
Aku tidak mengenal orang ini. Apa mungkin dia teman Tora yang ditunggu-tunggu dari tadi? Tapi aku tidak setuju padanya yang mengatakan bahwa Tora ganteng. Tora tidak ganteng. Bila Tora ganteng, maka aku tidak akan menyukainya.
"Tora-kun, kenapa tak kau jawab saja gadis itu?" tanyanya kepada Tora sambil merangkul pundaknya.
"Diamlah, Kei," kata Tora.
Si host beralih padaku. "Namaku Kei. Siapa namamu, nona cantik?" Ia mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Aku tahu namanya bukanlah nama yang sebenarnya. Kebanyakan para host mempunyai nama panggilan yang menarik dan mudah diingat. Tentu mereka tidak ingin dilupakan oleh tamu-tamunya. "Ayase Tomomi," aku menyambut tangannya.
"Kau berkeringat!" serunya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Kau tidak sedang sakit kan?"
Bau alkohol tercium dari mulutnya. Orang ini sedang mabuk. Pantas saja kelakuannya menjengkelkan. "Tidak," jawabku. "Kurasa kau yang sedang sakit."
Kei tertawa tepat di depan hidungku. "Kau pernah melihat Tora-kun mabuk?"
Aku menggeleng sambil menahan napas.
"Tora-kun menarik sekali kalau sedang mabuk," Kei tersenyum menggoda.
"Ya, ya, aku menarik," Tora terlihat sedikit kesal. Ia menarik pundak Kei agar menjauh dariku. "Tomomi, sebaiknya kau pulang. Ah, terima kasih," katanya sambil menunjukkan kotak pemberianku. Mereka berdua pergi begitu saja.
"Eh? Apa ini?" tanyaku sendirian.
Tora meninggalkan aku tanpa basa-basi. Ya, dia memang bukan orang yang suka berbasa-basi. Kedatangan Kei, si host, membuyarkan semuanya. Pernyataan cintaku jadi sia-sia. Tora tidak menjawabku atau menjanjikan jawaban sama sekali. Apa itu berarti dia tidak suka padaku? Jika menyukaiku, dia pasti tetap menjawabku walaupun ada orang lain kan? Tapi bila seandainya tidak menyukaiku pun, aku ingin ia mengatakannya langsung saat itu juga. Aku tidak mau menunggu.
😨😨😨😨😨
Koizumi meneleponku sesaat setelah aku tiba di apartemenku. Aku menceritakan semuanya. Dia terdengar kesal sekali dan menyalahkan Kei. Lucu sekali waktu Koizumi berseru, "Aku mengutukmu, Kei!" Tapi kemudian, ia berkata, "Apa mungkin dia tidak merasakan hal yang sama denganmu, Ayase-chan? Maksudku, mungkin dia tidak ingin kau sakit hati jika dia menolakmu. Jadi dia diam saja."
"Ya, mungkin. Apalagi dia malah menyuruhku pulang, bukan Kei. Itu berarti aku tidak penting kan?"
"Sudahlah, Ayase-chan! Jangan bersedih! Aku akan mengenalkanmu pada orang lain. Aku janji!" Koizumi sangat menghiburku.
Aku tergelak. "Aku tidak apa-apa kok. Kau tak perlu khawatir," kataku, lalu menyudahi telepon kami. Rasanya jantungku sudah kehabisan tenaganya untuk memukul dadaku keras-keras, sehingga aku bisa tidur dengan tenang.
Esok harinya, tidak ada pesan atau telepon dari Tora. Begitu pula dengan esok dan esoknya lagi. Kurasa aku benar-benar sudah ditolaknya. Tapi Tora tidak perlu mengabaikanku seperti ini. Aku akan menerima apa pun jawaban darinya. Bahkan, bila dia mengatakan bahwa dia menyukai Makoto. Ah, Makoto... Mungkin wanita itu juga memberikan sesuatu untuk Tora, sesuatu yang tidak mampu kuberikan. Sebagai wanita dewasa, tentu dia lebih tahu apa yang dibutuhkan laki-laki.
