My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 15 - Tora


__ADS_3

Misaki menatapku layaknya anak kecil yang sedang meminta izin kepada orangtuanya, membuatku tidak tega menolaknya. "Ah, tapi mungkin dia tidak akan mau ya," katanya pesimis.


"Akan kutanyakan padanya," ujarku, tidak ingin mengecewakannya.


"Terima kasih," Misaki tersenyum.


Melihatnya seperti itu sangat menyedihkan. Dia tidak tahu siapa Tora sebenarnya. Tora ingin sekali bertemu dengannya, tapi apa akibatnya nanti? Bagaimana dengan kondisi Misaki bila dia ingat semuanya? Lalu, kalau ketahuan oleh anggota klan, bagaimana nasib Tora? Jelas aku tidak ingin Tora mati, tapi juga aku tidak ingin mereka tidak bersama lagi.


Keluar dari kamar Misaki, aku pergi ke ruang praktek dokternya untuk menanyakan keadaan Misaki yang sesungguhnya.


"Misaki masih berada dalam masa pemulihan," kata sang dokter. Seragam dokternya putih bersih dengan namanya dibordir di bagian dada sebelah kiri, Minami. Ia mengalungkan stetoskop di lehernya. Kuperkirakan usianya sekitar 40-an, tapi rambutnya hanya tinggal di bagian belakang kepalanya. Dia pasti terlalu pintar.


"Jadi sebenarnya dia sudah sembuh?" tanyaku.


"Ya. Kau tahu kan dia sudah boleh keluar dari sini. Kurasa trauma yang dialaminya tidak akan muncul lagi jika dia minum obat dengan benar dan memeriksakan kondisinya secara rutin. Belakangan ini, tidak ada tanda-tanda yang serius."


"Tapi apa dia siap untuk mengembalikan memorinya yang hilang?"


"Itu tergantung dari Misaki sendiri, apakah dia ingin memori itu ada ataukah memang ingin melupakannya. Kalau kau memaksanya mengingat, sedangkan dalam dirinya dia ingin melupakan, akan mempengaruhi kejiwaannya."


Aku menghela napas. "Menurut Dokter, bagaimana caranya agar kita mengetahui yang mana yang diinginkan Misaki?"


"Cobalah untuk berbicara dengannya secara perlahan dan bertahap. Seharusnya dia sudah bisa menerima informasi yang berhubungan dengan ingatannya. Namun, bila dia menolak, jangan diteruskan."


Pertama-tama, yang harus kulakukan adalah menanyakan nama asli Tora. Orang itu tidak pernah menyinggung soal ini. Aku pun tidak pernah memikirkannya karena, bagiku, Tora adalah Tora. Kei juga tidak memberitahukan nama keluarganya. Apakah itu juga panggilan saja, semacam nama yang mudah diingat oleh para pelanggannya?


🐱🐱🐱🐱🐱


"Aku tidak mau bilang," jawab Tora ketika aku bertanya padanya di telepon malam harinya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Karena itu tidak penting."


"Penting bagiku."


"Untuk apa?"


"Untuk..." Aku tidak bisa memberitahukannya sekarang. "Tidak apa-apa. Lupakan saja."


"Mencurigakan."


"Sejak kapan kau bisa mencurigai seseorang?" ledekku.


"Haruskah aku memaksamu untuk bilang alasannya?"


"Tidak. Aku akan bilang sendiri nanti."


"Kenapa bukan sekarang?"


"Karena belum saatnya."


"Kenapa belum saatnya?"


"Tora-san! Kenapa jadi aku yang ditanya-tanya?" Ini membuatku frustrasi. Pintar sekali Tora membalikkan keadaan.


"Ah! Tomomi, aku harus pergi sekarang."


"Sekarang?" tanyaku heran karena waktu menunjukkan pukul 12 malam lebih 15 menit.


"Ya. Aku ditugaskan untuk mengantar Kumicho bertemu dengan rekan bisnisnya. Kumicho sedang menungguku. Sudah ya, Tomomi." Sambungan telepon langsung diputus.


