
Meskipun tidak tahu apa yang akan kulihat, tapi aku mengangguk.
Aku membuka kancing kemejanya satu persatu. Awalnya, kukira Tora memakai pakaian dalam di bawah kemejanya, tapi itu bukanlah kain, melainkan kulitnya. Sekejap tubuhku langsung membeku memandangi kulit Tora. Setelah kemeja benar-benar lepas seluruhnya, aku baru melihatnya dengan jelas. Gambarnya berupa salur-salur belang coklat-hitam yang dibentuk sedemikian rupa dari perut bagian bawah sampai melewati pundak, menuju ke punggung. Terdapat warna kehijauan berbentuk dedaunan yang memotong salur-salur itu. Dari jauh, tato Tora nampak seperti rompi.
Aku tersadar dan beralih ke belakang Tora. Namun, jantungku sempat berhenti berdetak saat kulihat sepasang mata harimau dewasa sedang menatapku tajam di punggung Tora. Warna matanya emas mengilat. Mulutnya terbuka, menunjukkan taringnya yang tajam. Kumisnya panjang berwarna putih. Wajahnya mengekspresikan kemarahan dengan kening berkerut dan sikap siap untuk menerkam. Di sekitar harimau itu terdapat bunga-bunga sakura yang berwarna-warni.
"Tomomi?" panggil Tora, mengagetkanku.
"Ya?"
"Maaf, telah membuatmu takut."
"Oh, tidak! Harimaumu lucu seperti kucing," bohongku. Segera saja kualihkan mataku ke kotak P3K untuk mencari obat gosok. Punggung Tora memar besar sekali di bagian belakang si harimau. "Kau dipukul dengan apa?"
"Tongkat kayu," jawab Tora.
"Tidak heran. Warnanya mengerikan. Akan kuberikan obat gosok supaya memarnya cepat kempes. Sebenarnya kau berkelahi dengan siapa?" Aku menekan tube obat gosok untuk mengeluarkannya sedikit di jariku, lalu mengoleskannya di punggung Tora.
"Berandalan. Tidak sengaja, aku menabrak salah satu dari mereka di jalan. Lalu, mereka memerasku."
"Haa? Yakuza dikeroyok berandalan?" Aku menahan tawa. "Kenapa kau tidak membalas?"
Tora mengangkat bahu. "Aku tidak ingin memperpanjang masalah. Apalagi mereka membawa tongkat, sedangkan aku tidak bersenjatakan apa pun."
"Memangnya kau mau ke mana dengan berjalan-jalan memakai sandal hotel? Kenapa malah berakhir di sini?" tanyaku ingin tahu.
"Oh! Sandal itu... Aku lupa menukarnya dengan sepatuku karena terburu-buru kemari."
"Kemari? Untuk apa?"
"Kemarin aku seperti melihatmu di hotel itu. Apa benar itu kau?"
Jadi Tora mengira itu hanya bayanganku. Aku bisa memakluminya karena dia sedang mabuk. Mungkin pengaruh sake masih ada saat ia ingin pergi dari hotel, sehingga lupa menukar sepatunya. Bodoh sekali dia. Tapi yang paling ingin kuketahui adalah apa yang dia dan Makoto lakukan di kamar hotel. Kalau mereka bermalam bersama, kemungkinan besar yang terjadi adalah 'itu'.
"Tak kusangka kau mengingatnya," kataku. "Aku bekerja di hotel itu, lalu aku melihatmu datang bersama Makoto-neesan. Kau mabuk sekali, sedangkan Makoto-neesan masih segar bugar. Ia dan beberapa pelayan hotel menggotongmu masuk ke dalam elevator. Setelah itu, aku tidak tahu lagi." Aku yakin nada bicaraku terdengar seperti orang yang sedang cemburu.
Tora berbalik secara tiba-tiba. Cepat sekali tenaganya pulih. "Tidak ada yang terjadi!" katanya tegas seraya menatapku.
"Eh?"
"Percayalah padaku, Tomomi! Tidak ada yang terjadi!"
Aku jadi salah tingkah. "Oh... Sebenarnya kau tidak perlu memberitahuku soal ini kan? Karena apa pun yang kalian lakukan, bukan urusanku. Jadi..."
Kata-kataku terpotong karena Tora memelukku erat sekali. "Aku menyukaimu, Tomomi," bisiknya di telingaku.
Apa aku tidak salah dengar? Tora menyukaiku? Hanya detak jantungku dan jantungnya yang dapat tertangkap olehku. Kukira dia sudah jadian dengan Makoto, tapi sekarang dia bilang menyukaiku. Apa ini betulan?
"Tomomi," panggil Tora.
