My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 30 - Life


__ADS_3

Aku terbangun di sebuah ruangan bercahaya putih. Tirai tinggi mengelilingi tempat tidurku yang keras dan berbesi pengaman. Jarum infus tertanam di punggung tanganku. Bau khas rumah sakit menusuk hidungku.


Seorang suster muda sedang berdiri di depan tiang infusku sambil mencatat sesuatu. Seragamnya berbeda dengan suster di rumah sakit jiwa tempat Misaki dirawat. "Kau sudah bangun. Akan kuberi tahu dokter," katanya, tersenyum. "Kau ingat namamu?"


"Ayase Tomomi. Di mana Tora-san?" tanyaku.


"Tora-san... Kucingmu?" Suster itu nampak bingung.


Aku diam sebentar, ingat bahwa nama Tora bukanlah nama yang biasa digunakan oleh orang awam. "Siapa yang membawaku ke sini?"


"Seorang laki-laki ganteng yang bertubuh tinggi menjulang dan berambut hitam," si suster tersenyum jahil. "Apa dia pacarmu?" godanya. "Dia sedang berada di ruang terapi."


"Terapi?" Aku berusaha duduk, tapi kepalaku sakit sekali. Telapak tanganku menangkap perban yang mengelilingi kepalaku ketika aku merabanya.


"Tidurlah dulu. Kau mengalami benturan yang sangat keras. Bagaimana kau bisa jatuh dari lantai 2 rumahmu?"


"Jatuh?" Pasti Tora yang mengarang cerita palsu. Tak mungkin dia memberi tahu yang sebenarnya. "Berapa lama aku tidur?"


"Dua hari. Aku permisi dulu. Kalau membutuhkan sesuatu, tekanlah tombol ini," si suster menunjukkan alat pemanggil yang dihubungkan dengan kabel panjang dan meletakkannya di sebelah tanganku. Setelah membaca kembali catatannya, ia keluar.


"Sedang apa Tora-san di ruang terapi?" gumamku.


Tak perlu waktu lama bagiku untuk pulas lagi. Ketika aku membuka mata, tirai yang mengelilingiku terbuka sebagian. Aku menoleh ke kiri dan menemukan Tora sedang tidur di kursi. Kerongkonganku kering. Aku ingin minum, tapi tidak mau membangunkan Tora. Jadilah aku berkutat sendirian di ranjang. Sekuat tenaga sambil menahan sakit di kepala, aku bangkit dan meraih gelas di meja sebelah ranjang.


Tora terlihat lelah. Dia pasti menungguiku selama 2 hari ini di sini. Ada yang ingin kutanyakan tapi itu bisa dilakukan nanti. Namun, anehnya, dia terlonjak sendiri di kursinya tanpa ada yang membangunkan. Dia memandang linglung ke sekelilingnya.


"Mimpi?" tanyaku.


"Ya," Tora menggaruk-garuk kepalanya. "Kau sudah sadar. Apa yang kau rasakan sekarang?"


"Hanya sakit kepala. Kau?"


Tora mengangkat bahu. "Besok kau boleh pulang tapi masih harus minum obat sampai habis," katanya.


"Tadi kau ke ruang terapi?"


Setelah diam beberapa detik, Tora baru menjawab, "Kebetulan aku bertemu Dokter Minami yang juga praktek di rumah sakit ini. Kami mengobrol sedikit tentang Misaki. Jenazahnya sudah dikubur."


"Kau mau ke makamnya?" tanyaku, menatap Tora sedemikian lekat. Aku tahu pertanyaan itu sulit dijawab olehnya. Badan Tora memang besar, wajahnya pun menyeramkan, tapi perasaannya halus sekali. Gelengan kepalanyalah yang membuktikannya. Aku mengangguk mengerti. "Kau sudah meminta maaf karena memukuli Dokter Minami waktu itu?"


