NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
22. Sebelum Pertemuan Bisnis dimulai


__ADS_3

Sebelum pertemuan bisnis dimulai, Kakek mengajak makan siang di salah satu restoran di pusat perbelanjaan milik Edoardo group. Disana juga hadir paman Roger, Cedro dan Clarissa.


"Senang sekali melihatmu di sini, Daisy" Cedro yang duduk di sebelah Maxi setengah berbisik kepada Daisy yang duduk di seberangnya, saat makan siang sudah selesai. Sekarang mereka hanya berbincang santai.


"Aku juga, Cedro. kita sudah lama tidak bertemu. Ternyata kamu ditugaskan di sini membantu paman Roger"sahut Daisy.


"Sewaktu ulangtahunmu di pesta kebun, aku hadir. Waktu itu aku kebetulan sedang pulang bersama ayah" ucap Cedro.


"Aah iya aku juga ingat. Hanya saja kita tidak sempat berbincang"ucap Daisy. Cedro tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Sedangkan Clarissa hanya melirik Cedro sambil tersenyum tipis.


Kakek dan paman Roger nampak membahas sesuatu yang sangat seru. Sesekali mereka berdua tertawa.


Karena kakek sedang asik dengan paman Roger, anak-anak muda pun asik berbincang.


"Tenang saja, Maxi. Daisy adikku dan Clarissa. Jadi tidak usah takut aku akan merebutnya darimu" Cedro menatap sekilas Maxi yang menunjukkan wajah tidak suka karena Cedro sangat akrab dengan Daisy.


"Sebelum kamu dekat dengan Daisy, aku sudah akrab dengannya sejak kecil"Cedro melanjutkan ucapannya.


Clarissa tertawa melihatnya.


"Jangan bersikap dingin padaku, Maxi. Aku tahu kamu akan menikah dengan Daisy" Cedro menepuk pundak Maxi seraya berjalan memutar menuju kursi di sebelah Daisy.


"Oke, Cedro. Aku tidak akan bersikap dingin padamu lagi" ucap Maxi mengangkat kedua bahunya.


"Rupanya berita tentang rencanaku menikah dengan Daisy sudah menyebar" Maxi menatap Clarissa kali ini.


"Aku tidak bercerita pada Cedro" Clarissa yang duduk di samping Daisy berujar, menyangkal kata-kata Maxi yang seolah menuduhnya.


"Tapi bukankah itu sangat bagus. Jadi Laki-laki lain tidak akan berani mendekati Daisy" lanjut Clarissa.


"Semalam paman Luca video call dengan ayahku, salah satunya membahas kalian. Jadi aku dengar pembicaraan itu" Cedro berkata kepada Maxi dan Daisy seraya menoleh bergantian kepada keduanya.


"Hhhmmm. Baiklah. Maafkan aku Clarissa" ucap Maxi.


"Oke. No problem, Maxi" sahut Clarissa.


"Tapi aku memang senang jika semua orang tahu bahwa kami akan menikah" kata Maxi.


"Oh ya. Bagaimana suasana di kota Amber, apakah nyaman untukmu, Cedro?" tanya Maxi mencairkan kekakuan suasana yang dia ciptakan sendiri.


"Di sini sangat nyaman. Aku suka suasana di sini" jawab Cedro. Cedro memang periang dan sangat mudah akrab dengan siapapun.


"Pekerjaan dan kuliahmu bagaimana?" tanya Maxi lagi.


"Sejauh ini aku bisa menjalankan pekerjaan yang ditugaskan oleh ayah dan mengikuti kelas kuliah online dengan lancar. Semua berjalan dengan sangat baik. Aku sangat menikmati semua ini" Cedro berbicara penuh semangat.


"Baguslah. Kamu memang anak yang cerdas dan sangat tekun, Cedro" puji Maxi.


"Menurut ayahku juga begitu. Tapi aku bukan anak-anak lagi, Maxi. Usiaku sudah dua puluh tahun. Hanya tiga tahun lebih muda darimu" sahut Cedro. Maxi tertawa kecil mendengarnya. Lalu mengangkat ibu jarinya ke arah Cedro.


"Aku rasa prospek bisnis di kota Amber sangat bagus. Mungkin aku juga ke depannya akan membuka bisnis di sini"ucap Maxi.


"Menurutku juga seperti itu, Maxi. Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkembang pesat di sini selama lima tahun terakhir menurut hasil riset yang kubaca" Cedro memperlihatkan sebuah artikel online di ponselnya kepada Maxi.


"Aku sudah menjadikan kota Amber sebagai salah satu pilihan tempat tinggal dan menetap setelah menikah dan memiliki anak. Di daerah seperti ini dengan udara yang masih sangat bersih, sangat bagus untuk tumbuh kembang anak-anak" Maxi menoleh ke arah Daisy yang membalasnya dengan tersenyum.


"Betul, udara masih sangat bersih" sahut Cedro.


