
Refleks, aku mundur selangkah. "Goro-san!" teriakku.
"Kau sudah gila!" Kei menahan tangan Goro dengan segenap kekuatannya. Ukuran tubuhnya yang lebih kecil memudahkan Goro untuk mendorongnya ke belakang hingga menabrakku.
"Biarkan aku membunuhnya, Kei! Minggir kau!" geram Goro.
"Tenang, Goro-san!" Kei mengulurkan sebelah tangannya untuk mengantisipasi serangan selanjutnya dari Goro. "Aku mengerti kau ingin klan ini bersih, tapi bukan begini caranya," katanya.
"Anggaplah ini satu-satunya cara agar Hanazawa-gumi tetap pada jalurnya," Goro tidak melepaskan tatapannya dariku.
Aku berdiri di belakang Kei. Baru pertama kali aku melihat Goro seperti ini. Pria botak yang kutemui pertama kali di klub penari telanjang ini jelas sekali ingin menghilangkan aku dari muka bumi. Tujuannya adalah membersihkan klan. Aku sadar bahwa akulah penyebab pengkhianatan Tora pada Hanazawa-gumi, tapi terancam seperti ini membuatku sangat ketakutan. Sungguh pengecut. Aku tidak berani melangkah sejengkal pun dari belakang Kei. Kakiku terpaku di tanah karena mengetahui Goro tidak akan segan untuk menembuskan mata pisau itu ke dalam tubuhku. Jantungku berpacu dengan cepat. Aku takut.
"Kenapa kau melindunginya, Kei? Dia adalah virus yang harus dibasmi!" ujar Goro.
"Maaf, Goro-san. Aku harus melindunginya karena Tomomi-chan adalah orang terpenting bagi Tora-kun," kata Kei.
"Jadi kau membela pengkhianat?" Pundak Goro naik-turun, terlihat bernafsu sekali untuk menghabisi aku dan Kei. "Kalau begitu, kalian berdua harus mati!" Ia maju untuk menusuk perut Kei.
Namun, Kei cukup cekatan untuk mundur, lalu menendang dada Goro. "Pergi dari sini, Tomomi-chan!" perintahnya padaku. "Aku akan mencoba menahannya. Larilah!"
Aku tidak merespon kata-kata Kei. Sementara Kei berkelahi dengan Goro, aku hanya diam. Goro bukanlah lawan yang seimbang bagi Kei karena ukuran tubuhnya 3 kali lebih besar. Otomatis ia lebih kuat daripada Kei. Pukulan Kei tidak mampu merobohkannya, sedangkan dengan mudah Goro membuat Kei jatuh berkali-kali.
Aku harus fokus. Adakah yang bisa kuperbuat selain menonton? Aku tidak ingin Kei mati, tapi aku pun tidak ingin Goro mati. Aku tidak ingin ada yang mati di hadapanku.
Wajah Kei ditonjok oleh Goro sampai tersungkur. Pria itu menoleh padaku. "Kenapa kau diam saja? Cepat pergi!" teriaknya. "Tomomi-chan! Pergi!" Darah segar mengalir pelan dari lubang hidungnya. Disekanya darah itu, lalu mencoba menyerang Goro lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Kei malah terkena pukulan telak di perutnya dan akhirnya terjatuh kembali.
Goro tersenyum bengis. Ia masih memegang pisaunya dan siap menikam Kei. Diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi dengan mengarahkan mata pisau ke kepala Kei.
Kei berusaha bangkit, tapi terlalu lemah. "Pergilah, Tomomi-chan. Kumohon..." Pundak Kei naik-turun karena tersengal-sengal.
Air mataku jatuh. Seketika, segala memori tentang Kei bermunculan di depan mataku. Sejak awal, Kei selalu ceria. Dia memang sering mabuk, tapi itu karena ajakan tamu-tamunya untuk minum. Dia jugalah yang menceritakan peraturan klan saat kami bertemu di hotel tempatku bekerja. Betapa rajinnya dia ke rumah Tora hanya untuk melihatku. Kei sangat memperhatikan aku dan Tora. Melihatnya seperti ini sekarang sangat menyakitkan. Aku harus membantunya.
Tanpa sadar, aku sudah berlari cepat melewati Kei dan menubruk Goro sekuat tenaga hingga terjatuh. Tubuhku **** tubuhnya. Secepatnya, aku beralih ke tangannya untuk merebut pisaunya. Aku berdiri dan menodongkan pisau itu padanya. Tak lupa aku membantu Kei bangkit.
"Kurang ajar kau, jalang!" teriak Goro yang juga bangkit tak lama kemudian. "Sebaiknya kau menyerah, Tomomi, karena sebentar lagi kau akan tertangkap. Kami akan menikmati setiap bagian dari tubuhmu sampai kau memohon agar kami membunuhmu. Dan Tora, juga kau, Kei, akan menontonnya sepuas kalian!"
