
Daisy terpaku di depan tiga pusara. Rasanya kejadian itu baru kemarin terjadi. Mereka baru saja selesai makan malam bersama merayakan hari ulang tahunnya saat itu.
Setelah sembilan tahun berlalu, akhirnya hari ini dia bisa kembali ke tanah kelahirannya. Mengunjungi ayah, ibu dan adiknya.
"Kita pulang sekarang. Sepertinya mau turun hujan, langit sudah mulai gelap" ucap Kakek yang sudah bersiap pergi seraya menatap langit yang mendung.
Maxi meraih tangan Daisy mengajaknya berdiri. Daisy memperbaiki posisi bucket bunga yang dia tadi bawa dan letakkan di ketiga pusara itu. Kemudian bangkit dan mengikuti langkah kaku kakek yang berjalan di depannya.
"Kita akan ke perkebunan Benvollio. Kalian ikuti kakek" ucap Kakek.
"Maxi, temani Daisy" ucap kakek lagi sebelum pintu mobilnya ditutup.
"Baik, kakek" Maxi meraih tangan Daisy dan membimbingnya masuk ke mobil mereka.
Jadwal kali ini adalah mengurus pengalihan kepemilikan dan kepemimpinan perkebunan Benvollio kepada Daisy. Selama ini perkebunan diurus oleh orang-orang kepercayaan Kakek. Karena kakek adalah wali Daisy selama usianya belum cukup untuk memimpin perusahaan secara hukum negara Lotus.
"Aku tahu, pasti berat rasanya kembali ke sini. Antara bahagia dan sedih bercampur jadi satu. Tapi ini memang jalan hidup yang harus dilalui"Maxi menepuk tangan Daosy perlahan.
"Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, Max" Daisy tersenyum.
"Nasib kita berdua sama, kan? kamu juga kehilangan kedua orangtua"gumam Daisy.
"Iya, sama. Tapi mungkin kesedihanku tidak sedalam yang kamu rasakan. Aku kehilangan kedua orangtuaku saat masih bayi. Aku tidak punya kenangan yang kuingat tentang mereka. Aku hanya bisa melihat dari beberapa video dan foto tentang kebersamaan kami"
"Sedangkan kamu, sudah banyak kenangan indah yang tersimpan di ingatanmu. Dan aku yakin itu sangat berat" ucap Maxi.
"Memang berat. Tapi, seperti yang kamu bilang. Aku harus kuat, sehat dan bahagia" Daisy tersenyum kembali.
Maxi tersenyum lega melihat Daisy baik-baik saja.
"Lihatlah itu perkebunan Benvollio. Sangat indah" Maxi mengarahkan telunjuknya ke luar mobil. Hamparan bunga dan pepohonan teh seluas mata memandang. Nampak dua buah bangunan pabrik berdiri di tengah-tengah perkebunan. Di ujung sebelah barat nampak sebuah bangunan rumah besar dengan pagar megah. Itu adalah rumah masa kecil Daisy dan keluarganya.
Mobil yang ditumpangi kakek memasuki gerbang perkebunan Benvollio.
Nampak beberapa orang berdiri menyambut kakek.
Saat Daisy dan Maxi turun dari mobil. Dua orang diantara mereka bergegas menyambut.
Miss Aneth dan Miss Gaby yang ternyata sudah ada di sana bergegas pula menyambut Daisy.
"Selamat siang, Nona" mereka berdua menyapa Daisy bersamaan.
Daisy sudah tidak heran lagi dengan kehadiran mereka berdua yang tiba-tiba. Itu hal biasa. Karena ada sesuatu yang akhirnya dia ketahui belakangan ini tentang miss Aneth yang ternyata merupakan bagian dari tim keamanan keluarga Edoardo. Meskipun miss Aneth tidak pernah memberitahunya tentang siapa dia sebenarnya tapi Daisy yang sekarang sudah beranjak dewasa bisa mengenali identitas miss Aneth yang sebenarnya.
"Selamat siang, Miss"jawab Daisy.
__ADS_1
Daisy berjalan disamping Kakek dan Maxi menuju gedung pabrik bersama beberapa pejabat pabrik yang tadi sudah menyapa Daisy.
Mereka langsung menuju lantai dua. Dari tangga naik, semua bisa melihat aktivitas di dalam pabrik karena semua dinding terbuat dari kaca. Daisy masih ingat semua itu. Karena sewaktu kecil dia seringkali diajak Ibu ke pabrik.
Melihat kesibukan Ibu dan para pekerja adalah sebuah hal yang sangat mengagumkan bagi Daisy. Ibu sangat cekatan dan pintar saat bekerja. Tidak pernah marah namun tegas. Ibu juga sangat ramah dan hafal semua nama karyawannya. Di saat istirahat kerja, Ibu ikut bergabung di kantin untuk makan siang bersama para karyawan di meja yang sama dengan menu yang sama. Ibu selalu berbincang dan seringkali bertanya tentang kabar keluarga karyawannya yang kebetulan duduk satu meja dengannya.
