
Maxi melihat hasil rekaman Clarissa. Sementara Clarissa mendekati Daisy dan melihat luka Daisy yang ditutup perban. Sepertinya lumayan lebar lukanya, pikir Clarissa.
Clarissa baru sampai dari mengantar ibunya ke bandara. Karena ibunya hendak berangkat ke Amerika.
"Bagaimana keadaanmu, little sister?" tanya Clarissa.
"Sudah lebih baik dibandingkan tadi pagi" jawab Daisy.
"Syukurlah. Maafkan aku baru sempat menjengukmu. Tadi aku harus menemani Mommy ke bandara"Ucap Clarissa.
"Bagaimana Cleo bisa begitu tega melukainya? Dia tidak bersalah. Seharusnya dia marah kepadamu, bukan kepada Daisy" ucap Clarissa penuh emosi kepada Maxi yang tengah melihat video hasil rekamannya.
"Seharusnya seperti itu. Tapi terkadang manusia jika emosi sering salah sasaran untuk melampiaskannya. Seperti kamu sekarang. Seharusnya kamu marah kepada Cleo, kenapa marah kepadaku?" tanya Maxi tanpa memalingkan wajahnya dari video yang dia lihat. Dia masih mengulang-ulang video tadi.
Clarissa terkekeh. betul juga, kenapa dia marah kepada Maxi.
"Kakek dan orangtua Cleo sudah mengurusnya" sahut Maxi.
"Kakek dan nenek sudah tahu soal ini?" tanya Daisy kaget.
"Tentu saja. Ini masalah serius. Karena tindakan Cleo itu berbahaya. Dia sudah berani melukai kamu. Dia pasti kena hukuman dari kakek" sahut Clarissa.
"Kamu juga. Kenapa memaksanya menerima cintamu saat dia sedang tidak sehat, Maxi?" tanya Clarissa.
Maxi tertawa kecil.
"Kamu jangan merusak suasana bahagia, Nona detektif" ujar Maxi.
Kini giliran Clarissa tertawa.
"Lihatlah dalam video ini. Kata-kataku tadi hanya sebuah pernyataan cinta. Akupun menyatakannya dengan cara yang baik dan sopan" Maxi mengarahkan tangannya ke kamera Clarissa yang masih ada di tangannya.
Clarissa tergelak.
"Cinta harus diperjuangkan, Nona" bela Maxi. "Aku tidak mau terlambat"
"Apalagi cinta yang dipendam sejak sembilan tahun yang lalu. Bisa gila kalau tiba-tiba cintamu bertepuk sebelah tangan" celoteh Clarissa. Maxi tertawa.
"Kamu pasti sudah membaca tulisan di buku harianku" Maxi berbicara tanpa menoleh. Dia masih mengulang video di kamera Clarissa.
"Di balik sikap kaku dan wajah dinginmu, ternyata kamu sangat manis. Sampai punya buku harian"Clarissa terkekeh.
"Dasar bocah detektif" desis Maxi.
"Kan, sudah kubilang. Kalau terbiasa bertemu pasti akan tumbuh perasaan. Ini baru dua hari, kamu sudah menerima cintanya saja. Bagaimana jika sebulan, setahun?" bisik Clarissa kepada Daisy.
"Aku sedang berusaha mengenalnya, Clariss" jawab Daisy.
"Maxi seperti itu. Sok galak, kaku, sikapnya dingin, sulit tersenyum apalagi tertawa. Bicara seperlunya tanpa basa basi. Apalagi yang perlu kamu ketahui?" ucap Clarissa.
"Aku mendengarmu, Clarissa" ujar Maxi.
Clarissa dan Daisy tertawa pelan.
"Aku akan menikahinya jika dia sudah berumur dua puluh tahun"Kata Maxi lagi.
Clarissa menatap Daisy menahan tawa.
"Kamu masih berusaha membuatnya mencintaimu , Maxi. Kenapa sudah percaya diri merencanakan pernikahan?" Clarissa tergelak.