Maxi terdiam sejenak sambil menatap Daisy.


"Mungkin sebaiknya aku dan Daisy bertunangan terlebih dahulu. Agar tidak ada yang mengganggunya dan berusaha memilikinya" Ide itu muncul seketika dalam benaknya.

__ADS_1


Daisy, Clarissa dan Cedro nampak asik melihat sesuatu di ponsel Clarissa. Mereka bertiga duduk bersebelahan. Sedangkan Maxi duduk sendiri di seberangnya.


Pemandangan seperti itu memang kerap dia saksikan di saat pesta kebun. Tapi biasanya ada Caesar yang ikut bergerombol juga. Dan selama ini Maxi menganggap mereka adalah anak-anak kecil.


"Apa yang sedang kalian lihat?" Maxi yang sudah beranjak dari kursinya dan berdiri di belakang Daisy menundukkan kepalanya melihat layar ponsel Clarissa.


"Iklan Connor Music Festival. Lihatlah ada Daisy di sana" Cedro setengah memekik.


"Kamu hebat, Daisy. Aku sangat bangga padamu, adik kecil" Cedro mengacungkan ibu jarinya ke arah Daisy.


"Terimakasih, Kakak tampan"Daisy tersenyum manis.


"Lebih tampan aku atau Cedro?"Maxi bicara dengan nada protes.


"Kalian sama-sama tampan dalam versi berbeda"Jawab Daisy menenangkan Maxi. Maxi menghela nafas, tidak puas dengan jawaban Daisy.


"Ini fotomu saat bermain piano di pesta ulangtahunmu. Sangat cantik" Clarissa memperbesar foto di layar ponselnya.


"Kamu sangat beruntung, Maxi" gumam Cedro.


Maxi menganggukkan kepalanya "Tentu saja" sahutnya.


"Kita lihat penampilan Daisy bersama-bersama nanti. Kakek sudah pesan tiket untuk keluarga kita" Tiba-tiba Kakek Edoardo sudah berada di depan mereka. Mereka berempat terkejut dibuatnya.


"Kakek akan mendukung siapapun anggota keluarga Edoardo untuk hal-hal yang positif. Dukungan Kakek tidak akan setengah-setengah. Maka dari itu, asah dan kembangkan bakat yang kalian miliki" ucap Kakek.


"Harus diingat. Selalu rendah hati, jangan pernah merasa lebih hebat dan jangan merendahkan orang lain " Kakek Edoardo menatap keempat cucunya.


"Untuk Daisy, Kakek sangat bangga padamu" Kakek tersenyum kali ini menatap Daisy.


"Terima kasih, Kakek" ucap Daisy.


"Baiklah. Maxi, Daisy. Sekarang kita lanjut ke ruang pertemuan. Tamu kita sudah mau tiba" Kakek berucap lagi.


"Baik, Kakek" jawab mereka berempat dengan serempak.


"Aku membantu membuat desain interior untuk para penyewa ruangan di pusat perbelanjaan ini" Clarissa berbisik kepada Daisy.


"Oh ya?" Daisy menatap Clarissa dengan bangga.


"Kamu memang keren, Clariss" bisik Daisy.


"Aku memang keren, Daisy" Clarissa berbisik disusul deheman Maxi dari belakang mereka.


Daisy dan Clarissa menoleh ke arah Maxi. Lalu saling pandang dan menunduk menahan tawa. Karena ekspresi wajah Maxi yang seolah tidak tahan ingin protes dengan kata-kata Clarissa.


"Mereka kan sebenarnya masih remaja, Maxi. Biarkan saja. Jangan bersikap terlalu kaku" Cedro menyikut Maxi.


Entah kenapa, Maxi jadi ingin tertawa mendengar kata-kata Cedro. Dia baru menyadari bahwa ternyata selama ini dirinya sangat kaku, nyaris tidak pernah bercanda. Hidup dijalaninya selalu serius.


"Jika kalian sudah selesai meeting, mampirlah ke ruangan kerja kami" Cedro menekan tombol lift menuju lantai empat. Mereka naik lift yang berbeda dengan kakek.


"Selepas jam kerja, kita bisa menonton cinema bersama" ucap Cedro lagi.


"Sepertinya ide yang bagus" Sahut Maxi.


"Kamu mau menonton cinema, Daisy?"Maxi menatap Daisy.


"Mau, Max" Daisy mengangguk.


"Waah seru, akhirnya kita bisa menonton bersama" Clarissa mengacungkan dua ibu jarinya.


Mereka sudah tiba di lantai empat. Kakek masuk ke ruang kerja paman Roger. Sementara pak Thomas, asisten pribadi Kakek, menunggu di depan pintu.

__ADS_1


Gabriela pun sudah ada di sana. Duduk di sofa menunggu Daisy tiba. Lalu segera berdiri ketika melihat kedatangan Daisy.


