
Resepsionis memberikan kunci kamar kepadaku. Sementara wanita itu mengambil kotak obat, Kei terus-terusan memegangi perutnya. Pukulan Goro mengenai tulang rusuknya. Pasti sakit sekali. Tora pernah dipukuli sampai bengkak, tapi ia besar. Kurasa luka Kei lebih parah daripada Tora waktu itu. Aku jadi bertanya-tanya apakah Kei masih bisa menjadi host bila luka di wajahnya membekas.
Kami melewati lorong panjang yang hanya muat untuk 2 orang. Lampu-lampu di atas kami bercahaya redup, bahkan ada yang sudah tak menyala.
"Ini dia," kata Kei merujuk ke sebuah pintu bernomor 112 di sebelah kiri.
Aku dan Kei masuk ke kamar kami yang lebih rapi dari bayanganku. Kamar mandinya cukup bersih walaupun sempit. Kekhawatiran utamaku adalah tempat tidurnya. Sebuah ranjang untuk 2 orang mendominasi kamar. Lemari kecil berada tepat di sudut dalam. Tak ada televisi, apalagi kulkas. Hanya ada sebuah meja telepon di pinggir ranjang. Terdapat kursi kayu di sebelah lemari. Setidaknya mereka memberikan 2 botol air mineral di sebelah pesawat telepon.
"Duduklah dulu, Kei-san. Akan kuambilkan air," kataku. Kuletakkan tasku di lantai, lalu beranjak ke meja telepon, lalu kubukakan sebotol air untuk Kei. Begitu aku berbalik, pandangan mataku tertuju pada punggung Kei. Dan itu membuatku terpaku. Jantungku berdegup kencang sekali seperti akan meledak. Tanpa sadar, aku mundur selangkah. Tumitku terantuk kaki meja sampai nyaris membuatku jatuh.
Seekor naga berbadan biru dan bersirip punggung hijau yang melingkar-lingkar di hampir seluruh punggung Kei sedang menatapku dengan bola matanya yang berwarna perak. Bentuk badannya langsing padat, sisiknya berkilau keperakan, keempat kakinya yang kuat seakan mampu mencengkeram apa saja yang menjadi mangsanya. Latar tato itu mirip sebuah lautan atau danau berwarna hijau toska. Semakin lama, aku semakin mengaguminya, sehingga membuatku ingin masuk ke dalam lukisan itu.
Panggilan Kei melonjakkan pundakku. "Boleh kuminta airnya?" tanyanya sambil tersenyum miring. Orang ini tidak berusaha menutupi tatonya sama sekali.
"Eh? Ya! Silakan!" aku memberikan botol yang entah sudah berapa lama berada dalam genggamanku itu kepada Kei.
"Kau yakin tidak ada air liurmu di dalam sini?"
"Ha? Tentu tidak! Dasar bodoh!" seruku.
Kei tertawa, lalu meneguk minumannya dengan rakus. "Kau tidak perlu memandangku seperti itu, Tomomi-chan. Kau pernah melihat harimau Tora-kun kan?"
Aku mengangguk. Segera saja kubuyarkan lamunanku mengenai tato Kei. "Biar aku mengobati lukamu," aku melangkah ke hadapan Kei untuk memeriksa perutnya. Aku bukan dokter, tapi kalau hanya luka luar, aku bisa membantu.
Terdapat memar di rusuk sebelah kiri bagian bawah. Goro pasti menghantamnya keras sekali sampai meninggalkan luka seperti itu. Entah bagaimana Kei menahan sakitnya, tapi ia pasti merasakannya ketika bergerak. Tak kusangka seorang host dapat berkelahi. Dalam bayanganku sebelumnya, para host hanyalah kumpulan laki-laki lemah yang hanya bisa melayani tamu-tamu wanitanya dengan kata-kata manis. Mereka dibayar untuk memberikan kesenangan dan kenyamanan bagi para tamu. Tentu saja mereka berdandan agar terlihat tampan. Biasanya tamu-tamu memilih host yang berwajah tampan dan berpakaian menarik.
