My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 18 - Moving On


__ADS_3

Tunggu sebentar! Untuk apa aku sembunyi? Makoto sudah tahu tentang Misaki, sehingga tak ada yang perlu aku rahasiakan lagi. Tapi apa yang akan dia lakukan kalau tahu Tora sedang menemui adiknya? Meskipun sikapnya dewasa, aku merasa Makoto menganggapku saingan cintanya. Saat mengajariku berdansa, mungkin saja dia sengaja meminta Tora supaya bisa menjadi contoh. Padahal, tujuan utamanya adalah membuatku cemburu. Lalu, ketika bertemu dengan Makoto di hotel juga. Makoto sengaja merahasiakan dengan siapa dia menginap agar tidak malu karena Tora meninggalkannya begitu saja.


"Ah! Kau!" seru Tora Kucing. "Sedang apa kau di situ?"


Aku tersentak karena Tora Kucing ternyata menyadari kehadiranku. Bodoh sekali aku! Sekarang apa yang harus kukatakan pada Makoto?


"Kemarilah, bodoh!" perintah Tora Kucing.


Mau tak mau, aku menurutinya. "Sedang menanam apa?" tanyaku, berpura-pura tertarik pada tanaman.


"Bunga tulip."


"Eh? Bisa tumbuh di sini?"


"Tentu saja! Kau sudah menjenguk Misaki-chan?"


"Sudah. Dia bilang kau sedang berkebun." Aku memperhatikan gundukan tanah bekas mereka menanam biji.


"Ya. Temanku datang. Dia mengajakku berkebun sambil mengobrol. Orangnya cantik sekali," kata Tora Kucing bersemangat.


"Oh ya?" Apakah Tora Kucing tahu Makoto adalah seorang Yakuza? Sebaiknya aku menjaga omonganku.


"Itu dia," Tora Kucing menatap lurus ke belakangku. "Biar aku yang menyiramnya."


Aku berbalik.


"Tomomi?" Wajah Makoto mengekspresikan keterkejutannya. Ia menyerahkan ember berisi air kepada Tora Kucing.


"Selamat siang, Makoto-neesan," aku membungkukkan badan.


"Kau kenal dengan Nao?"


Apa yang harus kujawab? Kalau aku bilang aku mengenalnya, apakah Makoto akan bertanya lebih lanjut? "Ya, lumayan," jawabku akhirnya. "Kau sendiri?"


"Dia temanku," Makoto melirik Tora Kucing yang sedang menyiram tanah. "Bisakah kita berbicara di tempat lain?"


"Bisa."


"Tunggu sebentar. Aku akan mencuci tanganku dulu."


Makoto mengajakku ke kantin. Ia memesan kopi dan membelikanku jus jeruk. Kami duduk berseberangan, mengapit meja kecil dengan sebuah gelas dan sebuah cangkir di atasnya.


Makoto menyeruput kopinya. "Suami Nao tewas tiga tahun yang lalu karena kecelakaan. Sebelum kejadian itu, mereka bertengkar hebat. Nao menyesal tidak sempat meminta maaf pada suaminya. Kemudian, dia menjadi depresi. Lama-kelamaan, dia terobsesi dengan kecantikan. Dia ingin selalu tampil cantik demi suaminya yang telah meninggal. Aku kasihan padanya karena dia anak tunggal. Kuajak saja dia bercocok tanam," ia tertawa kecil. Kecantikan Makoto memang luar biasa. Tubuhnya yang super langsing membuatku iri. Caranya meneguk kopi pun terlihat elegan. "Dari mana kau mengenalnya?" tanyanya.


"Aku dikenalkan oleh seorang teman," jawabku setelah berpikir kilat.


"Siapa?"


"Gadis yang sekamar dengannya."


"Eh? Kau kenal Tonomura Misaki?" Kedua mata Makoto terbelalak seolah dia baru saja mendengar informasi besar yang membuatnya sangat terkejut.


Aku mengangguk. Ada yang aneh dari sikap Makoto. Apa dia tidak tahu aku sering mengunjungi Misaki? Karena bingung harus berbicara apa, aku tidak berkomentar.


"Bagaimana kau mengenal Misaki?" tanya Makoto.


Baiklah. Aku akan mengarang cerita. "Kami pernah bertemu di sekolahku. Waktu itu sekolahku mengadakan sebuah acara yang mengundang siswa-siswi dari sekolah lain untuk berpartisipasi. Kebetulan Misaki adalah wakil dari sekolahnya. Misaki dan ketiga temannya membeli dango yang kujual di sana. Kami pun berkenalan," aku berpura-pura mengenang pertemuan palsuku dengan Misaki. Toh Makoto tidak tahu bahwa aku berasal dari Hokkaido dan baru datang ke Tokyo musim panas tahun lalu.


