My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 12 - Work


__ADS_3

Dengan begitu, semua masalah percintaanku selesai. Aku senang Tora masih mau berteman denganku setelah peristiwa memalukan itu. Mungkin nasib asmaraku memang kurang beruntung. Tapi aku senang karena tidak seribet yang kukira. Tora setuju saja. Aku pun tidak menaruh dendam padanya lantaran ditolak.


Yang kupikirkan sekarang adalah mencari uang. Aku tidak yakin setelah Nenek meninggal, kedua pamanku akan mengirimkan uang secara rutin. Apalagi mereka sedang dalam kesulitan ekonomi. Rumah Nenek belum laku dijual. Biasanya Nenek membantu mereka dengan menjual kue-kue buatannya sendiri ke toko-toko.


Tidak mungkin aku meminta pekerjaan pada Tora karena aku tidak berbakat melakukan pekerjaan Yakuza. Lagipula, aku belum pernah mendengar ada yang bekerja sambilan di dalam organisasi Yakuza.


Kuputuskan untuk bertanya pada Koizumi. Ternyata ayahnya memang sedang kekurangan orang di bagian dapur. Di hotel yang dikelolanya, terdapat juga restoran yang menyediakan makanan dengan menu internasional. Tentu saja aku tidak akan ikut memasak. Tugasku hanya mencuci piring dan peralatan dapur. Pada malam hari, tamu sangat banyak, sehingga aku harus bergerak cepat dan tepat. Dapur terasa sangat sempit dan memusingkan, tapi aku harus berkonsentrasi. Awalnya memang agak sulit, tapi beberapa hari kemudian aku mulai terbiasa.


Senin aku libur. Selasa sampai Sabtu aku bekerja sore hari setelah pulang sekolah, sedangkan Minggu mulai dari pukul 6 pagi sampai pukul 9 malam karena restoran selalu lebih ramai pada akhir minggu. Dengan bekerja seperti ini, aku merasakan perbedaan yang mencolok pada nilai-nilaiku di sekolah. Aku lebih berkonsentrasi belajar, sehingga nilaiku membaik. Otakku jadi terbiasa bekerja terus-menerus. Aku pun jadi rajin membersihkan kamarku yang biasanya penuh dengan debu tebal.


Meskipun hanya menghadapi bak cuci piring setiap hari, tapi aku bisa mendengar para koki dan asistennya sibuk mempersiapkan makanan untuk tamu-tamu, mengintip hasil jadinya, juga mencium harumnya masakan mereka. Makanan penutupnya sangat menarik karena berwarna-warni dan berbentuk unik. Kadang-kadang aku mendapatkan makanan sisa dari dapur yang super enak sampai aku ingin menyimpannya di dalam kulkas karena sayang untuk memakannya, tapi rasanya akan berbeda jika aku melakukannya.


"Persiapkan semuanya!" perintah kepala koki yang bernama Mitsushima Ryo kepada para anak buahnya, termasuk aku.


"Ayase, bantu aku dengan ini!" perintah seorang koki wanita yang sedang bersusah payah menggeser mixer sebesar dirinya.


"Ayase, bisakah kau mengiris wortel dengan ketebalan yang sama? Akan aku contohkan," tanya koki pria yang mengurus makanan pembuka, sangat sopan seperti biasa.


"Ayase, pan!" Koki paling galak di dapur melempar penggorengan bekas pakainya ke bak cuci piringku.


Aku bertemu dengan orang-orang yang karakternya berbeda-beda di dapur dan berusaha untuk melaksanakan tugas dari mereka semua, mempersiapkan semuanya pada waktu yang tepat. Namun, aku pun tak luput dari kesalahan, misalnya kurang bersih mencuci peralatan dan terlambat menaruh piring yang akan digunakan untuk menghidangkan makanan. Tak segan-segan mereka memarahiku. Pernah terpikir untuk mengundurkan diri karena memasak bersama Nenek lebih asyik daripada ini, tetapi aku merasakan hal yang luar biasa saat mereka memujiku. Juga, chef Mitsushima adalah orang yang bijak dan tegas. Pria berusia 50 tahun itu membuatku kagum karena mempunyai karisma seorang koki. Apalagi kalau dia sudah mengenakan seragamnya. Masakannya juga sangat lezat hingga membuatku ingin makan dan makan lagi.