Ekspresi Goro sangat menyeramkan. Bahkan, lebih mengerikan daripada hantu yang selama ini kubayangkan. Hantu tidak bisa membunuh manusia, tapi manusia bisa. Aku tidak akan membiarkan ancaman Goro menurunkan tekadku untuk melindungi Kei.
"Bisa apa kau dengan pisau kecil itu?" tanya Goro seraya maju selangkah.
Aku menggerakkan tanganku ke kiri-kanan untuk menghentikan langkah Goro. "Jangan mendekat!" seruku.
Goro tertawa sinis. "Di dunia ini, perempuan sepertimu bisa dihitung dengan jari. Tapi nampaknya kalian akan semakin langka karena aku akan membunuhmu!" Ia menghentakkan kakinya ke tanah di depannya dan berhasil membuat pundakku melompat. Tawanya terdengar semakin keras. "Kau tidak akan berani menusuk," geramnya, lalu menerkamku.
Sekuat tenaga, kuarahkan mata pisau itu ke depan dan aku pun terdorong ke belakang ketika bertabrakan dengan Goro. Punggungku akan membentur tanah bila Kei tidak menahannya. Aku tidak tahu apa yang kulakukan sampai membuka mataku kembali.
Goro mundur pelan. Pisau kecil itu menancap di belahan dada pemiliknya. Dan pria gempal berkepala botak itu pun jatuh berlutut. Dari raut wajahnya, sepertinya ia tak menyangka aku akan menusuknya. "Pergilah! Larilah semampu kalian! Kami tetap akan mencari kalian sampai ke lautan mana pun!" teriaknya. Berbagai umpatan keluar dari mulutnya.
"Kita pergi, Tomomi-chan," kata Kei singkat. Tangannya menarik pergelangan tanganku, membantuku berdiri. "Tomomi-chan," panggilnya sekali lagi.
"Eh?" Melihat Goro kesakitan membuatku merasa kasihan. Aku telah menyakitinya. "Apa dia akan mati?" tanyaku. Suaraku bergetar, nyaris tak terdengar. Saat itu, kusadari seluruh badanku gemetar.
"Tidak," jawab Kei.
"Kau yakin?"
"Ya. Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, Tomomi-chan, sebelum ada yang datang."
__ADS_1
Aku mengangguk, tapi kakiku masih kaku. Aku baru bisa bergerak setelah Kei menarik paksa lenganku.
Ini bohong kan? Aku merasa sedang bermain game dan tidak percaya apa yang barusan kulakukan. Ini pasti adegan dalam drama panggung kan? Aku memerankan tokoh jahat yang berniat membunuh orang karena takut rahasianya terbongkar. Berarti sebentar lagi Taguchi-sensei akan bertepuk tangan untuk menghentikan adegan. Namun, hal itu tidak terjadi. Air mataku tidak dapat dibendung. Aku telah menusuk orang.
"Hanya Tuhan yang berhak menentukan segalanya. Aku telah membunuh Goro-san," kataku. Apa yang harus kulakukan selanjutnya? "Aku harus menyerahkan diriku pada polisi. Sisa hidupku akan kuhabiskan di dalam penjara," lanjutku. Kakiku melangkah mengikuti Kei, tetapi pikiranku tidak berada pada tempatnya.
"Tomomi-chan, dengarkan aku! Bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa. Kita tidak boleh menarik perhatian orang lain. Kau mengerti?" tanya Kei.
Aku menangis, tapi mengangguk.
Kei menyeka air mataku dengan lengan jaketnya. "Semua akan baik-baik saja. Oke?"
Air mataku mengalir deras. Aku melihat lagi tubuh Goro yang sekarang tergeletak di tengah-tengah gang.
"Oke?" ulang Kei sambil menatapku tajam. Beberapa bagian di wajahnya membiru akibat pukulan Goro, membuatku teringat akan Misaki yang juga mengalami luka yang sama karena berkelahi dengan Tora Kucing.
"Oke," jawabku seperti anak kecil.
Aku dan Kei berjalan secepat yang kami bisa di tengah-tengah keramaian. Kupapah tubuh Kei karena ia masih terluka. Sebelah lengannya mencengkeram pundakku untuk menahan sakit. Kurasa luka di perutnya yang paling parah. Badan kurus Kei sangat ringkih hingga kukira tulangnya akan patah jika terkena pukulan lagi.
