My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 13 - Rules


__ADS_3

"Eh?"


"Tora-kun pernah menceritakannya padaku. Makoto juga tahu. Aku ingin membantunya, tapi terlalu takut pada peraturan klan. Kami semua sudah disumpah dengan minum sake dari gelas yang sama, bahwa keluarga kami adalah seluruh anggota klan. Kau menyimpan rahasia dengan baik, Tomomi-chan."


Di kepalaku langsung terbayang para anggota Hanazawa-gumi duduk membuat lingkaran, lalu minum sake bersama dengan Kumicho. Mereka semua memakai kimono tipis sejadinya hingga memperlihatkan sebagian tato di tubuh mereka. Kemudian, mereka main catur atau hanya minum sampai mabuk ditemani wanita-wanita cantik yang bergelayut manja di samping mereka. Segera saja kuenyahkan pikiran itu. "Memangnya hukuman apa yang akan kalian terima bila ketahuan masih berhubungan dengan keluarga kalian? Tora-san tidak memberitahuku soal ini."


Kei menatapku, lalu membentuk garis horizontal di lehernya dengan telunjuknya.


Napasku langsung tercekat. Aku jadi ingat sosok Kumicho yang berkarisma, sorot matanya yang mengintimidasi, juga istrinya yang mati muda. Dan sekarang aku yakin Kumicho tidak akan sungkan membunuh anggota klan dengan tangannya sendiri. Bagaimana rasanya mempunyai bos yang seperti itu? Kalau aku, jelas tidak akan mau. Tapi menjadi Yakuza adalah pilihan hidup. Sekali masuk ke dalamnya, maka tidak akan ada jalan keluar.


"Dialah ayah yang kami hormati. Jika tidak menuruti perintah, maka kami harus menanggung akibatnya. Semua perkataannya adalah mutlak."


"Kenapa dia membuat peraturan seperti itu?"


"Peraturan itu sudah ada sejak lama. Kumicho hanya melanjutkan apa yang ada karena dia setia sekali pada organisasi ini. Lagipula, untuk apa ada keluarga tapi tidak seperti keluarga? Aku pun tidak ingin menikah. Bagiku, semua perempuan sama saja. Mereka pura-pura tidak peduli, tapi sebenarnya memperhatikan laki-laki," oceh Kei.


"Oh! Jadi kau suka laki-laki?"


"Bukan!" seru pria berkulit putih itu, membuatku hampir terbahak. "Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Tora-kun tentang pernikahan, tapi sepertinya dia itu tipe orang yang ingin memiliki sebuah keluarga utuh."


"Ya, kurasa juga begitu. Maksudku, dia sayang sekali pada Misaki. Jadi, mungkin sebenarnya dia ingin keluar dari klan dan mencoba hidup baru bersama adiknya."


Kei mundur. "Wow, Tomomi-chan!" serunya. "Kalau berbicara seperti itu di depan Kumicho, kau tidak akan selamat," ia tertawa. "Bagi Tora-kun, kau adalah malaikat penyelamatnya. Dengan bantuanmu mengunjungi Misaki, Tora-kun tahu perkembangan adik semata wayangnya itu tanpa harus keluar dari klan. Menurutku, dia sudah nyaman menjadi seorang Yakuza, berkat dirimu."


"Aku?"


"Kau mau berteman dengannya. Bahkan, kau menyukainya sebelum dia berubah jadi ganteng lagi. Saat semua orang berpikir dia mengerikan, kau mengaguminya. Kau juga mempertaruhkan nyawamu dengan membantunya."


Aku diam saja karena memang tidak ada yang ingin kukomentari. Kupikir memang risikonya besar, tapi aku merasa harus membantu Tora merahasiakan Misaki dari seluruh anggota klan, kecuali Kei dan Makoto. Bila mereka berdua bisa melakukannya, maka aku juga bisa. Dan kalau hal itu membuat Tora bahagia, maka aku pun ikut senang. Aku melakukannya begitu saja dengan tulus.


"Ah! Sudah malam," kata Kei. "Mari kutemani kau pulang."


"Tidak usah. Aku bisa sendiri."


"Kalau begitu kau harus menerima ongkos taksi dariku."


"Kau menyuruhku memilih?" tanyaku. Anggukan kepala Kei membuatku tambah bingung Aku jelas tidak ingin merepotkan orang lain. Tapi daripada menerima uangnya, lebih baik dia menemaniku saja. Lagipula, besok hari Minggu, di mana aku harus bekerja dari pagi. "Tempat tinggalku jauh," kataku.


