
Daisy berkeliling pabrik sekitar dua jam. Kali ini baru sebatas berkunjung ke bagian manajemen office. Tadi Manajer Pabrik mengumpulkan seluruh pegawai kantor untuk memperkenalkan Daisy sebagai owner dan direktur mereka.
Daisy dibantu Maxi mulai mempelajari data-data perusahaan. Kemarin Daisy sudah sempat mempelajari laporan keuangannya. Sekarang Daisy sedang mempelajari data secara keseluruhan.
Tidak terasa waktu sudah sore.
"Kakek mengajak kita makan malam di vila" Maxi berucap ketika membuka pesan masuk dari Kakek.
"Sekarang kita ke rumahmu supaya kamu bisa istirahat sebelum makan malam dengan Kakek. Menurut Kakek semua tasmu sudah diantar ke sana" ucap Maxi.
"Nanti malam aku jemput kamu" Maxi berdiri dari kursinya.
Sementara Daisy dibantu miss Gaby merapikan berkas-berkas di meja dan memasukkan kembali ke dalam folder.
"Miss Gaby, besok pagi jam tujuh saya mau melihat perkebunan. Tolong buat jadwalnya ya. Setelah itu kita lanjut ke bagian produksi" ucap Daisy kepada Gabriella.
"Baik, Nona" Gabriella mencatatnya di tablet yang dia bawa.
"Jadwal makan siang dan setelahnya sudah ada diatur dengan Kakek kan?" tanya Daisy.
"Iya, Nona. Besok makan siang dengan tuan besar di vila. Lalu dilanjutkan meninjau kantor baru Fiorella bersama tuan besar, tuan Maxi dan yang lainnya" jawab Gabriella.
"Besok pagi, aku tidak bisa menemanimu. Karena jadwalku besok pagi bersama Kakek bertemu dengan calon klien dari Inggris" Maxi membaca schedule kegiatannya di ponsel.
"Tidak masalah, Max. Kamu tenang saja. Ada miss Gaby yang selalu menemaniku"
"Kamu selesaikan pekerjaanmu juga" ucap Daisy.
"Sangat jadi masalah bagiku, jauh dari kamu" gumam Maxi pelan. Namun cukup jelas terdengar oleh Daisy dan Gabriella.
"Ayolah, Max. Jangan menggodaku terus" ucap Daisy dengan pipi bersemu merah.
Maxi tertawa melihat wajah Daisy yang merona.
Mereka bergegas menuju kediaman masa kecil Daisy yang ke depannya akan menjadi tempat tinggalnya selama di sini.
Mobil yang membawa mereka meluncur ke arah barat menuju rumah dengan gerbang berwarna hijau keemasan dengan tanaman bunga di sekelilingnya.
Tidak banyak yang berubah. Semua hampir sama seperti dulu. Tetap terawat rapi. Beberapa pekerja yang sedang bekerja bergegas menghampiri Daisy. Mereka semua masih bekerja di rumah itu sejak rumah itu Daisy tinggalkan hingga saat ini.
"Selamat datang kembali di rumah, Nona Daisy" Nina, kepala pelayan menyambut Daisy dengan antusias. Di sampingnya, para pelayan lainnya berbaris. Namanya adalah Angelina. Dia sudah bekerja di kediaman Benvollio sejak muda dan sehari-hari mengasuh Bella, ibunya Daisy. Semua orang memanggilnya Nina. Usia Nina sekitar enam puluh tahun saat ini.
"Terimakasih, Nina. Sudah lama sekali aku tidak pulang" Daisy memeluk Nina dengan hangat.
"Kami semua sangat merindukan Nona" Nina menatap Daisy berkaca-kaca.
__ADS_1
"Nona sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik"ucapnya lagi.
"Terimakasih, Nina dan semuanya karena sudah merawat dan menjaga rumah ini" Daisy tersenyum ke arah semua pelayan.
Daisy melangkah memasuki rumah. Aroma bunga potong segar dan penataan ruangan sama seperti saat dulu ia dan kekuarganya masih berkumpul. Benar-benar tidak ada yang berubah.
"Kami sudah menyiapkan makan siang untuk Nona dan tuan Maxi. Aranetha yang mengatur semuanya" ucap Nina.
Miss Aneth menghampiri Daisy.
"Silakan Nona dan tuan Maxi" ucap miss Aneth.
Tiba-tiba seorang pelayan masuk dan berbicara kepada Nina.
"Nona, ada tamu di luar mencari Nona. Namanya Nona Clarissa" ucap Nina.
Daisy dan Maxi saling bertatapan. "Clarissa?" ucap mereka bersamaan.
"Persilakan masuk" jawab Daisy cepat. Dia khawatir membuat Clarissa menunggu lama di luar.
"Nina, semuanya boleh kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Terimakasih untuk semuanya" ucap Daisy.
