
Keesokan harinya, aku bangun sekitar pukul 9 pagi. Sudah terlambat untuk ke sekolah. Tora pun sudah pergi entah ke mana, tapi ia membuatkan bubur dan menyediakan obat. Tadi malam, tidurku nyenyak, bahkan mungkin aku sempat menendang Tora. Nenek pernah bilang bahwa gaya tidurku seperti gerakan kung fu. Aku tersenyum membayangkan Tora terkena tendangan mautku.
Kepalaku masih pusing dan badanku lemas. Bubur buatan Tora hampir terasa hambar di mulutku, tapi aku tetap menghabiskannya karena tentu aku butuh tenaga. Seharian aku berada di dalam apartemenku, mencoba melakukan sesuatu yang berguna, misalnya membersihkan kamar mandi, mengepel lantai, dan menjemur futon yang basah terkena keringatku. Namun, semua aktivitas itu malah semakin membuatku lesu hingga tertidur di sofa.
Aku bangun ketika hari sudah gelap. Perutku lapar. Yang ada di meja hanya nasi. Segera saja aku membuka kulkas kecilku. Ada secarik kertas di atas raknya, bertuliskan, "Tunggu aku pulang. Tora." Yang dimaksud Tora dengan 'pulang' ini, pulang ke mana? Ini jelas bukan tempat tinggalnya. Apa dia mau menginap lagi di sini?
Bunyi bel pintu mengagetkanku. Aku membuka pintu sambil bertanya-tanya apakah itu Tora. Dan ternyata benar. Dia tersenyum melihatku, lalu menunjukkan kantung plastik bawaannya yang berisi bahan makanan. Tanpa basa-basi, dia langsung masuk dan melepaskan sepatunya.
"Aku pulang," Tora mendekatiku, meraih tengkukku, dan menempelkan dahinya di dahiku sambil memejamkan mata. Ingin sekali aku menonjok wajahnya karena selalu saja membuatku gugup. "Panasmu sudah turun. Aku akan masak untukmu," katanya. Bisa-bisanya dia melakukan itu dengan biasa saja.
"Ya," aku menurut saja karena memang sangat lapar. "Kau tidak lelah?"
Tora melepaskan jaketnya sebelum menjawab, "Tidak." Dilemparnya jaket itu ke sofa seperti sedang berada di rumahnya sendiri dan diambilnya celemek yang tergantung di pegangan lemari dapur. Celemek membuatnya terlihat manis. "Kami merekrut anggota baru, tapi wajah-wajah mereka nampak ketakutan ketika melihat kami semua," ia tertawa, lalu mengeluarkan seluruh isi kantung plastiknya. Ia pun mulai memasak.
Aku tidak tahu apa yang akan ia masak. Ada wortel, kentang, daging ayam, bawang bombay, dan bumbu-bumbunya. Duduk manis sambil menunggu bukanlah kebiasaanku. Apalagi, kalau berhubungan dengan masak-memasak. Jadi, aku bersandar di meja dapur sambil melihat Tora bermain-main dengan pisau. "Kau mahir sekali ya, Chef Tora," ledekku.
"Tidak, tidak."
Gara-gara pisau, aku jadi ingat perkataan Kei soal anggota yang melanggar peraturan. "Tora-san, kau yakin ingin bertemu dengan adikmu?" tanyaku.
"Yakin sekali. Kenapa?"
"Ah, tidak. Kurasa aku yang ragu-ragu sekarang. Aku takut mereka tahu."
Tora menghentikan kegiatannya. "Aku tetap harus menemui Misaki, apa pun yang terjadi," tegasnya.
Aku tahu aku tidak bisa melarang seseorang untuk bertemu dengan keluarganya. Apalagi, Tora dan Misaki terpisah bertahun-tahun. Aku mengerti perasaan Tora. Dia sangat menyayangi Misaki sampai rela mempertaruhkan nyawanya sendiri. Tapi kalau dipikir lagi, kami bisa melakukannya secara sembunyi-sembunyi agar tidak ada anggota klan yang tahu. Kami tidak akan kenapa-kenapa selama tidak ketahuan. Lagipula, aku masih harus berusaha mengembalikan ingatan Misaki. Aku harus yakin semuanya akan berjalan lancar.