Kei memang tampan luar biasa, dengan kulitnya yang seputih salju. Hidung mancungnya membuatku beranggapan bahwa dia orang Barat. Tapi warna bola matanya hitam seperti orang Asia pada umumnya. Badannya kurus hingga memperlihatkan tonjolan tulang iganya.
Namun, untuk ukuran Yakuza, Kei tidaklah menyeramkan. Sejak pertama kali bertemu dengannya di depan host club itu, aku tidak menangkap aura Yakuza dari dirinya. Karena itu, aku terkejut saat ia bilang bahwa ia adalah seorang Yakuza. Dan sekarang, tato di punggungnya adalah bukti nyata dari kata-katanya. Naga biru itu benar-benar indah.
Kei menarik napas ketika aku menyentuh luka di perutnya.
Di dalam kotak obat terdapat berbagai macam obat luka. Lebih banyak dari harapanku. Dengan cepat, aku menemukan sebuah tube obat memar. Dan aku berjongkok untuk mengoleskan obat itu.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Kei.
"Eh?" Aku melirik ke atas. "Aku sedang mengobatimu," kataku.
"Katakanlah sesuatu. Lelucon atau hal-hal memalukan."
Aku tergelak. "Memangnya kenapa?"
"Sepi sekali," Kei menunduk malu. "Ah... Hujan. Kau dengar?"
Perlu waktu beberapa detik bagiku untuk menyadari suara tetesan air hujan di luar. Tak lama kemudian, baru terdengar suara petir menggelegar. "Lebih baik?" tanyaku.
Kei mengangguk.
"Baiklah. Sekarang wajahmu," aku bangkit berdiri setelah selesai mengoleskan obat pada perutnya. Dan aku pun beralih ke wajah Kei. Kuperhatikan luka gores di tulang mata kanan dekat alis dan sudut bibir sebelah kirinya. Dua-duanya berdarah.
__ADS_1
"Aku sudah tidak tampan lagi ya?" tanya Kei tiba-tiba.
Tawaku meledak di hadapannya.
"Teganya kau menertawakan aku," protes Kei sambil cemberut. "Aku ini host. Aku harus menjaga baik-baik asetku satu-satunya."
"Kau tidak bisa menjadi host lagi kalau lukamu ini membekas?"
"Aku bisa menyembunyikannya dengan make up," Kei tersenyum.
Darah mengalir lagi dari lubang hidung Kei. Buru-buru aku mengambil kapas untuk menyumpalnya. "Tahanlah seperti ini," kataku. Sementara Kei memegangi kapas, aku membersihkan luka di bagian wajah lainnya. Pria itu meringis waktu aku mengoleskan cairan antiseptik di lukanya. "Luka di wajahmu akan sembuh dalam 2 hari," aku berlagak layaknya seorang dokter kulit.
Kei tergelak. "Terima kasih, dokter," ucapnya. Aku sedang membereskan kotak obat ketika ia bertanya, "Kau pernah berkelahi kan?"
"Pernah," jawabku.
"Kau pasti lebih hebat daripadaku."
"Eh? Lawanku hanya teman-teman sekolahku. Ketiganya perempuan."
Setelah mengambil jeda selama 5 detik, Kei berkata, "Mungkin aku pun tidak akan menang melawan perempuan." Pria itu menunduk lagi.
Aku menatapnya, bingung harus menanggapi dengan apa. Hujan semakin deras. Suaranya membuatku merasakan dinginnya malam ini. Apalagi sekarang suasananya agak aneh. Apakah Kei ingin melanjutkan pembicaraan ini? Sepertinya ia ingin bercerita, tapi aku tidak dapat menebaknya. Biasanya Kei akan mengatakan kalimat itu sambil tertawa-tawa mempermalukan dirinya sendiri. Tapi kali ini dia terlihat serius. Entah kenapa dia jadi tegang begini.
