
"Makanlah, Tomomi-chan," kata Kei padaku.
Aku dan Kei masih berada di kamar hotel. Kei duduk di kursi, sedangkan aku bersandar di kepala ranjang. Piringku berada di samping kakiku, belum disentuh. Melihat isinya saja, nasi kare, sudah membuatku mual. Apalagi memakannya.
"Enak sekali lho," goda Kei sambil mengunyah.
"Apakah seenak itu?" tanyaku.
Kei mengangguk. Host itu memang sedang makan dengan lahap. Mungkin ia kelaparan, mungkin juga hanya sengaja ingin membuatku lapar.
"Lebih enak daripada masakanku?"
"Tentu saja!" Kei tertawa meledek.
Mau tak mau, aku tersenyum. "Maaf, aku sedang tidak nafsu makan," kataku. "Kalau kau masih lapar, makan saja punyaku."
"Akan kutunggu sampai kau memakannya sendiri," ucap Kei.
"Aku tidak akan makan."
"Hei, aku sudah susah-susah membawanya kemari. Hotel ini tidak memiliki cukup pegawai untuk mengantarkannya ke kamar, sehingga tadi aku sempat ke dapur dan mengambilnya sendiri."
Perasaan tidak enak menyerangku. Aku malu pada Kei. Mungkin seharusnya aku bersikap biasa saja di depannya. Kuraih sendok dan mulai menyuap sebagian kecil makananku. "Enak," kataku. Air mataku jatuh lagi. "Eh? Apa ini?" aku tertawa sendiri sambil meraba pipiku. Kusendok lagi nasi itu. "Betul katamu, Kei-san. Ini enak sekali. Sungguh..." Tak sampai halus sempurna, aku sudah menelan semua makanan di dalam mulutku.
Kutatap Kei yang hanya diam memperhatikanku. Piringnya telah bersih tak bersisa. Ia menenggak minumannya dan memperhatikan aku lagi.
Semakin lama, tenggorokanku semakin sakit. Aku tidak bisa berbohong, tidak bisa bersikap biasa saja. Kepalaku masih dipenuhi oleh Tora. Aku sangat mencintainya, bahkan sampai saat ini. Meskipun dia telah meninggalkan luka yang tak mungkin sembuh, aku tidak yakin dapat melupakannya. Lendir bening mulai meluncur keluar dari lubang hidungku. "Aku jorok sekali," ucapku sambil tertawa. Aku masih menahan diri agar tidak meraung-raung. Kutelan makananku lagi walaupun terbatuk-batuk, lalu kuminum habis airku. Sengaja kudongakkan kepalaku agar air mataku tidak keluar lagi.
Pundakku terlonjak karena Kei mengambil piringku dan meletakkannya di lantai. Kemudian, ia melebarkan selimut dan menutupi kepalaku sampai ke punggung dengan benda itu. Sekarang aku duduk di bawah selimut tebal yang sedikit berbau tak sedap, tidak mengerti maksud Kei.
"Dengan begini, tidak akan ada yang melihatmu," kata sang host.
Aku menangis sejadi-jadinya. Kedua tanganku mencengkeram sprei karena marah. Aku tidak peduli suaraku terdengar sampai ke luar selimut. Inilah kesempatanku meluapkan segala emosiku. Kutinju-tinju permukaan tempat tidur, kupanggil-panggil nama Tora hanya untuk menghinanya. Tora bodoh, Tora sialan, Tora tak tahu diri, Tora penipu, dan seterusnya.
Seumur hidupku, sudah 2 kali aku menangis seperti orang gila. Saat Nenek meninggal dan sekarang karena Tora pergi. Aku kehilangan 2 orang yang paling berharga bagiku. Rasanya sangat menyakitkan. Ketika Nenek meninggal, aku masih punya Tora. Setelah Tora pergi, aku tak memiliki siapa pun lagi. Biasanya aku dapat bercerita pada Misaki, tetapi gadis itu juga ikut menghilang bersama Tora.
Aku sendirian.
Mungkin memang sudah seharusnya aku hidup sendiri. Tidak apa-apa. Toh orang-orang Hanazawa-gumi akan menemukanku dan bisa membunuhku kapan saja. Tidak masalah buatku. Jika aku mati pun, tak akan ada yang mempedulikanku. Aku bukan siapa-siapa.
Mati sekarang atau nanti, sama saja.
Kuperhatikan Kei yang terlelap di kursi. Pria itu masih bisa tidur tenang di saat genting seperti ini. Ataukah hanya aku yang menganggapnya genting? Kei adalah orang yang santai, seolah tak mempunyai rasa takut dalam hidupnya. Ia memasrahkan segala sesuatunya, mengikuti arus saja, tanpa berusaha melawannya atau pindah jalur. Itulah yang membuatnya terlihat tegar. Orang sebaik Kei pasti akan menemukan kebahagiaan pada akhirnya. Aku tidak meragukan hal itu.