Orang setua Kumicho masih berkeliaran tengah malam begini. Sungguh stamina yang hebat. Tapi bisnis apa yang mengadakan pertemuan di tengah malam? Vampir? Aku tertawa sendiri membayangkan Kumicho sebagai vampir, Makoto sebagai pasangannya, dan anak buahnya sebagai pengikutnya.


Aku sempat bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya pekerjaan Tora. Dia menjaga klub penari telanjang, juga ikut mengantar Kumicho untuk urusan bisnis. Mungkin pekerjaan Tora cukup berbahaya. Misalnya, jika rekan bisnis Kumicho bermaksud menipu, bukankah mereka akan baku hantam? Juga, bila di klub ada suatu keributan yang dipicu oleh pengunjung, katakanlah mereka berebutan memberi tip kepada penari yang sama, bukankah Tora harus melerainya? Bisa saja ia terkena pukulan atau tendangan orang lain.


Yah, aku memang belum tahu semua tentang Tora.


Waktu tinggal seminggu lagi tapi aku masih belum memutuskan hadiah apa yang mau kuberikan kepada Koizumi. Rencananya, nanti kami akan mendekorasi kelas dengan pita-pita dan menuliskan salam perpisahan di papan tulis setelah pulang sekolah. Kami akan berpura-pura pulang ke rumah masing-masing dan meminta bantuan kepada Matsumoto dan Ueda, sebagai teman dekat, mengajak Koizumi kembali ke sekolah pada malam harinya. Acara akan berlangsung sederhana.

__ADS_1


🍫🍫🍫🍫🍫


Angin segar menyapaku di pagi hari saat aku berjalan menuju sekolah. Kulihat beberapa tumbuhan musim semi mulai berkembang di taman. Salju sudah meleleh semuanya, sehingga mereka nampak cantik di antara rerumputan. Burung-burung pun mulai bernyanyi di atas pepohonan tinggi. Suasana seperti ini benar-benar menyenangkan.


Namun, ada suara mesin sepeda motor menggangguku yang tengah menikmati nyanyian burung. Sepeda motor itu berada tepat di sebelahku, dekat dengan trotoar. Aku menoleh kesal pada pengendaranya.


"Selamat pagi," sapanya di balik helm.


"Tora-san!" seruku yang langsung mengenalinya. Jujur saja, dia terlihat gagah di atas sepeda motor besarnya. Mungkin karena postur tubuhnya, sehingga dia cocok sekali mengendarai sepeda motor. Ada orang yang tidak cocok dengan sepeda motor karena badannya terlalu kecil. Apalagi, jika sepeda motornya terlalu besar. Tora membuatku terpesona sampai berdebar-debar sendiri. "Se-selamat pagi," balasku sambil membungkuk.


Tora tertawa. "Tidak perlu sopan begitu," katanya.


"Habisnya kau..." Tidak mungkin aku mengatakan bahwa dia keren sekali. Tapi aku sedikit penasaran dengan reaksinya kalau aku melakukannya.


"Aku? Kenapa?" Tora melepaskan helmnya. Rambutnya jatuh begitu saja dan berantakan. Ia merapikannya dengan tangan.


"Keren," gumamku.


"Eh? Apa?"


"Tidak," aku menggeleng.


"Aku memang keren," ucapnya bangga. Ternyata dia mendengarku tadi. Tapi setelah mengaku keren, dia terdiam. "Aku payah sekali ya."


Tawa di pagi hari sangat membantu untuk menjaga mood agar selalu bersemangat. Tora menawarkan tumpangan ke sekolah dengan motor pinjamannya. Pacarku itu juga membawa helm ekstra untukku. Awalnya, aku bingung dengan posisi dudukku di belakangnya, apakah aku akan duduk miring atau tidak, karena aku memakai rok. Akhirnya, kuputuskan untuk duduk lurus karena selangkanganku tetap akan tertutup Tora.


"Pegangan ya," katanya.