"Aku belum pernah menceritakannya kepada siapa pun selain Tora-kun. Dan sekarang aku akan mengatakannya padamu. Rahasia masa lalu Fujiwara Akira," kata Kei bangga.
"Nama aslimu?"
Cerita ini bakal panjang. Aku memutuskan untuk menggeser kursi dan duduk di seberang Kei.
"Aku lulus sekolah dasar dengan nilai pas-pasan. Ayah dan Ibu tidak mau datang ke acara kelulusan karena hal itu akan memperburuk citra mereka. Sekolah menengah tak membuatku semakin berprestasi. Sekolah seperti mimpi buruk bagiku. Aku sering dipukuli oleh orang-orang yang seharusnya menjadi teman sekelasku."
"Kau tidak membalas?" tanyaku akhirnya.
"Tidak."
"Mengadukannya?"
"Aku pernah melaporkannya kepada wali kelasku, tapi sepertinya beliau lebih membela anak-anak pintar daripada aku yang tidak ada apa-apanya."
Aku semakin penasaran. "Lalu, bagaimana kau bertahan?"
Kei tersenyum simpul. Pria itu melangkah mendekatiku. "Aku membunuhnya," ujarnya sambil menatap kedua mataku yang terbelalak. Sorot mata Kei menampakkan kesuraman masa lalunya.
Jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku takut pada Kei sampai seluruh tubuhku merinding. Ini bukan karena dingin, tetapi aura Kei-lah yang membuatku gelisah.
Wajah Kei, yang membungkuk, tepat berada di depan wajahku. Ia menunjukkan deretan giginya yang rapi. Dan tawanya pun meledak. "Kau tidak perlu takut begitu, Tomomi-chan!" serunya sambil menunjuk hidungku.
Aku mendengus kesal. "Jadi itu bohong?"
__ADS_1
"Tidak. Itu benar. Aku membunuh salah satu di antara anak-anak itu saking kesalnya." Santai sekali Kei berbicara demikian, seolah tak ada beban yang ditanggungnya dengan menghilangkan nyawa orang lain. "Dan sejak itu, aku tidak pernah datang ke sekolah lagi. Kemudian, aku bertemu Kumicho."
"Kau tidak ditangkap?" tanyaku.
"Ayah membayar pengacara mahal untuk membebaskanku dari penjara, tapi ia tidak ingin melihatku lagi. Aku menerima perjanjian itu. Kebetulan sekali, aku memang dilarang untuk berhubungan dengan keluargaku lagi setelah bergabung dengan Hanazawa-gumi."
"Apakah kau menyesal?" Seharusnya aku tidak menanyakannya karena sepertinya Kei tidak mau membahasnya.
"Setiap hari sampai detik ini," jawab Kei.
Hidup dengan penyesalan pasti sama sekali tidak menyenangkan. Setiap orang memiliki hal yang disesali. Aku mengerti bagaimana rasanya dibebani oleh sesuatu yang akan selalu menghantui. Kei hidup dalam kesuraman masa lalu.
"Nampaknya Kumicho tidak ingin aku terus-terusan larut dalam penyesalanku, sehingga ia menempatkanku di host club. Bekerja sebagai host tidak mengharuskanku untuk membunuh. Setiap malam aku hanya menemani para wanita kesepian yang selalu saja menceritakan soal rumah tangga atau masalah cinta mereka."
"Adakah yang menyatakan cinta padamu?" tanyaku ingin tahu.
"Tentu saja banyak," Kei menaik-naikkan alisnya dengan penuh percaya diri.
"Apakah host dilarang untuk jatuh cinta kepada tamunya?"
"Ya. Cinta hanya akan membuatmu bersikap tidak adil. Untungnya aku memang tidak tertarik dengan urusan seperti itu. Bagiku, yang penting tamuku senang, pulang dengan senyuman lebar, mau datang lagi dan menyewaku."