Tak ada yang dapat kulakukan pada tengah malam begini. Memejamkan mata pun percuma, aku tidak bisa pulas. Untunglah Kei sudah menginjak ponselku. Melihat sesuatu yang berhubungan dengan Tora hanya akan membuatku menangis lagi. Aku ingin melupakan pria pembohong itu. Karena itu, aku harus berusaha mengalihkan pikiranku, tidak boleh memikirkannya atau pun mengharapkannya akan kembali. Dan jika dia muncul lagi di depanku, aku tidak akan segan-segan mengusirnya seperti dia meninggalkanku.
Aku harus kuat. Kalau Kei dapat melewati masa paling suram dalam hidupnya, maka aku pun bisa. Aku tidak akan terpuruk walaupun tidak berakhir bersama Tora.
🎈🎈🎈🎈🎈
__ADS_1
Tidak terasa, burung-burung berkicau lagi, tanda hari sudah pagi. Kami harus melanjutkan perjalanan lagi. Kei tidak memiliki rencana apa pun. Malah dia yang bertanya padaku ke mana tujuan kami selanjutnya. Aku yang sedang tidak berkonsentrasi ini menjawab, "Kutub," karena terlalu ingin pergi ke ujung dunia agar tak ada yang menemukanku.
Jadilah kami berdua pergi ke stasiun untuk membeli tiket kereta menuju Nagoya. Aku tidak tahu apa yang ada di sana dan kenapa Kei mengajakku ke sana, tetapi aku tetap ikut. Di saat seperti ini, aku membutuhkan sebuah pengalih perhatian. Dan kurasa Kei orang yang tepat karena ia terus mengoceh di kereta, tentang apa pun. Yang tidak pernah kusangka sebelumnya adalah rupanya ia menyukai anak-anak, khususnya anak perempuan. "Aku ingin menculiknya," katanya sambil menunjuk seorang bocah berambut ekor kuda yang sedang menimang-nimang boneka kucing di tangannya.
Saat itu, aku langsung teringat pada Tora Kucing. Apakah dia sudah sembuh? Apakah dia masih bercocok tanam? Apakah dia tahu Misaki telah keluar dari rumah sakit? Apakah dia melihat ketika Makoto datang menjemput Tora dan Misaki?
"Oi," Kei menyikut pinggangku. "Melamun lagi?"
"Oh, maaf," aku mengangguk.
"Kurasa kita terlalu mencolok," bisik Kei sambil melirik ke arah jam 1, tepatnya ke seorang nenek yang sedang terang-terangan memperhatikan kami. Kuperkirakan usianya sama dengan nenekku jika ia masih hidup. Kedua matanya menelusuri kami dari kaki sampai kepala. Ekspresinya seakan ingin menceramahi kami tentang kesopanan dan norma-norma.
"Kurasa kau yang mencolok dengan kacamata hitammu itu," kataku.
"Kau juga! Kenapa kau memakai seragam sekolah?"
"Memang hanya ini yang menempel di badanku. Waktu itu, sepulang sekolah aku langsung ke klub."
"Kalau begitu, nanti kita ganti pakaian saja jika sudah sampai."
Nenek itu membuat kami salah tingkah dengan tatapan tajamnya. Ia berdiri dengan bantuan tongkatnya. Walaupun sedikit bungkuk, ia dapat berjalan dengan cukup cepat menuju tempat duduk kami.
"Untuk apa dia kemari?" bisik Kei lagi.
"Mana aku tahu!" balasku.
"Apakah dia juga dari Hanazawa-gumi?"
Aku dan Kei mulai gelisah. Kami berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan si nenek. Sambil berdiri di hadapan kami, nenek itu terus memandangi kami. Matanya beralih dari Kei ke perutku. "Sudah berapa bulan?" tanyanya dengan suara lembut yang membuat kami tercengang.
"Apanya yang berapa bulan?" balas Kei.
"Perutnya itu, sudah berapa bulan?"
"Eh?" aku menunduk untuk melihat perutku. Apakah perutku buncit hingga dikira sedang hamil? Rasanya aku tidak gemuk. Lagipula, tadi pagi aku hanya makan sedikit karena nafsu makanku sedang tidak bagus.
"Kau salah paham, Obaachan. Dia tidak sedang hamil," Kei tertawa. Namun, tawanya lenyap begitu saja. "Benar kan?" tanyanya padaku.
Nenek itu duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan kami. Jaraknya hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil. Ia menaruh kedua lengannya di atas meja itu. "Akui saja. Kalian pasangan kawin lari kan?" Mata si nenek menyelidik. Guratan keriput di sekitar mata, dahi, dan pipinya terlihat jelas.
Kei melepaskan kacamatanya. "Ah, Obaachan tahu saja," ucapnya sebelum aku sempat menjawab "bukan". Senyuman Kei sangat ramah. Ini mungkin semacam ilmu memikat hati wanita lebih tua yang dipelajarinya di host club. Yang benar saja.
"Sudah terlihat dari gerak-gerik kalian," si nenek terkekeh. "Kalian mau ke mana?" tanyanya.
"Itulah, Obaachan. Kami belum menentukan tujuan. Kami bingung sekali. Ya kan, Tomomi-chan?" Kei tersenyum padaku. "Kau mau ke mana?" Kaki Kei menendang pelan kakiku.