Tora tergelak, akhirnya. "Masih ada bekas lebam di wajahnya, tapi ya, aku sudah meminta maaf," ujarnya. "Ada yang kau butuhkan?"


Seketika, perutku berbunyi. Cacing-cacing di perutku butuh asupan makanan. Kami berdua tertawa mendengarnya. Tora menyuapi, sesendok demi sesendok, makanan rumah sakit ke mulutku. Rasanya hambar, tapi kupaksakan untuk menelan karena sangat lapar.


Keesokan paginya, aku dijemput Tora. Perban di kepalaku telah dilepas. Mereka mencukur sedikit rambutku, sehingga bentuknya jadi aneh. Tora memberiku topi untuk menutupinya. Kami pulang ke rumah Tora. Aku rindu sekali rumah mungil nan indah itu. Kalau tidak memalukan, aku ingin menempelkan tubuhku di dindingnya seperti cicak. Lega rasanya bisa kembali ke sini.


"Kau baik-baik di sini. Aku pergi dulu," kata Tora setelah mengantarku ke kamar.


"Kau mau ke mana?"


"Kerja."


"Kerja?"


Tora mengangguk. "Aku sudah mendapatkan pekerjaan baru," ia tersenyum.


"Selamat! Di mana?" tanyaku bersemangat.


"Sebuah restoran kecil. Aku bekerja di dapur sebagai pembantu koki."


"Cocok sekali denganmu, Tora-san!" seruku.


"Aku berangkat."

__ADS_1


"Hati-hati di jalan," aku melambaikan tangan padanya.


🥕🥕🥕🥕🥕


Aku baru bersekolah 2 hari setelahnya. Teman-temanku menanyakan ke mana saja aku selama itu. Tentu aku tidak menjawab yang sebenarnya. Tapi sebagian dari mereka sepertinya akan percaya bila kuceritakan. Mereka juga bertanya-tanya kenapa aku mengenakan topi sepanjang hari. Begitu aku membuka topiku, mereka terkejut dan langsung mengajakku ke salon. Luka di kepalaku sudah sembuh, jadi kuterima ajakan mereka.


Tora agak terkejut ketika pulang dan tidak menemukan rambut panjangku. "Manis," komentarnya malu-malu.


Sekarang rambutku pendek tak sampai bahu. Terasa aneh tapi kepalaku jadi lebih ringan. Ini juga menjadi tanda bahwa masa-masa sulit dalam hidupku telah berakhir. Tora pun bukan lagi Yakuza, terbebas dari segala aturan ketat klan. Ia telah menjadi orang biasa yang bekerja di sebuah restoran.


"Apa bosmu tahu kau mantan Yakuza?" tanyaku ketika kami sedang makan malam.


Tora mengangguk. "Dia tidak mempermasalahkannya. Dia bahkan ingin membuat tato seperti Yakuza agar ditakuti para bawahannya," ia tertawa.


"Aku juga mau."


"Eh? Tidak, tidak," larang Tora.


"Aku bercanda," kataku, lalu tertawa.


"Oi!" Lucu sekali melihat wajah bodoh Tora. Sangat menggemaskan sampai membuatku ingin mencubit pipinya.


"Apa kau menggunakan nama aslimu?" tanyaku lagi.


"Ya."


"Kalau begitu, apa seharusnya aku memanggilmu Taiga-san?"


Tora tertawa. "Tidak usah," ujarnya.


"Taiga-niisan seperti Misaki? Ah... Maaf." Bodohnya aku karena menyebut nama adiknya.


"Tidak apa-apa. Aku pun menganggap Misaki masih hidup," kata Tora datar.


Kami kehilangan sosok gadis ceria dan bersemangat. Kami merindukannya. Misaki menjadi warna dalam hidup kami. Misaki adalah keluarga kami. Gadis itu meninggal sendirian. Kami sangat menyesali kepergiannya karena tidak mampu menyelamatkannya. Sampai sekarang pun kami masih menganggapnya masih ada di sekitar kami walaupun tak terlihat. Semangatnya membuat kami sanggup menjalani hidup ke depan.