Kei memiringkan kepalanya sekali, bangkit berdiri, dan mengulurkan tangannya padaku. "Silakan, Tomomi-sama," katanya dengan gaya host, serta melemparkan senyuman menggoda yang menggelikan.


Tanpa menyambut tangannya, aku berjalan keluar.


"Tomomi-sama, tunggu aku!" rengeknya seperti anak kecil.


🏀🏀🏀🏀🏀


Aku tidak punya tenaga lagi untuk mandi karena terlalu lelah. Kei tertidur pulas di dalam taksi. Apanya yang "menemani"? Supir taksi harus membangunkannya dengan susah payah, tapi yang didapat hanya sebuah kertas kecil bertuliskan alamat rumahnya. Sepertinya Kei memang sudah menyiapkannya di dalam saku celana. Aku tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka selanjutnya. Apakah supir itu berhasil menemukan alamat yang dituju atau ia malah sengaja berputar-putar dulu agar Kei harus membayar mahal?


Malam itu aku bermimpi buruk. Di dalam mimpi, Misaki sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Aku dan Tora menemuinya di sebuah taman. Namun, saat kami bertiga sedang melepas kangen, Kumicho datang dengan membawa sebilah katana, lalu menggorok leher Tora. Darahnya mengucur ke mana-mana. Tora tersungkur, sedangkan aku menangis sampai teriak-teriak dan berakhir di kamar Misaki. Dan aku menghuni rumah sakit jiwa selama-lamanya. Aku terbangun dengan berurai air mata dan tenggorokan kering. Memalukan sekali.


🎀🎀🎀🎀🎀


Aku terlambat. Langkah kakiku cepat melewati lobi menuju restoran. Walaupun belum buka, kami harus mempersiapkan sarapan untuk para tamu nanti. Resepsionis yang tadi malam masih ada di balik mejanya. Kami saling tersenyum ramah. Dia pasti kebagian shift malam karena hotel ini beroperasi selama 24 jam. Aku melirik elevator yang kemarin membawa Makoto dan Tora naik, lalu bertanya-tanya apakah mereka masih di sini, tetapi merasa bodoh setelahnya. "Kerja! Kerja!" perintahku pada diriku sendiri.

__ADS_1


Teguran kuterima dari Chef Mitsushima karena keterlambatanku. Buru-buru, aku berganti seragam dan langsung mengambil tempat di dapur. Di wastafel, sudah ada banyak sekali peralatan yang harus kucuci.


"Ayase, kemari!" panggil Chef Mitsushima.


"Ya!" sahutku. Aku harus melewati beberapa kompor untuk mencapai tempat si kepala koki di dekat pintu. "Ada apa, Chef?"


Chef Mitsushima membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. "Yang mana?" tanyanya pada seseorang di luar. "Bawa kemari!"


Seorang pelayan restoran datang dengan sebuah baki besar berisi 2 piring roti bakar, lengkap dengan mentega dan omelette. Melihatnya saja sudah membuatku lapar.


"Ayase, antarkan ini ke kamar nomor 5153 di lantai 5! Mereka sedang sibuk menyiapkan meja. Kau bisa meninggalkan pekerjaanmu sebentar kan?" tanya Chef Mitsushima.


"Bisa, Chef," jawabku.


"Cepat! Sebelum makanan ini dingin."


"Baik!"


Rupanya 2 piring ini pesanan seorang tamu yang dari tadi belum juga diantarkan. Kira-kira akan seperti apa wajah mereka ketika aku mengantarkan makanan yang hampir dingin? Ah! Toh ini bukan salahku. Yang harus kulakukan hanya meminta maaf. Lagipula, mengapa mereka ingin makan di kamar, sementara kami mempersiapkan yang lebih enak di restoran?


Bersama troli khusus makanan setinggi pinggang berisi baki tersebut, aku sampai di lantai 5 dengan cepat dan langsung bisa menemukan petunjuk di mana kamar itu berada. Ini pertama kalinya aku naik ke atas sejak hari pertama bekerja. Ternyata lorong hotel lebar dan dilapisi karpet. Tidak ada sedikit pun kotoran di sini. Lampu-lampu terpasang di tembok tiap-tiap kamar yang juga terdapat bel.


"Room service!" kataku setelah menekan bel kamar nomor 5153. Aku menunggu pintu dibuka dengan merapikan seragamku. Biar bagaimanapun, aku adalah karyawan hotel ini, sehingga aku harus menjaga nama baiknya. Kuambil baki itu dengan tujuan si tamu akan tergiur dengan penampilan makanannya.