"Ya?"
Tora melepaskan pelukannya. Ia meletakkan kedua tangannya di pundakku dan menatapku dalam-dalam. "Kau tidak apa-apa?"
Aku mengangguk pelan, melongo seperti orang bodoh. Wajahku pasti jelek sekali.
"Maafkan aku kalau membuatmu kaget. Apa kau masih...menyukaiku?"
"Ya!" jawabku cepat.
"Syukurlah," Tora kembali memelukku.
"Tapi... Bagaimana dengan Makoto-neesan?"
"Makoto? Ah, kemarin dia memang mengantarku ke hotel. Aku ketiduran sampai jam tiga pagi. Setengah sadar, aku keluar dengan masih mengenakan sandal hotel. Aku tidak membangunkan Makoto karena dia pulas sekali. Aku ingat kau ada di hotel, sehingga aku mencarimu ke seluruh penjuru hotel. Ada pelayan hotel yang memintaku kembali ke kamar, tapi aku menolak. Aku bahkan lupa nomor kamarku."
__ADS_1
"5152," kataku.
Tora tergelak. "Jam 5 pagi, aku keluar hotel dan berjalan kaki. Kepalaku pusing sekali. Kemudian, orang-orang itu datang. Aku hampir tidak bisa membalas pukulan mereka. Jadi, kuputuskan untuk kabur. Sampailah aku di sini, tapi kau tidak ada. Aku tidak meneleponmu karena kupikir kau masih tidur."
"Lalu kau menungguku seharian ditemani oleh luka-lukamu ini?"
"Begitulah."
Aku menertawakannya sambil menunjuk wajahnya yang penuh memar itu. "Kenapa kau tidak pulang dulu?" tanyaku.
"Kupikir hari ini kau tidak sekolah."
"Hari Minggu aku kerja dari pagi sampai malam. Maaf, aku tidak memberitahumu sebelumnya."
"Tidak apa-apa. Aku yang terlalu sibuk."
"Tapi kenapa kau pergi dari hotel tanpa memberi tahu Makoto-neesan? Kau bahkan tidak meninggalkan pesan?"
Tora berpikir sebentar. "Aku tidak tahu. Kurasa itu tidak penting. Makoto pasti juga akan langsung pergi begitu tahu aku tidak ada."
Bukti berkata lain karena Makoto belum check out sampai saat aku mengantarkan makanan ke kamarnya. Dia bahkan berbohong padaku dengan mengatakan Tora sedang berenang. Bila Makoto memang menyukai Tora, bukankah seharusnya ia memanas-manasi aku? "Akan kubuatkan teh untukmu," kataku.
Aku beranjak ke dapur, lalu mengambil cangkir dan bubuk teh. Sembari menuang air panas, aku melirik Tora. Lama-kelamaan, aku terbiasa dengan tato di tubuhnya. Aku menganggapnya sebagai suatu seni. Yakuza memang begitu. Mungkin tidak ada seorang Yakuza pun yang di tubuhnya tidak ada tato. Walaupun kecil, mereka pasti punya. Aku jadi membayangkan bagaimana reaksi Misaki kalau dia tahu kakak kesayangannya memiliki tato seperti itu. Dia pasti akan kaget setengah mati.
"Sudah jadi. Tora-san?" Baru sebentar kualihkan mataku ke cangkir, ternyata Tora malah tidur. Posisinya telungkup. Punggungnya pasti nyeri sekali.
Aku mengambil selimutku dan menyampirkannya dari kaki hingga punggung Tora. Di sini tidak ada baju yang bisa ia pakai karena ukuranku terlalu kecil baginya. Jadi, kunyalakan penghangat ruangan. Wajahnya terlihat seperti anak kecil. Napasnya berat. Sebaiknya aku tidak mengganggunya lagi. Kuminum teh yang tadinya untuk Tora, lalu mandi. Aku juga perlu tidur, sehingga aku memilih sofa.
Apakah kemarin Tora dan Makoto tidur seranjang? Nampaknya Makoto adalah orang yang pandai memanfaatkan kesempatan. Sayang sekali rencananya tidak berjalan lancar. Dan sekarang aku baru menyadari alasan Makoto berbohong. Ia merasa malu jika aku mengetahui yang sebenarnya. Tora meninggalkannya begitu saja di hotel. Wanita itu berpikir aku akan menertawakannya.
Mataku terpejam, tapi masih sadar. Kubayangkan domba-domba berlarian dan mencoba untuk menghitungnya satu persatu. Sampai hitungan ke-100, aku belum juga pulas. Kuganti posisi tidurku dan kuhitung lagi domba-domba itu.
