NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
24. Seharusnya Aku


__ADS_3

"Marie, kemarilah" dua orang teman dekat Marie yang sedang melihat banner iklan memanggil Marie. Mereka berada di ujung lobby kampus tempat banner iklan dan pengumuman kegiatan mahasiswa dipasang.


Marie bergegas menghampiri mereka.


"Daisy Alessio Edoardo yang akan tampil di Connor music festival apakah dia saudaramu?" Sofie bertanya kepada Marie.


Marie sontak terkejut. Daisy Alessio? Connor Festival Music?. Apa maksudnya?. Marie panik dan bertanya-tanya dalam hati.


Dia segera melihat banner iklan yang berukuran lumayan besar. Foto Daisy saat bermain piano di pesta kebun ada di dalam banner itu berdampingan dengan foto musisi-musisi besar yang akan tampil di Connor Music Festival.


"Kalau tidak salah, dia adalah mahasiswi lulusan termuda dan terbaik di Universitas Brown. Aku melihatnya di berita nasional waktu itu" teman yang lain, Crystal berkomentar.


"Usianya baru tujuh belas tahun saat lulus kemarin dengan predikat suma cum laude"lanjut Crystal lagi.


"Waktu itu kakek dan Nenekmu beserta orangtua dan kakakmu yang sangat tampan itu juga ada bersamanya" Crystal melirik Marie yang seperti shock saat melihat iklan di banner tersebut.


"Dia adik sepupuku"jawab Marie singkat. Dia merasa ingin berteriak meluapkan kekesalannya. Tapi tidak mungkin diablakukan di kampus. Karena bisa membuatnya jadi bahan tontonan dan cemoohan. Dia selalu menjaga imagenya sebagai gadis bangsawan yang anggun. Walaupun kenyataannya dia sangat kasar kepada orang lain.


"Lalu kenapa kamu tidak jadi tampil di festival itu? bukankah waktu itu kamu bilang kamu akan tampil disana?"Sofie mengejar langkah Marie yang berbalik ke arah pintu lobby.


Marie tidak menjawab. dia mempercepat langkahnya menuju tempat mobilnya terparkir di halaman kampus.


"Marie, kamu mau kemana? Kita bahkan belum mulai belajar. Sebentar lagi kelas kuliah akan dimulai"Crystal meraih tangan Marie.


"Aku tidak ikut kuliah hari ini. Kalian salinkan catatan kuliah hari ini untukku. Dan jangan hubungi aku sebelum aku yang hubungi kalian!" ucap Marie arogan. Lalu bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kemudian dengan cepat mengendarainya menuju jalan raya. Kedua temannya menatapnya bingung.


Marie memang seringkali memperlakukan kedua temannya dengan semena-semena. Menjadikan mereka seperti dayang-dayangnya yang harus selalu mengikuti semua ucapan dan perintahnya.


Dia mempercepat laju mobilnya dengan perasaan kesal, menuju arah utara kota Brown. Entah mau kemana. Dia ingin meluapkan kekesalannya.


"Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa dia tampil di festival musik paling bergengsi di negara Lotus?" Pekik Marie penuh kekesalan sambil berjalan di atas pasir pantai dengan gusar.


Dia akhirnya memutuskan pergi ke Privat Beach Stella Marina, karena keluarganya adalah member VIP di sana, jadi hanya menunjukkan kartu member, dia langsung dilayani dengan baik.


"Cara licik apa yang dia lakukan untuk bisa tampil di acara itu?"gumam Marie geram. "Dia pasti menggoda tuan Connor dengan wajah sok cantik dan pura-pura polos itu"pikiran jelek itu muncul di kepalanya.


"Dasar licik. Bukankah dia sedang dekat dengan Maxi?"


"Bebek jelek sia*laaannn"Marie berteriak sekencang-kencangnya ke arah lautan di depannya.


"Seharusnya aku yang tampil di sana, bukan bebek jelek itu" kembali dia mengumpat dengan penuh emosi.


"Akan aku adukan kepada Kakek dan Nenek. Supaya mereka tahu bahwa cucu kesayangannya tidak sebaik dan sepolos yang mereka kira"Marie menyeringai licik.


Dia bisa membayangkan reaksi Kakek dan Nenek jika tahu apa yang Daisy perbuat. Biar diusir sekalian dari keluarga Edoardo.


Marie berjalan menuju kursi berpayung di tepi pantai Stella Marina. Tadi dia memesan jus jeruk dari kafe.


