku melihat butiran-butiran kecil berwarna putih melayang turun di udara. Salju. Aku menadah dengan tanganku. Butiran itu jatuh di atasnya, lalu mencair terkena panas di kulitku. Salju mengingatkanku pada kampung halaman, Hokkaido.
⛺⛺⛺⛺⛺
"Kau ingin pulang kampung?" tanya Misaki saat aku mengunjunginya lagi di minggu selanjutnya. "Berapa lama?" Raut wajahnya seolah ingin aku cepat kembali dari kampung.
"Mungkin hanya tiga hari. Aku cuma ingin melihat Nenek," jawabku.
"Cih! Kampung halaman hanya akan membuatmu tidak ingin kembali ke kota," cetus Tora Kucing.
Aku dan Misaki menoleh padanya. "Apa kau punya kampung halaman?" tanya Misaki.
"Tentu saja aku punya! Tapi aku tidak pernah pulang."
"Kenapa?"
Tora Kucing tak langsung menjawab. "Sudahlah! Tidak usah membahas ini lagi!"
"Kenapa dia jadi marah?" gumamku.
"Kapan kau akan berangkat?" tanya Misaki padaku.
"Dua minggu lagi."
"Wah! Mendadak sekali!"
Kejadian dengan Seiji masih sedikit membayangiku. Kupikir inilah saat yang tepat karena ingin melepaskan penatku di kampung. Dokter melarangku untuk membawa Misaki ke luar kota karena khawatir akan kesehatannya. Apalagi lokasi rumah Nenek agak jauh dari rumah sakit.
Aku sudah meminta izin kepada Wali Kelas untuk pulang kampung jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Awalnya, kukira aku harus membujuknya, tapi ternyata wanita berusia 29 tahun itu langsung memberi izin. Dia bilang aku sudah bekerja keras pada pementasan Cinderella tahun lalu. Gaya bicaranya sangat lembut, tapi punya maksud di dalamnya. Sepertinya dia naksir Taguchi-sensei.
🍇🍇🍇🍇🍇
"Benar kau akan pulang kampung?" tanya Koizumi yang sebenarnya ingin ikut, tapi kondisinya tidak memungkinkan. Perutnya mulai terlihat sedikit buncit. Gadis itu berencana mengundurkan diri dari sekolah 3 bulan lagi. Dia sudah memberitahukan soal kehamilannya kepada orangtuanya dan sempat dimarahi. Tapi pada akhirnya mereka mengerti karena di sini Koizumi merupakan korban. Malah mereka menanti-nanti kelahiran si jabang bayi.
"Aku kangen pada nenekku," aku tersenyum.
"Seperti apa nenekmu?"
Saat di Harajuku tahun lalu, aku tidak ingin menceritakan tentang keluargaku, tetapi kurasa aku bisa bercerita sekarang. Dan Koizumi nampaknya memang ingin tahu.
Aku bersyukur semua berjalan lancar. Selama 80 menit di pesawat dari Tokyo ke Hakodate, aku termenung memikirkan Tora. Aku berpamitan dengan Misaki, tapi tidak dengannya. Sudah beberapa minggu ini kami tidak saling menghubungi satu sama lain. Mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya. Mungkin dia tidak mau menggangguku sekolah. Mungkin dia sakit. Banyak sekali kemungkinannya hingga tidak dapat menemukan jawaban yang sesungguhnya.
Rumah Nenek terletak di dekat Pelabuhan Hakodate. Pada musim dingin, suhu udara Hakodate tidak sedingin kota-kota lainnya di Hokkaido karena dekat dengan laut. Aku dijemput oleh Paman Kazuya di bandara, lalu diantar ke rumah Nenek. Kami melewati jalanan licin yang disebabkan oleh hujan salju. Paman Kazuya bukan orang yang suka berbasa-basi, sama denganku, sehingga kami tidak berbicara banyak di dalam mobil.
Waktu sampai di rumah Nenek, aku disambut oleh Paman Yuji yang cerewet. Terkadang aku menganggapnya seperti orang Osaka. Gaya bicaranya lugas dan keras, seolah dia merasa seru dengan dirinya sendiri. Nenek berada di dapur ketika aku masuk. Kami hangat berpelukan. Dia sampai menangis melihatku tanpa kacamata. "Kau terlihat cantik," katanya. Nenek pun tampak sehat dan segar, walaupun kantung matanya terlihat besar. Mungkin dia kurang tidur. Hanya Bibi Koharu yang tidak ada. Tidak ada yang tahu di mana Bibi berada, tapi kami semua mengerti bahwa itulah yang ia inginkan.
