
Akhirnya kami tiba di Desa Shirakawa, di perbatasan antara Prefektur Gifu dan Toyama, setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 2 jam. Benar kata Nana-chan. Di sini dingin. Walaupun bau keringat, beruntung aku mengenakan blazer seragamku. Tapi aku senang karena suasananya hening. Sebagian besar daerah ini ditutupi hutan. Gunung Ryohaku berdiri menjulang dengan gagahnya di sisi sebelah Barat, sedangkan Gunung Ningyo menghuni sebelah Utara. Nana-chan berkata, pada zaman dahulu, Desa Shirakawa merupakan daerah terisolasi karena lokasinya dikelilingi pegunungan dan sulit dijangkau. Pada musim dingin, akses jalan menuju daerah ini tertutup salju dengan ketebalan hingga 5 meter.
Kini, akses jalan ke sini menjadi lebih mudah dengan dibangunnya jalan tol. Di antara pegunungan, mengalir Sungai Sho menuju ke Utara kota Nanto, Prefektur Toyama. Di sekitar sungai itulah pemukiman tersebar karena tanahnya datar.
Aku terkejut oleh pemandangan yang kulihat. Tak ada bunga Sakura bermekaran, tetapi daun-daun pohon yang berkilau keemasan mampu menggantikan indahnya desa ini dalam pergantian musim gugur ke musim dingin.
Sebuah jembatan gantung yang terbentang di atas Sungai Sho menjadi akses kami menuju desa yang berisi rumah-rumah tradisional Jepang bergaya Gassho-zukuri dengan 3 sampai 4 tingkat dan kemiringan atap 60 derajat. Deretan rumah tradisional itu berdiri berdampingan dengan areal sawah. Pada musim dingin, daerah ini mengalami hujan salju yang hebat. Atap rumah sengaja dibuat menghadap Timur dan Barat. Ini bertujuan agar salju yang menumpuk segera mencair terkena sinar matahari.
Nana-chan turun duluan dari bus yang kami tumpangi dari Stasiun Gifu setelah naik kereta lagi dari Nagoya sekitar 20 menit. Aku dan Kei mengikutinya menuju sebuah rumah besar 4 lantai berpapan nama Irie. Rupanya Nana-chan memanfaatkan rumahnya untuk membuka usaha penyewaan kamar. "Awal tahun selalu banyak pengunjung yang menginap di sini," katanya sambil melepas sepatu. Nenek itu meletakkan sepatunya di sebelah sepasang sepatu jerami yang digunakan untuk berjalan di atas salju.
Lantai dan langit-langit rumah Nana-chan terbuat dari kayu. Terdapat tungku pembakaran tradisional yang membuat langit-langit rumah menjadi hitam legam. Pintu gesernya lebar memisahkan beberapa ruangan yang sama sekali tidak memiliki kursi. Jendela-jendela berukuran sedang menghadap Utara dan Selatan agar rumah memperoleh ventilasi terbaik.
"Silakan duduk," Nana-chan mempersilahkan kami duduk di ruang tamu yang hanya berisi meja kopi dan beberapa tanaman hias di sudutnya. Kemudian, ia beranjak ke belakang rumah yang kuperkirakan sebagai dapur.
Aku dan Kei mengambil tempat masing-masing di sekitar meja kopi.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Kei.
Rumah Nana-chan sangat nyaman. Aku tidak bisa mengatakan tidak betah. "Apa kau memang berencana ke sini?" balasku.
Kei menggeleng. "Sebetulnya aku tidak mempunyai tujuan," ia tertawa.
Aku mendengus. "Lalu, bagaimana kalau ternyata Nana-chan benar-benar dibayar oleh Hanazawa-gumi? Kita bisa langsung mati di destinasi pertama," protesku.
"Kau menganggap ini petualangan?" Karena aku tak menjawab, Kei bertanya lagi, "Bagaimana kalau kita berpura-pura menjadi pasangan kawin lari seperti yang Nana-chan inginkan?" Kei terlihat sangat bersemangat.
"Itu memang sudah kau lakukan dari tadi!" semburku. "Untuk apa kau mengarang cerita?"
"Pelankan suaramu Tomomi-chan!" bisik Kei, membuatku menutup mulut rapat-rapat. "Aku melakukannya agar Nana-chan mau menerima kita. Kau tidak mau menginap di hotel jelek yang hanya memiliki sebuah tempat tidur yang mendominasi ruangan seperti kemarin kan? Kau enak-enakan tidur di ranjang, sedangkan aku harus tidur di kursi keras itu. Leherku masih pegal sampai sekarang. Dan jika tidak mau menginap di sini, kau boleh pergi ke tempat lain. Aku tetap di sini," kata Kei sombong.