Langit tak terasa gelap dikarenakan kawasan Shinjuku yang tak pernah tidur. Kami tidak mempedulikan orang-orang yang menawarkan jasa pelayanan hotel, bar, dan klub mereka. Kepalaku kosong, tidak bisa berpikir apa-apa. Aku masih ingat bagaimana pisau kecil itu menembus dada Goro. Rupanya ia mengira aku tidak akan berani melukainya. Akan tetapi, bila aku tidak melakukannya, dia akan membunuh Kei dan menculikku.
Sekarang seluruh anggota Hanazawa-gumi telah mengetahui yang sebenarnya dan mereka ingin membersihkan nama klan dengan membunuh para pengkhianat. Dalam hal ini, para pengkhianat yang dimaksud adalah Tora dan Kei. Aku adalah orang luar yang menjadi penyebab semuanya.
Dari awal, mereka mengincarku. Kalau dipikir sekarang, hal itu wajar saja, karena aku membantu Tora berhubungan dengan Misaki. Peraturan klan telah dilanggar dan akulah yang menyebabkan itu terjadi. Hukumanku lebih berat daripada Tora dan Kei. Hanazawa-gumi tidak akan membiarkanku berkeliaran sesukaku. Tak ada tempat yang aman bagiku. Di mana ada aku, sudah dapat dipastikan akan adanya bahaya. Jika memang benar begitu, aku harus bertanggung jawab. "Kei-san," aku berhenti di tengah jalan, menjauh dari Kei.
"Ada apa?" tanya Kei terkejut.
"Tinggalkan saja aku," kataku tegas.
"Ha? Kau sudah gila?" Kei terlihat heran sekali padaku.
Kei mendengus. "Dengar ya. Aku sudah cukup direpotkan oleh masalah kalian. Aku telah terlibat secara tidak langsung karena menutupi fakta bahwa Tora-kun masih berhubungan dengan keluarganya. Nyawaku juga terancam di sini. Kalau kau mau pergi sendirian, apa yang akan kau lakukan? Ke kantor polisi? Kau tahu hal itu akan menambah masalah karena polisi akan memburu kami semua."
Aku mendengarkan setiap kata yang diucapkan Kei. Pria itu berbicara panjang lebar.
"Aku tidak mau mengkhianati klanku, tapi aku lebih tidak mau mengkhianati temanku. Terserah kau mau bilang kau ingin begini atau begitu. Aku tidak akan peduli padamu bila kau bukan siapa-siapanya Tora-kun," kata Kei pedas. Ekspresinya sangat serius sekaligus galak. "Sekarang kita berada pada zona yang sama, Ayase Tomomi. Nasib kita sama pada akhirnya walaupun kau adalah orang luar. Kau adalah orang terpenting bagi sahabatku. Mau tak mau, aku harus melindungimu. Jika kau nanti mati atau menghilang, apa yang harus kukatakan padanya?"
Ya. Aku, Tora, Kei, dan mungkin juga Makoto berada di dalam situasi yang sama. Meskipun bukan anggota Hanazawa-gumi, aku tidak bisa tenang-tenang saja karena hukumanku akan lebih berat. Yakuza tidak akan membiarkan orang luar mengacaukan organisasi mereka. Yang akan mereka lakukan bila itu terjadi adalah membunuhnya. Mereka akan membunuhku. Dan untuk anggota yang melanggar peraturan, nasibnya pun akan sama. Kami akan mati.
"Kau takut?" tanya Kei.
Aku mengangguk pelan. Jujur saja, kakiku sudah gemetar dari tadi. "Di mana Tora-san?"
"Kemarikan ponselmu," Kei menadahkan tangannya. Kukira ia ingin menelepon Tora, tapi yang ia lakukan adalah membanting ponselku ke tanah, lalu menginjaknya sampai hancur.
"Kei-san!" seruku.
"Kita tidak bisa berhubungan lewat telepon lagi karena mereka akan melacaknya. Aku pun telah menghancurkan ponselku," katanya santai.
"Sebaiknya kau tahu di mana Tora-san berada."
"Aku tidak tahu di mana Tora-kun sekarang, tapi aku yakin dia dapat menemukan tempat yang aman. Dia sempat bilang akan menjemput Misaki. Dia pasti mengira kau berada di rumah sakit. Tapi ternyata kau malah ke sini. Keputusan yang buruk, Tomomi-chan."
"Mana aku tahu akan begini keadaannya. Bagaimana dengan Makoto-neesan?"
Kei terdiam. "Kita bicara sambil jalan. Ayo," ajaknya.
__ADS_1
"Ke mana?"
"Ikut saja."