"Sampai besok!" seruku kepada para atasanku ketika berpamitan pulang. Di luar sangat gelap ketika aku berjalan melewati lobi hotel yang luas dan sepi. Sofa-sofa empuk ditata sedemikian rupa beserta dekorasinya yang elegan. Troli-troli pengangkut koper terlihat menganggur di sudut ruangan. Seorang resepsionis berpenampilan rapi masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku tersenyum ramah padanya ketika ia menyadari kehadiranku.


Namun, tinggal beberapa meter lagi untuk mencapai pintu kaca otomatis, aku melihat 2 orang, pria dan wanita, yang kukenal baru turun dari taksi. Makoto memapah Tora yang ukuran tubuhnya lebih besar darinya. Tora tampak tak berdaya dengan mengalungkan sebelah lengannya di pundak Makoto, tapi tidak ada satu pun luka di wajah atau badannya. Makoto terlalu sibuk menyeret Tora, sehingga tidak melihatku.


Sebaiknya aku tidak menampakkan diri di hadapan mereka. Jadi aku bersembunyi di balik sofa dekat pintu kaca dan mengintip. Dua orang pelayan hotel datang untuk menolong. Makoto dan mereka semua membaringkan Tora di dekat sofaku seperti seonggok mayat. Mata Tora terpejam, tapi perutnya naik-turun, berarti dia masih hidup. Kemudian, Makoto beralih ke meja resepsionis dan meninggalkan Tora.


Mengendap-endap, aku merangkak menghampiri Tora. Aku menusuk-nusuk pipinya dengan telunjukku, tapi Tora tetap tidur. Lalu, aku mengguncangkan bahunya pelan. "Tora-san," bisikku di telinganya. Kutelusuri rahangnya yang sudah tumbuh sedikit bulu. Di atas bibir dan juga di dagunya. Kapan terakhir kali dia bercukur? Kupanggil namanya sekali lagi.


Tora bereaksi dengan membuka matanya. Perlu beberapa detik baginya untuk bisa fokus. "Tomomi? Sedang apa kau?" tanyanya pelan. Napasnya bau sake.


"Aku bekerja di sini," jawabku. "Kenapa kau mabuk?"


Tora mengangkat tangannya dan meletakkannya di pipiku tanpa menjawab. Biasanya aku akan menunduk karena malu, tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menganggap Tora hanya sebagai teman, jadi kubiarkan dia melakukannya. Kami saling menatap untuk waktu yang lama. Ia mengambil tanganku, lalu menaruhnya di sebelah kiri dadanya. Jantung Tora berdenyut di bawah telapak tanganku, semakin lama semakin cepat. Sedetik kemudian, Tora kembali memejamkan mata.


"Tora-san?" panggilku. Pria itu sudah tak sadarkan diri, sehingga aku kembali ke tempatku semula.


Makoto dan kedua pelayan hotel kembali menghampiri Tora dan memapahnya menuju lorong hotel. Mereka menunggu pintu elevator terbuka, lalu masuk ke dalamnya bersama Tora.


Suara kaca diketuk melonjakkan pundakku. Aku berbalik dan menemukan Kei di balik kaca tebal bangunan hotel. Ia sedang tersenyum dengan cerianya sambil melambai-lambaikan tangannya. Orang yang paling tidak ingin kutemui malah datang. Tanpa mempedulikan air mukaku, ia masuk dan mendatangiku. Pria itu lagi-lagi berdandan ala host, kali ini dengan lip gloss. Kulitnya putih sekali diterangi lampu chandelier lobi. "Aku lihat semuanya lho," godanya. Nada suaranya naik-turun, seolah berayun-ayun.


"Eh?" Jadi dari tadi Kei berada di depan, menonton aku dan Tora. Sekarang kejadian itu terasa sangat memalukan.


"Kau tidak mau menyusul mereka?" tanya Kei.


"Tidak. Aku sudah mau pulang," jawabku ketus.

__ADS_1


Kei tertawa. "Kau tidak khawatir kalau-kalau mereka melakukan sesuatu?"


Aku tahu maksudnya, tapi aku tidak akan membiarkannya membuat mood-ku jatuh. "Bukan urusanku," kataku.