Aku menyukai desa ini sejak pertama tiba. Sangat sulit untuk memilih antara tetap di sini atau pergi. Jika aku memilih pergi, ke manakah tujuanku? Bagi remaja kampung yang hanya pernah menjelajahi Hokkaido dan Tokyo, aku tidak tahu apa yang ada di tempat lain. Dan bila memang harus pergi, kurasa aku membutuhkan setidaknya seorang teman. Pada dasarnya, aku penakut.
"Bagaimana Ayase Tomomi?" ledek Kei. Aku tidak suka bila ia memanggilku dengan membawa-bawa nama keluargaku. "Apa keputusanmu?"
Aku menunduk sambil cemberut. "Aku mau di sini," kataku pelan. Yah, lagipula aku merasa tidak enak pada Kei yang masih mau menemaniku. Bisa saja ia meninggalkanku seperti yang Tora dan Misaki lakukan. Keluarga Tonomura telah mencapai tujuannya dan membuangku seperti sampah tak berharga. Mungkin saja Tora berbohong soal ayah dan ibunya yang berpisah. Mungkin saja Tora yang kabur dari rumah bersama Misaki. Mungkin juga Misaki berpura-pura gila. Mungkin Dokter Minami juga dibayar untuk berbohong. Kalau sudah begini, aku tidak percaya kepada siapa pun.
Kukira Tora yang mudah percaya pada orang lain, tapi ternyata aku yang mudah dibohongi.
Sentuhan telunjuk Kei di pipiku melonjakkan pundakku. Ia tersenyum saat aku menatapnya. "Dengarkan aku, Tomomi-chan. Kita tidak memiliki apa-apa sekarang, kecuali beberapa lembar uang di dompetku dan mungkin di dompetmu juga. Tapi kurasa kita dapat bertahan bila kita bekerja di sekitar sini," katanya.
"Kau mau jadi host di sini?" tanyaku heran.
"Bukan!" Kei menunjukkan taringnya. "Aku bisa bertani."
"Kau? Bertani? Aku tidak percaya," aku hampir tertawa keras-keras. Pria pesolek seperti Kei tidak mungkin melakukan pekerjaan kasar seperti bertani, berlayar, berkebun, dan sebagainya. Aku yakin ia bakal kapok hanya dalam 1 hari.
Namun, kenyataannya berkebalikan. Kei bekerja keras di tanah perkebunan milik keluarga Nana-chan yang letaknya di samping rumah. Mereka menanam stroberi. Kadang-kadang, Kei mencuri beberapa buah untuk diberikannya padaku. Rasanya berbeda dari stroberi pada umumnya. Yang ini lebih manis dan ukuran buahnya lebih besar. Kurasa Nana-chan tahu Kei suka mencuri buahnya, tapi ia membiarkannya.
Aku sendiri menjadi penjaga toko suvenir di sebuah rumah yang hanya berjarak 100 meter dari rumah Nana-chan. Bosku adalah seorang bapak dan anak perempuannya yang berusia 10 tahun lebih tua dariku. Sang ibu telah lama meninggal karena sakit-sakitan. Mereka menjual kartu pos dan berbagai perhiasan unik. Aku membeli 2 buah gelang. Satu akan kuberikan pada Kei sebagai balasan stroberi.
Saat sedang tidak bekerja, kami jalan-jalan menyusuri Sungai Sho dan mengobrolkan banyak hal. Aku baru tahu Kei bisa main harmonika. Ia bahkan membawanya ke mana-mana di saku celana. Aku yang tidak begitu paham soal musik ini terpesona oleh alunan nada yang diciptakan alat musik tiup itu hingga tanpa sadar aku memperhatikan gerakan bibir Kei yang berpindah-pindah di sisi harmonika.
"Kau ingin menciumku ya?" tanya Kei langsung setelah selesai meniup.
"Eh?" Pipiku memanas seketika. Sengaja kutolehkan kepalaku ke arah lain agar tidak menatap wajah pria super tampan itu.
Kei tertawa keras sekali. "Kau lucu," katanya sambil menepuk pundakku. "Sudah berapa lama kita di sini?"
"Dua minggu," jawabku. "Kau ingin pindah?"
"Hmmm... Di sini sepertinya aman. Kita dikelilingi oleh pegunungan. Pasti salju di sini sangat tebal. Kurasa Kumicho tidak akan mencari kita sampai kemari."