"Ini ruangan kerja kami, bersebelahan dengan ruang meeting. Mampir saja kalau sudah selesai pertemuannya" Cedro membuka pintu ruang kerjanya dengan lebar.


Sangat Luas dengan desain minimalis modern khas anak muda kreatif. Nuansa putih dan biru dengan dinding kaca dan disuguhi pemandangan pusat kota Amber yang indah.


"Sangat menyenangkan ruangan kerja kalian" Ucap Daisy penuh kekaguman.


"Kalau kamu ingin dibuatkan desain untuk ruangan apapun, bilang saja padaku, Daisy. Kau juga Maxi" Clarissa menyerahkan kartu namanya kepada Daisy dan Maxi.


"Bukankah kamu seorang detektif cilik?" tanya Maxi. Ketika dia membaca tulisan : Clarissa Roger Edoardo - Konsultan desain Interior.


"Detektif, Maxi. Bukan detektif cilik" ucap Clarissa.


"Sebelum usia dua puluh tahun, menurutku masih kategori cilik"gumam Maxi datar. Padahal dalam hati dia ingin tertawa melihat ekspresi wajah Clarissa yang tidak suka dengan kata-kata Maxi. Hanya saja dia memang terbiasa berbicara dengan nada serius. Walaupun mungkin terdengar menyebalkan bagi sebagian orang.


"Baiklah. Mungkin suatu saat aku memerlukan bantuanmu untuk mendesain ruangan kerjaku, Clariss" Daisy membaca kartu nama Clarissa lalu menyimpannya di dalam tas.


"Nona Daisy dan tuan Maxi, tamu kita sudah mau sampai. Mari bergabung dengan tuan besar menyambut tamu" Gabriella berbicara dari pintu yang terbuka.


Maxi dan Daisy bergegas keluar dan mengikuti langkah Gabriela.


"Sampai jumpa nanti" pamit Daisy kepada Clarissa dan Cedro diirigi lambaian tangan Maxi sebelum meninggalkan ruangan.


Mereka segera masuk ke ruangan meeting. Berdiri di samping Kakek.


Tidak lama kemudian, pak Thomas datang bersama tamu mereka. Dua orang berseragam pengawal mendampingi seorang pria dengan tangan kanan memakai gips perban.


"Selamat datang tuan Ferguson" Kakek menyambut pria itu.


Sementara Daisy begitu terkejut saat melihat pria itu. Dia adalah pria berkuda di atas bukit yang Daisy lihat tadi pagi.


"Terimakasih, tuan Edoardo" ucap pria itu membalas sambutan kakek.


"Mohon maaf atas perubahan jadwal pertemuan bisnis kita. Semoga anda bisa memaklumi" Ucap Pria itu ramah kepada Kakek. Dia membungkuk sebagai tanda hormat dan permintaan maaf kepada Kakek.


"Sangat dimaklumi. Anda juga masih mengusahakan hadir walaupun masih dalam kondisi cidera" Kakek berucap lagi.


"Hanya cidera ringan di lengan saja. Beberapa hari ke depan akan pulih menurut dokter" Pria itu menunjukkan bagian lengan kanannya yang terbungkus perban.


"Perkenalkan ini adalah Maxi, Direktur pemasaran Fiorella. Maxi, ini adalah tuan David Ferguson, calon distributor kita dari Inggris"Kakek memperkenalkan Maxi.


"Senang bertemu anda tuan Ferguson" Maxi menyalami David.


"Senang bertemu anda, tuan Maxi" ucap David.


"Dan ini Daisy, direktur operasional Fiorella" ucap Kakek memperkenalkan Daisy.


"Senang bertemu anda, tuan Ferguson" ucap Daisy.


"Senang bertemu anda, nona Daisy" David memandang Daisy tak berkedip.


Dia sama terkejutnya seperti Daisy. Gadis cantik yang tadi pagi dia lihat di Benvollio Mansion kenapa ada di Edoardo group? pikirnya. Selain itu dia sangat terpesona melihat Daisy dari dekat.


"Silakan duduk, tuan Ferguson" ucap Kakek membuat David tersadar dan segera mengalihkan pandangannya dari Daisy.


Maxi melihatnya dengan hati tidak tenang. Dia bisa melihat ketertarikan David kepada Daisy. Seketika dia merasakan kekhawatiran adanya ancaman atas kehadiran David.


Maxi membantu menarik kursi dan mempersilakan Daisy duduk. Dia ingin menunjukkan kepada David bahwa dia dan Daisy ada hubungan istimewa.


David melihat perlakuan Maxi yang begitu perhatian kepada Daisy. Dia bisa melihat bahwa mereka ada hubungan istimewa. Terlintas dalam pikirannya untuk mencari tahu tentang Daisy dan Maxi.


Daisy menatap Maxi dan melirik sekilas ke arah David. Dia bisa merasakan aura persaingan di antara kedua pria tersebut. Dia sangat takut dengan apa yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


***


__ADS_2