Aku terdiam. Untuk orang yang tidak percaya pada cinta, kurasa Kei cocok menjadi host. Aku tidak dapat memaksakan pemikiranku soal cinta. Aku percaya pada cinta. Aku mencintai Tora sampai rela berdiri di sebelahnya untuk menghadapi kematian. Aku tidak peduli pada apa pun yang akan terjadi. Yang aku tahu, Tora juga mencintaiku dengan kekuatan yang sama. "Apakah kau pernah merasa kesepian?" Pertanyaanku itu bukan untuk menantang Kei, melainkan hanya ingin tahu.
"Kadang-kadang. Tetapi perasaan bahagia para tamu yang berjalan keluar dari klub sangat melegakan. Itu menandakan bahwa aku telah berhasil membuat orang lain bahagia. Kalau orang lain bahagia, maka aku pun ikut merasakannya."
Kagum. Itulah yang kurasakan mengenai Kei sekarang. Tak heran ia dinobatkan sebagai host terbaik di klub. Ia mendedikasikan dirinya pada pekerjaannya. Menjadi seorang host tentu saja tidak mudah. Bukan soal tampang saja, pembawaan diri dan gaya bicara juga sangat penting untuk menarik tamu. Kei mempelajari itu semua dari pengalaman. Pria itu telah bergabung dengan Hanazawa-gumi lebih dulu daripada Tora. Walaupun tidak membunuh, dia termasuk anggota klan senior. "Kei-san, berapa umurmu?" tanyaku.
Kei tergelak. "Kau pasti tidak akan percaya bila kukatakan bahwa aku seumur dengan Tora-kun," katanya ceria.
"Jadi kalian bertiga seumur?"
"Dengan Makoto? Ya. Tetapi Makoto sudah bergabung dengan Hanazawa-gumi sebelum aku. Dia itu seperti dilahirkan untuk menjadi seorang Yakuza," Kei tertawa.
"Kau tahu alasannya menjadi Yakuza?" tanyaku. Kurasa inilah kesempatanku untuk mengorek sedikit informasi mengenai Makoto. Siapa tahu akan berguna nantinya.
"Aku tidak begitu dekat dengannya. Kami jarang sekali mengobrol karena aku selalu di klub, sedangkan dia selalu di kantor. Tapi, kudengar dari Tora-kun, Makoto sedang mencari seseorang. Ia memanfaatkan jaringan Yakuza agar cepat menemukan orang itu. Namun, orang yang dicarinya bagai hilang ditelan bumi. Tak ada yang tahu di mana dia berada."
"Eh? Mungkinkah..." Makoto tahu mengenai mantan suami Tora Kucing yang masih hidup. Apakah mungkin Makoto ingin membantu sahabatnya seperti aku membantu Misaki? Wanita itu ingin mencari mantan suami Tora Kucing. Jabatannya cukup tinggi di Hanazawa-gumi, sehingga dengan mudah ia dapat menginstruksikan bawahannya untuk mengumpulkan informasi tentang orang yang dicarinya. "Rupanya Makoto-neesan orang baik," ucapku.
Kei tertawa. "Kenapa kau berpikir Makoto jahat?"
Aku tergagap. Mana mungkin aku mengakui kecemburuanku pada Makoto karena ia dekat dengan Tora. Alasan itu tak akan cukup untuk menilai Makoto sebagai orang jahat. Tapi, kalau dipikir lagi, mengapa sulit sekali mencari pria tukang selingkuh itu? Makoto lebih dulu bergabung dengan Hanazawa-gumi daripada Kei. Itu berarti dia telah melakukan pencarian selama lebih dari 10 tahun. Setahuku Hanazawa-gumi termasuk klan besar, sehingga sudah pasti mudah menemukan orang. Apalagi, orang yang dicari merupakan orang biasa. Apakah ini berarti orang yang dicarinya bukanlah mantan suami Tora Kucing?
🐉🐉🐉🐉🐉
**bersambung ke chapter 24!
minta like dan comment yg banyak yaaahh...
__ADS_1
matta ne**...