My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 4 - Waltz


__ADS_3

Nenek tertawa sewaktu aku memberitahunya tentang partisipasiku dalam drama. Aku hampir saja memutus sambungan telepon karena tawa Nenek terdengar girang sekali. Bagaimana aku bisa ditunjuk menjadi Cinderella? Dan kenapa pangeranku harus si ganteng Seiji? Aku sudah malas berurusan dengan Koizumi. Cewek itu pasti tidak akan tinggal diam lagi.


Berkali-kali aku menghela napas saat berlatih drama. Seiji terlihat serius menghafal skenario, sedangkan aku tidak punya niat untuk membacanya. Taguchi-sensei memperhatikan kami semua. Perawakannya yang tinggi langsing sangat mencolok di antara kami. Rambut hitamnya model spike. Memakai kemeja dan celana panjang saja sudah membuatnya tampak seperti pangeran.


Taguchi-sensei adalah guru favoritku. Pria berusia 35 tahun itu mengajar pelajaran Kesenian. Aku suka cara mengajarnya yang menyenangkan. Mungkin aku mulai tidak suka padanya gara-gara drama Cinderella ini. Malah dia bilang drama ini akan dipentaskan di aula, yaitu di depan seluruh penghuni sekolah dalam rangka menyambut Natal. Aku tidak pernah berakting sebelumnya. Kalau harus ditonton oleh orang sebanyak itu, mungkin aku akan muntah duluan. Memikirkannya saja sudah membuat perutku mulas.


"Ayase! Sedang apa kau!" seru Taguchi-sensei.


Aku tersentak dan tersadar bahwa kami semua masih di dalam aula untuk latihan. "Ya?" tanyaku seperti orang bodoh.


Taguchi-sensei berdecak kesal, lalu menghampiriku. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Disentilnya keningku sambil berkata, "Konsentrasi! Mulai dari awal!"


Sungguh melelahkan hari ini. Kami latihan selama 2 jam. Tora tidak bisa menjemputku karena sibuk. Dia bilang Kumicho-nya akan datang ke Freeze malam ini, dan dia bersama 'saudara-saudara'-nya harus mempersiapkan segala sesuatunya agar Kumicho puas dengan hasil kerja para anak buahnya. Jadi, aku pulang sendirian. Dalam perjalanan dengan kereta, aku membaca skenario Cinderella karena tak ada teman mengobrol. Tanpa sadar, aku sudah berada pada halaman terakhir. Menarik juga ceritanya. Dan aku senang Koizumi tidak ikut bergabung dalam drama ini karena dia pasti ingin menyiksaku lewat peran sebagai saudara tiri Cinderella.


Yang paling sulit adalah adegan dansa. Aku tidak bisa dan tidak pernah berdansa sedikit pun. Tapi yang membuat kami semua tercengang adalah Taguchi-sensei. Pria memesona itu benar-benar bisa berdansa. Gerakan tubuhnya luwes sekali. Dia seperti sedang melayang di lantai dansa saat memeragakan gerakan dansa. Lagu yang dipakai adalah berirama waltz. Kebiasaan menginjak kaki pasangan dansa, baru kualami sekarang. Seiji cepat memahami pengarahan Taguchi-sensei dan pada akhirnya aku disuruh berlatih sendiri di rumah karena Seiji geregetan tiap kali aku melakukan kesalahan yang sama. Aku sulit untuk berputar dengan mantap. Padahal, sudah seminggu kami berlatih. Kurasa aku harus melatih keseimbanganku dulu.


Mirip orang bodoh, aku berputar-putar sendirian di dalam apartemenku dan hampir terjatuh saat ponselku berdering. Kuraih benda itu dari meja makan. Tora.


"Halo," sapaku.


"Tomomi, kau ada waktu?" tanyanya.


"Ya. Ada apa?"


"Aku hanya ingin jalan-jalan. Mau menemaniku?" Suara Tora terdengar ceria.


"Kau libur?"


"Ya. Kujemput kau sekarang." Telepon diputus oleh Tora.


"Aku belum bilang 'oke'," gumamku.


Tora mengajakku makan di restoran sushi. Kebetulan sekali! Latihan dansa membuatku lapar. Kami makan dengan lahap. Baru kulihat nafsu makan Tora yang begini. Biasanya dia hanya makan secukupnya, tapi sekarang seakan dia punya perut cadangan. Kuperhatikan sushi-sushi itu masuk ke dalam mulutnya di antara kumis dan jenggotnya yang tebal. Ia hanya tersenyum melihatku yang sedang melongo menatapnya.


"Gajimu naik?" tanyaku padanya karena penasaran.


Pria itu mengangguk satu kali, lalu tertawa renyah.