"Maafkan aku, Tomomi. Seharusnya aku tidak melibatkanmu sampai sejauh ini."
"Tidak apa-apa. Aku pun ingin Tonomura Misaki dan Tonomura Taiga bisa bersatu kembali," aku tertawa.
"Diam kau!" protes Tora. Tawanya memenuhi seluruh ruangan. Aroma masakan Tora mulai tercium. Ternyata dia sedang membuat kare. Wangi sekali. Cara memasaknya mengingatkanku pada Nenek. "Sudah jadi!" serunya.
"Asyik!" balasku sambil mengangkat kedua tanganku tinggi-tinggi.
"Kau seperti anak kecil."
"Dan kau seperti bapak-bapak."
"Kurang ajar kau!" Tora mendekatiku dengan gaya pemarah.
"Eh? Papa, aku tidak bersalah!" ledekku seraya berusaha kabur.
Tora memelukku dari belakang, memerangkapku hingga tidak bisa bergerak. "Akhirnya kau tertangkap!" Kemudian, dia mencium pipiku.
"Curang sekali," kataku.
Tora melepaskan pelukannya.
Aku berbalik menghadap Tora, lalu berjinjit untuk mencium pipinya juga. Lucu sekali ekspresi terkejutnya. Dia memang cocok menjadi hiburanku di kala sakit.
Kami makan bersama layaknya sebuah keluarga. Setelah selesai, aku mencuci piring, sementara Tora mandi. Nampaknya dia mau menginap lagi. Sebenarnya dia tidak perlu melakukan itu, tapi kubiarkan saja dia berbuat sesukanya. Toh dia tidak mungkin mencelakai orang sakit.
Kudengar pintu kamar mandi dibuka. Tora pasti sudah selesai. "Ah!" serunya.
Aku melongok ke arah kamar mandi, tapi ternyata Tora masih di dalam. "Tora-san?" panggilku.
"Ya," sahutnya dari dalam kamar mandi.
"Kau baik-baik saja?"
Akhirnya, Tora keluar dengan mengenakan kaos dan celana pendek. Pemandangan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Penampilannya biasa saja. Ia mengeluarkan senyuman menyegarkan.
"Sepertinya tadi aku mendengar kau keluar," kataku.
"Oh... Itu... Tadi aku lupa."
"Lupa apa?"
"Kukira ini di rumahku," Tora terkekeh sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Lalu?"
"Tadi aku tidak memakai apa-apa. Begitu keluar, aku baru ingat sedang berada di tempatmu. Jadi, aku masuk lagi."
"Eh? Oh, begitu ya," aku menunduk. Malah aku yang salah tingkah. Tora kemari untuk menjagaku, tidak ada maksud apa pun. Bodoh sekali aku ini. "Kalau begitu, sekarang giliranku."
"Silakan."
Aku melewati Tora yang masih berdiri di depan kamar mandi, menutup pintu, dan menguncinya rapat-rapat. "Apa yang kupikirkan," gumamku sendiri.
Tora sedang menonton televisi ketika aku selesai mandi. Dia tertawa-tawa melihat tingkah komedian yang berdandan aneh sedang membuat lelucon. Aku tidak begitu tertarik pada tontonannya, sehingga aku melebarkan futon dan berbaring di atasnya. Rasanya nyaman sekali. Tiba-tiba, suara televisi menghilang. Tora ikut berbaring di sebelahku. Ia menghela napasnya. Kami berdua menatap langit-langit apartemenku yang terdapat bekas bocor di pojoknya.
"Aku sudah bilang Misaki pernah menginap di sini?"
"Sudah. Adakah perbedaannya denganku saat ini?"
Aku tertawa. "Misaki perempuan, sedangkan kau laki-laki," jawabku. "Kalau Nenek tahu aku membiarkan laki-laki masuk kemari, bisa-bisa aku tidak diperbolehkan menginjak Tokyo lagi."
"Maafkan aku, Nenek. Aku hanya mau menemani gadis yang kucintai di sini," kata Tora seolah sedang berbicara dengan nenekku. "Tapi apa kehadiranku mengganggumu?"
__ADS_1
"Sama sekali tidak. Kau tidak butuh digendong," candaku. "Besok aku akan sekolah lagi."
"Kau yakin kau sudah sehat?"
