
"Eh?"
"Kau pasti menyadari perasaanku kan, Tomomi? Dari dulu kau sudah tahu, makanya kau menjauhiku karena Rina suka padaku. Lucu sekali karena waktu itu kami memang berpacaran dan sudah melakukannya sekali-dua kali."
"Melakukan apa?"
Seiji tergelak. "Masa kau tidak tahu?" Dia tersenyum licik. "Rina mudah dibujuk karena dia suka padaku, tidak seperti kau. Aku cukup suka padanya, tapi dia menuntut banyak. Orang seperti Rina jumlahnya banyak sekali dan mereka semua bisa ditebak, sedangkan kau... Ah... Aku belum pernah seserius ini dalam menginginkan sesuatu."
"Kau bercanda kan?" tanyaku setengah tidak percaya, membuat Seiji tertawa.
"Aku tidak pernah bercanda untuk masalah ini, Tomomi."
Di balik sikap ramahnya, ternyata Seiji berotak bejat. Tega sekali dia melakukannya terhadap Koizumi. Walaupun aku tidak menyukai Koizumi, kami tetap sama-sama perempuan. Pantas saja Koizumi benci sekali padaku. Dia tidak tahu Seiji seperti itu, tapi dia tahu aku yang meminta Seiji mengajaknya kencan. Aku merasa bersalah, sangat bersalah.
"Sekarang, setelah aku menciummu, apa kau mau jadi pacarku? Tinggalkan saja pria menyeramkan itu, Tomomi! Dia tidak cocok untukmu," Seiji maju lagi selangkah.
Aku mundur 2 langkah karena mual melihat wajahnya yang beringas seolah ingin menerkamku. Hiromitsu Seiji menjijikkan! Tinjuku langsung melayang, tapi Seiji bisa menahannya dan membalasku dengan tamparan keras. Kacamataku terlepas seketika. Kepalan tangannya juga mendarat tepat di tulang mata kiriku. Kepalaku langsung pusing. Dia mendorongku ke tembok, menahan kedua tanganku agar tidak bisa kabur, lalu mencoba menciumku. Aku meronta-ronta, kakiku menendang-nendang dan berhasil mengenai tulang keringnya. Seiji mengaduh kesakitan. Segera saja aku berlari ke pintu keluar, tapi Seiji menangkapku lagi. Dipeluknya aku dari belakang sambil membekap mulutku. Satu lengannya mampu melintangi badanku.
Tenagaku tidak sebesar tenaga Seiji. Dia kuat sekali. Kalau terus begini, aku akan kalah. Kugunakan kakiku untuk menginjak kakinya, dan tanganku untuk memukul-mukul apa pun yang bisa kupukul. Tapi lama kelamaan gerakanku semakin lambat. Seiji membopongku ke pojok atap. Dia mendorongku ke lantai semen. Aku berguling menjauhinya, mencoba berdiri dan berlari lagi, tapi aku terjatuh. Kakiku lemas, sehingga yang kulakukan hanya menyeret kakiku ke arah pintu keluar. Aku bisa mengalahkan 3 orang perempuan, tapi tidak dapat menang melawan 1 orang lelaki bejat. Memalukan sekali. Badanku merinding diterpa angin. Mungkin karena flu, aku jadi lemah.
"Kau tidak bisa ke mana-mana lagi, Tomomi. Kau akan menjadi milikku," kata Seiji yang hanya berjalan pelan mengikuti seretan kakiku.
Tunggu sebentar! Aku masih punya ponsel. Kurogoh saja saku rok ku, tapi tidak menemukan apa yang kucari.
"Kau mencari ini?" tanya Seiji sambil melempar-lemparkan ponselku di tangannya. Seiji selalu setingkat di depanku. "Aku tahu kau akan melakukannya, karena kau sebenarnya pintar. Kau hanya tidak mau menonjolkannya. Jadianlah denganku, maka kita akan menjadi pasangan populer di sekolah. Pangeran dan Cinderella."
Seketika ponselku berbunyi. Aku dan Seiji sama-sama tersentak. Seiji membaca nama yang tertera di layarnya. "Jadi namanya Tora?" Seiji tertawa. "Nama yang menyedihkan," ejeknya. Lalu, ia melempar ponselku sejauh yang ia bisa. Ponselku yang malang terjun bebas dari lantai 5, pasti sudah tidak bisa terselamatkan.
