My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 17 - Reunite


__ADS_3

Permintaan Tora agar aku pindah ke rumahnya pasti akan kupenuhi, tapi aku menundanya sampai ingatan Misaki pulih. Aku tahu ini memakan waktu cukup lama. Namun, aku tidak ingin bersantai-santai ketika masih ada yang mengganjal. Jika aku tinggal bersama Tora, tentu aku ingin mengajak Misaki juga. Jadi, aku menemui Misaki secepatnya walaupun sedikit mencemaskan kesehatannya.


Kebetulan sekali Tora Kucing tidak ada di tempat. Wanita itu sedang berkebun di taman belakang rumah sakit. Aku baru tahu dia suka menanam.


Tora menyimpan selembar foto dirinya dan Misaki saat masih kecil, sehingga aku bisa meminjamnya untuk kuperlihatkan pada Misaki. Foto seorang bocah laki-laki yang sedang menggendong adik perempuannya di sebuah pantai itu agaknya membuat Misaki mengerutkan kening. "Siapa ini? Aku?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Kau ingat pernah ke pantai?"


"Mungkin pernah. Semua orang pernah ke pantai, Tomomi," Misaki tertawa.


"Kalau begitu, kau ingat siapa orang yang menggendongmu itu?"


Misaki memperhatikan wajah Tora kecil secara seksama. "Hmmm... Sepertinya tidak asing. Kau mengenalnya?"


"Dia adalah Tora-san."


"Pacarmu?" Mata Misaki terbelalak. "Kenapa dia bisa menggendongku?"


"Kau tidak ingat sama sekali?"


Misaki menggeleng. "Ah! Tunggu sebentar! Memang sepertinya aku pernah ke pantai ini. Aku pergi dengan Ayah dan Ibu. Lalu, kenapa ada Tora-san? Apakah kami bertemu di sana?" Gadis itu bicara sendiri. "Kalau tidak salah, ini di Okinawa."


Bagus sekali. Ada celah untuk memancing ingatan Misaki. "Kalian berlibur ke Okinawa?" tanyaku.


"Ya. Kami sekeluarga pergi ke sana dengan pesawat. Dari kecil, aku suka sekali pantai. Jadi, aku senang sekali waktu orangtuaku mengajakku."


"Wah! Kau bisa berenang?"


"Waktu itu belum, karena aku masih terlalu kecil. Aku belajar renang di sekolah."


"Oh ya? Aku sama sekali tidak bisa berenang sampai sekarang," aku tertawa, tapi Misaki tidak. Kurasa, inilah saat yang paling menegangkan. Aku harus bisa mengembalikan ingatan Misaki tanpa mengganggu kesehatan jiwanya.


"Tomomi, apakah aku seharusnya mengenal Tora-san?" tanya Misaki. Ia menatapku, menanti jawaban yang sesungguhnya.


"Bagaimana aku harus memulainya?" gumamku. "Apa kau merasa mengenal Tora-san?"


Misaki lagi-lagi menggeleng. "Tapi kenapa kami sepertinya mirip? Lihat ini! Rambut kami hitam legam, hidung kami sama-sama lancip, mata kami juga hampir sama. Apakah dia punya hubungan darah denganku?"


Kalau Misaki bertanya langsung seperti ini, aku tidak bisa melakukannya secara bertahap. Tapi nampaknya dia mau mengingat. "Kau mengenal orang yang bernama Tonomura Taiga?" tanyaku ragu.


"Nama keluarganya sama denganku. Taiga... Taiga..." Misaki mengulang-ulang nama asli Tora. Ia memejamkan mata untuk mencoba mengingat. "Tonomura Taiga... Taiga..." Keningnya kembali berkerut. "Taiga... Bagaimana aku memanggilnya? Taiga... Taiga-chanΒ­... Kenapa susah sekali?" Misaki terlihat berusaha keras sampai berkeringat.


"Tidak apa-apa kalau kau tidak bisa mengingatnya," kataku.


Misaki masih mencoba sampai beberapa menit kemudian. "Sedikit lagi aku akan melihatnya. Tonomura Taiga... Aduh! Kepalaku sakit! Tunggu sebentar!" Tiba-tiba, napas Misaki tersengal-sengal. Matanya dipejamkan sekeras mungkin. Ia memegangi kepalanya seakan hampir terlepas dari lehernya. "Ayah! Jangan pukul aku! Ibu! Dimana?" Misaki tiba-tiba berteriak-teriak.