Tapi begitu tiba di kursinya, dia mendapati seorang pria dengan perban di lengannya tengah berselonjor dengan wajahnya tertutup topi. Sepertinya dia juga sudah meminum jus jeruk pesanan Marie


Marie memastikan nomor mejanya, 112. Sesuai dengan nomor meja yang tertera di bill.


"Hallo, tuan. Ini adalah meja saya. Anda silakan pergi" Marie berbicara. Pria yang dia ajak bicara tidak menoleh.


Marie yang sedang tersulut kekesalan, menggebrak meja di samping pria tersebut.


Sambil berkacak pinggang, dia menatap pria yang tetap duduk santai di kursinya.


Saat pria tersebut mengangkat topi dari wajahnya dan menoleh, Marie menutup mulutnya dan merasa jantungnya berdetak tak beraturan.

__ADS_1


Pria itu melepas headset dari telinganya. Rupanya dia sedang mendengarkan musik.


***


David sedari pagi sudah berangkat menuju kota Brown dengan helikopternya. Hari ini dia harus mengurus hotel keluarganya di sana. Sejak ayahnya jatuh sakit, dia yang bertanggung jawab mengurus semuanya.


Semua bisnis ayahnya harus bisa dia kelola sendiri saat ini di usianya yang ke dua puluh lima. Karena Cathaliya, adik perempuannya belum bisa membantunya. Adik satu-satunya itu masih harus menyelesaikan kuliahnya di Amerika. Lagipula umur Cathaliya baru saja menginjak dua puluh tahun.


Setelah selesai bertemu dengan rekan bisnisnya, David menyuruh pengawalnya untuk pergi. Dia ingin bersantai sejenak menikmati semilir angin pantai dan segarnya jus jeruk yang sudah dia pesan kepada salah satu stafnya.


Dia duduk berselonjor di kursi yang di mejanya sudah tersedia jus jeruk.


Sambil menyesap minumannya, David teringat dengan Daisy dari Benvollio Mansion. Kemarin dia menyuruh asisten pribadinya untuk mencari tahu tentang gadis itu.


Ternyata dia adalah cucu sekaligus pewaris tunggal Keluarga bangsawan Benvollio dari kota Amber dan juga cucu dari keluarga bangsawan Edoardo dari kota Brown. Pantas saja kemarin dia hadir bersama tuan Edoardo.


Wajar saja dia cantik. Karena menurut ayahnya, putri dari keluarga Benvollio bernama Bella sangat cantik. Tapi Bella sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dan Daisy adalah putri dari Bella.


Pria muda itu bernama Maxi. Cucu pertama dari keluarga Edoardo. Berarti Maxi dan Daisy hubungannya adalah bersaudara. Tidak ada hubungan istimewa selain saudara sepupu. Perlakuan baik Maxi kepada Daisy pasti hanya sebatas perhatian seorang kakak kepada adiknya.


Kemungkinan untuk mendekati Daisy sepertinya tidak ada kendala.


David menghela nafas, hatinya lega dan dia sangat bersemangat. Walaupun tangannya masih harus memakai gips dan perban.


Dia mencoba memejamkan matanya sejenak. Lalu menutup wajahnya dengan topi dan mendengarkan musik klasik dengan headset. Pikirannya merasa tenang.


Samar-samar terdengar suara gebrakan meja. David membuka perlahan matanya dan melepaskan headset dari kupingnya.


Seorang gadis dengan wajah penuh emosi mematapnya. Seolah ingin menelannya. Namun kemudian raut wajahnya berubah melunak. Gadis itu menutup mulutnya.


Di tangannya terdapat secarik kertas bill dan nomor meja.


Gadis itu masih terdiam. Seolah tidak bisa berkata-kata.


David meraih bill di tangan gadis itu.


'Nona Marie, Meja 112. Pesanan minuman jus jeruk' David membacanya.


Seketika dia tersenyum. Rupanya meja yang dia tempati sudah dipesan oleh gadis di depannya. Kebetulan minuman yang dia pesan sama dengan pesanan gadis itu.


"Maafkan saya, Nona. Saya sudah salah tempat duduk" ucapnya dengan sopan.


"Silakan duduk, Nona. Saya akan ganti pesanan minuman untuk anda. Secepatnya. David berdiri. Lalu beranjak pergi meninggalkan gadis di depannya yang masih mematung.