Sengaja aku tidak berteriak atau pun membalas kata-kata Seiji, karena hal itu akan sia-sia dan menguras tenaga. Pada akhirnya, yang kulakukan hanya merangkak seperti bayi. Seiji menarik kakiku dan membuatku terjatuh lagi. Daguku membentur semen hingga sobek dan mengeluarkan darah segar. Kemudian, dia mendekatkan wajahnya ke wajahku dan berkata, "Kau terlihat menyedihkan, Tomomi. Tapi aku menyukainya." Seiji tertawa keras di hadapanku.
Sial! Orang yang kuanggap baik selama ini, ternyata lebih jahat daripada penjahat sesungguhnya. Sedihnya lagi, aku tidak bisa mengalahkannya.
Seiji membalikkan tubuh lemahku hingga terlentang. Ia membuka kancing seragamku satu persatu. Angin dingin langsung mengenai kulitku yang terbuka. Cowok itu menindihku dan mulai menghujaniku dengan ciuman kasar.
Aku memohon dalam hati, biarkanlah aku mati daripada menjadi santapan orang tidak bermoral ini. Nenek pasti kecewa terhadapku, dan keluarga Ayah tidak mau menerimaku lagi karena aku sudah kotor dan menjijikkan. Aku sendiri yang ingin kembali ke Tokyo. "Inilah akibatnya." Nenek pasti akan berkata begitu. Lebih bagus jika aku tidak pulang ke Hokkaido dalam keadaan hamil. Apalagi bayi dalam perutku adalah anak dari lelaki mesum ini.
Tubuhku semakin lemah. Kesadaranku mulai berkurang. Aku membayangkan wajah orang-orang yang kusayangi. Nenek, Ayah, Misaki, juga Tora. Semoga aku masih bisa melihat kalian lagi. Aku pun memejamkan mata.
"Tomomi."
__ADS_1
Suara siapa itu? Apakah suara Ayah? Aku lupa bagaimana suara Ayah, tapi rasanya aku mengenali suara itu.
"Tomomi."
"Ayah," panggilku. "Bawa aku bersamamu, Ayah."
"Tomomi! Tomomi!"
Suara kali ini berbeda dengan yang tadi. Ini bukan Ayah. Aku mau Ayah!
"Tomomi!"
Aku melotot karena kaget, lalu duduk. Aku masih berada di atap. Yang melekat di badanku hanya rok dan pakaian dalam. Rasa nyeri di tulang mataku dan perih di daguku lebih membuatku tersadar. Telingaku menangkap seruan dan teriakan 2 orang pria. Aku menemukan seragamku dan memakainya secepat mungkin. Kemudian aku mencari kacamataku di tempat Seiji menamparku pertama kali. Bingkainya melindungi lensanya, sehingga masih bisa digunakan, meskipun sedikit tergores. Aku menghampiri sumber seruan tersebut. Mereka berada di balik tembok pintu atap. Seiji dan Tora. Mereka sedang berkelahi dalam jarak 10 meter dari tempatku berdiri.
Tora datang menyelamatkan aku. Aku bersyukur sekali.
Seiji menerima pukulan dari Tora, telak di perutnya. Cowok itu pun roboh.
"Tomomi!" seru Tora.
"Di sini," jawabku.
Tora menghampiri dan memelukku begitu saja. Hangat sekali membungkus tubuhku yang dingin. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut.
π₯°π₯°π₯°π₯°π₯°
Berada di rumah sakit selama itu membuatku bosan, tapi setidaknya aku tidak perlu ke sekolah. Kegiatanku setiap hari hanya menonton televisi yang disediakan di kamar, juga membaca koran.
Aku menempati kamar untuk 3 orang pasien. Dua pasien lainnya menderita patah tulang. Yang satu di tangan, yang satu lagi di kaki. Keduanya berada dalam satu mobil saat mobil mereka menabrak sebuah pohon besar. Menyetir dalam keadaan mabuk memang berbahaya. Melihat mereka harus menggantung tangan dan kaki, kurasa kondisiku tidak terlalu buruk dengan luka lebam di wajah. Aku beruntung karena tulang daguku tidak bermasalah setelah beradu dengan semen keras. Hanya butuh jahitan dan semuanya beres.
Sebagai penghuni kamar yang sama, kami berkenalan. Yang menempati ranjang paling dalam bernama Tachibana Hitomi. Dia seumur denganku. Tulang lengan atas sebelah kirinnya patah akibat terbentur pintu mobil. Yang menghuni ranjang tengah adalah Kawashima Keiko. Tulang pahanya sebelah kirinya patah karena terjepit di antara setir dan jok. Dialah yang menyetir mobil. Usianya 3 tahun lebih tua dari aku dan Tachibana.
Tachibana dan Kawashima terlihat kompak untuk tidak menyesali perbuatannya. Nampaknya 2 cewek ini memang sering mabuk. Dan mereka menganggap kejadian yang menimpa mereka sebagai kesialan belaka. Aku yakin mereka akan melakukannya lagi.