"Begitu ya," Makoto tampak percaya padaku.


"Ya. Aku kaget sekali saat mendengar kabar bahwa dia dirawat di sini. Karena itu, kadang-kadang aku datang menjenguknya. Makoto-neesan sendiri, apakah mengenal Misaki?"


Makoto menggeleng. "Aku hanya pernah membaca berita tentangnya di koran. Kupikir gadis muda seperti dirinya seharusnya menikmati hari-harinya sebagai remaja. Gadis yang malang."


Aha! Kei bilang Makoto tahu Misaki adalah adik Tora. Itu berarti Makoto berbohong untuk kedua kalinya. Apa mungkin dia ingin menjaga rahasia Tora? Kenapa Tora tidak memberitahunya bahwa akulah yang selama ini membantunya? Tapi jika Tora maunya begitu, akan kuturuti. "Memang sangat menyedihkan," kataku menanggapi.


"Kalau begitu, kita akan sering bertemu di sini ya, Tomomi."


Aku tersenyum tanpa mengiyakan. Deringan ponsel mengagetkanku. Tora. "Halo?" sapaku setelah menekan tombol hijau.


"Tomomi, kau ada di mana?" tanya Tora.


Jawaban 'sedang di kantin' akan membuat Makoto menyimpulkan bahwa aku tidak sendirian. Jadi, aku menjawab, "Aku sedang minum."


"Oh. Aku sudah selesai."


"Kau yakin?" tanyaku sambil melirik Makoto yang meniup-niup kopinya.


"Aku bisa datang lagi lain kali."


"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke sana," aku memutus sambungan telepon. "Makoto-neesan, maaf, aku harus segera pulang. Ada urusan mendadak," bohongku.


"Perlu kuantar?"


"Tidak usah. Aku bisa naik taksi," tolakku. Setelah meminum jus jeruk itu beberapa teguk lagi, aku berdiri dari kursiku. "Terima kasih untuk minumannya. Sampai jumpa."


"Sampai jumpa, Tomomi."


Aku membungkukkan badan, lalu pergi.


Aku mempercepat langkah kakiku begitu berbelok di ujung lorong. Hampir saja aku menabrak seorang pasien wanita yang juga sedang terburu-buru. Kupikir aku dan Tora sebaiknya segera pergi dari sini. Makoto tidak tahu sama sekali bahwa akulah yang menjadi penghubung antara Tora dan Misaki. Aku tidak tahu apa yang akan Makoto lakukan jika ia tahu. Aku pun tidak ingin berprasangka buruk padanya. Namun, bisa saja ia mengadukan masalah ini kepada Kumicho. Tapi kalau Makoto memang menyukai Tora, mungkin ia tidak akan melakukannya.


Ketika aku sampai di kamar Misaki, Tora Kucing telah bertengger di ranjangnya, Misaki telah terlelap, sedangkan Tora berada di samping ranjang Tora Kucing. Wanita itu terlihat bersemangat. Diajaknya Tora berbicara panjang lebar tanpa mempedulikan Misaki. Kini aku tahu alasan Tora memanggilku. Dalam hati, aku tertawa.


"Aku datang," kataku.


Tora Kucing menatapku tajam. "Jadi ini pacarmu?" tanyanya seraya mencoba menggenggam jemari Tora, tapi pria itu menarik tangannya.

__ADS_1


"Ada masalah?"


"Kau beruntung, gadis bodoh. Pria ini ganteng sekali!" Tora Kucing begitu mengagumi Tora. "Postur tubuhnya mengingatkanku pada suamiku yang gagah."


"Oh ya? Suami Anda seperti dia?"


Tora Kucing mengangguk. "Tapi suamiku lebih ganteng," lanjutnya. Dia tertawa girang.


"Kalau begitu, bisakah aku pulang sekarang?" tanya Tora tidak sabar.


"Ah!" Aku baru ingat tujuan Tora memanggilku kemari. "Yamazaki-san, kami pulang dulu. Lain kali kami akan datang lagi."


"Jangan lupakan aku, anak muda!" pesan Tora Kucing kepada Tora.


"Sampai jumpa," ucap Tora sopan.