Entah karena aku dan Tora yang tolol atau mereka yang terlalu pintar hingga kami tidak menyadari bahwa kami sedang diawasi. Kei menceritakan semuanya dari awal. Tadinya mereka mengira aku dan Tora sekedar berpacaran. Mereka mencurigai kami karena Tora mengantarku bolak-balik ke rumah sakit jiwa. Sekarang mereka bermaksud untuk membersihkan klan dari orang-orang yang berkhianat. Mereka tidak pernah menendang anggotanya keluar dari klan, tapi akan langsung membunuhnya atau memaksanya bunuh diri karena telah mencoreng nama baik klan. Begitu pula pada orang luar yang terlibat, dalam hal ini aku, mereka akan mengejarnya ke mana pun sampai orang itu mati.
Makoto kemungkinan masih bisa diampuni karena ia memang tidak tahu bahwa Tora masih berhubungan dengan adiknya. Setidaknya, kesalahannya tidak fatal. "Paling berat, ia akan disuruh memotong jarinya," kata Kei.
"Memotong jari?" Kedua mataku terbelalak. Kuamati jari-jari tanganku sendiri, kubayangkan bila jariku dipotong begitu saja. "Kalau Makoto-neesan tidak mau melakukannya?"
"Kau sudah tahu jawabannya," Kei mengangkat bahu. "Kurasa akan lebih baik kalau kita ke pinggiran Tokyo," sarannya.
"Aku ikut kau saja."
Kami naik kereta dan sampailah kami di sebuah hotel kecil yang lokasinya jauh dari tempat tinggalku. Kei menelepon rumah sakit tempat Misaki dirawat, sementara aku mengawasi di luar, siapa tahu ada yang mengikuti. Situasi seperti ini kuserahkan semuanya pada Kei. Dia tentu lebih tahu apa yang harus dilakukan. Lagipula, dia memegang informasi tentang klan lebih banyak daripadaku. Kei pasti tahu apa yang biasanya Kumicho perintahkan.
Kuharap Tora masih berada di rumah sakit bersama Misaki. Yakuza tidak akan berani datang ke tempat umum untuk melakukan pembunuhan. Apalagi, mereka harus menyingkirkan mayat korbannya agar tidak tercium oleh polisi.
"Tora-kun akan ke sini bersama Misaki," kata Kei setelah menghampiriku di luar. Ia terlihat lebih baik daripada yang tadi. Tenaganya telah pulih.
Kelegaan. Itulah yang kurasakan sekarang. Tora dan Misaki baik-baik saja. "Kita tunggu saja mereka di lobi."
"Mereka baru bisa berangkat besok pagi karena dokter Misaki belum bisa mengizinkan."
"Apa? Tapi Tora-san adalah kakaknya!" protesku.
"Mau bagaimana lagi, Tomomi-chan? Peraturan tetaplah peraturan."
"Kalian melanggar peraturan," gumamku sambil cemberut.
"Dan inilah akibatnya," balas Kei. "Sudahlah, jangan banyak protes. Sebaiknya kita istirahat."
"Di hotel ini?" Aku memandang berkeliling, lalu melirik ke bagian dalam hotel. Berbeda sekali dengan hotel milik keluarga Koizumi yang megah dan terang, hotel kecil ini sangat kumuh. Selain bangunannya telihat tua dan kecil, di dindingnya terdapat retakan yang cukup panjang. Bahkan, pintu kacanya seperti tidak pernah dibersihkan. Apartemenku lebih bagus daripada hotel ini.
"Ada pilihan lain?" Kei langsung masuk menuju meja resepsionis. "Permisi, kami ingin menyewa kamar," katanya kepada wanita paruh baya yang duduk di belakang meja. Penampilannya sangat biasa, tanpa seragam, hanya kemeja dan rok selutut.
"Berapa kamar?" tanya si resepsionis. Suaranya lembut dengan senyuman ramah, tetapi ekspresinya sedikit ngeri karena melihat luka-luka di wajah Kei.
"Satu saja, untuk dua orang," jawab Kei.
"Eh? Satu?" tanyaku. Kei pasti salah bicara.
"Ya, satu saja. Kalau kau mau mati sendirian, itu terserah padamu," Kei menatapku tajam.
Sang resepsionis terkejut atas kalimat Kei. "Apakah kalian pasangan kawin lari?" tanyanya.
"Bukan!" seruku.
"Bolehkah aku meminjam kotak obat?" Kei mengelus tulang pipinya yang terluka, lalu meringis. Hidungnya sudah tidak mengeluarkan darah, tapi tetap harus dibersihkan.
Sekarang aku mengerti. Kei tidak bisa melakukannya sendiri. Ia telah membantuku. Kali ini, biar aku yang membalasnya. "Baiklah. Satu kamar saja," kataku.
🏪🏪🏪🏪🏪
**bersambung ke chapter 23!
gimana chapter ini? adakah yg gak dimengerti?
__ADS_1
minta like dan comment yah guys 😁
matta ne**...