NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
34. Festival Musik 2


__ADS_3

William Ferguson yang sedang duduk di kursi rodanya terkejut melihat permainan piano seorang gadis dari keluarga Edoardo. Dia duduk di kursi VIP di sebelah putranya, David Ferguson.


"Dia mirip sekali dengan Bella" gumamnya nyaris tak berkedip.


"Gadis itu pasti putri Bella dan Alessio" pikirnya.


Pikirannya terbang ke masa lalu saat dia dan Bella sama-sama belajar bermain piano. Mereka pernah belajar kepada guru yang sama. meskipun usia mereka terpaut sepuluh tahun.


Saat itu dirinya sudah berusia enam belas tahun, sedangkan Bella masih enam tahun. Bella sudah seperti adik baginya. Mereka kerap bermain bersama sebelum ayahnya membawa pindah dirinya ke Inggris untuk melanjutkan sekolah di sana. Dia sesekali mendapat kabar tentang Bella dari neneknya yang bertetangga dengan dengan keluarga besar Benvollio


Saat Bella menikah, dia juga tidak sempat hadir karena David yang sudah berusia lima tahun saat itu sedang sakit.


"Dia putri Bella Benvollio dan Alessio Edoardo"Bisik David ketika melihat ayahnya nampak terpana dengan penampilan Daisy.


Lamunan William buyar seketika.


"Ayah sudah menduganya. Dia sangat mirip dengan ibunya" sahut ayahnya seraya menoleh dan tersenyum.


"Kau pasti menyukainya" gumam ayahnya dengan tatapan lurus tertuju ke arah panggung.


David tertawa pelan. Tanpa berniat menanggapi pendapat ayahnya.


"Tatapanmu tidak bisa bohong dari ayah" ucap ayahnya yakin.


"Aku menyukai permainan pianonya, Ayah" David mengelak dengan wajah kikuk.


"Suaranya pun sangat bagus, punya ciri khas sendiri" ayahnya melanjutkan, lalu tertawa pelan. Kemudian bertepuk tangan karena permainan piano Daisy selesai.


"Jangan kecewa kalau dia sudah memilih pria lain jika kau sendiri tidak mau mengakui perasaanmu" ucap ayahnya lagi seraya matanya tertuju kepada Maxi yang bertepuk tangan seraya berdiri dan mendapat lambaian tangan dari Daisy dengan tatapan penuh cinta.


Huuuffhhh....David menghela nafas perlahan. Dia cemburu.


Ayahnya meliriknya seraya menggelengkan kepala.


"Tidak usah cemburu, kau kan hanya menyukai permainan pianonya" gumam ayahnya terkekeh.


"Sudahlah, ayah. Dia sudah punya calon suami. Aku juga mengenal Maxi, calon suaminya" bisik David. Dia berharap ayahnya akan berhenti membahas Daisy.


"Oke, ayah tidak akan membahasnya lagi" Ujar ayahnya masih dengan tawa kecil yang tersisa.


***


Acara festival musik sudah usai. Daisy yang sudah berganti pakaian bergegas menemui Maxi yang sedari tadi menunggunya di depan ruang ganti pengisi acara.


"Maaf sudah membuatmu menunggu, Max" ucap Daisy. Tangannya menerima uluran tangan Maxi yang kemudian menggamitnya di lengan.


"Tidak masalah, Daisy"


"Aku ini calon suamimu. bulan depan kita akan bertunangan. Sudah jadi tugasku menjagamu" sahut Maxi.


"Baiklah, Max. Terimakasih. Kau memang sangat baik. Calon suami yang sangat perhatian" ucap Daisy.

__ADS_1


"Mari kita temui Kakek, nenek dan semua keluarga Edoardo. Mereka sudah menunggumu di restaurant" Maxi menggenggam tangan Daisy menuju restauran di lantai satu hotel Star Marine itu.


"Kakek sengaja mengajak kita semua makan malam di sini. Katanya untuk merayakan kesuksesan penampilanmu tadi" ucap Maxi.


"Oh ya?. Aku tidak tahu soal ini" gumam Daisy.


"Anggap saja ini kejutan" sahut Maxi sambil mengedipkan mata kirinya.


Mendadak pipi Daisy bersemu merah.


"Tidak usah merasa malu, ini karena kakek sangat bangga kepadamu"


"Oooh tidak, aku yang paling bangga sebenarnya" Maxi tersenyum senang.


"Aah kamu bisa saja, Max"


"kamu tidak percaya kalau aku sangat bangga melihatmu di atas panggung tadi?"


"Tentu saja aku percaya" Daisy membalas senyum Maxi.


Mereka sudah tiba di pintu masuk restaurant. Seorang pelayan mempersilakan mereka masuk dan mengantarkan mereka ke ruangan khusus yang sudah dipesan oleh kakek Edoardo.


Semua yang sudah hadir disana menyambut Daisy dengan wajah gembira. Kecuali Marie dan Cleo. Sedangkan Joane, dia justru ikut menyambut Daisy dengan antusias.


"Apa yang kamu lakukan, Joane?" Marie menyikut perut Joane.


