
Hari pementasan tiba tepat pada malam Natal. Aku dan rekan-rekan lainnya sudah berada di aula sejak pagi. Padahal, acara dimulai pukul 3 sore. Kami memakai kostum di ruang ganti. Aku mengikuti saran Makoto untuk menggunakan lensa kontak. Agak sulit pada awal pemasangannya karena aku belum terbiasa. Tapi kuberanikan diri untuk meletakkan lensa kecil itu di bola mataku. Banyak orang memiliki lensa kontak berwarna-warni, tapi aku lebih memilih yang bening saja. Aku memasang kostum Cinderella di badanku. Nyaman sekali, bahannya halus dan tidak membuatku gatal. Dress ini pasti sengaja dibuat agar aku bisa bergerak bebas. Rupanya mereka tahu aku tidak begitu suka yang ketat. Lalu, aku memakai wig pirang di kepalaku dan membuat diriku sendiri nampak seperti orang-orangan.
Setelah semua terpasang, aku keluar untuk didandani. Mereka melihatku seperti melihat hantu. Ya, tentu saja aku jelek. Kulit pucatku tidak sesuai dengan warna apa pun. Dan rambut pirang ini memalukan sekali.
"Ayo, ayo. Cepatlah kalian bergerak! Waktu tinggal 2 jam lagi," perintah Taguchi-sensei kepada penata panggung dan para kru lainnya. "Ah! Cinderella, kau cantik sekali," lanjutnya senang ketika menemukanku.
"Aku lebih cantik, sensei," potong Koizumi yang tiba-tiba muncul dari depan panggung. Ia mengenakan kostum dengan warna menyolok dan pita yang banyak.
"Sudah kuduga kostum itu cocok untukmu," Taguchi-sensei bertepuk tangan, lalu menghampiri Koizumi, sedangkan aku pergi ke ruang rias.
Pemeran ibu tiri, dan kedua saudari tiri masing-masing memiliki 2 macam kostum, yaitu kostum untuk di rumah, serta kostum pesta dansa, sehingga para penata rias mendandani mereka dengan 2 macam riasan pula. Tetapi aku memiliki 3 kostum. Bisa dibayangkan betapa repotnya diriku dan para penata riasku. Namun, aku menerima apa pun yang mereka usapkan di wajahku karena memang pada dasarnya aku tidak bisa dandan. Dengan gaya layaknya bos, Koizumi banyak protes hingga membuat mereka kesal.
Masing-masing dari kami boleh mengundang satu orang dari luar sekolah untuk menonton. Karena Nenek berada jauh di Hokkaido dan Misaki tidak bisa keluar dari rumah sakit, maka aku mengundang Tora, jika ia bisa datang. Aku tahu dia sibuk sampai seringkali mendapatkan panggilan dadakan pada tengah malam. Kalau dia tidak datang, bukan masalah bagiku.
Tepat pukul 3 sore, tirai panggung dibuka. Kursi penonton sudah penuh dan hanya lampu panggung yang dinyalakan. Kami, para pemain, berada di belakang panggung, menunggu giliran keluar.
"Kau siap?" bisik Seiji yang tak kusadari berada di sebelahku. Cowok ganteng itu mengenakan kostum Pangeran berwarna merah tua. Pada dasarnya, ia memang ganteng. Memakai kostum apa pun, Seiji pasti tetap ganteng seperti biasa.
Aku mengangguk mantap, lalu keluar dari belakang panggung. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirku berada di sini. Berpasang-pasang mata sedang menontonku. Peranku sekarang adalah sebagai Cinderella yang baru mempunyai ibu dan 2 orang saudari tiri. Kulihat Koizumi sudah memelototi aku dari tadi. Dia pasti telah mempersiapkan segalanya untuk menindasku. Mereka semua menyuruhku mengerjakan ini dan itu seperti di skenario. Kemudian, sang ibu tiri mendapatkan undangan pesta dansa dari kerajaan. Pangeran berniat mencari istri.
Kami masuk ke belakang panggung, digantikan oleh Pangeran di dalam istana. Aku kagum pada kru penata panggung. Dekorasinya sangat bagus dan menarik. Suasana istana terasa sekali dengan lampu-lampu cantik beserta mebel yang antik dengan ukiran di sudut-sudutnya.
Aku berganti kostum yang kedua, yaitu kostum pesta dansa yang nantinya akan disobek sana-sini oleh kedua saudari tiriku. Pembuat kostum sudah mempersiapkan jahitan-jahitan mana yang akan terlepas dan melapisinya dengan kain di bagian dalam. Aku hanya tinggal bertindak sebagai Cinderella yang lemah, cengeng, dan tertindas. Aku tidak pernah menyukai bagian ini.
