
Kejadian Beberapa hari lalu:
Clarissa berada di bandara. Baru saja melepas kepergian Mommynya berangkat ke Amerika. Tiba-tiba dia mendapat kabar bahwa Daisy terluka. Dengan tergesa dia berbalilk badan hendak menuju tempat penjemputan mobil seraya memasukkan ponselnya ke dalam tas ransel kecilnya. Tepat saat itu seseorang menabraknya dengan sangat keras hingga dia terjatuh dan tasnya terlempar agak jauh.
"Maafkan saya, Nona. Sepertinya saya terpeleset hingga menabrak anda" ucap orang yang menabraknya. Seorang pria muda berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan kamera yang tergantung didepan dadanya.
"Apakah anda terluka?" tanyanya lagi.
Clarissa menggeleng. "Saya tidak apa-apa"
"Sekali lagi, maafkan saya, Nona" ucap pria itu berusaha membantu Clarissa bangun. Clarissa menolaknya dengan sopan.
"Saya maafkan anda, tuan" ucap Clarissa memperbaiki letak topi dan kacamata yang dipakainya. Tadi sedikit bergeser karena jatuh.
"Tuan David, mari ikut saya" Seorang pria berbadan tegap dengan setelan jas warna hitàm menghampiri pria tadi.
"Nona, saya permisi" pamit pria itu kepada Clarissa. Lalu beranjak meninggalkan tempatnya tadi menuju mobil yang sudah menunggunya.
Clarissa berdiri dari jatuhnya seraya meraih tasnya yang terjatuh.
Sebuah benda kecil berukuran segi empat tergeletak dibawah tasnya. Diraihnya benda itu. Sebuah hard disk eksternal. Mirip seperti miliknya. Hanya saja ini memakai sebuah sticker berbentuk seekor kuda.
Clarissa menimang benda itu. "Mungkinkah milik pria tadi?" pikirnya. Tapi pria tadi sudah pergi meninggalkan bandara dengan mobilnya.
Clarissa memasukkannya ke dalam tas. "Kalau tidak salah namanya David. Pria yang menjemputnya tadi memanggilnya seperti itu" pikir Clarissa lagi seraya naik ke dalam mobilnya yang sudah menunggu di jalur mobil jemputan.
Dia juga harus segera sampai rumah. Daisy terluka karena Cleo melemparkan batu tajam mengenai pelipisnya.
***
Beberapa hari setelah kejadian di bandara:
Hari masih sangat pagi saat Clarissa mengendarai mobil keluar dari Benvollio mansion. Dia hendak mengambil tas kamera dan laptopnya yang tertinggal di villa Kakek. Hari ini dia akan bertemu ayahnya dan Cedro di pusat kota Amber. Karena file-file desain ruangannya ada di dalam laptop. Dia memang selama ini diberi tugas oleh Mommynya untuk membuat desain interior beberapa ruangan di pusat perbelanjaan Edoardo di kota Amber. Beberapa desainnya lolos karena disukai penyewa ruangan. Itu adalah prestasi yang dia raih setelah setahun ikut kuliah singkat. Kakekpun mengizinkannya datang ke kota Amber untuk menemui Daisy. Karena ayahnya juga meminta Clarissa datang untuk membantu.
Kebetulan hari masih sangat pagi dan Daisy pun baru saja mulai mandi. Jadi dia masih ada waktu untuk kembali dan sarapan bersama Daisy.
Saat itu dia melihat seorang pria berkuda sedang menyusuri jalan setapak di tepi danau.
Walaupun jaraknya agak jauh, tapi Clarissa bisa dengan jelas melihat pria itu. Karena dia memakai kacamata yang berfungsi sebagai teropong "Bukankah dia pria yang menabrakku di bandara beberapa hari lalu?" pikir Clarissa.
Clarissa melajukan mobilnya, Dia memilih memutar ke arah yang berlawanan. Dia ingin tahu apakah ada mansion lain di dekat Benvillio mansion yang kemungkinan merupakan tempat tinggal pria berkuda tadi. Begitu sampai di belokan perkebunan bunga, Clarissa melihat sebuah papan nama bertuliskan 'Ferguson Plantation".
__ADS_1
Clarissa menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian dia membuka halaman go**gle mencari tahu tentang Ferguson Plantationn. Seketika beberapa artikel muncul.
Ferguson Plantation adalah sebuah lahan perkebunan bunga yang merupakan salah satu industri yang kini digeluti oleh Ferguson Group, kerajaan bisnis yang berpusat di Inggris.
Pekebunan tersebut kini dipimpin oleh David Ferguson, putra pertama William Ferguson, founder Ferguson Group.
