NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
30. Tuan Muda yang Klasik


__ADS_3

David merasa semakin curiga dengan hubungan Daisy dan Maxi. Karena kedekatan mereka bukan seperti hubungan antar sepupu. Tapi lebih mirip hubungan sepasang kekasih.


"Hugo, secepatnya kau cari tahu. Jangan ada yang terlewat. Aku tunggu" David menghubungi Hugo, Asisten pribadinya yang sedang bertugas di Inggris.


Biasanya Hugo selalu menemaninya kemanapun. Hanya saja kali ini David memerintahkan Hugo untuk menggantikan posisinya sementara waktu di sana. Hugo bukan sekedar asisten baginya tapi dia adalah sahabatnya sejak kecil.


Sejak tadi pagi pikirannya tidak lepas dari bayangan gadis muda yang sangat memikat hati. Bukan hanya cantik. Tapi juga sangat manis.


Berbincang dengannya tadi pagi di pertemuan yang tidak disengaja adalah sebuah kejutan terindah bagi David. Bagaimana tidak?. Saat dirinya tengah memikirkan cara untuk bisa mengenal lebih dekat Daisy dari Benvollio Mansion, tiba-tiba dia menemukan gadis itu di tengah hutan sedang duduk di atas kudanya sambil memejamkan mata. Seperti bidadari di pagi hari yang terkena terpaan sinar matahari yang menerobos dari sela-sela kanopi pohon- pohon tinggi hutan Amare.


Segera dia meraih kameranya. Tadi dia diam-diam mengambil fotonya. Padahal dia tahu itu adalah tindakan tidak terpuji. Memotret seseorang tanpa izin. Aaah, tapi momen tadi sangat tidak mungkin terulang. Dia memandangi hasil tangkapan kameranya yang canggih.


Sangat mengagumkan. Memang seperti bidadari.


David bersandar di sandaran kursinya. Hatinya kembali gundah ketika dia mengingat yang baru saja dia lihat. Maxi dan Daisy pergi berdua dengan mobil yang dikendarai Maxi. Sangat jelas terlihat bahwa Maxi menatap Daisy dengan penuh cinta. Tentu saja itu bukan tatapan seorang sepupu.


"Kita sudah sampai, tuan" lamunan David usai oleh suara pengawalnya yang duduk di depan di sebelah sopir. Mereka sudah tiba di area waterpark milik keluarganya. Hari ini dia ada janji dengan Roger Edoardo yang akan memperkenalkan desainer interior yang sudah membuat desain untuk butiknya di plaza Edoardo. Kali ini untuk membuat desain ruangan kerjanya di waterpark ini. Karena dia baru saja membuat ruangan baru untuknya. Beberapa bulan belakangan dia masih menggunakan ruangan ayahnya.


Sepertinya ayahnya tidak lama lagi akan kembali bekerja di perusahaan, karena kondisinya semakin membaik setiap hari.


Namun ayahnya tetap memintanya untuk membantu di perusahaan. Bagaimanapun juga dia adalah penerus ayahnya. Bahkan saat ini beberapa perusahaan sudah dialihkan kepemimpinannya kepadanya.


"Tamu anda sudah menunggu di ruang meeting, tuan" Sekretarisnya memberitahu saat dia tiba di ruangan.


"Baik, Saya akan kesana segera"ucap David. Dia merapikan pakaiannya dan menyisir rambutnya yang sedikit berantakan.


Bergegas menuju ruang meeting di temani pengawal di belakangnya.


Sekretarisnya membukakan pintu.


"Selamat siang, Tuan Roger. Maafkan saya telah membuat anda menunggu" David menyalami Roger Edoardo yang terlihat sangat tampan dengan tubuh tinggi tegapnya. Meskipun usianya sudah empat puluh lima tahun, tapi pria itu masih sangat gagah dan menawan. Dari postur tubuhnya David bisa menebak bahwa pria itu sangat rajin berolahraga.


"Tidak masalah, tuan David. Kami baru saja sampai" sahut Roger.


"Perkenalkan. Ini putri saya, Clarissa. Dia desainer yang merancang interior butik anda di pusat perbelanjaan Edoardo"Roger memperkenalkan Clarissa kepada David.


Clarissa mengangguk dan menerima uluran tangan David dan menjabatnya.


"Perkenalkan, saya Clarissa"

__ADS_1


"Senang bertemu anda nona Clarissa. Saya David" sambut David menatap gadis cantik dengan gaya berpakaian yang chic dan santai di depannya itu.


"Mmh jadi ini Salah satu gadis Edoardo yang pernah dibicarakan oleh Jhon. Sepertinya memang ramah dan menyenangkan. Wajar saja jika Jhon menyukainya"pikir David seraya melemparkan senyum kepada Clarissa.


"Rupanya yang membuat desain keren di butik saya masih sangat muda. Anda hebat sekali, Nona"ucap David.