"Selamat ya!" ucapku ikut senang. Kutinju lengan atasnya dan itu membuatku kesakitan. Otot lengan Tora keras sekali. Tanganku seperti meninju tembok. Di balik pakaiannya yang selalu tertutup, seperti apa kira-kira bentuk tubuhnya? Aku bertanya-tanya sampai akhirnya diriku sendiri yang membuyarkan pikiran-pikiran aneh di kepalaku.


"Kau sedang apa tadi?" tanya Tora.


"Oh...aku sedang berdansa," jawabku malu.


"Ada pesta?"


"Bukan. Ini untuk drama. Aku jadi Cinderella."


"Eeeeeh? Kau jadi pemeran utama! Hebat sekali!" serunya sambil membelalakkan mata.


"Ini berat!" balasku. "Aku tidak bisa dansa."


"Hmmm, temanku, Makoto, pernah belajar dansa dan aku yakin dia mau mengajarimu. Tapi apa kau juga mau? Dia juga seperti aku, kalau kau tahu maksudku."


Aku tahu maksud Tora, bahwa temannya adalah seorang Yakuza seperti dirinya. "Aku sudah berteman dengan seorang Yakuza. Jadi, kenapa harus menolak," kataku.

__ADS_1


Malam ini juga, Tora mengajakku ke rumah teman yang ia maksud. Tempat tinggalnya berada di kawasan perumahan elit, dan rumah-rumah di sana lebih mirip mansion. Rumah Makoto terletak di ujung gang, yaitu satu-satunya yang bercat merah muda. Dari luar saja sudah tampak megah. Sepertinya Makoto gemar berkebun, karena aku bisa menemukan berbagai macam tanaman di halaman rumahnya. Lampu-lampu berwarna putih menerangi bunga-bunga yang bermekaran di taman. Cantik sekali. Tidak memperlihatkan bahwa orang yang tinggal di sini adalah Yakuza.


Tora memanggil-manggil nama Makoto dan menekan-nekan bel, tapi tak ada sahutan dari dalam. Diteleponnya Makoto melalui ponsel. Ternyata Makoto sedang keluar. Ia memberi tahu kode alarmnya kepada Tora, sehingga kami berdua bisa menunggu di dalam.


Kami masuk ke dalam rumah Makoto. Kegelapan menyelimuti kami ketika pintu di belakang kami tertutup. Tora mencari-cari tombol lampu dan menemukannya di tembok sebelah kanan. Ia menekannya dan seketika lampu ruang tamu menyala.


"Hyaaaaa!" teriakku nyaring saat melihat wajah hantu yang sedang terbang di dekat langit-langit. Aku menutup mukaku sendiri dengan kedua tangan. Bulu kudukku berdiri semua. Keringatku segera keluar lewat pori-pori. Jantungku pun ikut bekerja keras.


"Kau kenapa?" tanya Tora panik. Bisa kurasakan telapak tangannya memegang pundakku.


"Ada hantu! Ituuu!" Aku menunjuk ke atas sambil tetap menutup mata rapat-rapat.


"Yang mana?"


"Yang bertaring dan bertanduk!" seruku kesal karena Tora masih juga tidak mengerti.


Tora diam saja. Kupanggil namanya, tapi dia tetap tak bersuara. Apakah dia sudah dimakan hantu? Aku mundur 3 langkah. Punggungku menabrak pintu dan aku berteriak lagi. Ke mana Tora? Bukankah dia tadi di belakangku? Aku berusaha membuka pintu untuk kabur, tapi ternyata tidak bisa dibuka.


Selama 10 detik, tidak ada yang terjadi. Aku masih bernapas. Kubuka mataku sedikit dan terlihatlah lantai marmer beserta kaki Tora dan kakiku. Aku memperlebar pandanganku, lalu menegakkan kepalaku. "Hyaaaaaa!" teriakku lagi begitu melihat wajah hantu itu berada tepat di hadapanku. Kulitnya putih pucat. Taringnya panjang sekali sampai melewati bibir bawahnya yang semerah darah. Sepasang tanduk melengkung di kepalanya terlihat tajam. Dan mataku tidak dapat beralih dari mata hantu yang hitam kelam itu, seakan-akan aku tersedot masuk ke dalam kegelapan. Tora sudah dimakan. Tak ada lagi yang bisa menolongku. Seharusnya aku tidak ikut dengannya ke mansion berhantu ini.


"Tomomi...," panggil hantu itu.


"Eh? Kau bahkan tahu namaku!"


"Ini aku," katanya seraya mencopot wajahnya sendiri. Terpampanglah wajah Tora.


"Kau!" seruku sambil mendorong pundak penipu itu.


Tora tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Ia juga menunjuk-nunjuk mukaku dengan geli. Kurang ajar sekali.


"Kau menakuti aku! Dasar bodoh! Kau kira aku ini apa? Hah?" omelku padanya.


