My Yakuza Boyfriend

My Yakuza Boyfriend
Chapter 31 - Shield


__ADS_3

Kemudian, dilema melanda. Kuketuk atau tidak? Apakah ia sedang teringat akan Misaki? Sudah berapa malam yang dilewatinya dengan menangis? Sungguh menyakitkan mendengar tangisannya. Yang lebih menyedihkan adalah tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk menghiburnya. "Semua akan berlalu" atau "ada aku di sini" tidak akan membuat Tora benar-benar berhenti.


"Tora-san," panggilku. "Kau baik-baik saja?" tanyaku, yang selanjutnya kusesali karena Tora jelas tidak sedang baik-baik saja. "Tora-san?" Kuputar dan kudorong gagang pintu kamarnya. Kamar Tora gelap sekali. Aku memicingkan mata untuk menyesuaikan cahaya. Akhirnya, aku menemukan sosok Tora yang sedang duduk di lantai, memunggungiku. "Tora-san?"


"Kukira kau sudah tidur," ujar Tora pelan. Suaranya terdengar seperti orang pilek. "Apa aku membangunkanmu?"


"Tidak. Aku tidak bisa tidur."


"Kembalilah ke kamarmu, Tomomi."


"Kau membutuhkan sesuatu?"


"Biarkan saja aku."


"Mana bisa aku membiarkanmu!" protesku.


Tora diam.


"Kau boleh cerita padaku apa saja kalau kau mau," kataku lagi. Tetapi Tora tetap bungkam. Aku geregetan melihat Tora seperti ini. "Aku tahu kau merindukan adikmu, aku juga. Aku sering memimpikannya dan begitu bangun, aku pasti menangis."


Tora menghela nafas. "Aku ingin meminta maaf padamu."


"Untuk apa?"


"Gara-gara aku, kau jadi mengalami banyak sekali kejadian buruk. Kau melihat orang mati di depan matamu. Pemandangan seperti itu seharusnya hanya dialami oleh kami, para Yakuza. Kalau dipikir lagi, bukankah sebaiknya kita tidak usah bertemu dari awal?"


"Eh? Tora-san, aku mencintaimu. Jadi, apa pun yang kualami, tidak akan merubah perasaanku terhadapmu."


"Kalau tahu bakal begini, aku tidak mau mencegatmu di sekolah. Aku tidak mengira akan begini akhirnya. Entah kapan kita bisa melupakan semuanya," Tora mengoceh soal peristiwa-peristiwa tidak mengenakkan semenjak aku bersedia membantunya dengan melaporkan keadaan Misaki sampai ke aksi bunuh diri Kumicho. Mendengar Tora menyesali pertemuan kami, sangatlah menyakitkan.


Terus terang, aku tidak terima perkataannya. Kesannya, dia adalah pembawa kesialan dalam hidupku. Lagi-lagi dia merendahkan dirinya sendiri. "Aku tidak mau mendengarnya," kataku.


"Tapi itulah kenyataannya. Kau tahu kenapa belakangan ini aku pulang terlambat? Aku pergi menemui Dokter Minami untuk berkonsultasi. Beliau bilang aku memerlukan terapi kejiwaan. Aku hampir gila karena kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupku. Aku kehilangan orang yang menjadi alasanku untuk hidup. Mungkin sebentar lagi aku akan menjadi orang gila betulan dan menggantikan Misaki menghuni rumah sakit jiwa. Atau aku mungkin tidak akan dapat mengontrol emosiku dan malah menyakitimu."


Aku tidak tahan lagi. "Tidak apa-apa," sahutku sambil melangkah mendekati Tora, lalu berlutut dan memeluknya dari belakang. Kukelilingi dia dengan kedua lenganku. Kuletakkan daguku di bahunya. "Kalau kau gila, maka aku pun gila. Tidak apa-apa, Tora-san."


"Tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


"Tidak akan terjadi sesuatu padaku, tidak juga padamu. Aku yang akan menjagamu. Walaupun tubuhku kecil dan kurus, aku ingin mendampingimu melewati ini semua," kucium pipi Tora yang basah karena air mata. "Menangislah sesukamu, Tora-san."