Koizumi juga sudah berganti kostum. Dia cantik sekali mengenakan gaun berwarna emas, sedangkan saudarinya merasa minder dengan warna pink. Ya ampun, Koizumi Rina. Dia benar-benar ingin menjadi ratu sejagat.
Para pemeran wanita kembali ke atas panggung. Cinderella menyiapkan segala sesuatunya bagi sang ibu serta kedua saudari tirinya, padahal ia sendiri belum bersiap-siap. Sahabat-sahabat Cinderella, yaitu burung-burung dan tikus-tikus telah membuatkan gaun pesta untuknya. Namun, begitu ia memakainya, saudari tirinya langsung berang.
Koizumi menatapku tajam. Dia pasti suka sekali bagian di mana aku akan menjadi yang tersiksa. Aku bisa melihat dari sinar matanya yang ingin membuatku menderita. Awalnya, ia menarik pita di bagian rokku. Pita itu copot begitu saja sesuai skenario dan jahitannya. Saudari tiriku menarik sebelah lengan gaunku sampai lepas dengan mudah. Kemudian, Koizumi melangkah mendekatiku dan mendorongku hingga jatuh.
Kurasa ini tidak ada dalam skenario.
Aku bangkit berdiri. Kulirik Taguchi-sensei yang sedang mengawasi dari balik tirai. Dia diam saja. Mungkin menurutnya ini adalah improvisasi. Koizumi menjambak wigku. Untungnya aku menjepit erat rambut palsu pirang itu di rambut asliku. Lalu, Koizumi menarik leher gaunku dengan seluruh kekuatannya. Bagian itu sobek sampai memperlihatkan separuh dadaku. Penonton langsung bersorak.
Sangat tidak ada dalam skenario.
"Apa yang kau lakukan?" bisikku pada Koizumi sambil mencoba menutupi dadaku.
"Rasakan!" serunya. Sorot matanya liar sekali. Dia pasti sudah gila.
Selanjutnya apa? Kulirik sekali lagi Taguchi-sensei. Kali ini ia tampak khawatir, tapi tetap tidak melakukan apa-apa. Kalau aku harus memikirkannya sendiri dengan mempertimbangkan keberhasilan drama ini, lebih baik aku kabur.
Ternyata tindakanku tepat. Mereka meneruskan jalan cerita ke acara pesta dansa. Sang ibu tiri bersama kedua anaknya datang ke istana dengan kereta kuda. Pangeran berkenalan dengan mereka bertiga, lalu berdansa bergantian, sedangkan aku masih berkutat dengan kostumku yang sobek. Para penata kostum memasangkan pengait di bagian dalam kostumku agar tidak memperlihatkan dadaku lagi.
Aku pun keluar untuk adegan pertemuan Cinderella dengan peri baik hati. Sulit sekali berpura-pura menangis. Terakhir kali aku menangis adalah pada saat ditinggalkan Ibu. Peri pun datang dan mengayunkan tongkat ajaibnya. Aku kembali ke belakang panggung untuk berganti kostum.
"Cinderella, kemarilah," panggil Taguchi-sensei saat aku baru keluar dari ruang ganti.
"Ya, sensei," aku menghampirinya dengan susah payah, karena ternyata sulit berjalan dengan sepatu high heels di dalam gaun panjang ini.
"Lakukanlah adegan ciuman dengan Seiji!" perintahnya.
"Haaa? Itu tidak ada dalam skenario!" protesku.
"Aku sudah membahasnya bersama Seiji, dan dia tidak keberatan."
__ADS_1
Aku tidak mau membicarakan ini, sehingga aku langsung masuk ke ruang rias untuk didandani. Tapi ternyata Taguchi-sensei mengikutiku.
"Ini demi keberhasilan drama," bujuknya.
"Tetap saja itu tidak ada pengaruhnya."
"Dengar, Ayase," Taguchi-sensei akhirnya menyebut namaku. "Penonton sudah dikejutkan oleh Koizumi yang menyobek gaunmu dengan brutal. Kita harus memberikan kejutan manis pada akhir cerita."
"Tidak! Aku tidak mau!" kataku tanpa menoleh kepada guruku itu karena wajahku sedang dipoles. Aku hanya meliriknya dari cermin.
"Aku yakin penonton akan menyukainya. Dan kau akan menjadi murid paling populer di sekolah karena telah berciuman dengan Seiji."