"Aku sudah merencanakannya sebelum dia berusia tujuh belas tahun. Dia adalah calon istriku" ucap Maxi yakin.
"Wooow...Dia sangat percaya diri" ucap Clarissa seraya mengusap dahinya sendiri.
Daisy hanya tersenyum.
"Aku kenal dia. Dia selalu serius dengan ucapannya" ucap Clarissa lagi. Wajahnya menghadap Daisy.
"Videonya sangat bagus. Aku suka. Terimakasih, Clarissa" ucap Maxi.
"Sama-sama, Maxi" balas Clarissa.
"Bagaimana bisa kamu menerima dia? kemarin kamu bilang tidak tertarik" Clarissa berbisik kepada Daisy.
"Max baik, Clariss. Entah bagaimana tiba-tiba aku merasa aman dan tenang jika ada dia. Lagipula kulihat dia serius dan sangat peduli padaku. Dia tidak akan bermain-main" jawab Daisy.
"Max? kamu memanggilnya dengan panggilan Max? ooh baiklaaah" Clarissa menepuk dahinya. Lalu terkekeh. Dia memejamkan matanya. Sebenarnya mantra apa yang sudah diucapkan Maxi hingga membuat Daisy dengan mudah menerimanya, pikir Clarissa konyol sambil terkikik lucu.
"Kurasa kamu pun sudah jatuh cinta padanya" gumam Clarissa seraya membuka matanya.
Dia melihat Maxi sudah berdiri di sebelah kanan Daisy. Maxi tengah memperbaiki perban di dahi Daisy.
Lalu mengambil kapas dan sebotol cairan, dia membersihkan area sekitar perban Daisy.
"Mungkin ini obat luka yang masih tersisa dan merembes keluar, sebentar kubersihkan dulu" ucap Maxi pelan.
Lalu memeriksa noda yang menempel di kapas."Benar, ini obat luka. Bukan darah" ucapnya lalu melanjutkan kegiatannya lagi.
"Terima kasih, Max" ucap Daisy.
"Usahakan untuk tidak miring ke kanan dulu, Daisy. Seperti kata dokter Scott tadi pagi. Agar bekas luka dan jahitannya tidak terganggu"
"Kapan terakhir minum obat?" tanya Maxi disela-sela kesibukannya membersihkan noda di sekitar perban Daisy.
"Satu jam yang lalu, Max. Nanti miss Aneth yang akan membawakan obat untukku jika sudah waktunya" jawab Daisy.
__ADS_1
"Baiklah. Jangan lupa makan sayur dan buah untuk membantu lukamu cepet pulih"
Tiba-tiba Daisy terisak. Membuat Maxi dan Clarissa terkejut.
"Apakah aku terlalu keras mengusapkan kapasnya?" tanya Maxi panik.
"Tidak Max. Kamu mengingatkanku pada ayahku" Ucap Daisy seraya menghapus airmatanya perlahan.
"Menangis saja jika memang kamu ingin" Maxi meraih tissue dan mengusap airmata Daisy.
Clarissa yang panik seketika menjadi tersenyum melihat Maxi memperlakukan Daisy.
"Sehari sebelum kecelakaan itu terjadi, aku bermain sepeda dan terjatuh hingga lututku berdarah. Ayah membersihkan lukaku dan mengobatiku dengan sangat lembut. Kamu persis seperti ayah saat itu"ucap Daisy pelan.
"Saat selesai mengobatiku. Ayah berkata, agar aku rajin makan sayur dan buah supaya lukaku lekas sembuh" ucap Daisy lagi.
"Maafkan aku karena membuatmu sedih" ucap Maxi merasa bersalah.
"Aku menangis karena senang. Setelah sekian lama akhirnya aku mendengar kata-kata itu lagi"Daisy tersenyum seraya menghapus sisa airmatanya.