**


Marie berusaha keras menetralkan dirinya. Dia menoleh hendak memanggil pria itu, tapi sudah menghilang di dalam kafe. Dia mengejar David ke dalam kafe. Tapi tidak ada. Padahal dia yakin, pria tadi masuk ke dalam kafe.


"Nona Marie?" sapa seseorang Sepertinya manajer kafe.


Marie mengangguk.


"Pesanan minuman anda sudah kami ganti. Dan sebagai bentuk permintaan maaf dari kami. Kami memberikan free charges untuk semua menu di hari ini untuk anda"


Marie mengibaskan tangannya.


"Saya tidak perlu free charges. Saya mampu membayar apapun"Sahut Marie kesal.


"Kami percaya anda tidak membutuhkan free charges dari kami. Tapi ini hanya bentuk permintaan maaf dari pimpinan kami"

__ADS_1


"Siapa pria yang tadi duduk di kursi saya dan meminum minuman saya?" tanya Marie arogan.


"Mohon maaf, Nona. Beliau adalah tuan David, pemilik hotel dan kafe ini. Beliau menitipkan ini sebagai permintaan maaf" Manajer kafe menyerahkan sebuah kotak kepada Marie.


"Beliau tadi harus segera pergi karena ada keperluan lain"


"Kenapa tangannya diperban? Apakah dia cacat?"tanya Marie penuh selidik.


Manajer kafe berusaha sabar menghadapi Marie yang berbicara tanpa sopan santun.


"Beliau kemarin mengalami cidera, Nona. Pimpinan kami pria yang sehat dan tidak cacat"jawab manajer kafe dengan sopan. Berusaha sopan tepatnya.


Marie tersenyum puas mendengarnya.


Jadi, pria tadi adalah pemilik hotel ini. Aaah sangat sempurna. Tampan dan terhormat juga kaya.


Marie berlalu dari hadapan manajer kafe tanpa bicara seraya meraih kotak yang dititipkan David.


Manaje kafe hanya menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat kepergian Marie yang begitu saja.


Marie duduk di kursinya sambil membuka kotak yang diberikan manajer kafe tadi. Sebuah cangkir kafe.


"Hah, hanya sebuah cangkir. Kukira sesuatu yang berharga" Dia melemparkan cangkir itu ke arah pasir pantai yang basah tersapu air laut.


"Tapi, tidak apa-apa. Setidaknya aku tahu siapa pria tadi" gumam Marie. Dibukanya ponsel dan membuka laman pencarian.


'Pemilik hotel Stella Marina'


Ketik Marie.


Lalu muncul beberapa artikel tentang apa yang dia cari.


William Ferguson sebagai founder Stella Marina.


David William Ferguson sebagai CEO Stella Marina.


Marie tersenyum puas. Dia lalu membuka artikel mengenai David.


David William Ferguson, anak pertama dari keluarga bangsawan asal Inggris William Ferguson. Yang juga seorang pengusaha sukses di Inggris. Kini mengembangkan bisnisnya di negara Lotus. Selain Hotel Stella Marina, mereka juga pemilik Amber waterpark dan Ferguson British Resto di kota Amber.


"Kota Amber? bukankah itu adalah kota kelahiran bebek jelek?" Marie bergumam.


"Aaarrghh..kenapa bebek jelek itu selalu membayangi hidupku?"sungut Marie.


Dia menghela nafas, mencoba menenangkan diri. Mencoba tidak mengingat Daisy.


"Baiklah, David Ferguson. Aku akan mencarimu" gumam Marie sambil menatap foto David di artikel yang sedang dia baca.


***


David berdiri di ruangannya di lantai dua kafe. Menatap ke arah pantai. Dia tidak sengaja melihat Marie yang melempar cangkir pemberiannya dengan kesal ke atas pasir.


"Gadis yang sangat menyedihkan. Tidak punya sopan santun dan sangat kasar" gumamnya.


Baru saja manajer kafe memberitahunya bahwa pelanggan tersebut adalah Marie, anggota keluarga Edoardo yang merupakan salah satu member VIP di Stella Marina.


Tentu saja info tersebut membuat David terkejut. Jika Marie adalah anggora keluarga Edoardo itu artinya masih bersaudara dengan Daisy. Tapi kenapa perilaku keduanya sangat berbeda jauh.


Melihat Daisy rasanya seperti melihat embun pagi. Sedangkan Marie seperti air mendidih, pikir David.

__ADS_1


***


__ADS_2