"Apa? Aku sudah cukup populer karena memperlihatkan dadaku di depan umum," ujarku pesimis.
"Sudah selesai," kata si penata rias padaku sambil tersenyum. "Kau cantik sekali."
Aku memperhatikan pantulan diriku sendiri. Mataku bertambah bulat, hidungku terlihat mancung, pipiku merona seperti buah peach, bibirku berwarna pink muda dan terlihat penuh. Wig pirang yang tadinya kusut akibat dijambak Koizumi, sekarang sudah tersanggul rapi di kepalaku. Bahkan, mereka menambahkan bando biru, senada dengan gaun tanpa lengan yang kupakai. Sepatu kaca Cinderella telah disiapkan untukku. Memang bukan dari kaca sungguhan, tapi tetap berkilau.
"Kau sudah cantik begini. Sayang sekali kalau tidak dilakukan," kata Taguchi-sensei, lalu menepuk pundak si penata rias dengan puas.
"Melakukan apa? Wow! Tuan putri, kau cantik sekali!" Seiji muncul di ruang rias dan langsung girang begitu melihatku. Kedua matanya berbinar menatapku dari atas sampai bawah.
"Benar kan? Bujuklah dia agar mau melakukan adegan ciuman itu!" pinta Taguchi-sensei kepada Seiji. Pria tinggi langsing itu segera keluar untuk mengurus hal-hal lainnya.
Seiji menghampiriku. "Kalau kau tidak mau, kita berpura-pura saja," katanya. "Aku akan menutupi wajahmu dengan kepalaku. Hanya itu."
"Ya...kalau begitu, aku oke saja. Janji ya! Hanya pura-pura!" Aku bukannya terlalu percaya diri dan tidak mempercayai Seiji. Tapi mengingat bahwa dulu dia naksir padaku, aku jadi sedikit berhati-hati terhadapnya. Mungkin saja dia masih menyimpan perasaan suka walaupun dia tidak pernah menyatakannya secara langsung. Buktinya, dia setuju-setuju saja waktu Taguchi-sensei menambahkan adegan tidak penting itu.
Seiji keluar duluan. Dia menanti kedatanganku di tengah panggung. Lampu sudah menyorot padanya. Sekarang giliranku. Kakiku melangkah pasti menghampiri Seiji. Penonton langsung ribut, entah mereka mentertawakanku atau memujiku. Pangeranku itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya, mengajakku berdansa.
Cinderella dan Pangeran berputar-putar di atas panggung bersama 2 pasang penari lainnya. Ketika jam berbunyi 12 kali, sihir Cinderella akan hilang dan ia akan kembali seperti sebelumnya, dengan pakaian sobek. Sebelah sepatu kacanya terlepas di tangga, tapi ia tidak sempat memungutnya lagi. Cinderella benar-benar pergi meninggalkan Pangeran. Namun, Pangeran menyimpan sepatu Cinderella dengan harapan dapat bertemu lagi dengannya.
Untuk babak terakhir, Pangeran mencari pujaan hatinya, yaitu si pemilik sepatu kaca. Dia mengadakan perjalanan ke seluruh negeri, hingga tibalah dia di rumah Cinderella. Gadis malang itu tidak bisa keluar karena dikunci oleh ibu tirinya di loteng. Ibu tiri serta kedua saudari tirinya mencoba sepatu kaca tersebut, tapi tidak pas. Kemudian, tikus-tikus menolong Cinderella dengan mencuri kunci dari saku ibu tirinya. Cinderella dapat mencoba sepatu kaca yang dibawa oleh Pangeran. Dan ternyata ia juga masih menyimpan pasangannya. Pangeran memboyong Cinderella ke istana dan mereka hidup bahagia selamanya. Tamat.
Itulah skenario yang belum direvisi. Kata 'tamat' di situ telah dicoret oleh Taguchi-sensei dan ditambahkan 'Pangeran dan Cinderella berciuman di balkon istana. Tamat'. Uh! Aku tidak suka bagian ini. Tapi tak apalah, selama hanya pura-pura.
"Boleh kulakukan sekarang?" bisik Seiji yang sudah memeluk pinggangku.
Samar-samar, aku mengangguk. Maka Seiji memiringkan kepalanya, membelakangi penonton untuk menutupi wajahku. Aku menutup mata agar adegan ini terlihat betulan. Bisa kurasakan hembusan napas Seiji di pipiku. Dan saat itu juga, bibir Seiji menempel di bibirku. Mataku langsung terbuka lebar karena terkejut, sedangkan Seiji semakin erat memelukku. Kenapa jadi begini?