Kami semua makan malam bersama di rumah Nenek. Menu kali ini adalah seafood. Nenek tahu aku penggemar udang goreng, sehingga ia membuat banyak sekali hanya untukku.
__ADS_1
"Anak-anakku selalu menanyakan kabarmu, Tomomi," kata Paman Yuji. "Sekali-sekali mainlah ke rumahku. Istriku akan senang sekali."
"Ya, Paman Yuji. Mungkin besok aku akan main ke rumahmu. Sekalian aku ingin ke kuil untuk berdoa sebentar," jawabku.
Malam itu, aku tidur bersama Nenek. Kami mengobrolkan banyak hal sebelum pulas. Ia terlihat iba ketika aku menceritakan tentang Misaki. Tentu saja aku tidak bicara apapun soal Seiji dan Koizumi, karena hal itu akan membuatnya khawatir. Bisa-bisa aku tidak diizinkan kembali ke Tokyo.
"Yang bernama Tora itu, orangnya seperti apa?" tanya Nenek.
Jantungku langsung memukul dadaku keras sekali. "Oh... Dia tinggi besar, berkumis dan berjenggot, pakai anting, rambutnya kelimis," jawabku. Tidak mungkin aku bilang bahwa Tora sebenarnya adalah Yakuza. Bisa-bisa Nenek langsung pingsan.
Nenek tergelak. "Sepertinya dia orang yang baik."
"Ya, Nek. Dia baik sekali."
"Apa kau menyukainya?"
"Eh? Ah...," aku tergagap. "Hoaaamm... Aku sudah mengantuk. Aku tidur duluan ya, Nek. Selamat tidur," kataku menyudahi pembicaraan, lalu memejamkan mata.
🎑🎑🎑🎑🎑
Hari ke-2 di Hokkaido kupakai untuk mengunjungi sebuah kuil kecil dekat rumah Paman Yuji. Pada musim dingin seperti ini, hanya sedikit orang yang datang ke kuil. Aku melempar koin, membunyikan lonceng, dan mengucapkan permohonanku di dalam hati. Semoga nilai-nilaiku memuaskan, semoga kehamilan Koizumi lancar sampai dia melahirkan nanti, semoga Misaki bisa sembuh total sehingga tidak perlu minum obat, semoga Tora sukses dalam pekerjaannya, semoga seluruh anggota keluargaku sehat.
"Hatchi!"
Terdengar suara bersin seorang pria dari belakangku. Apakah aku terlalu lama berdoa sampai ia harus berpura-pura bersin supaya aku segera pergi? Akhirnya, kusudahi juga doaku. Aku berbalik untuk turun dari tangga kuil. Saat itulah aku menemukan Tora di antara 4 orang berpakaian sama, setelan jas dan celana hitam. Aku terkejut melihat mereka semua.
Tora menyadari kehadiranku. Ia juga sama kagetnya denganku. "Tomomi?"
Mendengar suaranya menyebut namaku membuat jantungku berdebar-debar.
"Kau mengenalnya, Tora?" tanya salah seorang pria yang berdiri di depan Tora.
"Ya, Aniki. Dia temanku," jawab Tora.
"Aku ingat kau!" celetuk pria gendut yang berada di sebelah Tora. Aku pun mengenalinya sebagai bos Tora di klub penari telanjang. Si gendut botak yang mengatakan tidak tertarik padaku. "Ternyata kalian jadian ya," ia tertawa. "Namamu Tomomi? Namaku Goro."
Ragu-ragu, aku tersenyum padanya. "Ayase Tomomi. Salam kenal," ucapku ramah.
"Ayase Tomomi." Terdengar seseorang memanggil namaku dari belakang mereka semua. Suaranya berat dan dalam. Kemudian, tanpa aba-aba, mereka menyingkir untuk memberi jalan bagi orang itu.
"Kumicho!" seru salah satu pria berjas hitam.
🏯🏯🏯🏯🏯
**bersambung ke chapter 9!
gimana chapter ini?
ceritanya membosankan gak sih? atau gaya bahasanya yg ngga asik?
__ADS_1
minta like dan comment yah
matta ne**...