"Ya, berkat dirimu. Terima kasih, Tora-san," ucapku tulus.
Tora tersenyum. "Sama-sama, Tomomi."
"Dan aku juga akan mencari pekerjaan baru."
"Tunggu sebentar," Tora terkejut. "Kau mau bekerja lagi? Tidak, tidak. Bagaimana kalau kau sakit lagi?"
"Tapi aku butuh biaya hidup. Makan, juga sewa apartemen ini."
"Aku tidak bisa membiarkanmu bekerja seperti itu. Kau bisa memakai uangku."
"Aku tidak mau!" debatku. Mana mungkin aku bisa memakai uang Tora seenaknya. Dia belum menjadi apa-apaku.
"Kalau begitu, tinggallah bersamaku!"
"Eh?" Jantungku langsung melompat-lompat. "Tinggal bersama?" Aku sampai mengulangi perkataan Tora, saking tidak percaya apa yang kudengar. Sebenarnya mau ke mana arah pembicaraan ini? Bingung harus menjawab apa, aku diam.
Tora pun nampak terkejut atas apa yang barusan dia katakan, tapi dari ekspresi wajahnya, dia malah kelihatan semakin mantap. "Aku tentu akan menikahimu, Tomomi," katanya.
"Menikah?" Sungguh, aku seperti orang yang baru belajar bicara. Aku langsung membayangkan hidup bersama Tora, bagaimana kami menghabiskan sisa hidup kami. Tidak masalah bila Tora tetap seorang Yakuza. Aku akan mendukungnya dengan menjadi istri yang baik.
"Tomomi," panggil Tora, membuatku tersentak. "Maukah kau... menikah denganku?"
Aku pasti sedang bermimpi atau sudah gila. Biasanya laki-laki akan mempersiapkan sebuah cincin dan menciptakan momen khusus untuk menanyakan hal sebesar ini, tapi Tora melakukannya dengan santai sambil berbaring di futon-ku. Perutku mulas hingga ingin mengeluarkan isinya. Jelas aku sangat mencintai Tora. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku tidak bisa lepas dari orang ini. Namun, aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.
Tora bangkit duduk, aku mengikutinya. "Aku tahu ini tiba-tiba," katanya. "Tapi aku ingin menjagamu, melindungimu. Selama ini, kau yang selalu memberiku semuanya. Kau menerimaku apa adanya, tanpa memandangku sebagai seorang Yakuza. Kau memperlakukanku seperti orang biasa. Aku merasa sempurna bila berada di sisimu, Tomomi. Jadi, sekali lagi, untuk seumur hidupmu, maukah kau menerimaku?" Kedua mata Tora yang sedang menatapku, memancarkan sinar harapan akan masa depan.
Saat itulah aku yakin.
Aku menubruk Tora sampai pria itu terjengkang ke belakang, tapi aku tidak mau melepaskannya. Aku tidak bisa berhenti tersenyum karena sangat bahagia.
Kurasakan lengan Tora memeluk tubuhku. "Terima kasih," ucapnya. Ia membalikkan posisi hingga berada tepat di atasku, kemudian mencium bibirku. Kupejamkan mataku. Bibir Tora hangat sekali.
"Tora-san, apa makanan favoritmu?"
Tora tertawa. "Kenapa tiba-tiba kau menanyakannya?"
"Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu."
"Hmmm... Aku tidak pernah mengobral informasi tentang diriku sendiri," Tora mengerutkan kening, lalu berbaring di sebelahku lagi. "Tapi coba kulihat. Makanan favoritku tidak ada. Aku suka semua makanan."
"Pantas saja kau besar," ledekku, membuat Tora tertawa lagi. Aku suka sekali tawanya yang renyah. Apalagi lesung pipinya terlihat jelas dalam jarak sedekat ini. "Apa kau punya penyanyi favorit?"
"Warna favoritmu?"
"Hitam."
"Hitam memang keren," komentarku. "Kau lebih suka pergi ke gunung atau ke pantai?"
"Mungkin aku tipe gunung. Aku suka pemandangan hijau pepohonan. Lagipula, aku tidak perlu membuka bajuku di gunung," Tora tergelak. Pasti dia sedang memikirkan tatonya.
"Apa ada gadis lain sebelum aku?"
"Hmmm...Ada."
