
Daisy menunggang kudanya memasuki hutan Amare. Hutan di sebelah bukit milik Benvollio Mansion. Sewaktu kecil dia sering bermain ke hutan itu untuk melihat beberapa hewan kecil liar seperti kelinci dan tupai. Tapi yang paling dia senangi adalah menikmati hamparan bunga bluebells yang akan muncul sepanjang musim semi.
Seharusnya saat ini bunga tersebut sudah muncul. Bunga ini hanya tumbuh di habitat aslinya di dalam hutan yang sudah tua. Jika sudah bermekaran maka akan nampak seperti hamparan permadani berwarna biru keunguan yang sangat indah.
Daisy merapatkan kedua kakinya ke tubuh kuda yang dia tunggangi agar kudanya berlari pelan. Kemudian semakin memperlambat larinya dan berjalan biasa.
Betul saja dari tempatnya berada sudah nampak hamparan bunga bluebells.
Mata Daisy memandang hamparan yang sama yang sering dia lihat beberapa tahun silam saat dia kecil.
Kudanya berjalan perlahan di jalan setapak diantara hamparan biru itu. Dibawah naungan pohon-pohon besar berkanopi di hutan Amare. udara yang segar dan sinar matahari yang berusaha menerobos kanopi dedaunan pohon besar di musim semi selalu memiliki aroma yang khas bagi Daisy. Dia menghirup udara perlahan seraya memejamkan matanya. Sangat menenangkan. Seketika membuatnya merasa seperti melayang. Rasanya ingin terlelap dalam buaian aromanya.
"Bunga-bunga ini sudah bermekaran sejak beberapa hari yang lalu" Sebuah suara membuat Daisy terkejut nyaris terjatuh dari kudanya. Namun anehnya kudanya tetap tenang meskipun tadi kaki Daisy tanpa sengaja menyentuh tubuh kudanya agak kencang.
Daisy membuka matanya. David Ferguson sedang berdiri di sampingnya seraya mengelus kepala kudanya dengan lembut. Pantas saja kudanya tetap tenang. Kudanya nampak menurut dan nyaman.
"Maafkan jika saya mengejutkanmu, Nona Daisy" ucap David membungkukkan tubuhnya.
Daisy bergegas turun dari kudanya.
"Saya tidak mendengar anda datang, tuan David. Makanya saya agak terkejut" ucap Daisy seraya tersenyum.
"Saya terlalu menikmati keindahan alam ini" lanjut Daisy.
"Hamparan biru ini sangat cantik" gumam Daisy penuh kekaguman.
"Iya, sangat cantik" David menatap Daisy lekat. Lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah kudanya yang mengikutinya di belakang. "Dia sangat cantik" dia berbisik kepada kudanya sambil tersenyum. Kudanya meringkik pelan.
"Bunga Bluebells konon dipandang sebagai cara untuk mengkomunikasikan perasaan dan pikiran terkait dengan kerendahan hati kepada orang lain. Karena bentuk bunganya yang semakin mekar semakin merunduk"ucap David.
"Ah iya, seperti itu juga yang saya dengar dari nenek saya dahulu" sahut Daisy.
"Bahkan ada sebuah dongeng yang mengatakan bahwa kelinci-kelinci yang sering berlarian di antara bunga-bunga bluebells itu adalah jelmaan peri" Daisy berkata. Dia teringat cerita neneknya saat mereka berjalan-jalan di hutan ini dan melihat kelinci berlarian di antara bunga-bunga.
"Dan itu cerita yang sama yang nenek saya kisahkan kepada cucunya ini" David tergelak.
"Oh ya?" tanya Daisy
David mengangguk.
"Anda tidak takut berjalan sendirian di tengah hutan, Nona?" tanya David matanya memeriksa sekeliling. Tidak tampak pengawalan.
"Kota Amber adalah kota yang aman, bahkan di dalam hutannya sekalipun. Saya lahir dan tumbuh di sini hingga usia delapan tahun dan sudah terbiasa bermain di hutan ini sewaktu kecil" jawab Daisy.
"Tidak takut akan bertemu orang jahat di hutan?"tanya David lagi.
__ADS_1
Daisy menggelengkan kepala.
"Buktinya, saya justru bertemu orang baik seperti anda di hutan ini" jawab Daisy seraya tersenyum manis.
David tertawa mendengar jawaban Daisy.
"Dari mana anda tahu bahwa saya orang baik?" tanya David lagi.
Daisy mengelus pucuk kepala kudanya.
"Diapun tahu bahwa anda orang baik. Dia tetap tenang saat anda memegangnya meskipun anda datang tiba-tiba" jawab Daisy. Lagi-lagi membuat David tertawa.
"Anda sangat menyenangkan dan ramah, Nona Daisy" ucap David.
"Anda juga, tuan David" sahut Daisy.