Aku memutuskan untuk mampir ke makam Misaki sepulang sekolah tanpa memberi tahu Tora. Perasaanku campur aduk ketika melihat nisan pendek bertuliskan "TONOMURA MISAKI". Antara kangen, marah, dan sedih, aku memilih untuk tidak menangis. Kurasa "terima kasih" tidak akan cukup untuk kukatakan padanya.


Aku berdoa untuknya dalam hati. "Aku akan datang lagi," ucapku sambil menepuk nisan Misaki.


🎱🎱🎱🎱🎱


"Kau terlambat," kata Tora begitu aku sampai di rumah. Pria itu tiba lebih dulu dan sedang memasak makan malam.


"Ada kegiatan klub di sekolah," jawabku. Sepertinya aku jadi mahir mengarang cerita palsu.


"Kau ikut kegiatan klub?"


"Ya. Bola basket."


Tora tertawa. Menertawakan aku, lebih tepatnya.


"Jangan remehkan aku," protesku. "Aku sudah bisa menggiring bola yang berat itu ke mana-mana," bualku.


"Oh ya? Aku ingin lihat."


Aku harus benar-benar ikut klub basket mulai besok. Inginnya aku mengajak Tora ke makam Misaki, tapi apa dia mau? "Tora-san," panggilku.


"Ya?"


"Apa kau mau..." Aku takut dia murung lagi, atau malah marah.


"Mau apa?"

__ADS_1


"Apa kau mau... Ikut denganku?"


"Ke mana?"


"Ke... Ke... " Nampaknya, belum saatnya. "Nonton film?"


Tora tergelak. "Besok aku libur. Kita nonton film," ia tersenyum.


Aku mengangguk. Melihat Tora seperti ini membuatku tidak ingin merusak mood-nya. Bila Tora bahagia dengan tidak memikirkan Misaki, maka aku tidak akan mengganggu walaupun aku tahu dia pasti masih merindukan adiknya. Aku akan menunggu sampai Tora sendiri yang ingin pergi ke makam Misaki.


🏈🏈🏈🏈🏈


"Misaki, aku datang lagi," kataku sambil berlutut di hadapan nisan Misaki. Aku meletakkan sebuket bunga di rumput hijau, di bawah batu itu. Angin dingin menerpa tubuhku yang hanya mengenakan seragam sekolah. "Sebentar lagi tahun akan berganti. Masih ingatkah kau pada perayaan tahun baru kita? Sayang sekali kita tidak bisa mengulanginya," aku tersenyum. "Maafkan aku karena belum bisa membujuk kakakmu untuk datang kemari, tapi dia baik-baik saja. Sekarang dia bekerja di sebuah restoran kecil sebagai asisten koki. Masakannya lezat sekali. Kapan-kapan akan kubawakan."


Seandainya masih hidup, mungkin Misaki akan kembali ke sekolah. Ia bisa pindah ke sekolahku atau tetap di sekolah lamanya. Kami akan sering jalan-jalan sepulang sekolah, melakukan kegiatan klub bersama, mengobrolkan banyak hal.


Namun, itu semua hanya khayalan. Misaki sudah tidak ada.


♠️♠️♠️♠️♠️


Tora lebih banyak diam daripada sebelumnya. Sinar matanya seolah padam karena kehilangan harapan. Misaki adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.


Aku tidak pernah mendengar kabar tentang Kei setelah ia pergi dari markas Hanazawa-gumi. Kuakui aku rindu padanya. Aku ingin mendengar ejekannya lagi, ucapannya yang blak-blakan, juga ingin melihat dandanan ala host-nya lagi.