"Lama sekali kau!" sembur seorang wanita bertampang galak begitu ia membuka pintu. Dia masih mengenakan jubah tidur.


"Maaf, sudah menunggu lama. Kami akan memperbaiki servis kami," kataku sambil tersenyum sopan, berharap wanita itu mau memaklumi.


"Aku tidak jadi makan! Bawa lagi sana!"


"Eh?"


"Seperti dalam film saja. Syukurlah kau tidak dimakan olehnya," bisikku pada 2 piring yang masih berada di tanganku.


"Untukku saja," kata seorang wanita lagi dari sebelah kiri.


Aku menoleh dan menemukan Makoto sedang berdiri di sana. Dia tersenyum padaku dalam pakaian yang dipakainya tadi malam. "Makoto-neesan!" seruku. Langsung saja aku menghampirinya. Jantungku memukul keras karena membayangkan Tora-san berada di dalam kamarnya.


"Kau bekerja di sini?" tanya Makoto.


"Ya. Aku ingin mandiri," aku tersenyum. "Aku tidak tahu Makoto-neesan menginap di sini," kataku berbohong. Tidak mungkin aku bilang bahwa tadi malam aku melihatnya membawa Tora ke hotel ini dan tidur sekamar dengannya.


"Kebetulan tadi malam temanku mabuk. Kuantar dia ke sini karena lebih dekat daripada rumahnya. Aku terlalu lelah untuk pulang. Jadi, sekalian saja aku menginap. Makanan itu, apa boleh untukku?"


"Eh? Tapi ini sudah dingin."


"Tidak apa-apa. Aku akan memakannya dengan temanku," Makoto meminta baki dari tanganku, bukannya mempersilakan aku masuk ke kamarnya. Itu berarti di dalam masih ada Tora.


"Biar aku bawakan saja," kataku.


"Baiklah."


Aku yang ingin masuk, tapi aku juga yang grogi. Tentu aku tidak berharap untuk melihat Tora sedang telanjang di tempat tidur. Uh! Jauhkan bayangan itu dari kepalaku! "Permisi," kataku. Tidak ada Tora, bahkan tidak ada siapa pun.

__ADS_1


"Temanku sedang keluar. Tadi dia bilang mau renang. Mungkin dia sedang di kolam renang," kata Makoto.


"Oh..."


Mataku mulai menjelajah ketika meletakkan baki di meja makan. Tempat tidur Makoto berantakan. Dua helai handuk bersih di kamar mandinya sudah terpakai. Sandal hotel yang seharusnya ada 2 pasang di rak, dipakai Makoto sepasang, dan sepasang lagi tidak ada. Malah digantikan dengan sepasang sepatu wanita dan sepasang sepatu pria, yang pasti milik Makoto dan Tora.


"Kau tidak perlu kaget, karena aku membawa teman pria," kata Makoto. Ia tergelak. "Habisnya kau seperti seorang detektif yang sedang memeriksa TKP."


Aku tertawa. "Bukan hakku untuk menilai Makoto-neesan. Kalau begitu, aku permisi. Mereka pasti akan memarahiku kalau terlalu lama," pamitku.


"Oke. Selamat bekerja, Tomomi!" Makoto menepuk bahuku.


Ini aneh sekali. Aku sengaja lewat area kolam renang dulu sebelum kembali ke dapur, tapi tak ada tanda-tanda kolam telah terpakai. Permukaan kolam tenang-tenang saja seperti tidak tersentuh apa pun. Lagipula, siapa yang mau berenang di pagi yang dingin ini? Alasan Makoto tidak masuk akal. Lalu, bagaimana dengan sepatu pria yang ada di kamarnya? Seandainya itu bukan sepatu Tora, mengapa Makoto sampai mengarang cerita?


"Ayase!" Suara Chef Mitsushima mengagetkanku. "Sedang apa kau! Cepat kemari!"


"Ya, Chef!"


🍳🍳🍳🍳🍳


Meskipun butuh uang, bekerja pada hari Minggu bukanlah sesuatu yang diinginkan semua karyawan. Di saat orang lain bersenang-senang bersama teman-teman dan keluarganya, kami harus bekerja. Namun, bila pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang dicintai, maka bekerja setiap hari pun tidak masalah. Malah mungkin tidak akan bisa tidur karena terlalu bersemangat memikirkan apa yang dilakukan besok.