"Benarkah?" Aku tidak heran laki-laki ganteng seperti Tora pernah pacaran lebih dari sekali. Tora pasti diminati di kalangan perempuan, baik yang masih muda, maupun yang sudah tua.
"Dia tidak menginginkan aku menjadi Yakuza. Aku sepenuhnya mengerti keputusannya meninggalkanku."
"Aku turut sedih," kataku.
Tora tergelak. "Kalau kami masih pacaran, maka aku tidak akan mengenalmu, Tomomi. Setelah bergabung dengan Hanazawa-gumi, kami resmi berjalan sendiri-sendiri."
"Apa kau rindu padanya?"
"Sekarang tidak. Karena aku memilikimu," Tora menoleh dan menatapku.
"Seandainya, aku juga meninggalkanmu, apa kau juga akan merindukanku?"
Kening Tora berkerut. "Kenapa kau menanyakannya?"
"Aku ingin tahu."
"Apa kau akan meninggalkanku?"
"Tidak."
"Kalau begitu, aku tidak perlu menjawabnya," Tora tersenyum.
"Ini hanya seandainya." Nada bicaraku sedikit memaksa.
"Tidak akan kubiarkan kau meninggalkanku. Jika kau pergi, aku akan mencarimu. Kalau perlu, aku akan mengikatmu supaya kau tidak bisa kabur lagi."
"Itu namanya penculikan!" seruku.
Sekarang Tora tertawa. "Kau yang terakhir, Tomomi. Aku tidak berpikir akan menemukan orang yang lebih tepat daripada dirimu," katanya.
__ADS_1
"Ah! Kau menggombal." Ucapanku berbeda sekali dengan isi hatiku yang sebenarnya sangat menyukai kata-kata Tora barusan. Mungkin Tora adalah satu-satunya lelaki yang mengatakan demikian padaku. Dan aku senang. "Tapi aku pun sama," lanjutku.
"Benarkah? Syukurlah," Tora menghela napas seolah benar-benar lega.
"Boleh kulihat tatomu lagi?" tanyaku.
"Eh? Kau tidak takut?"
Aku menggeleng.
"Baiklah," Tora berbalik dan mengangkat bagian bawah kaosnya. Harimau itu terlihat seketika. Taringnya yang tajam seakan mampu mencabikku hidup-hidup. Mata emasnya menusuk mataku. Loreng tubuhnya sangat indah.
Aku tidak tahan untuk menyentuhnya. Kuikuti garis badan harimau itu sampai ke ekornya dengan jariku. "Sebenarnya, apa makna tato harimau ini?" tanyaku.
"Kekuatan dan kekuasaan, tetapi bisa juga melambangkan seorang pencuri. Yah, aku tidak mengerti maksud pencuri di sini."
"Kenapa kau memilih harimau?"
"Sesuai dengan namaku, Tora."
"Lalu, kenapa kau memilih Tora?"
"Namaku Taiga, seperti kita mengucapkan kata 'tiger' dalam Bahasa Inggris, yang artinya harimau."
"Hmmm... Kumisnya mengingatkanku pada cerita Nenek," kataku.
"Cerita apa?"
"Konon, bangsa Cina percaya pada ramalan. Sejak lahir, mereka telah diramal tentang bagaimana cara mereka mati. Karena itu, mereka menghindari semua yang berhubungan dengan ramalan itu agar terbebas dari kematian. Ada seorang anak orang kaya yang diramalkan akan mati karena harimau. Anak itu tinggal di dalam rumah dengan pagar tembok yang kokoh dan tinggi, sehingga harimau tidak akan bisa masuk. Dia tidak pernah keluar rumah sampai dewasa. Suatu ketika, setelah makan malam, dia tiba-tiba mati akibat terkena tusuk gigi yang sangat tajam. Rupanya tusuk gigi tersebut terbuat dari kumis harimau."
"Sial sekali orang itu."
"Itu hanya sebuah cerita. Tapi kurasa ada benarnya. Jika takdir sudah berkata demikian, maka tidak ada yang bisa menghindarinya. Segalanya tergantung oleh waktu."
"Lalu, bagaimana dengan takdirmu? Kau pernah meramal nasib?"
"Aku tidak berani."
"Apa yang kau takutkan?"