__ADS_1
Syukurlah Kei tidak berpikiran untuk pergi dari sini karena aku betah sekali. Mungkin aku memang aslinya orang gunung, sehingga iklim dingin sangat cocok bagiku.
Tiba-tiba, angin dingin menerpa tubuh kami. Kei bersin, sedangkan aku merinding. "Dingin," kata Kei sambil mengusap-usap lengannya sendiri. "Kau masih mau jalan-jalan? Sepertinya sebentar lagi akan hujan."
"Kau pulang saja duluan. Aku akan menyusul."
Kei benar. Langit sangat gelap sekarang. Aku tidak tahu kapan hujan akan turun, tapi aku tetap saja melangkah menyusuri Sungai Sho yang memberikan kehidupan bagi warga Desa Shirakawa. Aku ingin tahu ke mana arah sungai ini. Airnya pasti dingin sekali. Kalau tercebur, aku tidak akan selamat karena aku tidak bisa berenang.
Kualihkan pandanganku ke sebelah kiri. Kaki Gunung Ryohaku dipenuhi oleh pohon cemara. Aku menghampiri salah satunya. Seketika, hidungku menangkap harumnya buah cemara yang menggantung di pohon itu. Kupetik buah itu dan kumasukkan ke dalam saku celana. Jariku menyentuh gelang yang belum kuberikan pada Kei.
Sekarang aku mengurungkan niatku untuk memberikannya. Apakah nanti Kei akan senang? Ataukah dia malah mengira aku mempunyai maksud tertentu?
Aku memasang gelangku sendiri. Kucoba untuk mengaitkan ujung-ujungnya. "Susah sekali," gumamku. Dua menit sudah aku berkutat dengan gelang tersebut. Akhirnya, aku menyerah dan memasukkannya kembali ke dalam saku.
Tubuhku terhuyung saat sesuatu menarikku dari belakang. Mulutku dibekap oleh tangan seseorang yang kuperkirakan laki-laki karena ukuran tangannya besar. Lengannya memeluk pinggangku kuat sekali. Aku berusaha berontak, tetapi dia lebih kuat. Kucari-cari kakinya untuk kuinjak, tapi nampaknya ia tahu apa yang akan kulakukan. Kusikut-sikut perutnya, kucakar-cakar pahanya. Namun, lelaki itu tak juga melepaskan aku. Malah semakin menarik mundur tubuhku.
Sampai di mana ia akan menarikku terus?
Aku tidak dapat melihat wajahnya. Aku tidak dapat berteriak. Lagipula, tak ada orang yang lewat di bawah jembatan gantung ini. Mereka tidak akan melihatku karena langit semakin gelap. Jika pria ini adalah anggota Hanazawa-gumi, maka nyawaku akan melayang dalam waktu kurang dari 5 menit.
"Diamlah, Tomomi!" perintah pria itu.
Aku sangat mengenal suara itu. Nadanya, beratnya, logatnya. Suara itulah yang selalu terngiang di telingaku, yang kukira tak dapat kudengar lagi. Seketika, aku melemah. Air mataku langsung jatuh. Meski cengkeramannya mengendur, aku tidak melawan lagi.
Laki-laki itu tak lagi membekap mulutku, malah mengelilingi pundakku dengan lengannya. Ia pun meletakkan dagunya di bahuku. "Bisakah aku seperti ini sebentar saja?" tanyanya pelan dengan suara bergetar. Dadanya ikut bergetar di punggungku.
"Ada apa denganmu, Tora-san?" Malu sekali mengakui bahwa aku masih peduli padanya. Aku masih mencintainya bahkan setelah semua yang dilakukannya terhadapku. Dan kurasa perasaan itu tidak akan pernah hilang. Aku bermaksud berbalik, tapi Tora menolakku dengan tidak mengubah posisi kami.
"Aku tidak ingin kau melihatku sekarang. Tapi aku kangen padamu."
Dalam hati, aku bertanya-tanya apakah ini semacam triknya untuk membuatku lengah, lalu ia akan menyakitiku lagi, ataukah dia benar-benar merindukanku. Aku sungguh tidak dapat menebak pikirannya. Namun, mendengar getar suaranya, merasakan getar dadanya dan detak jantungnya yang semakin cepat, sepertinya ia sedang menderita.
Mengapa Tora sendirian? Ke mana Misaki dan Makoto? Mengapa mereka bertiga tidak bersama? Dari mana dia tahu aku di sini? Mengapa dia tidak terang-terangan menemui aku dan Kei?
"Menyedihkan sekali ya," ujar Tora lirih.