"Aku ikut saja denganmu," jawabku, mengerti arti isyarat dari Kei.
"Kalian romantis sekali," komentar si nenek. "Bagaimana kalau kalian menginap di rumahku dulu?"
__ADS_1
Keraguanku tiba-tiba muncul. Bukankah seharusnya kami menghindari interaksi dengan orang lain? Bagaimana jika Hanazawa-gumi membayar nenek ini untuk menjebak kami?
"Aku tidak keberatan. Bagaimana denganmu, Tomomi-chan?" tanya Kei.
Aku memelototi Kei. Pria ini seenaknya memintaku mengambil keputusan. Jika aku salah, mungkin kami akan mati. Bisa-bisanya ia meletakkan nasibnya di tanganku. Tendangan kakinya bertambah keras, sehingga akhirnya aku menjawab, "Baiklah, kalau Obaachan mengizinkan." Aku tidak akan meminta maaf bila nanti terjadi hal-hal buruk.
"Omong-omong, rumah Obaachan di mana?"
"Desa Shirakawa. Di sana dingin sekali. Kuharap kalian membawa baju hangat," kata si nenek.
Kei dan aku saling berpandangan. Kami tidak membawa satu pun baju ganti. Tadi kami baru akan membelinya setelah sampai ke tujuan. Aku terbiasa dengan suhu dingin karena kampung halamanku di Hakodate. Aku tidak tahu apakah Kei dapat bertahan di udara dingin. Tora yang berbadan besar itu saja mudah terkena flu. Apalagi Kei yang kurus kering begini.
"Tadi kami terburu-buru," Kei berlagak malu-malu.
Nenek itu berdecak. "Anak muda zaman sekarang... Maunya serba cepat. Nona manis, kau pun tidak bisa tidak peduli terhadap kondisi bayimu. Anakmu merasakan apa yang kau rasakan."
"Kau benar-benar sedang hamil?" tanya Kei padaku.
Aku menggeleng.
"Fiuh... Kukira kau hamil betulan," Kei pura-pura lega. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan kalau itu sampai terjadi."
"Dasar kau laki-laki tidak bertanggung jawab!" oceh si nenek. "Berani berbuat, tapi lari dari akibat! Aku paling benci orang sepertimu!" Si nenek cemberut. Semakin lama, nenek ini semakin menarik. Dia masih mengira aku dan Kei sepasang kekasih yang sedang kawin lari.
"Maafkan aku, Obaachan," ucap Kei berkali-kali. Pria itu mendapatkan ceramah panjang lebar.
"Dan aku muak mendengar kalian memanggilku dengan sebutan itu. Panggil saja aku dengan sebutan 'Nana-chan'," si nenek menggerutu tak jelas. "Rumahku dekat dengan onsen. Mandilah di sana supaya segar. Kau habis berkelahi ya?"
Kei mengangguk. "Aku harus melawan beberapa orang penjaga rumahnya," jawabnya sambil menunjuk hidungku. "Luka ini belum seberapa dibandingkan yang di sini," sekarang ia menunjuk perutnya.
Aku mempunyai pertanyaan serius. Untuk apa Kei mengarang cerita? Kami bahkan tidak mengenal siapa Nana-chan. Rencana apa yang sedang dijalankan Kei?
"Tuan Putri, kau beruntung sekali memiliki kekasih pemberani seperti dia," Nana-chan memuji-muji Kei.
"Bukankah tadi kau membencinya?" tanyaku datar, membuat Nana-chan sedikit terkejut.
"Ah... Maafkan dia, Nana-chan. Dia sedang tidak enak badan," Kei berusaha meredakan ketegangan.
Sebenarnya aku tidak bermaksud ketus. Aku hanya kesal karena mereka terus-terusan mengobrol. Kei mengumbar cerita palsu dan Nana-chan bersikap sok tahu. Setelah terlepas dari Makoto, kukira aku tidak perlu lagi mengarang cerita. Namun, sekarang malah Kei yang melakukannya.
Aku ingin semuanya berakhir di sini. Tora dan Misaki tidak kembali ke kehidupanku, Makoto pergi entah ke mana bersama mereka. Kalau mau, Kei juga bisa pergi meninggalkan aku di mana pun yang dia inginkan. Bila tidak ada mereka, mungkin aku dapat hidup dengan tenang. Sejak awal, memang merekalah sumber masalahku.
Aku menyalahkan orang lain. Tindakan yang kekanak-kanakan sekali, Tomomi. Aku tidak boleh membiarkan situasi ini menguasaiku. Tapi aku tidak ingin diganggu. Aku ingin menyendiri di suatu tempat yang sepi, tak berpenghuni. Di pulau kecil, misalnya. Orang-orang Hanazawa-gumi bebas membunuhku di sana karena memang itulah yang kubutuhkan. Kedamaian.
🍦🍦🍦🍦🍦
**bersambung ke chapter selanjutnya!
minta like dan comment yaaahh 🙏
__ADS_1
matta ne**...