"Misaki!" panggilku. "Sudah! Hentikan, Misaki!" Aku takut sekali melihatnya. Ini harus segera dihentikan.


"Aku tidak mau! Kau bukan ibuku! Ayah!" Suara nyaring Misaki nyaris memekakkan telingaku. "Kenapa Ayah melakukan ini?" Misaki menangis dalam ingatannya. "Aku harus pergi dari sini! Jangan sentuh aku! Ayah, aku sendirian." Tangisannya bertambah keras. Pundaknya bergetar.


"Misaki? Misaki!" Kupanggil-panggil lagi namanya, tapi dia tetap menangis. Aku belum pernah berhadapan dengan orang yang mengalami gangguan jiwa seperti ini, sehingga aku tidak memiliki pengalaman. Nenek pun tidak pernah memberitahuku bagaimana cara menanggulanginya. Lagipula, mungkin saja dia tidak tahu. Daripada kondisi Misaki bertambah buruk, sebaiknya aku memanggil suster. Buru-buru, aku mencari tombol pemanggil suster di tembok belakang tempat tidur Misaki. Banyak sekali tombol di sini sampai aku harus membacanya satu persatu.


"Taiga-niichan! Taiga-niichan!" seru Misaki.


Aku tersentak. "Eh?"


Air mata meluncur deras di pipi Misaki. "Taiga-niichan! Maafkan aku, Taiga-niichan!" Gadis itu terisak. Dia sudah lebih tenang sekarang. "Taiga-niichan..." Rupanya itulah cara Misaki memanggil Tora. Kedua matanya membuka.


Kupeluk Misaki sambil mengelus-elus kepalanya, mencoba menenangkannya. "Sudah, Misaki. Kau tidak perlu menangis. Kami menyayangimu," kataku lembut.


"Tomomi... Tonomura Taiga adalah kakakku. Benar kan?"


Aku mengangguk.


"Anak laki-laki di foto itu adalah Taiga-niichan. Kami sekeluarga pergi ke Okinawa tak lama sebelum Ayah dan Ibu bercerai. Aku ikut Ayah, sedangkan Taiga-niichan ikut dengan Ibu. Kami hidup terpisah. Ayah menikah lagi dan ibu tiriku sering memukulku. Aku bertemu lagi dengan Taiga-niichan ketika dia sudah menjadi..." Misaki tidak menyebutkan pekerjaan Tora. "Tomomi, apakah itu benar?" Ia menatapku.

__ADS_1


"Ya. Tonomura Taiga atau Tora adalah seorang Yakuza. Tapi kau tidak perlu khawatir. Kami merahasiakan dirimu selama ini. Tidak akan terjadi apa-apa," aku tersenyum.


"Aku ingin bertemu dengannya."


Aku mengangguk. "Dia juga ingin sekali bertemu denganmu."


"Terima kasih, Tomomi," Misaki berbaring lelah di ranjangnya, lalu menghapus air matanya sendiri. "Maaf, aku mengantuk sekali."


"Tidurlah dulu. Aku dan Tora-san akan mengatur waktu untuk pertemuan kalian."


"Oh ya. Sekarang namanya Tora..." Misaki langsung pulas.


Aku sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Tora jika kuberi tahu tentang kabar menggembirakan ini, melompat seperti anak kecil. Dokter Minami pun telah kukabari mengenai ini dan dia sangat lega. Setelah diperiksa, Misaki berada dalam kondisi normal. Sedikit shock, tapi tidak akan berpengaruh terhadap kesehatan jiwanya. Misaki sudah siap untuk bertemu Tora.


πŸ¦”πŸ¦”πŸ¦”πŸ¦”πŸ¦”


Benar saja apa yang kuperkirakan. Tora melompat kegirangan di tengah jalan ketika aku bilang bahwa ingatan Misaki telah pulih. Memalukan sekali pria ini. Beberapa orang memperhatikan kami sambil berbisik-bisik. Bisa jadi mereka mengira aku akan menghadiahkan 'sesuatu' untuk Tora sampai dia segembira ini.