Kakiku pegal akibat berdiri hampir selama jam kerja. Punggungku juga pegal karena menggosok peralatan dapur yang berukuran raksasa. Para tamu seperti tidak ada habisnya berdatangan. Bila aku tidak mencuci peralatan makan secepat dan sebersih mungkin, maka kami akan mendapatkan teguran dari manajer restoran, yang akibatnya akan membuat malu Chef Mitshushima. Aku beruntung tadi pagi Makoto mau mengambil sarapan itu. Jika tidak, manajer akan membuang dan menyuruh kami menggantinya. Yang kusayangkan bukanlah uang, tapi makanannya. Walaupun hanya roti, telur, dan mentega, makanan itu dibuat dengan hati. Aku yakin pasti sulit membuat omelette serapi dan semenarik itu.


Malam ini cukup dingin untuk membuatku merinding. Aku akan minum vitamin sebagai penambah stamina. Syukurlah besok sekolah, tapi libur kerja. Kalau besok kerja, kurasa aku tidak akan sanggup.


"Eh? Tora-san?" Aku melihat seorang pria sedang duduk dengan kaki ditekuk di lantai depan kamar apartemenku. Pakaiannya masih yang kemarin. Dia menunduk saja. "Tidur?" gumamku. Poni miringnya menutupi wajahnya, tapi aku yakin itu Tora. Pelan-pelan, aku mendekatinya, lalu menemukan sandal hotel di kaki Tora. Berarti benar sepatu itu adalah sepatu Tora. "Oi," panggilku, tapi Tora tidak juga bangun. "Tora-san. Tora-saaan!" Aku menyingkirkan rambut di wajahnya. Pundakku terlonjak ketika menemukan memar di sudut bibir dan tulang pipinya. Mata kanannya bengkak. Pelipis dan hidungnya mengeluarkan darah. "Tora-san! Kau berkelahi?" Kuguncang-guncang bahu Tora sambil memanggil-manggil namanya. Tubuh Tora pun lemas dan jatuh di pelukanku.


Susah payah aku menggeret tubuh Tora masuk ke dalam apartemenku. Sekarang aku teringat Makoto yang kemarin bernasib sama denganku saat ini. Dia pasti sudah terbiasa menghadapi Tora yang sedang mabuk. Aku harus menggunakan segenap sisa tenagaku. Kubalikkan tubuh Tora ke posisi terlentang, lalu kutarik kedua kakinya. Kepalanya sempat membentur pintu sebelum masuk seutuhnya ke kamarku. Sandal hotel pun tak kubiarkan di luar.


Kulebarkan futon-ku, lalu kugulingkan tubuh Tora 360 derajat hingga melintang di atasnya. Seketika, terdengar erangan kecil dari mulut Tora. Aku menempelkan daun telingaku di dadanya. Masih hidup. "Tora-san," panggilku.


Perlahan, Tora membuka mata dan melihatku. "Tomomi... Akhirnya kau pulang..." Suaranya lemah sekali.


"Eh? Kau menungguku dari tadi? Ah! Lukamu harus segera diobati. Tunggu ya!" Secepatnya aku mengambil kotak P3K dan membawanya ke sebelah Tora. Kubersihkan darahnya sampai tak tersisa, lalu kuoleskan obat luka. Aku meniup-niup lukanya agar mengurangi rasa perih. Untuk bengkak di matanya, aku merebus sebutir telur untuk ditempelkan di situ. Aku pernah melihatnya di televisi, jadi itulah yang kulakukan. "Ada lagi yang sakit?" tanyaku.


"Pu-punggung..."


Apa boleh buat. Aku harus membuka bajunya. "Bisakah kau duduk?" tanyaku. Tora mengangkat tangannya supaya aku bisa menariknya dari depan sampai posisi duduk. Aku melepaskan long coat-nya. Masih ada kemeja tangan panjang.


"Tomomi," Tora menggenggam tanganku. "Berjanjilah kau tidak akan takut!"


"Takut apa...Oh!" Selama ini aku menganggap Tora sebagai orang biasa. Aku baru ingat dia adalah seorang Yakuza, sehingga dia pasti juga mempunyai tato super besar di punggungnya seperti Kei. "Tapi kau harus diobati," kataku.


"Berjanjilah!" desaknya.


🥊🥊🥊🥊🥊


**bersambung ke chapter 14!


gimana chapter ini? hahaha..


minta like dan comment yah 😁

__ADS_1


matta ne**...


__ADS_2