Maka, kami pun meninggalkan rumah sakit. Dalam perjalanan pulang, aku melaporkan pertemuan tidak sengajaku dengan Makoto. Tora terkejut mendengarnya. Rupanya dia memang tidak memberi tahu Makoto bahwa aku adalah penghubung antara dirinya dan Misaki. Aku bertanya-tanya apakah Makoto percaya pada cerita karanganku tadi. Dan Tora malah bersyukur karena aku tetap merahasiakannya dari Makoto.


"Kau tidak percaya pada Makoto-neesan? Lebih percaya pada Kei-san?" tanyaku.


Tora mengangkat bahu tanpa melepaskan tatapannya dari jalan di depannya. Kedua tangannya mantap memegang setir mobil. "Kurasa ini bukan hal yang pantas untuk digembar-gemborkan. Aku memang lebih sering mengobrol dengan Kei, tapi bukan berarti aku tidak percaya pada Makoto. Lagipula, bukankah lebih baik jika hanya sedikit orang yang tahu masalah ini?"


"Ya," aku mengangguk setuju.


"Untunglah kau dapat mengarang cerita dengan cepat. Makoto adalah orang yang memiliki rasa penasaran tinggi."


"Sudah terlihat dari pertanyaan-pertanyaannya. Kenapa kau tidak memilih Makoto-neesan untuk mengunjungi Misaki?"


"Dia pernah menawarkan diri, tapi kutolak karena statusnya yang juga Yakuza."


"Jadi, tidak apa-apa bila aku yang ketahuan Kumicho?" candaku.


Tora tertawa. "Bukan begitu! Aku menghormati Kumicho. Akan lebih buruk bila orang kepercayaan seperti Makoto malah membantuku melanggar peraturan. Hukuman yang akan diterima Makoto tentu akan lebih berat dariku."


"Kau perhatian padanya ya," komentarku.


"Eh? Kau cemburu?" Tora tersenyum jahil seraya menepuk pahaku, lalu melirikku yang duduk di sampingnya.


"Tidak," kataku. Oke, aku cemburu, tapi tidak sepenuhnya. Pasti ada rasa posesif dalam diriku yang menginginkan Tora hanya untukku seorang. Namun, Tora adalah pria yang lurus, sehingga aku tidak perlu khawatir dia akan selingkuh. Lalu, aku? Aku tidak meragukan loyalitasku pada orang-orang yang kusayangi.


"Aku lega rencana kita berhasil," Tora tersenyum.


"Ya. Syukurlah semua berjalan lancar."


Tora mengangguk. "Misaki nampak sehat. Dia terus-terusan tertawa girang. Mungkin itulah yang membuatnya cepat lelah."


"Misaki memang penuh semangat. Walaupun tidak bisa kembali ke sekolah, ia tetap membaca buku pelajaran kesukaannya seolah tidak ingin ketinggalan. Aku senang kalian bisa bertemu. Bagaimana perasaanmu?"


Perlu waktu beberapa detik bagi Tora untuk menjawab, "Campur aduk. Terharu, bahagia, bersyukur, sedih karena tidak dapat melakukan yang lebih dari ini... Ya, semuanya."


Aku mengerti bagaimana rasanya bertemu lagi dengan orang yang selama ini dirindukan. Mereka terpisah bertahun-tahun, berharap dapat kembali bersama. Ini seperti cerita dalam film dengan akhir yang menyenangkan.


"Kau tidak boleh terlalu sering ke sana, Tora-san. Apalagi dengan adanya Makoto..."


"Ya, aku tahu," potong Tora.


"Seharusnya aku tidak berjalan-jalan ke kebun untuk melihat Yamazaki-san," aku mendengus kesal pada diriku sendiri. Kalau saja aku duduk menunggu di depan kamar Misaki, tentu aku tidak akan bertemu dengan Makoto.


"Justru hal itu akan membuat kita lebih hati-hati, Tomomi. Terima kasih telah memberitahukannya padaku."


"Sama-sama. Ah, sudah sampai," kataku ketika mobil Tora masuk ke dalam pelataran parkir apartemenku yang sederhana ini. "Kau mau masuk?"


Tora memberhentikan mobilnya di depan pintu masuk gedung. "Mungkin lain kali. Aku pun ingin membahas soal kepindahanmu. Tapi sekarang aku ada pekerjaan. Tadi bosku sudah menelepon waktu kita masih di rumah sakit," ia tersenyum.


"Eh? Kepindahan?" Seketika, jantungku memukul keras dadaku, seolah memperingati akan datangnya hari di mana aku dan Tora akan tinggal di tempat yang sama.


"Kau tidak melupakan janjimu kan?" Tora menatapku, menagih janji seperti anak kecil.