"Tidakkah kau takut, Tora-san?" Jujur, aku heran pada Tora. Aku mengerti keinginannya untuk bertemu dengan Misaki. Apalagi, sekarang adiknya itu telah mengingatnya. Tapi jika mengingat dirinya yang melanggar peraturan klan, aku merasa harus memikirkannya kembali. Lagipula, pertemuan ini juga akan membahayakan nyawa Misaki. Mungkin pertemuan ini akan berhasil, tapi bagaimana selanjutnya? Cepat atau lambat, mereka akan tahu.


"Kau takut?" balas Tora. Ia menatapku dalam-dalam.


"Ah... Aku..." Jelas aku takut. Membayangkannya saja sudah membuatku jantungan. Aku teringat mimpiku tentang pertemuan Tora dengan Misaki. "Aku tidak mau kau mati," kataku. Bagiku, rencana kami mengandung risiko sangat besar.


"Dari mana kau tahu soal ini?"


Aku menundukkan kepala. "Kei-san yang memberitahuku," jawabku.


"Oh," Tora menghela napas. "Ini tidak seburuk yang kau bayangkan, Tomomi. Dengar, semua akan berjalan lancar. Oke?" Pria itu memeluk tubuhku yang mulai bergetar.


Aku tidak protes, juga tidak mengiyakan. Aku hanya diam.


"Kalau kau takut, aku akan menemui Misaki sendirian."


"Tidak ada pilihan lain, Tomomi. Aku tidak mau melibatkanmu lebih dari ini."


"Tapi aku sudah telanjur terlibat!" Sekarang aku baru protes.


Kedua tangan Tora memegang pundakku. "Ini masalahku," katanya.


"Ini juga masalahku! Dari awal, ini telah menjadi masalahku. Aku ingin membantumu, Tora-san. Kumohon, biarkanlah aku membantumu. Aku tidak takut!" Aku berbohong, tapi Tora pasti bisa membacanya.


Tora tersenyum. "Tomomi, gadisku yang paling baik, tak ada yang perlu kau khawatirkan," katanya lembut.


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Kalau kau mati, aku..." Mataku mulai berair. Aku menahan air mataku sendiri.


"Aku tidak akan mati."


"Kau mau berjanji?" desakku. Anggukan Tora membuatku sedikit lega, tidak sepenuhnya. Perasaanku masih tidak enak. Bagaimana kalau yang terjadi malah sebaliknya? Bagaimana kalau mimpiku jadi kenyataan? Aku tidak mau memikirkannya, tapi tetap saja mimpi itu masih teringat jelas. Aku yang telah berusaha mengembalikan ingatan Misaki, aku pula yang ragu-ragu mempertemukan mereka. Bodohnya aku.


Tora memelukku lagi. "Bila kita ketahuan...," kata Tora sebelum mengambil jeda beberapa detik. "Aku ingin kau ikut denganku. Kita akan pergi dari Tokyo. Kau, aku, dan Misaki. Kau mau kan?" bisiknya.


Pria ini betul-betul mencintaiku. Dia tidak mau meninggalkan aku sendirian. Bisa saja dia pergi bersama adiknya tanpa peduli pada nasibku. Tapi dia ingin aku ikut bersamanya. Artinya dia ingin melindungiku, menginginkan aku untuk terus berada di sampingnya. Karena itu, aku mengangguk dan memeluknya erat-erat.


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Aku dan Tora merencanakan waktu untuk bertemu dengan Misaki. Tora tidak mempunyai jadwal kerja tetap di luar klub. Terkadang ia mendapatkan perintah mengantar Kumicho atau ikut dalam acara makan malam. Selama rencana ini belum ditetapkan, aku tidak datang ke rumah sakit. Kami ingin ini menjadi kejutan untuk Misaki. Aku membayangkan bagaimana reaksi gadis itu ketika bertemu dengan Tora yang sekarang, karena Tora waktu kecil jelek sekali. Entah sejak kapan ia berubah menjadi pria ganteng idaman semua perempuan. Biasanya aku tidak tertarik pada laki-laki ganteng, tapi aku telah mencintai Tora sebelum dirinya mencukur habis kumis dan jenggotnya.