"Teganya... Sudah cukup! Jangan tertawakan aku lagi! Kucing bodoh!"


"Kukira aku macan," ujar Tora. Dia sudah lebih tenang setelah menghela napas berkali-kali. "Hei, kacamatamu berembun. Kau pasti ketakutan sekali ya."


"Ini semua gara-gara kau!" Kutunjuk hidung lancipnya sambil cemberut.


Tora tidak menanggapi perkataanku, tapi malah melepaskan kacamataku, sehingga penglihatanku menjadi sedikit kabur, tapi aku bisa menangkap bahwa Tora sedang membersihkan kacamataku. "Ini," katanya sambil mengembalikan kacamataku.


Aku memakainya lagi dan pandanganku jelas seketika. Kulihat Tora mengantongi sapu tangannya. "Terima kasih," ucapku. Aku memandang berkeliling. "Rumahnya besar sekali!" Dan bersih. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakiku. Rumah bergaya klasik milik Makoto ini indah sekali dengan chandelier di ruang tengah yang luas.


"Kita tunggu saja dia di sini," kata Tora merujuk ke sofa ruang tamu.


Sofa-sofa mengelilingi sebuah meja kopi setinggi lutut yang terbuat dari kaca. Aku dan Tora duduk berseberangan. Karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan, kami membaca koran yang kebetulan berada di atas meja.


Aku mendengar suara mesin mobil di luar. Itu pasti Makoto. Tora dan aku mengembalikan lembaran koran yang kami baca, lalu keluar untuk menyambut Makoto. "Eh? Aku baru tahu kalau ternyata Makoto itu seorang perempuan," gumamku, bertanya-tanya berapa usianya.


"Maaf, aku terlambat karena ada masalah dengan staf keuangan lainnya," kata Makoto sambil berjalan menghampiri kami. Suaranya merdu, meskipun terdengar lelah. Rambutnya dikonde rapi, memperlihatkan tengkuknya yang indah ketika ia menunduk menaiki anak tangga di beranda. Tubuh langsingnya dibalut long coat tidak dikancing berwarna coklat muda yang cocok dengan warna kulit putihnya. Kakinya panjang dan kurus, namun terlihat berotot. Aku bisa melihatnya karena ia mengenakan celana pendek. "Hai, namaku Makoto Aya," sapanya seraya mengulurkan tangan untuk berjabat. Ia tersenyum lebar. Cantik sekali. Tipe neesan yang kusukai.


"Ayase Tomomi. Salam kenal, Makoto-neesan," aku menyambut tangannya dan menundukkan kepala, juga membalas senyumannya.


"Neesan?" Makoto tampak terkejut. Diliriknya Tora yang berdiri di sampingku.


"Apa tidak boleh?" tanyaku canggung.

__ADS_1


Makoto tertawa. "Tentu boleh. Mari masuk," ajaknya. "Kuharap kau tidak keberatan kalau aku berganti baju dulu."


"Tidak," kataku. "Berapa umurnya?" bisikku kepada Tora setelah Makoto naik ke lantai 2.


"Seumur denganku," balas Tora, juga berbisik.


"Cantik sekali dia."


Tora mengangguk. "Tugas utamanya adalah membunuh orang."


"Eh?" Seketika itu juga, aku terbelalak ngeri. Di balik long coat yang dikenakan Makoto, mungkin saja tersimpan pistol. Atau sebenarnya ada sebuah ruangan khusus untuk menyimpan senjata-senjatanya di rumah ini, semacam gudang senjata seperti yang ada di film-film.


"Aku bohong," Tora menahan tawa.


"Kau ini!" Kutarik jenggot Tora dan dia mengaduh kesakitan.


Makoto turun dengan mengenakan pakaian yang lebih santai, tapi celana pendeknya masih sama. "Aku akan memutar lagunya dulu. Biasanya waltz memakai ketukan tiga perempat, jadi memakai lagu apa pun akan sama," katanya sambil berjalan cepat ke rak CD yang berada di ruang tengah. Koleksinya banyak sekali sampai satu lemari penuh. Ia memilih salah satunya.


Terdengar alunan musik waltz yang halus. Aku berdiri di bawah chandelier, bersiap-siap menerima pelajaran darinya. Pertama-tama, Makoto memberikan arahan tentang dari mana dansa waltz berasal, yaitu dari Vienna. Semakin lama, waltz populer di Amerika. "Aslinya, dansa ini dilakukan oleh pria dan wanita. Aku akan menjadi prianya," lanjut Makoto.


Wanita cantik itu mengajarkan aku dari hal yang paling mendasar seperti melangkah berbentuk kotak sampai ke langkah putaran yang indah. Makoto tidak keberatan jika sering kali aku menginjak kakinya karena lupa kaki mana yang harus kugerakkan. Tapi semakin lama, injakan itu berkurang. Aku jadi terbiasa dengan langkah-langkah dasarnya. Maaf, Taguchi-sensei, tapi aku lebih mengerti penjelasan dari Makoto.