"Baiklah kalau begitu," Kei merogoh saku celananya. "Untukmu," katanya sambil menyerahkan beberapa lembar uang pecahan ribuan padaku.


"Untuk apa?"


"Taksi."


"Aku naik kereta," aku membuang muka.


Kei mendengus. "Rupanya benar kata Tora-kun. Kau menarik sekali."


"Tora-san bercerita tentang aku?"


"Kau ingin tahu?" Kei tersenyum jahil, lalu duduk di sofa. Ia menepuk-nepuk bantalan sofa sebelahnya. "Duduklah."


"Kau tidak sedang mabuk kan?" tanyaku curiga.


"Sedikit. Tapi aku cukup sadar untuk mengobrol denganmu."


Awalnya, aku ragu-ragu. Namun, akhirnya aku duduk juga di sofa itu. Jangan sampai orang lain menganggapku sebagai penyewa jasa host karena melihatku duduk dengan Kei. Selalu ada keseganan bila berhadapan dengan orang ini. Tapi dia cukup ramah.


Kei menghela napas lega setelah menoleh ke kiri kanan untuk memastikan tidak akan ada yang mendengar pembicaraan kami. Pria itu juga menengok ke belakang sofa tempatku bersembunyi tadi. "Dari mana harus aku mulai ya... Oke. Aku dan Tora-kun pertama kali bertemu di Freeze, sama sepertimu. Waktu itu Tora-kun baru saja bergabung. Dia masih belum menumbuhkan bulu-bulu di wajahnya."


"Hei, kenapa kau memberiku pandangan seperti itu? Mau bukti?" tantang Kei yang berbalik dan mengangkat rambut bagian belakang yang menutupi tengkuknya, serta menurunkan kerah kemejanya. Terdapat sebagian kecil dari tato, entah gambar apa, berwarna hijau. Sudah menjadi ciri khas Yakuza untuk mempunyai tato yang memenuhi seluruh punggung mereka. Ada yang mencapai dada, juga lengan dan kaki. Prosesnya pasti sangat menyakitkan karena menggambarnya bukan menggunakan alat otomatis, melainkan bambu yang sudah diruncingkan. Aku merinding hanya dengan membayangkannya. Kei merapikan lagi rambut dan kemejanya.


Aku mengangguk seolah berkata "aku sudah lihat".


Kemudian, Kei melanjutkan ceritanya. "Kami berteman sejak itu. Karena aku juga bekerja di host club, maka kami biasanya bertemu setelah tugas selesai."


"Kau diberi izin untuk menjadi host?"


"Kumicho yang menyuruhku. Dia bilang untuk menarik lebih banyak tamu."


Keningku berkerut menanggapi jawaban Kei. Apa yang istimewa dari pria ini? Wajahnya memang unik. Bibirnya tipis. Bentuk hidungnya lurus dan mancung. Warna rambutnya indah tersorot lampu. Aku paling kagum pada kulitnya yang putih dan mulus tanpa noda.


Seperti apa tugas-tugas yang Kei kerjakan selain menjadi host? Dia bisa kehilangan tamu-tamunya jika mengikuti Kumicho bepergian. Tapi setiap hari berada di host club pasti sangat membosankan, bertemu dengan wanita-wanita yang membutuhkan teman bicara atau minum. Wanita-wanita kaya raya itu menghabiskan banyak uang hanya dalam sehari. Jika aku yang melakukannya, Nenek akan membunuhku.


"Nah!" Kei menunjukku. "Kau tidak percaya lagi padaku kan? Ya ampun! Biasanya tamu-tamuku akan langsung terpesona begitu melihatku. Baru kali ini aku bertemu dengan orang sepertimu," oceh Kei sendirian. Ia menarik napas dan membuangnya perlahan. "Akan kulanjutkan. Dia bilang dia bertemu dengan seorang gadis yang baik hati, yaitu dirimu. Katanya kau sulit untuk diajak bicara pada awalnya. Memang sudah terbukti," Kei tertawa.


Orang ini...menjengkelkan.


"Tetapi lama-kelamaan kalian bisa klop. Kalian sering makan bersama kan? Lalu, katanya kau belajar waltz pada Makoto? Ah! Sungguh tidak dapat dipercaya," lagi-lagi Kei tertawa. "Tapi Tora-kun bilang aktingmu di pentas itu sangat memukau."