"Saya tidak sehebat itu, tuan. Saya juga masih belajar. Kebetulan saja desain karya saya sesuai dengan selera anda"ucap Clarissa merendah.


"Betul. Ini tentang kesamaan selera" David tertawa kecil.


"Tapi, tetap saja putri anda memang sangat hebat tuan Roger"David beralih kepada Roger yang sedari tadi hanya tersenyum.


"Dia memang hebat tapi masih belajar. Kebetulan perusahaan desain interior milik ibunya mempekerjakan Clarissa sebagai karyawan magang. Bayarannya pun masih kecil, tuan" Roger berseloroh. Diikuti tawa David.


"Ayaah.." Clarissa bergumam malu.


"Tapi soal profesionalisme jangan diragukan. Anda sudah melihat buktinya kan di butik anda" ucap Roger.


David tersenyum sambil menganggukan kepala.


"Saya sangat suka desain yang dibuat oleh Carissa. Makanya saya ingin dibantu dibuatkan desain untuk ruangan kerja saya di sini"ucap David.


Sebuah ruangan berukuran 5 x 6 meter menghadap ke arah kolam waterpark.


David menjelaskan konsep yang dia inginkan untuk desain ruangannya kepada Clarissa.


Mereka berdiskusi seru tentang keinginan David agar ruangannya memiliki konsep klasik dan sedikit sentuhan alam. Karena bagian dinding yang mengarah ke kolam waterpark sengaja terbuat dari kaca.


Seraya mendengarkan keinginan David, Clarissa berpikir keras tentang karakter pria di depannya itu.


David masih muda. Tapi kenapa sangat menyukai hal klasik. Seperti selera raja dan bangsawan jaman dahulu, pikir Clarissa.


"Aah Tuan muda yang klasik", gumam Clarissa lucu dalam hati.


"Baiklah, tuan David. Secepatnya saya akan kirimkan draft desain sesuai konsep yang anda inginkan"ucap Clarissa sambil menutup tabletnya.


"Baik, Nona. Terimakasih banyak atas bantuan anda. Semoga anda tidak kesulitan memahami konsep yang saya inginkan" sahut David seraya tersenyum tipis.


Karena sebenarnya dia sudah beberapa kali menggunakan jasa desainer interior namun belum ada satu pun yang bisa membuat desain yang sesuai dengan kemauannya. Mungkin keinginannya terlalu rumit untuk difahami. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan orang lain. Bisa saja memang dirinya yang terlalu rumit. Pikir David.

__ADS_1


"Semoga hasilnya nanti bisa sesuai dengan keinginan anda, tuan David" ujar Roger. Dia memang datang sebagai ayah untuk mendampingi Clarissa. Bukan sebagai perwakilan dari perusahaan Edoardo. Jadi selama David dan Clarissa berbincang tentang pekerjaan dia hanya menyimak saja. Dia ingin melihat potensi dan kinerja Clarissa jika bekerja di luar Edoardo group. Dan ternyata Clarissa sangat bisa diandalkan.


"Lima puluh persen saya sudah yakin padanya"Sahut David menatap Clarissa.


"Saya akan berusaha sebaik mungkin, tuan" Clarissa mengangkat ibu jarinya dengan santai.


David tertawa kecil. Gadis yang ceria dan enerjik. Pikir David.


Mereka sudah tiba di lobby gedung kantor David. David mengantar mereka. Karena dia juga ada keperluan dengan petugas di sana.


Saat menunggu mobil mereka tiba, Clarissa mengangkat panggilan masuk di ponselnya.


"Daisy?" tanya ayahnya. Clarissa mengangguk.


"Ah iya Mommy mengundang Daisy dan Maxi makan siang di villa kita" Ayahnya mengingatkan.


Clarissa menyampaikan pesan ayahnya kepada Daisy.


Tidak lama kemudian dia menutup ponselnya.


"Mereka nanti akan ke villa kita. Sekarang masih jalan-jalan mengelilingi kota Amber" ucap Clarissa.


"Syukurlah, akhirnya ada Maxi yang menjaga Daisy. Ayah tenang. Maxi pasti menjadi suami yang baik untuk Daisy" ucap ayahnya.


David yang sedang berbincang dengan salah satu staffnya cukup jelas mendengar kata-kata Roger.


"Suami?" gumam David. Tapi dia berharap dia salah mendengar.


Kemudian kembali menemani Roger dan Clarissa. Karena urusannya dengan staffnya sudah selesai. Tidak lama kemudian, mereka berpamitan karena mobil sudah tiba di depan lobby.


David menghela nafas. Dia masih berharap apa yang dia dengar tadi salah.


Layar ponselnya berkedip. Hugo menghubunginya.


"Aku sudah menyelidikinya. Kau baca saja email yang kukirim"ucap Hugo.


David bergegas menuju ruangannya.


***

__ADS_1


__ADS_2