
"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Kei. Sorot matanya menyelidik sampai keningnya berkerut. "Keluarkanlah semua yang kau pikirkan, Tomomi-chan."
"Ah, tidak. Mungkin aku terlalu cepat mengambil kesimpulan. Tapi aku penasaran tentang orang yang selama ini dicari oleh Makoto-neesan. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Mungkin orang itu telah kabur ke luar negeri, entah di belahan bumi bagian mana sampai sulit sekali menemukan jejaknya. Eeeh... Aku terlalu banyak berpikir," aku salah tingkah. "Apakah aku mencampuri urusan orang lain?"
Kei menghela napas. "Sejujurnya, aku juga sedikit penasaran," katanya.
"Benarkah? Aku pernah bertemu dengannya di rumah sakit jiwa tempat Misaki dirawat."
"Lalu?"
Aku menceritakan pertemuan kebetulanku dengan Makoto di rumah sakit itu, tentang bagaimana ia berbohong mengenai mantan suami Tora Kucing, juga sewaktu Makoto datang ke sekolahku tadi pagi. "Benarkah kau yang bilang padanya bahwa aku sudah pindah ke rumah Tora-san?" tanyaku pada Kei.
"Saat itu aku sedang mabuk. Maafkan aku, Tomomi-chan," Kei menunduk malu.
"Mudah sekali kau mabuk. Sama sekali di luar dugaanku," aku menggelengkan kepala, heran karena seharusnya Kei sering minum bersama tamu-tamunya, sehingga sudah terbiasa. Tetapi ternyata ia cepat mabuk. Dan aku tak bingung lagi kenapa dengan gampangnya dia memberikan informasi kepada orang lain.
Kei berdiri dan berjalan mondar-mandir di hadapanku. Kiri, kanan, kiri, kanan. Kubiarkan dia berpikir, jika dia memang sedang berpikir. "Apa kau tahu tujuan Makoto membohongimu? Mungkinkah ia hanya iseng padamu?" tanyanya padaku.
Aku mengangkat bahu. "Aku tahu tidaklah baik mencurigai orang, tapi menurutku, ada sesuatu yang ia sembunyikan. Apakah Kumicho tahu siapa orang yang dicari Makoto-neesan?"
"Tidak. Makoto sama sekali tidak melanggar peraturan karena ia memang seorang yatim piatu. Orangtuanya meninggal saat ia masih kecil. Yang aku tahu, ia memiliki seorang kakak perempuan, tapi beliau juga sudah lama meninggal."
"Lebih dari 10 tahun?"
"Ya. Sudahlah, Tomomi-chan. Bukankah sebaiknya kau beristirahat?"
"Istirahat? Mana bisa aku beristirahat dengan tenang sedangkan Tora-san dan Misaki masih belum ketahuan nasibnya?"
"Bagus sekali. Tadi aku memesan makanan di meja resepsionis. Nanti akan kuberi tahu kalau sudah datang. Mandilah sana."
Seenaknya saja host ini memerintahku. Tapi aku memang ingin mandi. Keringatku bercucuran hebat setelah apa yang kulakukan di gang itu. Aku benar-benar mengkhawatirkan Goro. Apakah dia mati atau masih hidup seperti yang Kei bilang? Aku percaya pada Kei. Ia yang lebih tahu soal Goro. Lagipula, Goro sangat besar dan kuat. Tidak mungkin dia mati semudah itu.
Aku pasti terlalu banyak menonton film.
⏳⏳⏳⏳⏳
Kei tidak berada di kamar ketika aku keluar. Tadi sama sekali tidak terdengar suara pintu dibuka. Makanan pesanan Kei belum tiba. Ke mana Kei pergi?
Aku duduk di pinggir ranjang dan mengeringkan rambutku dengan handuk. Sebelum mandi tadi aku melepas lensa kontakku. Beruntung aku selalu membawa perlengkapannya di dalam tas. Sangat berguna dalam situasi seperti ini. Kamar hotel ini rupanya cukup besar kalau dihuni oleh satu orang saja, tapi memang kondisinya lumayan buruk. "Kei-san lama sekali. Sedang apa dia di luar?" gumamku sendirian. "Jangan-jangan Kei-san diculik anak buah Kumicho!" seruku.
Bergegaslah aku berlari menuju pintu keluar. Kalau sampai mereka menemukan kami, kemungkinan kami bisa selamat sangat kecil. Hotel ini bukanlah hotel berbintang yang ramai orang berlalu-lalang. Di sini sepi sekali, sehingga anak buah Kumicho dengan mudah melakukan pembunuhan tanpa saksi. Jantungku langsung berpacu secepat aliran darahku ke kepala.