😴😴😴😴😴
"Maaf, aku berisik," kata Tora yang sedang memegang penggorengan kecilku di atas kompor berapi kecil.
"Eh? Oh, Tora-san," aku mengerutkan dahi, masih belum sepenuhnya mencapai bumi, juga tidak ingat Tora menginap di sini. Dan sekarang aku jadi grogi. "Kau sedang membuat apa?"
"Sarapan," jawabnya tanpa menoleh.
"Kau bisa masak?"
"Tentu. Aku terbiasa memasak untuk diriku sendiri," Tora tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya lagi. Ia membalikkan sesuatu di dalam penggorengannya. Kuperkirakan itu adalah telur dadar. Caranya memegang sumpit dan penggorengan sudah seperti koki betulan. Aneh rasanya melihat pria bertato berada di dapur. Apalagi sedang memasak seperti itu. Tapi tentu saja Tora keren sekali. Aku suka laki-laki yang pandai memasak karena tidak perlu merepotkan istrinya bila dia lapar.
"Chef Tora," ledekku, membuatnya tertawa.
"Ayo makan," ajaknya sambil meletakkan telur itu di piring. "Maaf, aku memakai dapurmu tanpa izin. Mesin cucinya juga."
Aku menoleh ke mesin cuciku yang berada di samping kamar mandi. Suara motornya yang halus akhirnya berhasil ditangkap oleh telingaku. "Tidak apa-apa," kataku sebelum menguap lebar sekali. "Jam berapa sekarang?"
"Jam enam pagi."
Kepalaku pusing, tapi hari ini aku harus sekolah. "Kau tidak apa-apa berada di sini? Bosmu tidak mencarimu?"
"Aku sudah meneleponnya untuk minta izin libur selama beberapa hari."
"Tak kusangka Yakuza bisa mendapatkan hari libur."
"Kami hanya harus menginformasikannya kepada Aniki agar mereka tahu apa yang kami lakukan." Tora meletakkan 2 buah piring berisi telur dadar di atas meja makan. "Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Makanlah dulu. Akan kuantar kau ke sekolah," katanya.
Tidak memikirkan hal-hal yang tidak penting, itulah sifatku. Tapi untuk urusan ini, kurasa aku perlu memikirkannya lagi. Malam itu, Tora mabuk berat hingga tidak akan ingat apa yang telah dilakukannya. Apakah Makoto berpikir akan percuma jika aku mengetahui yang sebenarnya karena Tora pun tidak akan ingat bila aku bertanya? Tora terlalu mudah mempercayai orang. Karena itulah dulu dia meminta bantuanku menjenguk Misaki. Padahal, bisa saja aku berkhianat dengan membocorkannya pada si botak Goro. Tora bahkan tidak bisa membaca bahasa tubuh Makoto yang jelas-jelas menunjukkan rasa cintanya. Dia juga tidak menyadari perasaanku. Tora bodoh.
🍳🍳🍳🍳🍳
"Tomomi?" panggil Tora. Pria itu mengenakan kacamata hitam yang tadi dibelinya di jalan ke sekolah. Matanya yang bengkak itu terlalu menyolok dipandang. Punggungnya masih sakit. Tadi aku sempat mengoleskan obat sebelum berangkat. Ia memakai bajunya yang telah dicuci, beserta long coat-nya.
__ADS_1
"Eh?"
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak."
"Kita sudah sampai," katanya.
"Oh...ya. Terima kasih telah mengantarku," aku melambai padanya.
Tora mencondongkan badannya, lalu mencium pipiku. "Belajar yang rajin ya, Tomomi," bisiknya sebelum tersenyum dan pergi.
Seluruh badanku terasa panas. Ini pertama kalinya seorang laki-laki mencium pipiku dan aku menyukainya. Apakah seorang Yakuza bisa manis begitu? Kalau Kei, aku percaya karena dia merangkap sebagai host. Mereka tidak mungkin mendapatkan pelatihan tentang cara-cara memikat perempuan. Pusing di kepalaku lenyap seketika.
Aku tidak bisa berhenti senyum saat melewati lorong menuju kelasku, sehingga aku menundukkan kepalaku agar wajahku tertutup rambut. Sesampainya di kelas, aku disambut oleh teriakan teman-temanku yang meledek. Rupanya mereka melihat aku dan Tora di depan gerbang. "Cinderella sudah menemukan pangerannya!" sorak mereka. Beberapa temanku yang perempuan memuji-muji penampilan Tora yang memang ganteng sekali dengan kacamata hitamnya. Mereka tidak tahu Tora memakainya hanya untuk menyembunyikan bengkak.