Kami membelah jalan menuju sekolah. Aku menceritakan rencana acara perpisahan bagi Koizumi. Tora ikut memikirkan dan memberi saran soal hadiah yang bisa kuberikan pada wanita hamil itu.


"Aku tahu!" seru Tora, membuatku kaget. Ditambah lagi, kami menerjang polisi tidur begitu saja hingga ikut terlonjak bersama sepeda motor. "Maaf," katanya. "Kau pernah memberiku kue cokelat yang enak sekali. Bagaimana kalau itu saja?"


"Dia yang mengajarkanku membuatnya. Ah! Aku mengerti maksudmu, Tora-san! Kue cokelat itu sebagai rasa terima kasih!"


Tora mengangguk.


"Tomomi," panggilnya.


"Ya?"


"Tonomura Taiga, 24 tahun."


Aku terkejut. Tora menyebutkan nama asli, juga umurnya.


"Kau ingin tahu kan?"


"Ya." Kurasa sekarang aku harus memberi tahu Tora tentang rencanaku sebagai balasan karena dia mengatakan nama aslinya. "Sebenarnya aku mempunyai rencana untuk..."


"Untuk apa?"


"Mengembalikan ingatan Misaki."


"Benarkah? Kapan?" Tora terdengar girang. Dia pasti sedang tersenyum walaupun aku tidak bisa melihat wajahnya.


"Secepatnya. Aku sudah menanyakannya pada dokter. Katanya Misaki sudah siap, tapi harus dilakukan secara bertahap."


"Itu berarti aku bisa bertemu dengannya lagi?"


"Kuharap demikian. Tapi kau dilarang..."


"Aku akan melakukannya!" Tora memotong kalimatku. "Aku akan melakukan apa pun untuk adikku. Dukunglah aku dalam hal ini, Tomomi."


"Ya."


Aku menjawab "ya" tapi sekarang aku bingung sendiri, antara membiarkan mereka bertemu ataukah mencari alasan supaya mereka tidak bertemu. Sepertinya aku salah dengan memberi tahu semuanya pada Tora. Dan aku baru menyesali kebodohanku itu. Namun, untuk sementara, aku tidak ingin memikirkannya. Segalanya harus dilakukan satu persatu. Yang penting bagiku sekarang adalah kelancaran acara perpisahan Koizumi yang kebetulan jatuh pada hari Senin. Jadi, aku berniat meminjam dapur hotel tempatku bekerja untuk membuat kue cokelat karena ingin kue itu matang sempurna. Aku membeli sendiri bahan-bahannya, tidak memakai sedikit pun dari persediaan restoran.


Aku sudah meminta maaf pada teman-temanku karena tidak bisa ikut menghias kelas. Pulang sekolah, aku langsung meluncur ke hotel. Aku pun telah meminta izin pada Chef Mitsushima dan dia mengiyakan. Restoran cukup sepi saat aku tiba. Di hari kerja seperti ini, pengunjung restoran kebanyakan adalah orang-orang kantoran dengan pakaian rapi. Mereka biasanya mengadakan pertemuan bisnis.


Dengan hati-hati, aku melapisi kue itu dengan krim cokelat. Sesekali, aku meminta saran kepada seorang koki yang khusus menangani makanan penutup. Aku tahu betul dia sangat mahir dalam menghias kue karena aku sudah melihat bukti nyata kue buatannya yang super cantik. Permainan warna di setiap hidangannya sangat menarik, sehingga membuat orang merasa sayang untuk memakannya.

__ADS_1


Secepatnya aku kembali ke sekolah. Di sana sudah ada teman-temanku yang sedang menulis pesan di papan tulis. Tak mau ketinggalan, aku mengambil tempat di pojok papan untuk menulis pesanku. Isinya tidak terlalu menarik, hanya kata-kata agar dia tetap menjaga kesehatan dan tidak melupakan kami semua.


Sekitar pukul 7 malam, Koizumi datang bersama teman-teman lainnya. Kami menyambutnya meriah. Akulah yang terakhir memberikan hadiahku saat beberapa anak laki-laki menyanyi untuk Koizumi dengan suara mereka yang sumbang. "Selamat jalan," kataku.