Tora melepaskan tanganku dan berbalik. Kedua matanya berair dan siap menumpahkan lebih banyak lagi. Ia bersandar di pundakku. Dan tangisnya pun pecah.


Aku tidak pernah mendengar tangisan seorang pria sebelumnya selain kedua pamanku saat Nenek meninggal. Waktu itu, Tora menghiburku. Sekarang, keadaan terbalik. Aku tidak boleh lemah di hadapannya. Kutepuk-tepuk punggung Tora untuk membuatnya nyaman.

__ADS_1


"Terima kasih, Tomomi," ucap Tora di sela-sela tangisnya.


🐯🐯🐯🐯🐯


Pagi cepat sekali datang. Tanpa kusadari, Tora telah memindahkanku ke ranjangnya. Dia sendiri tidak ada di tempat. Entah ke mana dia pergi. Biasanya dia membuatkanku sarapan. Namun, hari ini belum tersedia makanan di bawah tudung saji. "Apa dia lupa? Apa yang membuatnya melupakan sarapan?" Aku bertanya-tanya sambil menunggunya pulang.


Satu jam kemudian, Tora pulang. "Dingin sekali hari ini," katanya begitu melihatku. Ia membawa sebuah kantong plastik berisi 2 buah kotak berukuran sedang. Yang langsung tertangkap oleh mataku adalah kacamata hitamnya. Benda itu benar-benar membuatnya ganteng maksimal. Ia menyadari aku memperhatikannya. "Ini... Untuk mataku... Kau tahu..." Tora mengangkat bahu. Matanya pasti bengkak karena menangis semalam.


Jantungku tidak mau berhenti melompat-lompat. Aku mengangguk. "Dari mana kau?" tanyaku.


"Aku membeli makanan," jawabnya.


"Tidak biasanya," kataku curiga.


Tora mengeluarkan kedua kotak itu dan menyiapkannya untuk kami berdua. "Makanlah dulu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


"Ke mana?"


"Aku tidak berani pergi sendirian. Kau mau ikut?" tanya Tora tanpa memberi tahu lokasi tujuannya.


"Asalkan bukan rumah hantu, aku pasti ikut," aku tertawa.


🎀🎀🎀🎀🎀


Tora masih menyimpan rahasianya sampai saat kami keluar dari rumah. Kami berjalan bergandengan tangan. Hari ini memang dingin sekali seperti katanya. Padahal, kami mengenakan jaket tebal, sepatu boot, sarung tangan, dan syal. Tora memimpin perjalanan ke sebuah toko bunga di pinggir jalan. Bunga langsung mengingatkanku pada Misaki.


"Kau bersedia menemaniku menemuinya kan?" tanya Tora.


Aku mengangguk mantap.


Bersama-sama, kami memilih bunga untuk Misaki. Selanjutnya, kami naik kereta ke makam. Tora menggenggam buket bunganya erat-erat. Bola matanya tidak beralih dari bunga itu. Dia terlihat tegang.


Kuletakkan tanganku di atas tangannya. "Tidak apa-apa, Tora-san," kataku lembut. Aku menyemangatinya dengan menepuk punggungnya.


Kami tiba di lokasi pemakaman pada siang hari. Sepi sekali di sini. Hanya ada beberapa orang pengunjung. Kali ini aku yang memimpin Tora menuju makam Misaki. Pohon-pohon besar berdaun jarang menaungi jalan berbatu yang kami lalui. Di sisi kanan kiri jalan, berjajar batu-batu nisan yang tersusun rapi di padang rumput luas dan basah. Aku sering membaca nama-nama yang tercantum di atasnya sambil bertanya-tanya, seperti apa mereka di kehidupan mendatang.


Aku hafal benar jalannya karena hampir setiap hari aku kemari. Mungkin Misaki sampai bosan melihatku. Gadis itu pasti senang sekali karena Tora ingin mengunjunginya tanpa paksaan. Mereka akan bertemu untuk kedua kalinya.


Aku menghentikan langkahku sekitar 5 meter dari batu nisan Misaki untuk memastikan keadaan Tora. "Kau yakin?" tanyaku.


Tora mengangguk setelah menarik napas dalam-dalam.