Aku mengangguk.


"Baguslah kalau begitu."


"Ya... Sampai jumpa, Tora-san..." Pikiranku melayang-layang. Aku bergerak tidak sesuai dengan keinginan otakku. Lambaian tanganku pada Tora-san kulakukan secara tidak sadar. Aku yang berjanji padanya untuk tinggal bersama, tapi aku sendiri yang ketakutan. "Bodoh sekali, Ayase Tomomi!" seruku sendirian.


Aku mencintai Tora. Hidup bersamanya adalah keinginanku yang paling besar. Tapi untuk sekarang, sepertinya aku belum siap. Masih ada kecemasan dalam diriku. Bagaimana kalau nanti kami malah tidak cocok setelah tinggal seatap? Bagaimana jika ternyata aku tidak sesuai dengan harapan Tora? Selama ini aku hanya mengetahui sisi luar Tora, kecuali tentang keluarganya, sama dengan Tora yang cuma melihat sisi luarku.


"Sudahlah, Tomomi! Kau menginginkan Tora, begitu juga sebaliknya. Apa yang perlu kau khawatirkan?" tanyaku pada bayanganku sendiri di cermin. Aku membayangkan akan seperti apa tinggal bersama Tora. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana Tora di rumah.


Tora memang pernah menginap di sini, tapi itu hanya 2 malam. Ya, dia sangat memperhatikan aku dengan membuatkan sarapan dan makan malam. Tapi waktu itu aku sedang sakit. Bukan tidak mungkin jika Tora hanya perhatian di saat aku sakit dan mengabaikan aku ketika sehat. Juga, tentang pekerjaannya sebagai Yakuza yang tidak mengenal waktu. Dan aku tidak bisa melarangnya melakukan tindak kejahatan.


"Tunggu sebentar! Sejak kapan aku mulai mempersoalkan status Tora?" Aku berdiam diri, berpikir.


🐢🐢🐢🐢🐢


Pada akhirnya, aku belum memutuskan sesuatu sampai saat Tora mampir ke apartemenku untuk berunding. Pria ganteng itu lebih banyak tersenyum belakangan ini. Kami duduk di kursi dengan meja makan sebagai pusatnya. Pintar sekali dia membuatku salah tingkah dengan memandangiku terus-menerus.


"Jadi, kapan kau akan pindah?" tanya Tora sambil menaik-turunkan alisnya.


"Itu... Aku belum tahu," jawabku jujur.


"Hmmm... Aku siap menerima kedatanganmu kapan pun."


"Begini, Tora-san..."


Tora memasang telinganya.


"Tora-san... Aku... Tora-san... Eeeh..."

__ADS_1


"Kenapa kau jadi gugup begitu?" Tora tertawa. "Kau ragu-ragu?"


Jantungku tak berhenti menghantam, seolah berontak untuk keluar dari rongga dadaku. "Bagaimana aku mengatakannya... Bukannya aku tidak mencintaimu, Tora-san, tapi aku bingung," aku menunduk karena tidak ingin menatap wajah Tora.


"Apa yang kau bingungkan?"


Oke, Tomomi. Ungkapkanlah keraguanmu padanya! Sekarang atau tidak sama sekali! "Apa kau benar-benar menginginkan aku untuk tinggal bersamamu?" tanyaku. "Beberapa hari ini aku terus memikirkan dan membayangkan akan seperti apa jadinya bila kita seatap. Aku tidak tahu bagaimana dirimu sehari-hari, kau pun sebaliknya. Kemungkinan buruk pasti ada kan? Misalnya, kau tidak suka jika aku begini, aku tidak suka jika kau begitu. Lalu, bagaimana kalau ternyata kita tidak dapat menyesuaikan diri?"


"Kau meragukan aku?"


"Bukan," aku menegakkan kepalaku, akhirnya. "Ini juga adalah keinginanku, tapi..."


"Kau takut?"


"Eh?"


"Tomomi, aku tidak melihat sesuatu yang jelek di sini. Mungkin hidup kita akan berubah sedikit, tapi kita pasti bisa menjalaninya," kata Tora. Nada bicaranya tenang dan mantap. "Kurasa ini tidak seburuk yang kau bayangkan. Kau takut pada pikiran-pikiranmu sendiri."


Tora benar.


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi sampai kita mengalaminya sendiri," Tora beranjak dari kursinya, lalu berlutut di hadapanku. Tangannya menggenggam tanganku. "Dengar, Tomomi. Kita tidak bisa meramalkan masa depan, tapi kita bisa menciptakannya." Ditatapnya mataku dalam-dalam. "Maukah kau menjadi masa depanku?"