"Panggil saja saya David atau Dave" kata David seraya tersenyum menatap Daisy.
Daisy mengangguk. "Baiklah. Anda pun boleh memanggil saya Daisy tanpa Nona"
"Oke. Daiz" sahut David membuat Daisy menoleh.
"Daiz?" Daisy mengerutkan dahinya.
"Iya, Daiz. Artinya sama seperti Daisy. Bunga Aster" jawab David tersenyum manis. Kemudian dia menuntun kudanya menuju bagian tengah hutan. Mendahului Daisy.
Daisy terdiam. Dia seperti terbawa ke pusaran waktu yang telah berlalu.
Daiz adalah panggilan kesayangan dari ayah untuknya.
Pria itu, kenapa dia memanggilnya sama seperti ayah.
Daisy menatap punggung David yang berjalan di depannya.
"Kalau kamu diam artinya kamu tidak keberatan, Daiz" David berbicara. Kemudian menoleh ke arah Daisy lagi.
"Kamu tidak jadi melihat danau dan para tupai lucu?" tanya David.
Daisy semakin tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimana David bisa tahu bahwa salah satu tujuannya ke hutan ini adalah melihat tupai-tupai lucu yang berlarian di atas pohon pinus di tepi danau di ujung hamparan bunga blue bells.
"Setiap orang yang datang ke hutan ini, selain melihat hamparan blue bells mereka pun pasti ingin menikmati pemandangan indah di tepi danau dan aksi para tupai lucu" David berbicara. Seolah tahu pertanyaan di kepala Daisy.
"Aaah, iya benar seperti itu" Akhirnya Daisy terlepas dari rasa bingungnya.
"Jalan setapak ini adalah jalurku jika berkuda setiap pagi. Sampai ke ujung danau sana lalu memutar menuju mansion kami" ucap David.
__ADS_1
Rupanya David memang sudah terbiasa berkeliling hutan hingga ke tepi danau.
Jika mereka berjalan memutar melewati jalan setapak di sepanjang pinggir danau, mereka akan tiba di bawah bukit milik keluarga Ferguson di seberang Benvollio Mansion. Tempat dimana Daisy melihat David beberapa hari yang lalu.
"Bagaimana dengan cedera tanganmu?" tanya Daisy saat matanya tidak melihat perban di tangan David. Bahkan sepertinya tangannya sudah leluasa digerakkan
"Sudah pulih. Sekarang sudah bisa berkuda lagi" David mengangkat tangannya. Menunjukkan bahwa dia sudah baik-baik saja.
"Syukurlah" ucap Daisy.
"Daiz, lihatlah. Tupai-tupai melompat dengan sangat lincah" David memberitahu Daisy. Tangannya mengarah ke atas pohon pinus dimana para tupai melompat.
"Mereka sangat mengagumkan" gumam Daisy takjub.
"Iya, betul. Sangat mengagumkan" Timpal David. Namun matanya justru menatap Daisy.
Daisy tidak menyadari tatapan David, karena dia terlalu senang melihat pemandangan. Danau berair jernih, pohon pinus yang berderet rapi, dan tentu saja para tupai lucu.
Setelah sembilan tahun berlalu, akhirnya dia bisa menikmati kembali pemandangan ini.
Daisy melirik jam tangannya. Sudah jam sembilan pagi. Rupanya dia sudah dua jam berkeliling di hutan. Sudah waktunya dia pulang dan mandi. Karena nanti jam sepuluh Maxi akan datang.
"Sepertinya saya harus pulang, tuan David. Terimakasih sudah menemaniku berkeliling" ucap Daisy.
"Panggil saja Dave, oke?" David berucap.
"Aah iya. Baiklah, Dave. Aku pulang"
"Mau saya temani pulang?" tanya David.
"Tidak perlu. Terimakasih. Aku bisa sendiri. Sampai jumpa, Dave" pamit Daisy melambaikan tangannya.
"Sampai jumpa, Daiz" David membalas lambaian tangannya.
Daisy memacu kudanya dengan cepat menuju mansionnya. itu membuat David terpana. Gadis selembut dan seanggun Daisy bisa memacu kuda dengan cepat dan lihai. Sangat tidak terduga.
"Gadis yang penuh dengan kejutan" gumam David dengan senyum mengembang.
Dia sangat senang.
Dari kejauhan dia melihat Daisy sudah tiba di mansionnya. Terlihat sebuah mobil memasuki gerbang dan Daisy menyambutnya.
Maxi keluar dari mobil. Lalu merangkul tangan Daisy. Mereka berjalan memasuki rumah.
"Sikap mereka seperti bukan sepupu" pikir David.
__ADS_1
"Aku harus mencari informasi lebih lengkap tentang hubungan Daisy dan Maxi" pikir David seraya beranjak menuju mansionnya.
***