
Hari ini adalah pertama Daisy bekerja di perusahaan kakek. Kantor mereka berada di kawasan Edoardo Luxury Commercial Estate yang disingkat menjadi ELCE. ELCE sendiri terdiri dari dua gedung perkantoran, satu gedung apartemen dan pusat perbelanjaan dan satu lagi adalah gedung hotel.
Dua gedung perkantoran adalah gedung A yang terdiri dari 35 lantai yang merupakan pusat kegiatan manajemen perusahaan milik Edoardo Luxury group. Sedangkan gedung B adalah gedung perkantoran yang disewakan kepada beberapa perusahaan lain yang terdiri dari 30 lantai.
Daisy memasuki gedung A dan langsung menuju lift. Dia sudah mendapatkan arahan dari pak Thomas, sekretaris pribadi Kakek, melalui email yang dia terima kemarin.
Dia mendapat ruangan di lantai 33 sebelah barat. Menurut pak Thomas. Disana sudah ada sekretaris yang menunggu Daisy bernama Gabriella.
Daisy keluar dari lift di lantai 33. Benar saja seorang wanita cantik berusia sekitar 30 tahun dengan stelan blazer dan rok hitam di atas lutut sudah menanti Daisy di depan pintu lift. Daisy melirik ID card yang tergantung di bagian depan bajunya, Gabriella.
"Selamat datang, Nona Daisy. Perkenalkan saya Gabriella. Sekretaris pribadi nona. Siap membantu nona" sambut Gabriella.
"Terimakasih. Selamat pagi, Miss Gabriella" jawab Daisy. Mereka bersalaman. Lalu mereka berjalan berdampingan. Gabriella mengajak Daisy menuju ruangannya.
Gabriella melihat sekilas perban di dahi Daisy yang masih sedikit terlihat walaupun ditutup oleh poni.
"Beberapa hari lalu aku mengalami kecelakaan kecil. Tapi sudah membaik" Ucap Daisy seraya menyibakkan poninya.
"Semoga lekas pulih, Nona" ucap Gabriella.
"Terimakasih" sahut Daisy.
Sebuah ruangan berukuran 6 x 6 meter dengan pemandangan luasnya kota Brown yang berada di tepi laut.
"Ini ruangan anda, Nona."Gabriela mempersilahkan Daisy masuk.
"Semua dokumen mengenai perusahaan sudah disiapkan di atas meja anda, Nona."
Daisy melihat tiga tumpukan dokumen dalam amplop plastik berwarna biru muda.
"Dokumen-dokumen lainnya bisa anda lihat di dalam folder -folder ini" Gabriela menunjukan folder dokumen yang berjejer di atas rak dinding.
"Jam sepuluh nanti, Nona diundang untuk menghadiri rapat pemegang saham perusahaan bersama tuan besar Edoardo dan semua pemegang saham beserta jajaran direksi" Gabriela mengambil sebuah map besar lalu menyerahkan kepada Daisy.
"Nona bisa membaca berkas ini untuk mempelajari mengenai susunan acara rapat dan siapa saja nanti yang akan hadir"
"Meja saya tepat di depan ruangan Nona Daisy. Silahkan panggil saya di extension 911. Saya siap membantu Nona"
"Apakah ada yang hendak Nona tanyakan?" Gabriella bertanya.
"Sementara ini belum ada yang ingin saya tanyakan. Mungkin ke depannya akan sangat banyak" jawab Daisy.
__ADS_1
"Baik, Nona. Saya permisi" Gabriela berjalan keluar pintu setelah membungkukan tubuhnya kepada Daisy.
"Dia lebih mirip seorang bodyguard kurasa" gumam Daisy. Postur dan penampilan Gabriela memang sekilas sama saja seperti sekretaris pada umumnya. Berwajah cantik dengan tubuh seksi. Namun dari gaya bicara dan bahasa tubuhnya, Daisy bisa melihat bahwa Gabriela adalah seorang bodyguard yang merangkap sebagai sekretaris. Pembawaan Gabriela mirip dengan miss Aneth.