"Aku senang, sekarang ada Maxi yang bisa menjagamu" Clarissa memeluk Daisy dan mengusap lembut lengannnya.
"Apakah besok kamu tetap ikut acara wisuda?" tanya Maxi kepada Daisy. Mencoba menghilangkan rasa sedih Daisy. Dia tahu Daisy pasti sangat merindukan keluarganya saat ini.
"Iya, Max. Aku harus hadir. Lagipula perbannya akan tertutup oleh topi toga" Jawab Daisy.
"Kita berangkat bersama" ucap Maxi.
"Ditemani ayah dan ibuku" ucap Maxi lagi.
"Kakek Edoardo dan Nenek Luisa juga akan hadir" kata Daisy.
"Benarkah?" Maxi tidak percaya.
"Kakek dan nenek adalah waliku. Selain itu Kakek juga mendapat undangan khusus dari kampus kita" ucap Daisy.
"Sore ini sudah terbang pulang dari Perancis. Kemungkinan nanti malam sudah tiba di rumah utama" lanjut Daisy.
"Aku tadi diberitahu oleh pak Albert"ucap Daisy.
"Maxi, apakah kamu sudah selesai berbincang dengan Daisy?" tanya Clarissa. Maxi membelalakan matanya.
"kamu mengusirku?" tanya Maxi
Daisy hanya tertawa melihat mereka.
"Aku ingin berbincang dengan Daisy. jika kamu masih di sini. Kamu pasti mengganggu kami" ucap Clarissa.
"Heii..apa? aku mengganggu? tidak terbalik?"Maxi menggelengkan kepala. Sepupunya yang cerewet ini memang kadang kalau bicara seenaknya saja.
Maxi tergelak, begitupun Daisy.
"Kami menikah masih tiga tahun lagi, Clarissa. Aku juga masih ingin berbincang dengan Daisy" Maxi masih tertawa karena kali ini Clarissa mendorongnya dengan paksa.
"Clarissa, hentikan. kamu gila ya!!!" Maxi berteriak.
"Sudah cukup bertemunya, Maxi. Besok kan kalian bertemu juga. Aku ada urusan penting dengan Daisy. Urusan perempuan. Byeee, Maxi" Clarissa mendorong Maxi keluar pintu rumah. Lalu menutup pintu dan menguncinya.
"Awas kau, Clarissa" Maxi berteriak. Namun dia hanya bisa tertawa.
"Daisy, aku pulang. Nanti kita mengobrol di chat box" Maxi berbicara dari jendela.
"baik, Max" Daisy melambaikan tangannya.
Maxi melambaikan tangannya kepada Daisy dengan wajah sedih.
Clarissa terkekeh melihat tingkah Maxi
"Cepat pergi, Maxi!!!" teriak Clarissa
Maxi tertawa seraya bergegas pergi.
Daisy pun tertawa melihat tingkah mereka berdua. Sejak dulu memang hanya Clarissa yang berani dan senang cari masalah dengan Maxi.
Clarissa sekarang ikut tertawa melihat Maxi yang berjalan menjauh dari pintu rumah Fiore.
"Laki-laki pendiam, dingin, kaku dan galak itu ternyata bisa manis dan menyenangkan seperti itu kepadamu" ucap Clarissa.
"Baru kali ini kulihat wajahnya ceria dan selalu tersenyum. Bahkan bisa tertawa lepas. Aaah kamu memang seorang peri yang bisa mengubah katak jadi pangeran...eh salah ya??"ucap Clarissa diikuti derai tawanya.
"Aku mendengarmu, Clarissa. Enak saja kau mengatakan aku katak" Suara Maxi dari balik jendela. Clarissa dan Daisy tertawa.
"Bukankah kau sudah pergi tadi? kenapa kembali lagi?" tanya Clarissa.
"Ponselku tertinggal, Nona detektif cerewet!"Sahut Maxi.
Clarissa terkekeh seraya mengambil ponsel Maxi yang tertinggal di kursi sebelah kanan Daisy.