"Ayase, kau sudah dengar belum? Kami akan mengadakan acara perpisahan untuk Koizumi. Bulan depan dia resmi keluar dari sekolah ini. Apa kau mau ikut?" Mereka mulai membicarakan acara itu satu sama lain sambil menunggu jawabanku. Aku menoleh ke kursi Koizumi Rina yang masih kosong. Dia belum datang. "Tentu," kataku mantap.
Acara perpisahan akan diadakan di sekolah pada malam sebelum kepergian Koizumi. Mereka sudah mendapatkan izin dari Kepala Sekolah dan Wali Kelas dengan syarat harus menjaga kebersihan dan tidak merusak properti sekolah. Siapa pun boleh datang untuk meramaikan acara tersebut. Masing-masing orang boleh mempersembahkan pertunjukan atau memberikan hadiah sebagai kenang-kenangan kepada Koizumi.
Aku masih belum tahu akan membuat apa. Kreativitasku sangat terbatas. Aku tidak pandai menyanyi, apalagi memainkan instrumen musik, sehingga tidak mungkin aku membuat lagu. Kemampuan bahasaku pun sangat minim. Jadi, membuat puisi dicoret dari daftar. Pelajaran yang paling kukuasai adalah olahraga, tapi aku tidak mungkin berlari keliling lapangan basket untuk Koizumi. Aku pun bingung hadiah apa yang bisa kubelikan untuknya karena ia adalah anak orang kaya yang sudah mempunyai segalanya. Jika membelikannya baju bayi, rahasia Koizumi akan terbongkar, bahwa ia sedang hamil.
😎😎😎😎😎
"Aaaarggghh! Aku bingung!" seruku di kamar Misaki. Aku sedang mengunjunginya. Tak lupa aku membawakan bunga untuk dipajang di mejanya.
"Sabarlah, Tomomi. Masih ada waktu sebulan," kata Misaki menenangkanku. Dia nampak sehat dan lebih berisi. Rambutnya sudah bertambah panjang hingga punggung. Cantik sekali.
"Sebulan itu sebentar, Misaki. Kita melewati hari demi hari, minggu demi minggu, dan tiba-tiba bulan sudah berganti. Lagipula aku kerja. Otomatis aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal lainnya sampai terlupakan dengan sendirinya. Aku pun jadi jarang kemari. Maafkan aku."
Misaki tertawa. "Tidak apa-apa. Aku sudah punya teman sekamar. Karena itu, aku tidak akan kesepian," katanya sambil melirik Tora Kucing yang sedang tidur nyenyak sekali hingga tidak terbangun oleh teriakanku tadi.
Ponselku berbunyi. Ada pesan dari Tora yang isinya, "Kau sudah pulang? Hati-hati di jalan." Sontak aku tersenyum sendirian seperti orang gila. Kurasa aku tertular virus dari rumah sakit ini.
"Bahagia sekali kau. Pesan dari siapa? Pacarmu?" goda Misaki. Anggukanku membuatnya terkejut. Kedua matanya membelalak. "Kenapa tidak memberitahuku? Teman sekolah atau jangan-jangan..."
"Hmmm? Jangan-jangan... Siapa?" Aku tidak bisa menahan tawaku saking senangnya.
"Temanmu yang bernama Tora?"
"Kau ingat namanya?"
"Tentu saja! Bukankah dia yang menitipkan salamnya untukku?"
Aku baru ingat bahwa Misaki tidak mengenali namanya. Mungkin jika mendengar nama asli Tora, memori tentangnya akan muncul. Tapi apakah Misaki sudah boleh diberi tahu soal ini? Aku terlalu takut untuk membocorkan semuanya.
"Seperti apa orangnya? Ada fotonya?" tanya Misaki penasaran.
"Sayang sekali tidak ada foto. Orangnya tinggi besar, hidungnya mancung, wajahnya ganteng, rambutnya hitam."
"Wah! Aku ingin yang seperti itu!" seru Misaki bersemangat seolah aku bisa melihat simbol jantung di kedua matanya. "Kau beruntung sekali, Tomomi!"
"Selera kita sama ya," aku tertawa.
"Selamat ya, Tomomi!" Misaki girang sampai memelukku. "Boleh tidak, kalau kau mengajaknya kemari?"
"Eh?" Aku langsung membayangkan bagaimana jadinya pertemuan mereka nanti. Mungkin Misaki akan tetap tidak mengenali Tora dan Tora pun akan berpura-pura tidak kenal. Atau Misaki akan mengingat Tora, lalu jatuh pingsan. Dan seterusnya.
♦️♦️♦️♦️♦️
**bersambung ke chapter 15!
gimana chapter ini? semoga kalian suka yah hehe..
matta ne**..
__ADS_1