Kuangkat tanganku untuk meraih pipinya yang basah. Kuraba keseluruhan wajahnya. Kualihkan tanganku ke lengannya dan kutepuk-tepuk agar dia lebih tenang. Aku tidak tahu kenapa dia menangis, tapi aku ingin membuatnya nyaman, ingin dia tahu bahwa aku selalu ada untuknya.
Tora menghela napas dan melepaskan pelukannya.
Aku berbalik. Kegelapan hutan cemara menjadikan pandanganku buram, tapi aku dapat melihat Tora sedang terpuruk. Dan ketika ia maju selangkah menuju sedikit sorotan cahaya lampu, aku terperanjat karena pakaiannya sobek sana-sini dan badannya penuh luka. Tatonya mengintip melalui sobekan-sobekan bajunya. Hidungnya berdarah, begitu pula dengan sudut bibirnya. Rahang dan pelipisnya lecet. Celana panjangnya kotor, penuh dengan tanah kering serta pasir.
"Maafkan aku karena menemuimu dalam keadaan seperti ini," kata Tora pelan. Mengetahui aku tidak akan berkomentar, ia melanjutkan. "Misaki... Misaki sudah..." ia menunduk, lalu menegakkan kepalanya lagi. "Misaki tewas."
Seluruh ingatanku tentang Misaki langsung muncul. Awal pertemuan kami, acara pergantian tahun, kunjungan-kunjunganku ke rumah sakit, hingga pertemuannya kembali dengan Tora. Aku menelan liurku sendiri. Tunggu sebentar! Haruskah aku percaya pada Tora? Bagaimana kalau ini bohong belaka?
"Bagaimana kejadiannya?" tanyaku waspada.
"Waktu itu aku ke rumah sakit untuk menemui Misaki. Tetapi begitu aku datang, dia sudah tak bernyawa. Mulutnya penuh dengan busa. Aku menduga dia keracunan atau diracuni."
Jantungku berdetak keras. "Siapa yang tega melakukannya?"
Tora mengangkat bahu.
Aku menyumpahi orang yang meracuni Misaki. Jika berhasil menemukannya, aku akan menghajarnya dengan seluruh kekuatanku. Misaki tidak mungkin tewas sendirian bila keracunan makanan karena seluruh pasien mengkonsumsi makanan yang sama. Jadi, pasti ada orang yang membunuhnya. Bagaimana perasaan si pelaku saat meracuni Misaki? "Mungkinkah seseorang dari Hanazawa-gumi?"
"Makoto menduga seperti itu. Tidak ada orang lain yang menginginkan kematianku selain Kumicho."
"Tapi ini Misaki! Misaki hanyalah seorang gadis polos. Tega sekali dia," wajahku mengeras. "Lalu, kenapa kau berbohong dengan mengatakan Misaki baik-baik saja di rumah Makoto-neesan?"
"Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku... Aku memukuli Dokter Minami seperti orang gila. Lalu, Makoto datang. Dia sama terkejutnya denganmu ketika melihat jasad Misaki. Dia menyarankan agar kami pergi jauh dari Tokyo tanpa membawamu karena hal itu akan membahayakan."
__ADS_1
"Kau mengingkari janjimu sendiri, Tora-san," aku hampir menangis lagi ketika mengingat segala bualan Tora.
"Aku tahu. Aku minta maaf. Kukira kau akan lebih aman bersamanya, tapi ternyata aku salah."
"Maksudmu?"
"Selama ini Kei berencana membunuhmu, Tomomi."
"Eh?" Aku tidak percaya padanya. Aku tidak percaya sama sekali. Aku tidak ingin percaya. Tidak mungkin Kei ingin membunuhku. Kei melindungiku dari Goro yang jelas-jelas siap menikamku, juga mengajakku melarikan diri ke desa indah ini. Dia pula yang, dengan kebaikannya, membiarkan aku menangis sepuas dan sekencang yang aku bisa saat Tora pergi. Mana ada pembunuh yang memberikan stroberi kepada calon korbannya? "Kau bohong!" seruku.
"Kali ini aku bersumpah, Tomomi. Aku tidak bohong," Tora maju selangkah mendekatiku, membuatku mundur. "Makoto sengaja meminta beberapa orang temannya untuk mengikuti kalian. Mereka melihat Kei berkali-kali menelepon seseorang dan mereka yakin ia menelepon Kumicho."
"Kalau begitu, di mana Makoto-neesan sekarang?" tantangku.
"Kami terpisah setelah terjadi perkelahian dengan anak buah Kumicho."