Berkali-kali aku menghela napas secara tidak sengaja hingga beberapa temanku bertanya-tanya apa yang terjadi padaku. "Sepertinya harapanku sudah habis," kataku pada Koizumi saat makan siang di atap.
"Jangan pesimis dulu! Menurutku, kau harus menanyakannya lagi, Ayase-chan," Koizumi menyantap bekal bawaannya. Nafsu makan Koizumi naik 2 kali lipat sampai membuatnya bertambah gemuk. Tapi itu bagus untuknya, juga anaknya.
"Apa yang harus kutanyakan?"
"Hmmm... Misalnya 'apa kau sudah memikirkannya' atau 'aku ingin tahu jawabanmu'."
"Tidak mungkin!" seruku putus asa. "Aku bakal malu!"
"Tapi kalau tidak begitu, tidak akan jelas sebenarnya dia menyukaimu atau tidak."
"Kau benar... Maaf ya, membuatmu ikut memikirkannya," aku menepuk-nepuk pundak Koizumi yang telah menghabiskan semua makanannya. "Ayo kita turun," ajakku.
"Kau tidak makan?" tanya Koizumi. Ia melihat bekalku yang masih tersisa banyak. "Boleh kumakan?"
Aku menuangkan isi kotak bekalku ke kotak Koizumi. Gadis itu makan dengan lahap. Perutnya semakin buncit, tapi tersamarkan oleh sweater yang dipakainya. Di sekolah ini, hanya sedikit orang yang tahu bahwa dia sedang hamil. Alasan yang akan dipakainya untuk mengundurkan diri dari sekolah adalah kepindahan orangtuanya ke luar kota, sehingga Koizumi harus ikut bersama mereka.
Kami berdua kembali ke kelas 5 menit sebelum bel berbunyi. Baru saja menaruh satu kaki di lantai kelas, kami langsung dihebohkan oleh para murid perempuan yang melihat sesuatu di luar dari jendela. Mereka bersorak-sorak kegirangan seperti orang gila. Aku dan Koizumi saling menatap bingung.
"Koizumi, Ayase, lihat itu! Ada cowok ganteng di depan gerbang!" teriak salah satu dari mereka begitu melihat kami.
__ADS_1
"Mana?" Koizumi langsung bersemangat dan beralih ke jendela. "Wah! Iya ganteng sekali! Kemari, Ayase-chan! Kau harus melihatnya!"
"Cowok ganteng? Aku tidak tertarik," tolakku, lalu berjalan ke mejaku.
"Ah! Kau ini... Kau akan rugi lho! Dia sedang menunggu siapa ya?"
Aneh sekali mereka bisa menilai kegantengan seseorang dalam jarak 50 meter. Aku jadi ingat saat pertama kali Tora menungguku di gerbang sekolah. Mereka bilang dia menyeramkan dengan berbisik-bisik. Tapi ternyata kalau orang ganteng yang berdiri di sana, mereka jadi heboh begini. Cowok ganteng memang superior. Ataukah mereka yang norak?
🥪🥪🥪🥪🥪
Setelah Koizumi masuk ke mobilnya, aku baru berjalan keluar gerbang. Cowok yang dibilang ganteng itu masih berada di situ. Dia benar-benar menarik perhatian semua siswa perempuan, kecuali aku. Tubuhnya setinggi Tora dan ia mengenakan long coat. Aku melihatnya sambil lalu karena memang tidak tertarik.
"Cewek!" kata cowok itu, membuatku tersentak. "Hei, cewek!" ulangnya.
Suaranya seperti suara Tora. Ah! Ini pasti ilusi. Aku terlalu banyak memikirkan Tora hingga berhalusinasi begini.
"Cewek yang datang ke host club untuk memberikan kue cokelat!"