Kuputar gagang pintu dengan kasar dan kutarik sekuat tenaga.
__ADS_1
Di sanalah ia berada, memandangku dengan tatapan polos dan penuh tanya. Rambut hitamnya berantakan dan lepek. Tubuhnya tegap berdiri di hadapanku. Ia tersenyum padaku, lalu melangkah maju. Kedua lengannya kuat menyelimutiku hingga memberikan kehangatan walaupun pakaiannya basah. "Maaf, membuatmu menunggu," katanya.
"Tora-san," ucapku. Suaraku teredam di dada Tora. Aku merasakan sebelah tangan Tora membelai kepalaku. Seketika, air mataku tumpah. Aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di pusat perbelanjaan. "Tora-san... Kau... Kehujanan..." aku terbata-bata karena isakanku sendiri.
Tora melepaskan pelukannya. Direngkuhnya wajahku di telapak tangannya. "Aku baik-baik saja," katanya.
Pandanganku sedikit kabur karena tidak memakai lensa kontak, tapi aku tahu ini Tora. Aku sedang tidak bermimpi. Ia baik-baik saja. "Misaki?"
Tora diam saja, malah mengalihkan tatapannya.
"Kau tidak bersama Misaki?" tanyaku lagi sambil menyeka air mata.
Gelengan kepala Tora membuatku bingung. "Bisa kita bicara di dalam?"
"Kei-san?" Aku seperti sedang mengabsen teman-temanku karena ingin memastikan mereka semua ada di sini.
"Di lobi bersama Makoto."
"Tunggu sebentar! Kau tidak membawa Misaki, tapi malah membawa Makoto-neesan?"
Tora mendorongku masuk ke dalam kamar dan menutup pintu di belakangnya. Ia menatapku tajam. Napasnya tidak beraturan. Bibirnya bergerak-gerak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. "Sebaiknya aku mandi dulu," katanya. Langkah kakinya cepat sekali menuju kamar mandi. Ditutupnya pintu kamar mandi dengan kasar hingga membuat seisi kamar bergetar.
Aneh sekali. Tora tidak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya ia selalu mengungkapkan apa pun yang ada di kepalanya. Apa yang sebenarnya ingin dikatakannya barusan? Kenapa ia menahannya? Kenapa Misaki tidak bersamanya? Apa yang terjadi pada mereka di rumah sakit?
Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. "Dia bahkan memakai sepatunya ke kamar mandi," gumamku. Aku menunggunya dalam diam, memikirkan segala kemungkinan yang dapat terjadi di rumah sakit jiwa. Kei telah menelepon ke sana untuk mencari Tora. Ia bilang Tora dan Misaki akan datang ke hotel ini besok pagi. Namun, sekarang Tora sudah ada di sini, tapi bukan bersama Misaki, melainkan Makoto. "Lama sekali dia mandi."
Tora membuka pintu secara tiba-tiba, berhasil membuatku terhuyung ke dalam. Pria itu menahan tubuhku dalam pelukannya. Pelukannya semakin lama semakin erat. Tora menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Tora-san, kau kenapa? Tidak jadi mandi?" Aku mengangkat kedua lenganku dan menepuk-nepuk punggungnya. Sedetik kemudian, aku merasakan getaran di sana. "Kau gemetar," bisikku. "Aku akan meminjam baju untukmu kepada resepsionis kalau kau mau."
"Tidak," ujar Tora singkat. "Begini saja sudah cukup."
Haruskah aku bertanya padanya soal Misaki? Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya seharian ini. Kelakuan Tora sekarang membuatku bingung. Kuikuti saja kemauannya. Aku tidak menghitung berapa menit kami berpelukan. Kami seolah telah menjadi patung dengan kaki terpaku di lantai. Hanya tanganku yang sesekali mengusap pelan punggungnya yang dingin.
Tora menghela napas dan menurunkan kedua lengannya, lalu mundur selangkah. Ekspresinya tidak jelas, aku tidak dapat membacanya. Ia menundukkan kepalanya. "Aku menyedihkan sekali," ucapnya.
"Eh?"
Yakuza bertato harimau itu menegakkan kembali kepalanya. "Misaki ada di... Tadi aku ke rumah sakit untuk menjemputnya. Aku bertemu dengan Makoto. Dia menawarkan supaya Misaki dibawa ke rumahnya. Kumicho tidak tahu Makoto bersekutu dengan kita, sehingga akan aman bagi Misaki. Sekarang Misaki berada di rumah Makoto. Aku ke sini untuk... Untuk..." Baru kali ini Tora ragu-ragu dalam perkataannya. Biasanya dia langsung mengutarakan semuanya secara jelas.