"Apa isinya?" tanya Koizumi.


"Tanda terima kasihku."


Koizumi terkejut setelah membuka tutupnya. Kue cokelatku berbentuk silinder dengan diameter 30 sentimeter. "Besar sekali," katanya. "Kau menghiasnya dengan cantik, Ayase-chan."


"Tora-san yang memberiku saran untuk memberikan ini padamu. Kalau soal dekorasi kue, koki di hotel papamu yang membantuku," aku tersenyum memamerkan deretan gigiku.


"Benarkah? Aku senang bisa makan kue buatanmu. Terima kasih," Koizumi memelukku, membuatku terkejut. "Terima kasih untuk semuanya," bisiknya.


Aku mengangguk. "Jaga kesehatanmu, Koizumi," pesanku.


"Oke! Sekarang kita akan foto bersama!" seru temanku selaku panitia acara.


Koizumi melepaskan pelukannya. Tak kusangka ia sedikit menangis, tapi segera melebarkan senyumannya. "Ayo," ajaknya.


Di foto, Koizumi yang paling menyolok karena tidak memakai seragam sekolah. Dia berada di tengah-tengah kami, di belakang kue cokelat dariku yang ditaruh di atas meja dan siap untuk dipotong. Karena ukurannya cukup besar, semua orang bisa mendapatkan bagian. Kue itu laku sekali, khususnya di antara kami, para perempuan.


Aku cukup sedih karena mulai besok Koizumi tidak akan datang ke sekolah lagi. Kalau diingat, dulu kami bermusuhan sampai tahap berkelahi. Tapi seiring berjalannya waktu, kami bisa berteman. Aku sangat mengaguminya karena berani mengambil keputusan untuk melahirkan dan merawat anaknya. Walaupun waktu itu aku yang menyarankannya, semua keputusan tetap berada di tangan Koizumi. Entah kapan aku bisa bertemu lagi dengannya. Mungkin aku akan mengunjungi rumahnya kapan-kapan atau kami bisa bertemu di hotel papanya.


Pukul 3 dini hari, aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Aku malah memikirkan banyak hal, seperti, apakah Nenek mengawasiku dari Surga, apakah Koizumi akan bersekolah lagi kalau bayinya sudah lahir, apa-apa yang harus kutanyakan pada Misaki supaya bisa memancing ingatannya, bagaimana nasib Hiromitsu Seiji sekarang. Akhirnya, aku berhasil mengenyahkan segala pikiran itu dengan segelas susu.


😳😳😳😳😳


Di sekolah, mataku tidak bisa diajak kompromi. Aku tertidur saat pelajaran Sejarah dan ditegur oleh guru. Kupandangi wajahku sendiri di toilet. "Apa aku sakit?" tanyaku pada diriku sendiri, lalu meraba keningku. Panas terasa di punggung tanganku. Kepalaku mendadak pusing hingga nyaris membuatku terjatuh. Aku ingat pesan Nenek bahwa hal pertama yang harus dilakukan ketika panas adalah banyak minum air putih. Jadi, itulah yang kulakukan walaupun hanya sedikit membantu.


Jam-jam selanjutnya terasa lama sekali. Tangan dan kakiku dingin. Badanku gemetar. Berkali-kali aku keluar kelas hanya untuk mencari udara segar. Beberapa temanku berkomentar tentang wajahku yang semakin pucat. Aku malah tertawa dan berkata, "Seperti dalam novel Twilight ya."


Di perjalanan pulang, aku menelepon Chef Mitsushima untuk meminta izin tidak masuk kerja. Tapi dia malah menjawab, "Ayase, sebenarnya kami sudah mendapatkan pegawai tetap di posisimu. Jadi, kau tidak perlu bekerja lagi. Terima kasih atas bantuanmu selama ini. Datanglah kemari untuk mengambil gajimu."


Bagus sekali. Aku bisa istirahat tanpa memikirkan pekerjaanku. Yang kubutuhkan sekarang adalah kasur dan bantal yang empuk.