"Ha?" Aku menoleh ke arah cowok itu, memperhatikannya dari kepala sampai ke kaki. Bagian belakang rambut hitamnya pendek dengan poni miring yang panjangnya melewati mata dan disisir ke samping kanan. Matanya tajam, hidungnya mancung sekali, bibirnya tipis. Bentuk wajahnya oval dengan rahang yang tegas. Wajahnya bersih dari jerawat atau pun bintik-bintik. Di telinga kirinya menggantung anting pendek. Long coat-nya berwarna hitam, panjangnya sampai di atas lutut. "Tora-san?" tanyaku bingung.
"Akhirnya kau mengenaliku," kata Tora seraya tergelak. "Ekspresimu lucu sekali. Hei, tidak perlu memelototiku seperti itu. Aku hanya mencukur habis kumis dan jenggotku. Bagaimana penampilanku sekarang?" tanyanya.
Aku tidak mampu berkata-kata. Kepalaku kosong karena bingung melihat penampilan baru Tora yang... Sudahlah, aku tidak bisa berkomentar. "Kenapa kau mencukurnya?"
"Tidak apa-apa. Begini lebih rapi kan?" Tora tersenyum malu-malu.
Pria ini curang!
"Kau kenapa?" tanyanya.
Aku memandang berkeliling. Masih banyak orang di sini karena Tora terlalu menyolok. Apa dia ingin mempermalukan aku dengan datang kemari, menungguku, dan bersikap biasa saja, setelah beberapa hari yang lalu mengusirku? Apalagi, sekarang dia berubah menjadi pria seganteng ini.
"Tomomi?" Tora terlihat bingung.
"Tunggu!" Tora menarik lenganku dari belakang hingga langkahku terhenti. "Kau kenapa?" tanyanya lagi.
Aku berbalik dan menatap wajahnya yang terlihat berbeda dengan wajah sebelumnya. Tapi sorot matanya masih sama. Sorot mata Tora yang penuh harapan. "Aku tidak apa-apa," jawabku.
"Apa kau sakit?"
"Tidak."
"Ada urusan penting?"
"Tidak."
"Kebelet pipis?"
"Tidak!"
"PMS?"
"Tidak! Ya ampun, Tora-san!"
Tora tertawa renyah. "Jadi ada apa denganmu? Buru-buru pergi begitu."
Aku diam saja. Berada di depan publik dengan Tora yang baru ini membuatku sesak. Rasanya ada yang mengganjal di dadaku. "Kenapa kau datang kemari dengan dandanan seperti itu?" tanyaku.
"Kenapa... Ya, kupikir kau bosan melihatku begitu-begitu saja. Kau sendiri sudah melepas kacamatamu," Tora mengangkat bahu. Ekspresinya polos sekali.
__ADS_1
"Ini bukan karena bosan!" seruku, lalu kaget sendiri karena sadar suaraku terlalu besar.
"Kau mau pergi ke tempat lain?"
"Mau sekali!"
"Tapi aku tidak bawa mobil."
"Ya sudah, kita jalan kaki saja!" Aku langsung pergi sambil bertanya-tanya apakah Tora akan mengikutiku. Aku sungguh bodoh.
"Oi, kenapa kau marah-marah terus dari tadi?"
Kami berjalan selama 20 menit. Aku berada di depan, tapi Tora segera menyusulku dengan kaki panjangnya. Ia berbelok ke kanan, sehingga sekarang aku yang harus mengikutinya. Dilihat dari belakang, penampilan Tora seperti selebriti. Kedua tangannya dimasukkan ke saku long coat, langkah kakinya tegap dan lurus seolah sedang berjalan di catwalk. Rasanya benar-benar sesak, hampir sama seperti pada saat melihat Tora berdansa dengan Makoto. Hanya, kali ini lebih membuatku gugup.