Karena itulah tubuh Tora penuh luka. Dia habis berkelahi. Sudah berapa lama darah di hidungnya mengering? Mengapa dia tidak membersihkannya? Apakah orang-orang tidak memperhatikan tato yang mengintip dari balik pakaiannya?
"Secepatnya aku menyusulmu ke sini. Aku ingin membawamu pergi dari Kei. Ikutlah denganku, Tomomi," Tora meraih tanganku.
Aku menepisnya dan memasukkan kedua tanganku ke saku celana agar Tora tidak dapat menyentuhnya lagi.
"Aku tahu aku telah menyakitimu, tapi kumohon padamu untuk percaya padaku kali ini," ujar Tora sambil menarik pergelangan tanganku, sehingga membuat isi saku celanaku keluar semua. Dua buah gelang yang tadi kubeli terjatuh ke tanah. Tora memungutnya. "Ini darinya?" tanyanya.
"Bukan. Aku yang akan memberikannya," jawabku jujur.
Air muka Tora berubah serius. "Kau suka padanya?"
Aku diam saja. Kalau kujawab 'ya', tentu hal itu akan menyakiti Tora. Namun, jika kujawab 'tidak', Tora akan membujukku terus untuk meninggalkan Kei. Aku menyukai Kei, tapi perasaan ini mengambang karena aku masih sangat mencintai Tora. Dan aku benci karena tetap mencintainya walaupun dia telah membuatku kecewa dan terluka.
"Kuanggap kau menyukai Kei, tapi dia bukan orang yang kau duga, Tomomi."
"Sekarang kau menjelek-jelekkannya di depanku? Dia temanmu, Tora-san."
"Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu."
"Kaulah mimpi burukku! Mimpi yang selalu menghantuiku dan ingin sekali kulupakan!" aku menunjuk Tora. "Aku benci padamu, Tora-san," suaraku melemah. Mataku panas, napasku sulit. Aku berkata demikian, tapi yang sebenarnya adalah aku tidak dapat membencinya. Aku terlalu mencintainya. Tenggorokanku sakit karena menahan tangis. "Aku tidak... Aku tidak percaya lagi padamu..."
Tora tetap bersikeras meyakinkan aku. "Kei tahu aku menemui Misaki dan dia mengadukannya pada Kumicho. Kemudian, Kumicho memberinya tugas khusus untuk melenyapkan kita berdua."
"Oh ya? Lalu, kenapa waktu itu Kei-san tidak membunuhku saja saat kau tidak ada di rumah?" tantangku.
"Karena polisi akan dengan mudah mengetahui siapa pelakunya jika dilakukan di rumahku."
"Kenapa dia tidak membunuhku selama 2 minggu kami di sini? Dia bisa saja mencelakaiku di bawah jembatan ini."
"Membunuhmu akan sia-sia baginya jika aku masih berkeliaran. Sekarang, selagi dia tidak tahu aku ada di sini, maukah kau ikut denganku?"
Pikiranku kacau. Perkataan Tora masuk akal, tapi aku tidak menangkap aura jahat dari Kei. Dia baik padaku. Aku nyaman dengannya. Kei sudah seperti keluarga. "Aku tidak tahu," kataku. "Aku tidak percaya pada kalian semua. Lebih baik aku pergi sendirian saja." Langkah cepat kakiku membawaku kembali ke depan rumah Nana-chan walaupun aku tahu Tora mengikutiku.
Rumah Nana-chan terlihat ramai dari luar. Mungkin ada turis yang datang untuk menyewa kamar. Aku menoleh ke belakang. Tidak ada Tora. Dia pasti tidak berani masuk karena ada Kei di dalam. Perlahan, aku melangkah mendekati pintu masuk. Cahaya dari dalam menyilaukan pandanganku, tapi aku masih bisa melihat dengan jelas Nana-chan yang sedang duduk di lantai, dikelilingi oleh beberapa orang pria berbadan besar dan berwajah garang. Mereka kompak mengenakan setelan jas hitam khas...
"Yakuza," suaraku spontan keluar dari mulutku.
Seseorang membekapku dari belakang agar tidak berteriak. Sesaat, aku berharap itu adalah Tora, tapi ternyata Kei. Dia membawaku masuk ke dalam sarang pemburu. Ada sesuatu di tangannya yang menempel di mulutku. Dan kesadaranku semakin berkurang, berkurang, berkurang, hingga akhirnya semua menjadi gelap.
**🏀🏀🏀🏀🏀
bersambung ke chapter 27!
gimana chapter ini? semakin seru kah?
__ADS_1
minta like dan comment yah..
matta ne**...