Aku tidak mau terlalu percaya diri, tapi mungkinkah Tora ingin mengajakku pergi? Dia pernah berjanji padaku soal ini. Jika rahasia kami terbongkar, maka kami akan pergi dari sini sejauh yang kami bisa. Aku, Tora, dan Misaki.
"Tomomi," Tora melangkah maju dan menciumku. Bibirnya menggapai keseluruhan bibirku. Kedua tangannya menahan kepalaku agar tetap di tempat. Memabukkan sekaligus mengerikan.
__ADS_1
Aliran darahku terlalu deras sampai membuatku pusing. Kurasakan hawa panas dari dalam tubuhku. Pipiku pasti telah memerah seperti tomat. Hingga akhirnya Tora melepaskan bibirnya, aku dapat kembali bernapas. Aku tidak tahu untuk apa ciuman itu, tapi aku ingin mengulanginya.
"Maaf, Tomomi. Aku tidak bisa bersamamu lagi," kata Tora.
Tidak nyata. Bohong. Mimpi. Dusta.
Aku yakin jantungku pasti berhenti berdetak saat ini. Sebentar lagi aku akan pingsan dan mati dengan tenang. Atau aku akan terbangun dari mimpi buruk yang paling kutakuti dan menemukan Tora sedang tertidur di sebelahku.
"Kenapa..." ucapku pelan. Suaraku serak karena menahan tangis sampai tenggorokanku sakit. Aku menatap mata Tora. Dalam jarak sedekat ini pun, mataku masih tidak dapat melihatnya dengan jelas. Air mata memang menyebalkan.
"Aku tidak mencintaimu."
Aku tersenyum. "Kau bercanda kan?" tanyaku.
Tora menggeleng.
Tanpa kusadari, pipiku telah basah. Memori kebersamaan antara aku dan Tora tiba-tiba muncul bagai sederetan cuplikan film. Yang paling membahagiakan bagiku adalah ketika Tora bertemu dengan Misaki. "Jadi selama ini, semuanya bohong belaka?"
"Maafkan aku, Tomomi. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Kau tahu aku tidak akan melakukannya."
"Jadi kenapa? Aku percaya padamu, Tora-san," aku meminta pertanggungjawaban Tora. "Kalau karena Kumicho, aku tidak takut. Kita sudah pernah membahas itu. Dan kau berjanji akan membawaku pergi bersama Misaki. Sekarang kau mau mengingkarinya?"
Tora memegang pundakku. "Dengarkan aku, Tomomi. Aku tidak punya banyak waktu."
"Apa? Kau ingin cepat-cepat pergi ke tempat Makoto-neesan kan? Kau mencintainya kan? Seharusnya aku menyadarinya dari dulu. Waktu itu kalian memang bermalam di hotel berbintang lima itu. Kau sengaja membuat dirimu dipukuli agar aku mengasihanimu," aku tidak dapat mengontrol mulutku sendiri. "Lalu, kau menyatakan cinta palsumu padaku. Dengan bodohnya, aku kegirangan setengah mati. Kau memanfaatkan aku untuk membantu Misaki mengingatmu." Siapa pun, tolong hentikanlah aku! "Dan sekarang kau membuangku begitu saja. Kau benar-benar kurang ajar!"
"Kau boleh memukulku sepuasmu."
"Memukulmu hanya akan membuatku menyakiti orang lain, sama sepertimu."
Tora terlihat terkejut atas kalimatku barusan. Namun, ia berlagak kalem.
Aku benci sekali padanya karena benar-benar mencintainya. "Tadinya aku sungguh percaya padamu, Tora-san." Isakku masih terdengar.
"Tidak semua orang dapat dipercaya karena tidak semua orang mengatakan yang sebenarnya. Syukurlah kalau sekarang kau tidak percaya lagi padaku," Tora mengangkat bahu. "Selamat tinggal, Tomomi."
Lututku membentur lantai setelah bergetar karena lemas. Kepalaku tertunduk. Suara pintu ditutup menandakan bahwa Tora telah pergi. Tora tidak ada. Sejak dulu, Tora memang tidak ada. Aku tidak pernah bertemu dengan seorang pria yang bernama Tora atau Tonomura Taiga. Aku memang bodoh. Mana mungkin seorang Yakuza mau berpacaran dengan anak sekolah sepertiku.
Aku tak tahu berapa lama aku berlutut di lantai. Kedua kakiku kesemutan. Tangisku meledak ketika Kei masuk sambil membawa 2 buah piring makanan.
💩💩💩💩💩
**bersambung ke chapter 25!
__ADS_1
gimana chapter iniiih?? aku nulis ini sambil nangis 😖
minta like dan comment yaaah**