Kemudian Clarissa mencari tahu tentang David Ferguson. Muncul beberapa foto David. Dan juga beberapa perusahaan yang berada di bawah kepemimpinan David, salah satunya Amber Water park.
"Benar, dia adalah pria yang menabrakku di bandara"gumam Clarissa.
Dia kembali melajukan mobilnya menuju villa Kakek.
***
Clarissa duduk di kursi meja kerjanya di kamarnya. Dia memandangi foto-foto yang tersimpan di dalam hard disk yang dia temukan di bandara.
Satu dari sekian banyak file itu bernama DaveFrgsn.
"Pasti artinya David Ferguson" gumam Clarissa.
Dia membuka filenya. Dikunci. Harus pakai Password.
Clarissa termenung. Hhmh ...sebuah tantangan untuknya.
Apakah passwordnya berhubungan dengan sesuatu yang klasik yang dia sukai? pikir Clarissa. Bahkan David memintanya menambahkan lukisan beberapa kunci nada dalam balok nada. Aah musik. Pasti dia sangat menyukai musik. Dan pasti klasik.
Musik klasik. Clarissa memasukkan kata itu sebagai password. Namun salah.
Mungkin salah satu musik klasik yang terkenal. Aah, Beethoven..musisi klasik yang sangat terkenal.
Clarissa memasukkan kata Bethoven. Salah lagi.
Mmh..Antonio Vivaldi. Kembali Clarissa mengetikkannya. Juga Salah.
Mozart. Juga salah.
Hhhmmmmhhh....Clarissa mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja seraya berpikir keras.
Tiba-tiba dia teringat Daisy. Entah kenapa feelingnya mengatakan untuk menghubungi adik sepupunya itu. Diraihnya ponsel lalu menghubungi Daisy.
"Adik, kamu sedang dimana?" tanya Clarissa.
__ADS_1
"Kami masih dalam perjalanan, Clariss. Sebelum waktunya makan siang, kami usahakan sudah sampai" Daisy berbicara.
"Ooh oke. tidak usah mengebut, sampaikan pada Maxi. Santai saja" ucap Clarissa.
"Daisy, boleh aku tahu lagu yang kamu mainkan dengan piano saat ulang tahunmu di pesta kebun?" tanya Clarissa.
"Mmhh..itu Reverie karya Claude Debussy. Kenapa tiba-tiba kamu menanyakannya" Daisy merasa aneh.
"Tiba-tiba saja aku teringat permainan pianomu. Sangat indah musiknya." ucap Clarissa seraya mengetikkan 'Reverie' sebagai password untuk file yang terkunci.
Dia menekan tombol enter dan file terbuka.
"Wooowwww" pekik Clarissa terkejut.
"Kenapa Clariss?" tanya Daisy bingung.
"Aku ingin mendengar lagu itu lagi rasanya" jawab Clarissa.
"Nanti aku akan membawakan lagu itu di festival musik, Clariss"Daisy tertawa kecil di ujung sana.
"Aah senangnya. Baiklah, Adik kecilku yang cantik. Hati-hati di jalan. Aku menunggumu" ucap Clarissa kemudian menutup sambungan telepon.
Dia tertegun di depan layar laptopnya.
Sangat mengejutkan dan mengagumkan. Dia masih merasa tidak percaya.
David dan Daisy. Mereka seperti terhubung. Ada kesamaan di antara mereka berdua. Tuan muda klasik dan tuan putri yang cantik dan anggun dan sedikit klasik.
David juga sepertinya menyukai Daisy. Terlihat dari tatapannya pagi itu kepada Daisy. matanya nyaris tak berkedip dari Daisy.
Tapi sudah ada tuan muda lainnya yang memikat Daisy. Maxi Hamilton, tuan muda yang dingin. Clarissa merenung.
Dia kembali menatap layar laptopnya.
Foto-foto David, sepertinya bersama keluarganya dan teman-temannya. Ada Jhon juga berfoto bersama David dan David bersama seorang gadis cantik. Sepertinya dia adiknya, karena David menuliskan 'my sister' di foto tersebut.
Aah rupanya dia gemar bermain piano juga. Gumam Clarissa saat dilihatnya foto David sedang bermain piano.
David juga gemar traveling. Banyak sekali tangkapan kamera saat dia berada di berbagai belahan dunia.
Clarissa menutup file tersebut. Kemudian laptopnya pun dia matikan. Sebentar lagi waktu makan siang. Daisy dan Maxi pasti sudah hampir tiba.
__ADS_1
Sepertinya dia cukup tahu tentang karakter David. Jadi membantunya untuk memudahkan membuat desain ruangan yang sesuai dengan selera David.
***