"Sakit, Kak" Joane meringis.


"Kenapa sekarang kamu baik padanya?" Marie kembali berbisik kesal.


"Sebenarnya kita tidak pantas membencinya. Dia anak baik. Dia kan adik kita juga, Kak. Justru dia membuat bangga keluarga besar kita" Joane melemparkan senyum kepada Daisy.


Daisy membalas senyumannya.


"Selamat ya, Daisy. Kamu sangat hebat. Aku bangga punya adik sepupu sepertimu" ucap Joane tulus. Namun mendapat tatapan heran dari kedua orangtuanya dan Maxi.


"Apakah aku salah bicara?" Joane bertanya seraya menatap mereka yang nampak keheranan.


"Apakah kamu sehat?" tanya balik Maxi.


Daisy mencolek lengan Maxi. Maxi dan kedua orangtuanya tertawa pelan.


"Aku tulus mengucapkan kata-kata tadi dari hatiku yang paling dalam. Kalian tidak percaya?" ucap Joane menundukkan kepala.


"Terimakasih, Joane. Aku tahu kamu tulus mengucapkannya" ucap Daisy dengan senyum mengembang.


"Oke, Joane Kami percaya. Terimakasih sudah bersikap baik" ucap ayahnya seraya menepuk pundak Joane.


"Daisy, bolehkan kita berfoto berdua?" Joane menyerahkan ponselnya kepada Maxi, lalu segera berpose di sebelah Daisy.


Maxi mengangkat ponsel Joane, pura-pura tidak faham maksud Joane.

__ADS_1


"Tolong fotokan kami, kak Maxi"Desis Joane mengiba.


"Baiklah" ucap Maxi.


"Naah sudah" Maxi menyerahkan ponsel Joane.


Joane meraihnya lalu mengecek hasil fotonya.


"Waah bagus hasilnya. Aku tidak kalah cantik dari Daisy. Terimakasih, Kak Maxi" ujar Joane kegirangan.


Dia segera memposting foto tersebut di akun media sosialnya.


Maxi yang duduk di sebelahnya hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah adiknya itu. Tapi setidaknya Joane sekarang sudah bersikap baik kepada Daisy. Itu cukup membuat hati Maxi lega.


"Memangnya apa yang kau lakukan sampai bisa tampil di festival musik ini, Daisy?" celetuk Marie saat semua sudah siap menikmati hidangan.


"Marie, apa maksudmu?" Bibi Victoria menatap Marie tajam.


"Kaj pasti menggunakan cara licik. Atau bisa jadi kau merayu tuan Connor" lanjut Marie kesal.


"Kau bahkan tidak punya jejak prestasi di bidang musik. Bagaimana mungkin tiba-tiba bisa tampil di acara musik sekelas Jack Connor music Festival?" lanjut Marie lagi.


Daisy hanya terdiam. Dia rasa tak perlu menjawab semua pertanyaan Marie ataupun membantah tuduhannya. Karena akan percuma saja. Marie tetap akan membencinya.


Maxi menggenggam tangan Daisy di bawah meja mencoba menenangkan. Karena dia sendiri rasanya ingin marah.


"Marie hentikan omong kosongmu itu" kali ini paman Luca yang bicara.


"Tuan Connor datang menemui kakek dan meminta izin untuk menanyakan apakah Daisy bersedia tampil" tiba-tiba kakek berbicara. Namun nada bicara kakek sangat tenang.


"Tuan Connor sangat tertarik dengan permainan piano Daisy sewaktu di pesta kebun. Harus diakui bahwa Daisy memang sangat piawai"


"Bukan Daisy yang meminta tampil di acara tadi. Tapi tuan Connor yang meminta"


"Sebaiknya kamu lebih giat berlatih jika tahun depan ingin lolos seleksi sebagai pendatang baru untuk tampil di acara tuan Connor. Menurut tuan Connor, proposal yang kamu kirimkan belum memenuhi syarat. Cara bermainmu masih banyak kekurangan" lanjut kakek lagi.


"Dan lain kali hati-hati jika berbicara. Daisy adalah adik sepupumu. Dia anak baik. Jangan membuat tuduhan yang bisa mencemarkan nama baik seseorang, apalagi keluarga sendiri" Kakek tetap berbicara dengan nada tenang


"Baik, Kakek. Maafkan aku" Marie menundukkan wajahnya. Namun tangannya mengepal saking kesalnya.


"Daisy, selamat. Penampilanmu tadi sangat mengagumkan. Kakek, nenek dan semua keluarga Edoardo merasa senang dan bangga atas pencapaianmu" Kakek menatap Daisy dengan bangga.


Daisy berdiri dan menganggukkan kepala kepada kakek, nenek dan semuanya.


"Terimakasih Kakek, nenek dan semua keluarga Edoardo yang kusayangi" ucap Daisy.


Seketika semua bertepuk tangan dengan tawa bahagia. Kecuali Marie dan Cleo yang terpaksa melakukannya.


Mereka pun makan malam dengan penuh keceriaan.


***

__ADS_1


__ADS_2