"Silahkan pergi, tuan Maxi" Clarissa menyerahkan ponsel Maxi melalui jendela.
Maxi melambaikan tangan kepada Daisy dengan senyum manisnya. Daisy membalasnya.
Clarissa menggelengkan kepalanya seraya berdecak. Adegan lambai-lambai tangan itu ternyata diulang lagi.
"Tadi pagi saat aku terluka, dia sangat khawatir dan dengan cepat membawaku ke rumah. Lalu menemaniku di rumahsakit. Dia sangat perhatian"ucap Daisy.
__ADS_1
"Dia pasti akan selalu menjagamu. Dia sangat sayang padamu" ucap Clarissa. Dia segera membantu Daisy yang hendak bangun dari kursinya.
"Aku mau istirahat. Kita berbincang di kamar saja, Clariss" Ucap Daisy.
Clarissa segera membantunya naik ke kamar.
"Malam ini aku menginap di sini, boleh? Sekalian menemanimu. Karena rencana menonton kita gagal. Kita menonton televisi saja malam ini" ucap Clarissa setelah membantu Daisy ke tempat tidur.
"Dengan senang hati, Clariss" jawab Daisy senang.
"Paman Roger mengijinkanmu?" tanya Daisy.
Clarissa mengangguk.
"Ayahku, Cedro dan Caisar sedang keluar kota. Ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Ayah dan Cedro dalam waktu lumayan lama. Karena Mommy sedang ke Amerika, jadi Caesar ikut bersama mereka" ucap Clarissa.
Dia mencuci tangannya di wastafel. Lalu meraih sepiring buah potong yang tadi diantarkan oleh miss Annie.
"Kamu tahu Daisy? tadi di bandara aku bertabrakan dengan seorang pria" Clarissa dusuk di sebelah Daisy lalu menyuapi Daisy sepotong buah kiwi.
"Lalu? kalian berkenalan dan bertukar nomor ponsel?" tanya Daisy.
"Kamu berhayal seperti cerita telenovela, Daisy. Mana mungkin aku seperti itu"
"Dia menjatuhkan benda ini. Saat aku hendak mengejarnya, dia sudah pergi dengan mobilnya" Clarissa memperlihatkan sebuah benda kotak ukuran kecil.
"Hard disk eksternal. Kamu bisa membukanya. Kemungkinan ada informasi mengenai pemiliknya di sana"ucap Daisy.
"Nanti kucoba buka" sahut Clarissa.
"Semoga kalian bertemu lagi nanti. Siapa tahu pria itu adalah jodohmu" ucap Daisy.
"Saya hayalmu sungguh luarbiasa" Clarissa menggelengkan kepalanya.
"Apakah dia pria muda?" tanya Daisy. Clarissa mengangguk.
"Tampankah?"
Clarissa berpikir sebentar. "Bisa jadi. Karena tampan itu relatif kan?"
"Saat dia menabrakku, aku terjatuh. Dia bermaksud membantuku berdiri. Tapi aku menolaknya"
"Sepertinya dia pria yang sopan" gumam Daisy.
"Ayo, habiskan buah-buah ini" Clarissa kembali menyuapi Daisy.
"Aku bisa melakukannya sendiri, Clariss. Tanganku sehat" Daiay mengangkat kedua tangannya.
"Tidak apa-apa. Biarkan aku menyuapimu sekali ini adik kecil" sahut Clarissa.
***
Di rumah Acqua, di sebuah kamar bernuansa hitam dan putih di lantai tiga. Cleo berdiri depan jendela kamarnya.
Tadi siang dia dimarahi oleh ayah dan ibunya seraya ditunjukan rekaman CCTV saat dia melempar batu ke arah Daisy hingga Daisy terluka. Kakek Edoardo memerintahkan ayah dan ibunya agar menghukum Cleo tidak keluar rumah untuk sementara waktu. Cleo diminta untuk terapi kesehatan mental. Karena tindakan Cleo yang melukai Daisy, berpotensi akan terulang lagi saat keinginannya tidak terwujud atau saat merasakan emosi berlebih. Itu bisa dia lakukan kepada siapapun.