Daisy duduk di kursi kerjanya dan meletakan map besar yang tadi diberikan Gabriela ke atas meja.
Perlahan Daisy membuka map besar tersebut dan membaca dokumennya satu persatu.
Rapat pemegang saham ini adalah bukan rapat tahunan. Ini adalah rapat umum luar biasa, yang diadakan untuk beberapa hal penting. Ada dua hal yang Daisy baca di dokumen di tangannya. Rapat itu mengenai perubahan susunan direksi, pembukaan kantor cabang di beberapa kota dan juga pendirian perusahaan baru.
Daisy membuka sebuah dokumen bertuliskan 'COMPANY PROFILE'
Dibacanya setiap lembar dokumen dengan sangat teliti. Karena dia masih punya waktu dua jam sebelum rapat.
PT. Edoardo Luxury Group bergerak dalam bidang property hotel, apartemen, pusat perbelanjaan dan penyewaan ruang perkantoran. Selain itu ada juga bisnis dalam beberapa bidang industri.
Yang pertama adalah industri manufaktur wooden furniture, yaitu industri peralatan dan perlengkapan rumah tangga dan perkantoran yang terbuat dari kayu, bambu dan rotan. Sebagian diproduksi sendiri dengan bahan baku yang diimpor dari luar negeri, sebagian lagi adalah produk jadi yang sudah mereka impor dari luar negeri. Selama ini mereka impor dari negara-negara Asia salah satunya yang terbanyak adalah impor dari Indonesia.
Bidang industri lainnya adalah industri florikultura atau pembudidayaan tanaman bunga dan tanaman hias. Walaupun saat ini hanya fokus ke tanaman bunga saja. Saat ini telah memiliki 16 hektar lahan yang ditanami dua tanaman utama berupa bunga mawar dan tulip. Lahan perkebunan terletak di daerah perbukitan sebelah timur kota Brown.
Dan yang terakhir adalah industri minuman berupa sirup dan minuman rasa buah dalam kemasan. Pabriknya berada sekitar 5 kilometer ke arah selatan dari kawasan ELCE .
Daisy melirik arloji di pergelangan tangannya. Waktu menunjukan jam 09.20. Kemudian dia menekan angka 911 di pesawat telepon di atas mejanya.
"Tentu saja, Nona" Suara Gabriella sangat antusias.
Tidak lama kemudian, Gabriela mengetuk pintu ruangan dan Daisy menyuruhnya masuk.
"Saya belum tahu ruangan-ruangan di gedung ini" ucap Daisy begitu Gabriela sudah ada di hadapannya.
"Kapanpun nona hendak berkeliling. Saya akan siap mengantar Nona" sahut Gabriela.
"Baiklah. Ayo kita ke ruang rapat segera" ucap Daisy.
"Oh iya. Apakah kau keberatan jika kupanggil dengan panggilan miss Gaby?"tanya Daisy.
"Saya tidak keberatan, Nona. Hanya saja panggilan miss terdengar sangat istimewa. Nona bisa panggil saya Gaby saja" jawab Gabriela.
"Oke. Mulai sekarang aku memanggilmu dengan panggilan miss Gaby" Daisy tersenyum manis.
"Dan...aku memanggilmu dengan sebutan Miss sebagai rasa hormat karena aku lebih muda darimu" lanjut Daisy.
__ADS_1
"Baik, Nona. Terimakasih" sahut Gabriela mengangguk. Ditatapnya wanita muda di hadapannya dengan sangat kagum. Tidak hanya cantik dan pintar, tapi juga sangat baik dan sopan.
Dia kemarin malam melihat berita di televisi tentang nona muda Daisy di acara wisuda universitas Brown. Ternyata setelah bertemu langsung, Nona Daisy terlihat lebih cantik dari yang dilihat di televisi. Berperawakan tinggi langsing dengan rambut coklat keemasan yang bergelombang. Wajah ceria remaja dengan sorot mata yang mencerminkan otak cerdas.