Seiji melepaskan bibirnya, lalu tersenyum. Kami berdua berdiri menghadap penonton yang memberikan sorakan meriah terhadap pementasan kami. Mereka berdiri sambil bertepuk tangan. Seluruh pemain serta para kru muncul di panggung untuk memberi salam. Kami semua membungkukkan badan dan melambai-lambaikan tangan. Tirai panggung mulai menutup. Dan ketika antara tirai kanan dan kiri tinggal berjarak 30 sentimeter, aku menangkap sosok Tora yang sedang berdiri di dekat pintu aula.
Tora datang. Tora datang dan melihat semuanya.
Kejadian itu kontan membuatku populer, seperti kata Taguchi-sensei. Foto ukuran besar adegan dadakan itu dipajang di papan pengumuman dengan judul "Cinderella atau Itik Buruk Rupa?" Hal itu pasti berhubungan dengan penampilanku di atas panggung. Ya, aku berubah menjadi gadis cantik berambut pirang di sana layaknya seekor itik buruk rupa yang menjadi angsa putih bersahaja. Di sebelahnya, terdapat foto Koizumi yang sedang mempreteli gaunku. Foto itu tidak diberi judul. Mungkin karena sudah menjadi rahasia umum.
Tapi, di atas semua itu, aku bersyukur pentas berjalan lancar. Aku berhutang banyak pada Makoto dan Tora. "Ah...Makoto-neesan dan Tora..." gumamku di atap gedung sekolah. Aku sedang makan siang. Angin sejuk menerpa tubuhku yang kurus, tapi aku tidak keberatan, karena inilah yang kubutuhkan. Udara segar dan bersih. Sudah lama aku tidak mengunjungi Misaki. "Sedang apa ya dia? Sebaiknya aku menelepon Tora. Siapa tahu dia bisa mengantarku." Jari-jariku sudah hafal nomor telepon Tora saking seringnya aku menelepon untuk melaporkan perkembangan Misaki.
"Halo, Tomomi," sapanya. Suara berat khas Tora yang kukenal.
"Tora-san, aku ingin mengunjungi Misaki. Apa kau ada waktu?" tanyaku.
"Tentu. Kujemput sepulang sekolah."
"Oke. Hatchi!" Aku bersin.
__ADS_1
"Kau tidak apa..."
"Sedang apa kau?" Suara Seiji. Aku menoleh dan menemukan cowok ganteng itu. Dia terlihat gembira sekali.
Buru-buru aku memutuskan sambungan teleponku dan memasukkan ponselku di saku rok. Aku masih kesal soal ciuman itu. Maka aku buru-buru membereskan makananku dan berniat pergi dari sini. Melihat tampang Seiji saja sudah membuat kepalaku pusing.
"Oi! Kau mau ke mana?" panggilnya. Tahu aku tidak akan menjawabnya, ia mengikutiku. Ditariknya lenganku dari belakang, sukses membuat kotak makananku jatuh berantakan. "Ah!" Seiji menatapku. Ekspresinya menandakan bahwa ia tidak sengaja. "Maaf..." katanya pelan. Aku mendengus, lalu membereskan makanan yang berserakan di lantai semen atap. "Biar kubantu."
Aku bangkit berdiri, berniat pergi meninggalkannya.
"Hei! Tunggu, Tomomi!"
Sebenarnya aku kasihan padanya jika dia harus membereskan makananku. Itu memang hasil perbuatannya, tapi itu makananku. Entah dapat dari mana rasa kasihan yang ada pada diriku. Meninggalkan Seiji memberi kesan tidak bertanggung jawab, sehingga aku balik lagi untuk membantunya. Kami membersihkan lantai tanpa bicara apa pun. Mungkin Seiji merasa tidak enak padaku, tidak menyangka aku akan sekesal ini. Jelas sekali ada kebingungan di antara kami.
Waktu itu pun begitu. Yang aku maksud adalah sekitar 2 bulan yang lalu, saat aku harus menjauhi Seiji atas pemintaan Koizumi. Sampai sekarang aku menyesalinya. Aku hanya ingin mempunyai teman baik di sekolah ini. Kukira Koizumi akan menjadi salah satunya jika aku bersikap baik. Tetapi ternyata dia tidak menghargai apa yang sudah kulakukan. Aku malah kehilangan Seiji yang selalu menemaniku dari awal aku duduk di kursi kelas I-A.