Nina menganggukan kepala. "Baik, Nona. Panggil saya jika Nona butuh bantuan" ucapnya. Kemudian dia membubarkan para pelayan yang sedari tadi berbaris di sampingnya.
"Clarissss...bagaimana kamu bisa sampai di sini?" Daisy memeluk Clarissa erat.
"Kakek mengirimkan helikopter untuk menjemputku" jawabnya sambil menengok ke arah Maxi yang berdiri di samping Daisy.
Clarissa melambaikan tangannya. "Hallo, Maxi"
Maxi menghela nafas. "Halo, bawel"
Clarissa terkikik mendengar ucapan Maxi dan melihat kekesalan di wajahnya.
"Aku datang ke sini untukmu, Daisy. Aku rasa kamu butuh teman. Aku merayu nenek supaya diizinkan menyusulmu ke sini. Aku hanya ingin menjaga adik kecilku" ucap Clarissa.
"Nenek mengabari Kakek, dan Kakek mengizinkanku" lanjut Clarissa.
"Aaah senangnya ada kamu di sini" pekik Daisy pelan.
Maxi berdehem. Clarissa tertawa melihat Maxi yang masih menekuk wajahnya.
"Aku pasti akan kesepian saat malam untuk tidur di sini lagi, Max. Syukurlah ada Clarissa. Jadi aku tidak terlalu kesepian." ucap Daisy kepada Maxi.
"Iya, aku tahu koq. Asalkan dia tidak bawel dan menggangguku saat bersama kamu, aku tidak akan keberatan" gumam Maxi.
__ADS_1
Sebenarnya dia hanya berpura-pura kesal. Dalam hatinya, dia sangat senang dengan kedatangan Clarissa. Karena bisa menemani Daisy di rumah agar tidak larut dalam kesedihan. Bagaimanapun juga rumah itu adalah rumah tempat semua kenangan bersama keluarganya tersimpan.
Meskipun ada miss Aneth dan banyak pelayan di rumah, tetap saja dia butuh seseorang yang sangat memahami perasaannya. Dan saat ini Maxi tidak bisa terus menerus menemani Daisy. Karena mereka belum menikah dan Maxi menginap di vila milik Kakek.
Dia sangat tahu bahwa Clarissa akan menjaga Daisy dengan baik. Clarissa dan Daisy sangat akrab. Mereka adalah dua cucu perempuan di keluarga Edoardo yang paling disayang Kakek dan Nenek. Jadi wajar saja Kakek dan Nenek mengijinkan Clarissa bersama Daisy.
"Tidak usah pura-pura kesal. Aku tahu sebenarnya kamu senang dengan kehadiranku. Karena Daisy ada yang menemani" Clarissa berbicara pelan.
Maxi tertawa mendengarnya.
"Kamu memang nona detektif bawel" gumam Maxi lagi.
"Lebih baik kita segera makan. Ini sudah lewat dari jam makan siang. Dan aku sudah merasa sangat lapar" Ucap Daisy.
Mereka beranjak menuju meja makan. Ada roti, kentang dan soup Ukha tersedia di atas meja masing-masing kursi. Sudah ada tiga tempat yang tersedia.
"Rupanya Miss Aneth sudah mengetahui kehadiran Clarissa. Makanya dia sudah menyiapkan menu makan siang untuk mereka bertiga" pikir Daisy melirik Clarissa.
"Aku yang meminta miss Aneth tidak memberitahukan mu mengenai kedatanganku. Jadi jangan salahkan dia" Clarissa berucap seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Daisy.
Daisy terkekeh.
"Sekarang kamu menjadi pembaca pikiran juga, Clariss?" desis Daisy.
"Kadang-kadang" jawab Clarissa dengan senyum nakalnya.
"Soup apa ini? aku baru melihatnya" tanya Clarissa saat dia melihat mangkuk soup Ukha.
"Soup ini namanya Ukha. Sup ikan salmon, masakan tradisional dari Rusia. Ini buatan Nina. Nina memang berasal dari Rusia. Sedikit membutuhkan ketrampilan khusus untuk membuat sup ini. Jadi di rumah ini hanya Nina yang bisa membuatnya dengan rasa seenak ini" jawab Daisy.
"Ini salah satu makanan kesukaanku" lanjut Daisy lagi.
Maxi menghirup aroma Ukha sambil memejamkan mata.
"Aroma wangi dan menggugah selera makan itu berasal dari perpaduan lada dan taburan daun peterseli" ucap Daisy.
"Ternyata kamu lumayan tahu tentang bumbu dan masak memasak"ucap Maxi bergumam.
"Adikku memang sangat cerdas, Max"sahut Clarissa.
Maxi hanya tersenyum.
"Ayo, silakan makan" Daisy mengajak Maxi dan Clarissa segera makan. Supaya mereka juga berhenti bersahut-sahutan satu sama lain.
***
__ADS_1