Mereka masuk ke dalam lift yang terbuka. Menuju lantai 35. Ruangan rapat berada di lantai yang sama dengan ruangan Kakek Edoardo. Gabriela tadi menjelaskan.
Di lantai 34 lift berhenti lalu terbuka. Paman Luca dan Maxi terkejut melihat Daisy.
"Halo, Paman. Halo Max. Selamat pagi" sapa Daisy
"Daisyku...Kamu di sini?" Maxi terperangah. Begitupun paman Luca.
"Iya. Aku mulai hari ini akan belajar bekerja di perusahaan kakek" jawab Daisy.
"Bagus sekali. Paman senang kamu bergabung di perusahaan keluarga kita. Semangat!!"ucap paman Luca seraya menepuk pundak Daisy pelan.
Maxi nampak senang. Karena itu artinya dia bisa banyak kesempatan untuk bertemu Daisy. Tapi itu jika mereka berada dalam perusahaan yang sama. Jika ternyata Daisy ditempatkan di perusahaan yang berbeda dengannya oleh kakek, itu akan membuat mereka sangat susah bertemu. Maxi bergumam.
"kamu ditempatkan di divisi apa?" tanya Maxi penasaran.
"Aku belum tahu, Max. Masih menunggu info dari kakek" jawab Daisy.
"Hari-hari kita akan sangat sibuk ke depannya, Maxi. Banyak proyek di luar kota yang perlu kau tangani" ayahnya berbisik. Seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya. Maxi hanya mengangguk. Dia menatap Daisy yang berdiri di sisi bersebrangan dengannya di dalam lift. Gadis itu sangat cantik dan menawan mengenakan outfit kerjanya. Rambut coklat keemasannya diikat dengan rapi. Bagian dahi kanannya yang masih memakai perban, ditutup oleh poninya. Wajah naturalnya hanya dipoles pelembab bibir berwarna peach. Dia membiarkan pesona remajanya tetap terlihat namun sangat elegan.
"ehemmm" ayahnya berdehem. Kemudian pura-pura terbatuk pelan. Membuat lamunan Maxi buyar.
"Kau harus ingat, ini di kantor Maxi. Harus profesional. Lihatlah Daisy, dia sangat pintar bersikap" ayahnya kembali berbisik. Maxi lagi-lagi hanya mengangguk.
Lift berhenti di lantai 35. Daisy dan Gabriela melangkah keluar terlebih dahulu. Maxi menatap Daisy dari belakang. Dia tidak bisa menghindar dari pesona gadis muda itu. Bagaimana tidak dia sangat mengagumkan. Disaat gadis lain seusianya saat ini masih duduk di bangku sekolah dia sudah ada di gedung ini dan siap bekerja. Maxi yakin, kelak akan sangat banyak kejutan dari gadis itu.
"Max....ayo. Kenapa kamu diam?" Daisy memanggilnya. Maxi bergegas berjalan. Rupanya tadi dia diam cukup lama di depan pintu lift.
"Kenalkan, Max. ini miss Gaby, yang akan membantuku dalam pekerjaan" Daisy memperkenalkan Gabriela.
"Miss Gaby?" Maxi memastikan dengan meihat nama pada kartu pegawai Gabriela.
"Nama saya Gabriela. Hanya saja Nona Daisy memanggil saya seperti itu. Saya sekretaris pribadi Nona" ucap Gabriela.
"Aaaahh oke oke...panggilan yang sangat bagus" ucap Maxi. Hmmmh Daisy memang selalu bersikap manis kepada para pegawai. Bahkan semua pelayan wanita di rumah, dia panggil dengan panggilan miss. Dan dia hafal semua nama pelayan
Mereka bersama memasuki ruang rapat yang sangat besar. Ada beberapa orang staff di sana yang sedang mempersiapkan acara. Mereka semua menatap Daisy dan Maxi sebentar seraya menganggukan kepala.
__ADS_1
Daisy dan Maxi duduk berseberangan. Karena di atas meja sudah tertulis nama mereka masing-masing. Mereka duduk tepat di samping kursi pemimpin rapat yaitu kakek Edoardo.
***