Hiromitsu Seiji. Murid kelas I-A yang cukup populer karena wajah dan bakatnya di bidang olahraga, khususnya lari jarak pendek. "Panggil saja aku Seiji," katanya ketika kami berkenalan. Dulu ia sering memintaku menunggunya untuk pulang sekolah bersama. Selain mengerjakan PR di kelas, yang kulakukan sore hari adalah menonton Seiji latihan di lapangan. Larinya memang cepat sekali. Posisinya dalam keadaan siap memang bagus. Selain itu, aku suka sifatnya yang ramah kepada siapa pun, termasuk kepadaku yang anak baru.
Kami sering pulang bersama karena menggunakan kereta yang sama. Hanya saja, ia turun duluan di satu stasiun sebelumnya. Di kereta, kami selalu duduk bersebelahan, kecuali ada nenek atau ibu yang tidak mendapatkan tempat duduk. Seiji selalu bersedia memberikan kursinya bagi mereka. Dia juga rendah hati dan suka menolong teman-temannya. Dia pecinta hewan yang pernah memungut seekor kadal yang terjebak di lubang galian proyek. Kadal itu ia pelihara di rumahnya.
Dalam pelajaran formal, Seiji termasuk pandai. Nilai-nilainya jauh lebih tinggi dariku hingga nyaris menjadi juara angkatan. Aku yang sedang-sedang saja ini terkadang merasa minder berada di dekatnya, tapi dialah yang mengajariku sampai nilaiku lebih baik dari Koizumi. Penjelasannya sangat mudah dimengerti. Dia pernah bilang bahwa aku bisa menyamai dirinya kalau aku belajar lebih giat. Ya, aku memang pemalas.
Seiji pernah mengajakku kencan, tapi aku menolak. Memang akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri bisa berkencan dengan salah satu cowok ganteng di sekolah. Masalahnya, aku tidak tertarik padanya. Aku hanya ingin berteman dengannya. Dia tidak marah, juga tidak mengubah sikapnya. Entah apa yang dilihatnya dari diriku ini. Berkacamata, kurus, pendek, bodoh, malas. Segala keburukan ada padaku.
Suatu hari, Koizumi menyuruhku menjauhinya. Sudah pasti aku bingung. Seiji mungkin menyukaiku, tapi Koizumi menyukai Seiji. Pada waktu itu, yang kupikirkan adalah betapa bagusnya kalau mereka berdua jadian. Koizumi yang cantik dan Seiji yang tampan. Cocok sekali. Aku berterus terang kepada Seiji soal ini, bahkan menyarankan agar ia mengajak Koizumi untuk kencan. Namun, Seiji tidak setuju denganku. Dia marah. Sejak itu, kami tak lagi saling bicara sampai saat aku dan dia bermain dalam drama Cinderella.
Aku bersyukur Seiji yang jadi Pangeran karena dia tidak pernah merendahkan aku yang tak juga pandai berdansa. Kalau orang lain, mungkin sudah menghinaku sepenuh hati. Oleh karena itu, aku mau mempelajari waltz agar bisa mengimbanginya, tidak ingin membuatnya malu.
"Maaf, ya," kata Seiji sembari menundukkan kepala saat membuang sisa makananku di tempat sampah.
Aku bingung, maaf untuk yang mana yang barusan ia katakan, apakah gara-gara ciuman itu atau karena menjatuhkan makananku. Jadi aku diam saja.
"Nanti sore akan kutraktir ramen."
Ternyata untuk makanan. "Nanti sore aku akan pulang cepat," kataku. "Hatchi!" Aku bersin lagi. Sepertinya aku terlalu lama berada di atap, sehingga membuat hidungku tersumbat.
"Dengan orang itu?"
"Ya." Aku tahu maksudnya adalah Tora.
"Apa yang kau sukai darinya?" Seiji pasti sudah mendengar gosip tentang aku, sehingga ia menganggap aku berpacaran dengan Tora.
Aku tidak sedang pacaran dengan siapa pun. Perlukah kuberi tahu Seiji tentang ini?
"Kelihatannya dia datang waktu pementasan drama. Apa dia melihatku menciummu?" tanyanya.
Sudah pasti Tora melihatnya, bodoh!
"Apa dia cemburu?" tanyanya lagi. "Aku tidak akan minta maaf soal ciuman itu."
♦️♦️♦️♦️♦️
**bersambung ke chapter 6!
ada apa ya dengan Seiji? kayaknya ada yg aneh hehehe...
__ADS_1
semoga kalian suka yah. minta like dan comment yg banyaaakk 😁😁
matta ne**..