"Tanganku tidak sampai," kataku ketika harus memegang tangan Makoto yang mencontohkan gerakan berputar. Makoto lebih tinggi dariku, sehingga panjang lenganku tidak sampai jauh ke atas kepalanya.


"Kalau begitu...Tora, kemarilah," panggilnya kepada Tora yang sedari tadi hanya melihat, lalu beralih kembali padaku. "Perhatikan baik-baik. Kau juga harus menjaga keseimbanganmu. Apalagi nanti kau harus memakai sepatu high heels," katanya.


Makoto menyuruh Tora melangkah ke kiri dan memegang tangannya saat ia berputar. Gerakan yang indah sekali. Setelahnya, mereka melangkah setengah kotak. Ternyata Tora juga menginjak kaki Makoto, lalu mereka tertawa. Mereka seperti sepasang suami istri. Cocok sekali.


"Oh! Dan, Tomomi, sebaiknya kau memakai lensa kontak saja. Cinderella tidak berkacamata kan?" saran Makoto.


"Eh? Oh...ya," aku mengangguk pelan, membuyarkan lamunanku.


"Kau baik-baik saja?" tanya Makoto bingung melihat perubahan sikapku. Setelah aku meyakinkannya dengan anggukan dan senyuman, ia melanjutkan dansanya bersama Tora.


Aku berusaha fokus, menyingkirkan pikiran tak enak, hingga akhirnya kami menyudahi pelajaran karena, menurut Makoto, aku sudah bisa. Tapi tetap saja aku masih mengingat-ingat saat Tora dan Makoto berdansa. Mereka berdua sungguh kompak walaupun Tora sama bodohnya seperti aku. Makoto adalah guru yang baik. Dia menjelaskan dengan perlahan agar aku menangkap dan mengerti semuanya. Aku sangat berterima kasih untuk itu. Mungkin aku yang terlalu aneh karena memikirkan mereka berdua.


"Ada apa?" tanya Tora ketika mengantarku pulang dengan mobilnya. "Tidak biasanya kau diam begini. Apa kau capek?"


"Ya, sedikit," jawabku jujur.


Tora menambah kecepatan mobilnya supaya cepat sampai. Ia bahkan turun dari mobil dan mengantar sampai ke depan pintu apartemenku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku menutup pintu dan langsung merebahkan diriku di atas kasur.


Makoto dan Tora. Mereka berdua sangat serasi. Sungguh menyenangkan melihat mereka, tapi ada perasaan yang membuatku tidak suka, tidak rela. Aku bukan siapa-siapanya Tora, sedangkan Makoto adalah salah seorang sahabatnya yang juga Yakuza. Aku sudah dipastikan kalah status darinya. Makoto lebih dulu mengenal Tora dibandingkan denganku. Wanita cantik itu telah tahu segalanya tentang Tora meskipun Tora masih terbilang baru di dunia Yakuza.


"Kenapa aku jadi membanding-bandingkan diriku dengannya?" gumamku sendirian. Sejenak, aku diam tanpa memikirkan apa pun, menatap langit-langit kamarku yang sedikit berlumut di pojoknya. "Sebaiknya aku mandi."


Acara pementasan drama Cinderella hanya tinggal hitungan hari. Mereka, khususnya Seiji, terkagum-kagum pada kemajuanku berdansa. Aku sudah tak lagi menginjak kakinya. Pelajaran waltz dari Makoto sangat membantuku. Makoto bilang ia akan siap mengajariku step yang lebih sulit bila aku berminat. Tentu saja aku menolak. Sudah cukup aku dipermalukan dalam drama ini.


Aku, yang sudah mempunyai firasat, akhirnya diajak ke taman belakang gedung sekolah oleh Koizumi. Kuterima ajakannya karena ia sendirian, tidak bersama kedua sohibnya. Ternyata ia telah memohon-mohon pada Taguchi-sensei agar ikut berpartisipasi dalam drama ini. Dan akhirnya ia mendapatkan peran sebagai saudara tiri Cinderella. Jadi, dia khusus mengundangku ke taman hanya untuk melaporkan hal itu. Dia terlihat senang sekali sampai tertawa licik. Yah, semua ada skenarionya. Tak mungkin dia akan menyiksaku secara sadis. Aku pun tidak akan diam saja menghadapinya. Aku sudah siap.


🎭🎭🎭🎭🎭


**bersambung ke chapter 5!


hai, balik lagi nih.. semoga kalian suka ya

__ADS_1


minta like dan comment donks 😁


matta ne**...


__ADS_2