Sudah dua hari ini Tora menjengukku. Pria baik itu membawakanku buah-buahan, juga makanan ringan. Kubilang aku suka sekali makan biskuit cokelat. Keesokan harinya, dia membawa 5 bungkus. Dua kuberikan untuk kedua teman sekamarku, 3 lagi untukku sendiri. Mungkin dia tak ingin aku kelaparan, atau mungkin dia khawatir aku akan jadi gila seperti adiknya, Misaki. Padahal, keadaanku tak seburuk yang ia kira. Aku memang mengalami sedikit trauma. Kejadian yang menimpaku sangat mengerikan. Sudah dibohongi, dipukuli, nyaris diperkosa, malah sekarang aku merasa bersalah pada Koizumi.
Tora masuk ke kamarku. Tachibana dan Kawashima langsung bersiul-siul. Mereka mengira kami pacaran. Ya, banyak orang yang berpikir demikian. Aku sedikit malu dibuatnya. Apalagi sejak Tora menyelamatkan aku. Melihat Tora, rasanya aku jadi salah tingkah. Waktu itu dia sempat mendengar suara Seiji di ponsel sebelum aku memutuskan telepon. Karena khawatir, akhirnya dia datang ke sekolah untuk mencariku. Awalnya dia berpikir untuk pulang setelah melihatku di kelas, tetapi ternyata aku tidak ada. Lalu, dia mengintip seluruh ruangan yang ada di sekolah. Sampailah dia di atap dan melihatku sedang terbaring lemah dengan Seiji yang berada di atasku. Tanpa basa-basi, dia langsung bertindak. Suara yang kudengar saat aku berada di antara sadar dan tidak sadar adalah suara Tora. Dia memanggil-manggil untuk membangunkanku.
"Tada!" Tora memegang sebuah ponsel hitam di depan mataku. "Untukmu," katanya.
__ADS_1
"Eh?" Aku melirik Kawashima dan Tachibana. Mereka berdua sedang memperhatikan kami sambil senyam-senyum. "Tidak usah," kataku malu.
"Tidak apa-apa. Ponselmu rusak. Jadi kubelikan yang baru. Kutaruh di sini ya," Tora meletakkan ponsel itu di meja sudut. "Bagaimana keadaanmu hari ini? Masih sakit?"
"Masih sakit di dagu dan sedikit di tulang mata. Dia menonjokku keras sekali."
"Oh ya?" Tora mengamati tulang mata sebelah kiriku yang menjadi sasaran tinju Seiji. "Memang masih biru dan sedikit bengkak. Dia sudah ditahan. Kau tenang saja."
"Kau beruntung punya pacar yang siap melindungimu, Ayase," celetuk Kawashima tiba-tiba.
"Jagalah dia baik-baik, Tora-san," sambung Tachibana kepada Tora.
"Aku bukan pacarnya," kata Tora.
"Eeeeh? Bahkan bukan pacar pun masih mau melindunginya? Ayase beruntung sekali..." goda Kawashima makin menjadi.
"Diam kau," sahutku. "Kau sudah berbicara pada dokter? Kapan aku boleh pulang?" tanyaku pada Tora.
"Ya. Besok kau boleh pulang, tapi harus tetap meminum obatmu supaya tidak terjadi infeksi. Akan kujemput..."
"Keiko-chan! Hitomi-chan!" Suara nyaring milik seorang gadis memotong perkataan Tora. Gadis itu masuk begitu saja melewati ranjangku, menuju ke celah antara ranjang Tachibana dan Kawashima. Tingkahnya heboh sekali seraya menanyakan kabar kedua pasien tersebut.
Aku langsung mengenalinya. "Koizumi!" seruku.
Koizumi menoleh dan melihatku bersama Tora. Ekspresinya kontan berubah jadi cemberut, lalu ia membuang muka.
"Kalian saling kenal?" tanya Tachibana.
"Tidak," jawab Koizumi cepat sebelum aku menjawab 'ya'.
Kawashima melirik Koizumi dan aku. "Apakah dia yang kau ceritakan itu?" tanyanya ragu.
Koizumi berlari keluar dari kamar. Aku ingin tahu apakah yang dikatakan Seiji itu benar, apakah mereka sudah berhubungan sampai sejauh itu. Aku akan meminta maaf pada Koizumi jika itu memang yang sesungguhnya.
πΌπΌπΌπΌπΌ
**bersambung ke chapter 7!
kasihan ya Koizumi π₯
__ADS_1
aku minta like dan comment π
matta ne**...