Makoto Aya atau Kiritani Aya adalah seorang wanita yang kuat. Tapi dia dibutakan oleh dendam. Pelajaran waltz-nya masih kuingat. Kalau saja tidak menjadi Yakuza, aku yakin dia akan menjadi penari terkenal. Cintanya pada Tora tak juga membuatnya mengerti keinginan kakaknya untuk tetap bersama Kumicho.


Hanazawa-gumi dibubarkan setelah peristiwa tragis itu. Kumicho telah tewas, begitu pula dengan orang-orang kepercayaannya. Dengan demikian, para anggotanya bebas melakukan apa pun tanpa terikat dengan klan. Kumicho adalah seorang pemimpin yang disegani. Kurasa pepatah "di balik pria yang hebat, ada seorang wanita yang lebih hebat lagi" itu benar. Beliau sangat mencintai istrinya dan dia menyesal karena tidak ada di samping istrinya di saat terakhir. Sekarang mereka pasti sudah bertemu lagi.


🐰🐰🐰🐰🐰


Penjaga pemakaman sudah mengenaliku karena aku sering ke sini. Sebisaku, aku menahan air mataku. "Sebaiknya aku pulang. Sampai jumpa lagi, Misaki," kataku sambil menepuk-nepuk nisan Misaki seperti yang biasa kulakukan.


Rupanya Tokyo memang memberiku kenangan buruk, tapi aku tidak dapat pulang kampung begitu saja. Tora membutuhkan teman yang bisa mendukungnya melewati masa sulit seperti sekarang.


"Aku pulang," sapa Tora yang ternyata baru pulang 2 jam setelahku.


"Selamat datang. Duduk saja. Sebentar lagi aku selesai," kataku sambil mengaduk sup untuk makan malam.


Tetapi bukannya duduk di kursi makan, Tora menghampiriku dan duduk di meja konter dapur. "Aku capek," katanya malas. Baru kali ini ia mengatakannya. "Kau memasak apa?"


"Ikan dan sup kesukaanmu."


"Enak?" Tora mengendus aroma supku.


"Tentu saja. Kau yang mengajariku," aku tersenyum.


Selama beberapa menit, kami diam. Yang terdengar hanya suara letupan supku yang sebentar lagi akan mendidih dan siap untuk disajikan. Kami sering diam dan jengah seperti ini. Kami makan dengan tenang, mandi, lalu istirahat.


Entah kenapa, malam ini aku tidak bisa tidur. Kupejamkan mata untuk waktu yang lama, tapi tetap saja tidak dapat membawaku ke alam mimpi. Biasanya, aku akan berguling-guling di tempat tidur, tapi sekarang aku memilih keluar kamar. Mungkin dengan menonton televisi, mataku akan lelah dengan sendirinya.


Sengaja kumatikan suaranya agar tidak membangunkan Tora yang tidur di kamar sebelah. Dia bilang dia capek. Jadi, dia pasti membutuhkan waktu istirahat berkualitas agar energinya pulih pada esok pagi.


Aku tidak tahu acara apa yang sedang kutonton. Tiga orang mengobrol dan menertawakan sesuatu. Yang perempuan tertawa sampai sakit perut, sedangkan 2 laki-laki lainnya tertawa sambil tetap mengoceh. Mungkin aku pun akan tertawa bila mendengar lelucon mereka. Aku bingung hingga mencoba membaca gerakan bibir mereka.


Namun, yang kutangkap bukanlah lelucon, melainkan suara isakan di telingaku. Aku menoleh ke sumber suara. Seluruh tubuhku merinding seketika. Dengan lampu padam seperti ini, aku seolah berada dalam sebuah rumah tua, hanya lebih sejuk. Mengendap-endap, aku mengikuti rambatan suara hingga ke depan kamar Tora. Kutempelkan telingaku di pintu.


Memang suara Tora.


🦉🦉🦉🦉🦉


**bersambung ke chapter selanjutnya!


minta like dan comment yah guys...

__ADS_1


matta ne**...


__ADS_2