Tora selalu membuatku berdebar-debar. Dia mengatakan segala yang ingin kudengar seolah dapat membaca pikiranku. Tak jarang aku dibuat diam seribu bahasa oleh tatapannya yang tajam. Sorot mata Tora begitu misterius, tapi penuh dengan harapan, seakan aku dapat melihat masa depanku di sana. Pembawaannya yang kalem membuatku nyaman. Senyumannya, ditambah lesung pipinya, memberiku semangat setiap hari. Dia berbeda dengan Yakuza yang kubayangkan sebelumnya.


"Tomomi, kau mendengarkan aku?" tanya Tora, membuyarkan lamunanku tentang dirinya.


"Oh, ya, aku dengar," kataku.


Kami sedang duduk berseberangan di dalam sebuah kedai okonomiyaki. Tora memegang sepasang sendok pipih berbahan stainless steel untuk membalikkan okonomiyaki di kedua tangannya. Di meja kami, makanan berbentuk lingkaran itu masih belum matang. Tora bersandar di kursi sambil menyipitkan matanya. "Apa yang kukatakan barusan?" tantangnya.

__ADS_1


"Eeeh... Itu..." Aku sama sekali tidak tahu.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Bukan apa-apa," jawabku cepat sambil menunduk karena malu.


"Hmmm... Baiklah. Aku bilang hari Minggu nanti aku bisa menemui Misaki di rumah sakit."


"Tinggal 3 hari lagi!" ujarku bersemangat.


Tora membalikkan okonomiyaki-nya dengan cekatan tanpa berantakan. "Aku sudah tidak sabar," ia tersenyum malu-malu, membuatku ingin mencubit pipinya.


"Kalau begitu, kita akan ke sana hari Minggu. Kira-kira akan bagaimana reaksi Misaki begitu melihatmu ya? Aku yakin dia akan terpana melihat kakaknya yang keren ini," aku menunjuk wajah Tora.


"Eh? Ya, aku memang keren. Tidak, aku bercanda. Sebentar lagi ini matang," Tora salah tingkah.


Aku senang bisa membantu Tora sampai sejauh ini. Pertemuannya dengan Misaki nanti akan menjadi yang pertama kali setelah gadis itu tinggal di rumah sakit jiwa. Mereka berdua telah menunggu dan menantikannya. Aku harus yakin segalanya akan berjalan lancar sesuai rencana. Jika Tora pergi sendirian, mungkin dia akan dicurigai. Tapi jika aku ikut, para anggota klan akan percaya bahwa Tora hanya mengantarku untuk memeriksakan kejiwaanku. Aku rela dicap sebagai orang gila. Siapa yang tidak gila bila menyangkut soal cinta?


🐾🐾🐾🐾🐾


Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Tora tidak bisa berhenti tersenyum sejak kami berangkat sampai tiba di rumah sakit. Ia sendiri yang memilihkan bunga untuk Misaki. Langkah tegapnya menambah keyakinanku bahwa ini akan berhasil. Kakak beradik dari keluarga Tonomura akan bertemu. Aku memimpin dengan berjalan di depan karena akulah yang tahu kamar Misaki.


"Biar aku yang masuk dulu," kataku begitu sampai di depan kamarnya. Aku menyembulkan kepalaku, mengintip ke dalam. Kulihat Misaki sedang membaca buku yang kubawakan beberapa minggu lalu. Tora Kucing tidak ada. "Selamat pagi!" sapaku.


Misaki terkejut. Wajahnya sumingrah begitu menemukanku. "Pagi! Masuklah, Tomomi," katanya sambil meletakkan bukunya di pangkuannya.


Aku melangkah masuk. "Bagaimana kabarmu hari ini? Maaf ya, aku baru bisa mengunjungimu sekarang."


"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit kesepian karena belakangan ini Yamazaki-san seringkali berkebun. Sepertinya ia masih mempunyai anggota keluarga yang rajin menjenguknya. Kalau keluarganya datang, mereka pasti langsung keluar. Aku tidak punya teman mengobrol. Tetapi kadang-kadang orang itu membawakan aku bunga. Mungkin dia tahu dari Yamazaki-san tentang kesukaanku pada bunga," Misaki tertawa kecil. "Ah! Kau tidak membawakan aku?" Ekspresinya langsung berubah cemberut.