Dan itu sangat membahayakan orang lain. Karena dia dianggap tidak bisa mengontrol emosinya.
Cleo merasa perintah Kakek Edoardo terkesan tidak adil baginya.
Kakek Edoardo sangat mengistimewakan bebek buruk rupa itu, pikir Cleo.
Dan Maxi, kenapa dia sangat peduli dengan gadis itu. Maxi menolak dirinya pasti karena dia menyukai Daisy, Cleo tak habis pikir.
Kejadian tadi pagi membuat Cleo semakin membenci Daisy. Dia melihat Maxi menggendong Daisy dengan wajah penuh kekhawatiran. Lalu saat melewati dirinya, Maxi membentaknya dan berkata akan membuat perhitungan dengannya.
Lalu, baru saja dia lihat, Maxi keluar dari rumah Fiore. Pasti menjenguk bebek jelek. Maxi terlihat senang. Cleo tidak pernah melihat wajah Maxi ceria seperti itu.
Itu membuatnya merasa kesal bukan kepalang. Dia membanting vas bunga dari atas meja.
"Aaaaaaaahhh dasar bebek buruk rupa. Awas kauuu" pekiknya kesal.
Dia menyukai Maxi sejak lama. Apalagi setelah dewasa, Maxi sangat tampan dan keren. Setelah tahu bahwa Maxi hanya anak angkat paman Luca, dia semakin yakin cintanya kepada Maxi tidak ada penghalang. Maxi hanya anak angkat yang entah darimana asalnya. Pasti dia akan dengan senang hati jika Cleo yang merupakan salah satu cucu keluarga Edoardo bisa membuatnya tetap bertahan menjadi bagian keluarga ini. Tanpa nama besar keluarga Edoardo, Maxi pasti bukan siapa-siapa. Pemikiran Cleo seperti itu.
Dia sudah beberapa kali menyatakan bahwa dia suka dengan Maxi. Tapi Maxi selalu saja mengabaikannya. Sungguh sombong.
Lalu kedatangan bebek buruk rupa itu rupanya membuat Maxi semakin tidak peduli padanya. Merusak impiannya menjadi pendamping Maxi.
Sejak dulu Cleo sering melihat Maxi memandang Daisy diam-diam. Awalnya dia berpikir bahwa Maxi hanya memandang aneh bebek itu. Tapi ternyata dia salah. Cleo pernah melihat Maxi membuat sketsa wajah Daisy. Juga melihat Maxi tengah melukis Daisy yang sedang duduk sendiri di dekat pemanggang saat pesta kebun.
Maxi juga selalu membela Daisy jika dia, Marie dan Joane mengganggunya.
Sampai akhirnya di pesta kebun kemarin saat Daisy ulang tahun, Cleo melihat Maxi selalu didekat Daisy. Bahkan saat pesta usai, mereka berjalan pulang bersama dan saling melambaikan tangan saat berpisah.
Dan tadi pagi, Maxi justru menemani bebek itu lari pagi. Bahkan sama sekali tidak peduli pada Cleo.
"Huuh, sangat menyebalkan" Cleo mendengus kesal.
"Aku dihukum tidak keluar rumah selama seminggu, gara-gara bebek jelek itu terluka"
"Seharusnya dia tidak pernah datang ke sini. Kenapa dia tidak ikut mati saja bersama keluarganya saat kecelakaan" Cleo melemparkan semua barang-barang di atas meja seraya berteriak kesal.
"Aku tidak akan diam saja. Jika Aku tidak bisa menjadi kekasih Maxi. Maka dia juga tidak bisa!!" Cleo berteriak sekencang-kencangnya. Kakinya menendang barang-barang yang sudah berserakan di lantai akibat amukannya sejak pagi.
***
__ADS_1