Aku meleleh, sungguh-sungguh meleleh sampai ke bentuk cairan yang paling cair sedunia. Aku tidak tahu bagaimana dia melakukannya, tapi selalu saja dia dapat menghilangkan keraguanku dengan pikiran-pikiran positifnya. Seharusnya aku malu karena sepertinya cintaku tidak sebesar cintanya. Aku ingin menangis saking terharunya.


"Kenapa kau diam saja?" tanyanya polos.


Tora terlalu menggemaskan, sehingga aku memeluk lehernya. "Aku iri padamu, Tora-san," kataku.


"Eh?" Aku merasakan lengannya mengelilingi pinggangku.


Semakin erat saja pelukanku. Tubuhku mendorongnya sampai kami berdua terhuyung. Kepala Tora dan lututku membentur lantai. Kami berdua mengaduh, lalu tertawa-tawa.


"Kau tidak apa-apa?" tanyaku. Aku bertopang pada siku supaya bisa menatap wajah Tora. Berada sedekat ini dengannya terasa hangat.


Tora menggeleng.


"Maafkan aku, Tora-san."


"Untuk apa?" Tora menangkup wajahku dengan kedua tangannya.


"Aku iri padamu karena aku tidak dapat mengungkapkan perasaanku dengan kata-kata secara langsung sepertimu."


"Tidak apa-apa."


"Eh? Apa yang kau lakukan, Tora-san? Aduh! Sakiiit!" Suaraku semakin aneh karena Tora semakin menekan kedua pipiku. Bibirku monyong seperti ikan. Aku memejamkan mata keras-keras.


Tora tertawa dan akhirnya melepaskan tangannya. Girang sekali dia setelah mengerjaiku. "Bukankah panggilan -san terdengar terlalu sopan?"


"Tidak. Kau kan lebih tua dariku. Haruskah kupanggil ojisan?"


"Tidak!" serunya.


"Aku tahu! Taiga-san?"


"Tidak mau."


"Kenapa tidak mau? Itu nama yang diberikan ibumu sendiri."


"Tidak mau, ya tidak mau."


"Kau tidak menghormati ibumu," ledekku.


"Diam kau! Mau kumonyongkan lagi rupanya..." Tora menekan pipiku lagi dengan tangannya.


"Tidaaak!"


"Kapan kau akan pindah? Katakan! Kapan kau akan pindah?"


"Sakiiiiit!" Kurasakan nyeri di pipi bagian dalamku. Mulutku kembali monyong.


"Aku tidak akan melepaskan sampai kau menjawab pertanyaanku."


Aku berusaha membebaskan kepalaku, tapi Tora kuat sekali. Tak ada cara lain. Kucubit pipinya sekuat tenaga, membuatnya mengerang kesakitan. "Aku tidak akan melepaskan sampai kau berhenti."


"Kita lepaskan sama-sama?" tanya Tora akhirnya menyerah.


"Oke."


Kami berdua menertawakan kebodohan kami. Tora mengusap-usap pipinya, sedangkan aku menarik-narik pipiku seolah menjaga kekenyalannya.


"Aku ingin kau pindah secepatnya," kata Tora.


Sambil tersenyum, aku mengangkat tanganku ke samping kepala untuk menunjukkan sikap hormat. "Yes, Sir!"


🏒🏒🏒🏒🏒


Maka, aku pun bersiap-siap. Aku telah memberi tahu pemilik gedung apartemenku tentang kepindahanku 2 hari lagi. Si pemilik gedung malah bersyukur karena ada penyewa baru yang menawar lebih tinggi. Benar-benar hari yang baik.


Tora merahasiakan tempat tinggalnya. Untuk seorang yakuza, mungkinkah ia tinggal di sebuah apartemen mewah atau malah sebuah rumah besar seperti Makoto? Tapi Tora baru beberapa tahun ini menjadi Yakuza. Kurasa dia tidak ingin menonjolkan dirinya sebagai orang kaya.


Walaupun nanti tinggal bersama Tora, aku ingin tetap bekerja. Kemungkinan besar Tora akan setuju karena kami toh akan bertemu setiap hari. Pria baik itu tidak perlu mengkhawatirkan kesehatanku lagi.


🐐🐐🐐🐐🐐


**bersambung ke chapter 19!


bagaimanakah chapter ini?

__ADS_1


minta like dan comment yg banyak yaah


matta ne**...


__ADS_2