"Tidak. Tapi aku membawakan sesuatu yang lebih besar," kataku. Senyum jahilku keluar.


"Apa itu?" Misaki terlihat bersemangat. "Kau tidak membawa tas besar."


"Aku tidak bisa membawanya dengan tangan, karena yang ini benar-benar besar," aku mundur selangkah demi selangkah ke pintu dan tertawa ketika melihat Tora sedang merapikan pakaiannya di luar. Kadang-kadang pria ini seperti pelawak. "Sana masuk," bisikku.


Tora mengangguk mantap. Pria jangkung itu mengintip Misaki. Seperti dugaanku sebelumnya, Misaki sangat terkejut sampai hampir melompat dari ranjang. Gadis itu menjatuhkan bukunya. Tora berjalan cepat ke samping ranjang Misaki untuk mengambil buku itu dari lantai dan menaruhnya di meja.


"Ta-Taiga-niichan!" ujar Misaki sambil terus menatap wajah kakaknya.


"Kau mengingatku?" tanya Tora.


Misaki mengangguk keras-keras. "Taiga-niichan!"


Jelas sekali ada kejengahan di antara mereka. Keduanya bersikap malu-malu. Pasti banyak sekali yang ingin mereka bicarakan. Sebaiknya aku meninggalkan mereka, memberikan kakak beradik itu waktu pribadi untuk melepas kangen. Setelah ini, mereka tetap tidak bisa sering bertemu. Kuharap Misaki bisa mengerti pekerjaan Tora sebagai Yakuza.


Aku tidak tahan berdiam diri duduk di ruang tunggu, maka aku berjalan-jalan di lingkungan rumah sakit. Teringat Tora Kucing yang sedang berkebun, aku memutuskan untuk mengintipnya sejenak di kebun yang terletak di sisi samping. Rumah sakit ini cukup luas, sehingga para pasien bebas melakukan kegiatan di luar kamar mereka, seperti menyalurkan hobi maupun sekedar bersantai.


Suster Misaki pernah bercerita mengenai para pasien yang sengaja ditinggalkan oleh keluarga mereka. Mungkin mereka tidak mengingatnya, tetapi kebanyakan dari mereka gila akibat ulah keluarga mereka sendiri. Contohnya, Misaki. Karena latar belakang keluarganya, Misaki jadi gila dan tidak pernah dijenguk oleh orangtuanya. Hanya Tora yang peduli padanya, tapi juga tidak dapat mengunjunginya secara rutin.


Tora sudah tidak peduli pada orangtuanya. Dia tidak tahu di mana ayah dan ibunya, juga tidak berminat untuk mencari mereka. Nasib Tora dan Misaki lebih buruk dariku. Dulu aku menaruh dendam pada ibuku, tetapi sekarang tidak lagi. Aku telah merelakannya. Akan lebih bahagia bila membiarkan segalanya berjalan begitu saja. Lagipula, aku memiliki orang-orang yang menyayangiku.


"Ah, itu dia mereka," gumamku begitu menemukan Tora Kucing yang sedang berjongkok memunggungiku bersama dengan seorang wanita yang juga berjongkok di sebelahnya. Aku langsung mengenalinya karena boneka kucing itu tak pernah lepas dari pelukannya.


Mereka berdua memasukkan sebuah biji ke dalam tanah, lalu menguburnya dengan menggunakan sekop kecil. Kedua wanita itu nampak asyik, sehingga aku tidak berani mengganggu. "Aku akan mengambil air," kata tamu Tora Kucing. Ia berdiri dan berbalik.


"Makoto-neesan!" bisikku terkejut ketika melihatnya. Makoto kenal dengan Tora Kucing. Apa hubungan mereka? Apakah saudara kandung? Teman dekat? Saudara sepupu? Aku bersembunyi di balik dinding. Bila diperhatikan, sepertinya mereka kenal baik karena mereka nampak kompak. Makoto juga menanam berbagai macam bunga di taman rumahnya. Dia dan Tora Kucing mempunyai hobi yang sama.


πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”


**bersambung ke chapter 18!


gimana chapter ini? minta like dan comment yg banyak yaaahhh


matta ne**...

__ADS_1


__ADS_2