Tora menambah kecepatannya. Kaki panjangnya mantap menapaki aspal, sedangkan kakiku harus berusaha menjaga jarak kami agar tidak ketinggalan. Pria itu sungguh mengesalkan. Dia pasti ingin mengerjaiku. Makin lama, jarak kami makin jauh. Selama masih bisa melihatnya, aku akan mengikutinya. Namun, Tora menyeberang jalan sesaat sebelum lampu lalu lintas berubah hijau. Ia tiba di seberang dengan selamat, meninggalkan aku yang tidak sempat menyeberang.
Sepertinya tadi Tora tidak memperhatikan lampu lalu lintas, sehingga ketika kendaraan mulai jalan, ia berbalik untuk mencariku. Kendaraan yang berlalu-lalang membuat kami terdiam dan menunggu. Aku tidak tahu apakah sekarang ia masih ada di sana, karena kendaraan yang lewat menutupi pandanganku.
Sejenak, aku bingung memikirkan kenapa aku marah padanya. Tora tidak salah apa-apa. Aku yang terlalu bodoh karena menyatakan perasaanku di waktu yang tidak tepat. Seharusnya malam itu aku langsung pulang setelah dia bilang sedang menunggu temannya. Seharusnya aku mengantisipasi situasi sampai benar-benar aman. Baru kali ini aku menyesali perbuatanku sendiri.
Tapi, tetap saja. Diusir seperti itu sangat menyakitkan, seolah pernyataan cintaku tidak dianggap penting. Mau marah pun percuma, sehingga yang kulakukan sekarang hanya cemberut. Ternyata begini rasanya ditolak seorang cowok.
"Tomomi!" seru Tora yang kulihat sedang menyeberang jalan menuju tempatku berdiri.
Pandanganku mengabur karena mataku berair. Tanpa sadar, aku menangis. Buru-buru aku menghapus air mataku, tapi yang keluar malah semakin deras sampai aku terisak. Tenggorokanku sakit karena berusaha menahan emosi yang ingin sekali keluar.
"Tomomi?" Tora menatapku bingung. "Kenapa kau menangis?" tanyanya pelan.
"Tora-san." Sumpah! Suaraku jelek sekali. "Apakah kau sebegitu bencinya padaku?"
"Eh?"
"Malam itu, kau mengusirku. Aku menunggumu untuk menghubungiku, tapi tidak pernah ada pesan atau telepon darimu. Lalu, tiba-tiba kau muncul dengan penampilan yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Kau..." Aku mencoba mengatur napasku karena berbicara terlalu cepat dan panjang. "Kau membuatku bingung!" seruku sambil menunjuk hidungnya.
"Apa yang kau pikirkan? Aku tetaplah Tora yang kau kenal."
"Begini saja. Aku ingin kau melupakan apa yang kukatakan barusan, juga apa yang terjadi malam itu. Anggap saja tidak pernah ada apa-apa. Anggaplah cokelat itu tidak pernah ada."
"Apa? Kenapa?"
Aku berhasil meredam tangisku. Kuputuskan untuk mengungkapkan semuanya. "Kau tidak akan membalas perasaanku kan? Kau tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Jadi... Kau tidak perlu susah-susah untuk menolakku, karena aku sudah tahu."
"Dengarkan aku dulu."
"Aku yang salah, sudah membuatmu susah. Kuharap kau tidak memikirkan masalah ini lagi. Aku juga akan melupakannya."
"Eh? Tomomi..."
"Kita tetap berteman kan?" tanyaku memotong karena tidak ada gunanya lagi mendengar penjelasannya. Dia pasti hanya akan mengeluarkan kata-kata menghibur untuk menolakku secara halus.
Tora diam sebentar, lalu tersenyum sambil mengangguk. Baru kusadari dia mempunyai lesung pipi yang selama ini tertutup oleh jenggot tebalnya. Manis sekali.
"Kalau begitu, aku pulang duluan ya," pamitku.
"Mari kuantar."
😎😎😎😎😎
**bersambung ke chapter 12!
__ADS_1
gimana chapter ini? hahaha... semoga gak mengecewakan yah 😊
matta ne**...