"Eh?"

__ADS_1


"Dia berdiri di belakang penonton, sehingga bisa mendengar komentar orang-orang di depannya. Mereka mengagumimu, Tomomi-chan, hanya kau yang tidak menyadarinya."


Aku malu sekali dibuatnya. Apa benar aktingku sebagus itu? Ataukah Kei yang pintar memuji? Sepertinya Kei memang harus pintar bicara. Hal itu membantunya menarik tamu-tamu agar lebih lama mengobrol dengannya. Sambil minum, mereka bisa bicara panjang lebar sampai minuman habis berbotol-botol. Sekarang aku tidak heran kenapa Kei mabuk waktu itu. Dia pasti bersusah payah menjaga kesadarannya di hadapan para tamu.


"Tora-kun juga menceritakan apa yang terjadi padamu di atap sekolah. Dia terlihat cemas seperti seorang bapak. Dia memohon-mohon pada Goro-san agar memberikan izin untuk menjengukmu setiap hari. Goro-san harus menggantikan tugasnya menjaga klub. Kasihan sekali si gendut itu," Kei tergelak. "Tora-kun senang sekali bertemu denganmu di Hakodate, tapi sangat sedih ketika nenekmu meninggal. Aku pun turut berduka cita, Tomomi-chan."


"Terima kasih."


"Lalu, soal insiden cokelat di Shinjuku, aku minta maaf. Aku baru ingat kejadiannya setelah Tora-kun memarahiku keesokan harinya."


"Dia marah?"


Kei mengangguk keras-keras. "Sangat marah sampai aku tidak berani menatap wajahnya," katanya.


Aku tidak heran bila Tora begitu menyeramkan. Kadang-kadang dengan melihat matanya saja aku sudah merinding. Apalagi, kalau dia marah.


"Aku pernah melihat kalian pergi ke rumah sakit jiwa. Tora-kun sehat-sehat saja. Jadi kupikir kaulah yang agak... Kau tahu maksudku."


"Ha? Oh! Ya, aku yang harus rutin ke sana untuk memeriksakan kondisiku," kataku, menutupi fakta yang ada. "Tora-san yang mengantarku," aku tersenyum malu seakan merasa malu sekali. "Apakah ada orang lain yang tahu?"


"Hanya beberapa orang. Dan mereka mulai menganggapmu sebagai orang gila yang mendekati Tora-kun," Kei menertawakan aku.


Aku mendengus. Apa boleh buat. Memang lebih baik seperti itu. "Begitu ya," kataku berlagak malu-malu.


"Tapi aku masih penasaran kenapa kau tidak menyusul Tora-kun dan Makoto. Apa kau tidak ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan?"


Aku bingung mau menjawab apa. Setengah ingin, setengah menahan diri. Oke! Aku ingin sekali tahu, tapi aku menahan diri! Mungkin kalau Kei tidak memanggilku tadi, aku sudah membuntuti Makoto dan Tora! "Kami sudah sepakat untuk berteman saja. Jadi, apa pun yang mereka lakukan, bukan urusanku," jawabku, melenceng jauh dari pikiranku.


"Sungguh? Apa kau menerimanya dengan besar hati?"


Aku mengangguk.


"Kau yakin?" Dua bola mata Kei menatapku seakan tahu bahwa aku bohong. "Apa kau bisa menerima jika Tora-kun jadian dengan Makoto atau orang lain? Sekarang mungkin mereka sudah berada di kamar yang sama. Segalanya bisa terjadi di sana. Apa kau oke-oke saja?"


Ingin aku membekap mulutnya dengan tanganku sendiri, tapi dia benar. Aku tidak menyadari betapa transparannya diriku, sampai orang yang baru kukenal saja bisa menebak isi hatiku yang sebenarnya.


"Aku tahu mengenai Misaki," kata Kei.


😳😳😳😳😳


**bersambung ke chapter 13!


gimana chapter inih? adakah yg nggak dipahami?


aku minta like dan comment yah..semoga cerita ini sesuai harapan pembaca 🙏


matta nee**...

__ADS_1


__ADS_2