"Aku takut untuk percaya. Kalau percaya pada takdir, mungkin aku akan terus terbebani olehnya, misalnya, seharusnya aku begini, semestinya tidak boleh begitu. Akibatnya aku akan fokus pada takdirku saja."
"Tapi aku percaya pada takdir," kata Tora.
"Benarkah?"
Tora mengangguk. "Aku merasa kau ditakdirkan untuk masuk ke klub malam itu, sehingga aku bisa bertemu denganmu. Kita bisa bersama seperti ini pun, kurasa takdir. Dan jika kita menikah nanti, itu juga sudah ditakdirkan."
Pria yang sedang memunggungiku ini menamparku dengan kata-katanya. Tora adalah laki-laki yang lurus, tidak melihat kiri-kanan. Dia mempunyai harapan untuk bertemu lagi dengan adiknya. Sejak awal, tujuannya memang itu. Aku merasa malu pada diriku sendiri yang tidak mempunyai mimpi. Selama ini aku hanya bermain-main. Aku menganggap remeh semua masalah. Bahkan, aku berkelahi di sekolah demi kepuasanku sendiri. Tora melangkah maju, sedangkan aku berjalan di tempat. Gara-gara Tora mengajakku menikah tadi itulah pertama kalinya aku menginginkan sesuatu, yaitu hidup bersamanya.
Dulu aku ingin ke Tokyo tanpa tujuan jelas. Aku hanya ingin kembali ke tempatku dilahirkan. Setelah sampai di sini, yang kulakukan adalah menjalani rutinitasku yang sama seperti di Hokkaido. Aku malah menyusahkan keluargaku dengan meminta mereka mengirimkan uang setiap bulan. Sebenarnya, orang macam apa aku ini?
"Tomomi? Kau sudah tidur?" Tora menurunkan lagi kaosnya. Ia berbalik berhadapan denganku lagi. "Kau kenapa?"
Aku langsung memeluk Tora. Kujadikan dia bantal guling besar. "Maaf, aku tidak bisa menjadi orang yang baik," ucapku.
"Eh? Ada yang salah dengan kata-kataku?"
Aku mendongakkan kepalaku ke atas untuk melihat wajah Tora. "Tidak. Aku yang bermasalah. Karena mendengarmu tadi, aku jadi memikirkan masa depan."
"Oh ya? Masa depan seperti apa yang kau inginkan?"
"Aku tidak tahu..." aku membenamkan wajahku di dada Tora dan berhasil membuatnya tertawa.
"Banyak orang yang mengalami hal yang sama sepertimu, Tomomi. Santai sajalah. Kau masih muda," Tora mengelus-elus kepalaku.
"Tapi aku ingin memiliki tujuan hidup!"
"Kau sudah memilikinya. Kau bahkan memberikannya padaku."
"Aku tidak memberikan apa-apa, Tora-san. Dan kau malah bersusah payah datang kemari untuk menemaniku," aku menghela napas, tidak percaya orang sepertiku ini bisa hidup tenang-tenang saja dengan mengandalkan orang lain.
"Dengarkan dulu penjelasanku, Tomomi sayang. Kalau tidak pernah bertemu denganmu, mungkin aku akan semakin terpuruk, Misaki semakin jauh dari jangkauanku. Kaulah yang memberiku semangat untuk bangkit lagi. Karena itu, aku menerimamu menjadi takdir masa depanku. Kau mengerti?" Tora mengangkat wajahku, lalu tersenyum.
Pria ganteng ini benar-benar membuatku gila. Jantungku bahkan sudah lebih dulu melakukan tarian pemanggil hujan. Wajahku panas seperti termos dan warnanya pasti semerah kepiting rebus.
"Jadi, Ayase Tomomi, cukup berada di sisiku saja karena di situlah tujuan hidupmu. Jangan pernah meninggalkan aku," ucap Tora lembut. Sorot matanya menyihirku untuk terus menatapnya.
"Stop!" seruku sambil menutup mulut Tora dengan tanganku.
Tora tertawa. "Ada apa lagi?"
"Tidak ada apa-apa." Aku kalah total dari seorang Yakuza.
❤❤❤❤❤
**bersambung ke chapter 17!
gimana chapter ini? semoga feel nya tersampaikan 🙏
minta like dan comment yah
__ADS_1
matta ne**...