Sesampainya di apartemen, aku langsung membanting pintu, melempar tas, melepaskan sepatu, dan melebarkan futon, lalu bergulung di dalam selimut. Kepalaku berdenyut-denyut seakan sebentar lagi akan pecah. Tangan dan kakiku masih dingin. Di saat seperti ini, aku merindukan Nenek. Telapak tangan Nenek selalu terasa sejuk, sehingga membuatku nyaman. Kata-kata lembut Nenek sangat menenangkanku.


Ponselku berbunyi berkali-kali, tapi aku tidak punya tenaga untuk meraihnya di dalam tas. Aku tidak peduli siapa yang menelepon.


Awalnya, kupikir dengan memakai selimut, aku akan merasa lebih baik. Perkiraanku salah besar. Sekarang aku malah mual. Seluruh tubuhku sakit saat kupaksakan diriku keluar dari selimut untuk merangkak ke kamar mandi. Di atas kakus, aku memuntahkan air berlendir beserta sisa-sisa makanan yang belum sepenuhnya tercerna oleh perutku.


Kudengar pintu apartemenku diketuk. "Tomomi!" Suara Tora tertangkap oleh telingaku. "Tomomi! Kau ada di dalam?"


"Tunggu sebentar!" seruku sekuat tenaga.


"Tomomi! Kau baik-baik saja? Aku masuk ya. Permisi," katanya.


Aku bisa mendengar suara pintu terbuka dan langkah kaki Tora. Cepat-cepat aku menekan tuas kakus untuk menyiramnya. Jangan sampai dia melihatku dalam keadaan menyedihkan ini. Aku menyeka mulutku dengan punggung tangan dan berkumur dengan air kran. Dinginnya air membuatku merinding. Kupaksakan sekali lagi untuk berdiri, tapi aku terlalu pusing hingga terhuyung ke tembok dan berhasil membenturkan kepalaku sendiri.


"Tomomi! Ya ampun!" Tora menahan tubuhku dengan kedua tangannya. Dia menemukanku di kamar mandi. Tanpa menanyakan apa pun, dia menggendongku dan membaringkanku di futon. Jemarinya menyingkirkan rambut yang menutupi wajahku. Aku bisa melihat ekspresi cemasnya. Dipegangnya tangan dan kakiku.


"Aku tidak apa-apa," kataku.


"Tunggu sebentar," Tora meninggalkanku dan kembali dengan membawa obat demam, yang ia temukan di kotak obat, serta segelas air. Ia membantuku duduk untuk minum obat. Kemudian, ia menyelimutiku sampai ke leher. Disekanya sisa muntah yang masih ada di sekitar mulutku dengan tangannya tanpa rasa jijik. "Masih dingin?"


Aku meringkuk membelakanginya tanpa menjawab. Jelas aku tidak mau merepotkan Tora. Lebih bagus lagi kalau dia cepat pergi. Meskipun meriang di dalam selimut, setidaknya aku tidak ingin menunjukkan kelemahanku. Kudengar Tora beranjak dari tempatnya. Kukira dia akan pergi, tapi ternyata dia memutari Β­futon-ku dan berhenti di hadapanku. Dia menyingkirkan selimutku. "Tora-san, apa yang kau... Eh? Mau apa kau?" tanyaku panik karena dia berbaring di sebelahku dan menarik selimut untuk dipakai berdua.


Kami saling berhadapan. Mata kami saling menatap. Lengan Tora kuat memelukku, sehingga aku tidak mampu melepaskan diri. Ataukah memang aku yang tidak mau menjauh karena kehangatan tubuh Tora membuatku nyaman? Sungguh aneh perasaan ini.


"Tidurlah, Tomomi," kata Tora lembut sambil mengelus-elus kepalaku. Dikecupnya keningku sebelum akhirnya aku terlelap.


😴😴😴😴😴


**bersambung ke chapter 16!


gimana chapter ini? minta like dan comment yah..


matta ne**...

__ADS_1


__ADS_2