"Dia ada di sana," aku menunjuk nisan yang paling pendek di antara nisan-nisan tinggi lainnya. Kupikir Tora pasti memerlukan waktu pribadi dengan adiknya. Jadi, aku memutuskan untuk menunggunya saja.

__ADS_1


"Ya," Tora gugup sekali. Ia gundah, cemas, khawatir. Namun, akhirnya pria itu melangkah mendekati nisan Misaki.


Kuperhatikan Tora dalam jarak 5 meter. Dia berlutut di depan nisan itu, meletakkan buket bunga di atas rumput, lalu berdoa, lama sekali. Bila aku yang tewas, apakah Tora akan bersikap sama seperti ini? Aku bukan keluarganya. Ikatan kami tidak sekuat itu. Kami memang saling mencintai, tapi bila salah satu dari kami pergi, ya pergi saja.


"Tomomi," panggil Tora. Dia melambai-lambaikan tangan, memanggilku.


Aku menghampirinya. "Ada apa?"


Tora menatap nisan Misaki. "Aku ingin meminta izin pada Misaki," katanya.


"Izin untuk apa?" Baru kali ini aku mendengar seseorang meminta izin pada orang yang sudah mati, kecuali dia ingin...


Tora mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, sebuah kotak kecil berwarna putih. Pria itu membukanya di hadapanku dan memperlihatkan isinya. "Menikahimu," jawabnya sambil menatapku.


Menikah. "Eh? Eh? Eeeh?" Aku seperti terkena serangan jantung. "Kenapa tiba-tiba... Eeeh?" Orang ini selalu membuatku salah tingkah. Cincin yang tertanam di dalam kotak itu berwarna emas, sama seperti mata harimau di punggung Tora. Sebuah batu berkilau kecil bertengger di tengah-tengahnya. Aku menghela napas. "Kenapa?" Hanya itu yang dapat kutanyakan sekarang karena kepalaku sedang kosong.


Tora mengambil cincin itu dan memasangnya di jari manis kiriku. "Kau tahu mengapa cincin berbentuk bulat, tanpa awal, tanpa akhir? Karena cincin menggambarkan kehidupan manusia yang terus berputar seperti roda. Ada kelahiran, kematian, kesedihan, kebahagiaan. Hal ini berarti kesatuan hidup yang saling melengkapi. Saling menerima kekurangan, saling melengkapi kesempurnaan. Ini adalah bukti cinta tanpa akhir dariku. Aku akan selalu ada sebagai diriku sendiri di sampingmu." Ia tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipinya.


Cincin itu pas di jariku, tidak kebesaran dan tidak kekecilan. Aku tidak tahu sejak kapan dia mulai meneliti ukuran jariku. Tora benar-benar berhasil membuatku terkejut sampai tidak dapat berbicara apa pun.


"Aku yakin Misaki ikut berbahagia bersama kita," tambahnya.


Aku menoleh ke nisan Misaki dan Tora secara bergantian. "Kau... Yah aku... Kaget, pasti," aku masih tergagap sampai ingin menangis.


"Maaf, aku memilih tempat yang menyeramkan ini untuk melamarmu," Tora tertawa.


Seketika, aku merinding. Angin dingin yang berhembus menambah suasana horor. Tapi kini aku bersama Tora. Aku berjinjit untuk mencium bibirnya, lalu melompat ke pelukannya. "Aku tidak takut," kataku, yakin bahwa ikatan kami sekarang lebih kuat daripada sebelumnya.


Berdua, kami mendoakan Misaki. Semoga Misaki mendapatkan tempat paling indah di Surga. Dan bila terlahir kembali, semoga ia memperoleh kehidupan lebih baik daripada sebelumnya. Sampai kapan pun, kenangan indah tentang Misaki tidak akan kami lupakan.


"Aku akan membuatmu bahagia," sumpah Tora.


Aku mengangguk. "Aku juga."


🍭🍭🍭🍭🍭


**TAMAT!


Akhirnya cerita ini tamat! pengen tau donk gimana komen kalian 😍


jangan lupa like yah...


semoga cerita ini bisa menginspirasi pembaca seperti sudah menginspirasi aku sebagai penulis 🙏

__ADS_1


sampai jumpa di cerita selanjutnya!


😘😘😘**


__ADS_2