"Daisy, ayo kita masuk" Maxi meraih tangan Daisy mengajaknya mengikuti kakek yang memasuki sebuah ruangan. Menyadarkan Daisy dari lamunannya.
Semua tidak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Ruangan ini adalah ruang rapat dan juga tempat Ibu menerima tamu.
Semua benda masih berada di posisi yang sama dan terlihat sangat terawat.
Daisy menatap Kakek yang hanya tersenyum membalas tatapannya. Daisy juga tersenyum. Dia tahu kakek menjaga ini semua untuknya.
"Mulai sekarang, kamu yang menggantikan posisi Ibumu. Selama ini semua dijaga dengan baik menunggu kamu cukup usia secara hukum. Sebentar lagi akan ada petugas dari kantor notaris untuk mengesahkan kepemimpinan kamu di sini. Semua ini milik kamu. Kamu berhak atas semua ini" Kakek menepuk pundak Daisy perlahan.
Kakek memanggil seorang pria. Pria tersebut menyerahkan sebuah kotak kepada kakek. Lalu Kakek memberikannya kepada Daisy.
"Ini kartu akses ruangan kerja ibumu yang akan menjadi ruangan kerjamu" ucap Kakek.
Daisy berusaha keras menahan luapan rasa sedih di hatinya. Semua kenangan seolah perlahan terurai keluar dari kotak memori di kepalanya. Slide demi slide potret masa lalu bergantian muncul dalam kepalanya.
Maxi yang duduk di sebelahnya menggenggam erat tangannya di bawah meja. Maxi berusaha menguatkan Daisy. Dia tahu kesedihan yang Daisy rasakan.
"Terimakasih, Max" ucap Daisy pelan.
Daisy menghela nafas. Dia merasa sedikit lega.
Tidak lama kemudian seorang petugas dari kantor notaris tiba. Proses penandatanganan pengalihan kepemimpinan kepada Daisy dan pencabutan hak kuasa Kakek sebagai pemimpin sementara segera dilakukan.
Semua berjalan dengan lancar.
"Kamu bisa lihat ruangan kerjamu, Daisy. Selama ini ruangan itu tidak ada yang menempati. Namun setiap hari selalu dibersihkan. Bunga segar di dalam vas kesayangan ibumu pun selalu diganti setiap hari" ucap Kakek.
"Selamat memimpin. Kakek yakin kamu mampu. Kamu sangat cerdas dan kuat" Kakek kembali menepuk pundak Daisy.
"Terimakasih karena Kakek sudah menjaga semua ini" ucap Daisy terharu.
"Sudah menjadi kewajiban Kakek untuk menjaga kamu dan semua ini" jawab Kakek.
"Kamu bisa ikut temani Daisy, Maxi. Kelak kamu yang akan temani dan jaga dia menggantikan Kakek dan Nenek" ucap Kakek kepada Maxi seraya berjalan keluar ruangan.
Maxi dan Daisy saling tatap karena terkejut. Jadi Kakek tahu kalau Daisy dan Maxi ada hubungan.
Mereka bergegas mengikuti langkah Kakek.
__ADS_1
"Kakek akan makan siang dan istirahat di villa. Kalian pulanglah ke rumah Daisy. Sopir akan mengantar kalian" ucap Kakek tidak mempedulikan tatapan terkejut kedua cucunya.
"Baik, kakek" jawab Daisy dan Maxi bersamaan.
Tiba-tiba Kakek menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Jangan dikira kakek tidak tahu perasaan kalian satu sama lain. Kakek sudah tua. Sudah hafal urusan anak muda. Sejak kamu remaja pun Kakek sudah tahu perasaanmu kepada Daisy. Jaga Daisy baik-baik. Kakek percaya sama kamu" ucap Kakek menatap Maxi, lalu menepuk punggung Maxi agak keras.
"Baik, Kakek. Saya akan jaga Daisy dengan baik" Maxi menjawab dengan tegas.
"Bagus!"ucap Kakek. Lalu segera melanjutkan langkahnya menuruni tangga.
"Kalian tidak usah antar Kakek. Mulai saja kerjakan apa yang bisa dikerjakan di sini" ucapan Kakek menghentikan langkah Maxi dan Daisy.
Daisy dan Maxi saling menatap. Mereka seperti anak kecil yang ketahuan makan permen setelah sikat gigi sebelum tidur malam.
"Jadi, Kakek selama ini sudah tahu"gumam Daisy merasa malu.
"Justru bagus. Itu artinya Kakek merestui jika kita menikah" gumam Maxi dengan senyum lebarnya.
"Itu masih lama kan, Max? aku baru tujuh belas tahun. Katamu tunggu aku dua puluh tahun" sahut Daisy.
Maxi kembali tersenyum. "Waaaah, berarti kamu juga sudah setuju kalau saat usiamu dua puluh tahun kita menikah?"
"Iyalah, Max. Saat ini di kepala dan hatiku hanya ada kamu. Menikah denganmu sudah jadi targetku di usia duapuluh"jawab Daisy dengan polos.
Maxi memeluk Daisy dengan erat.
"Terimakasih, Tuhan" bisik Maxi.
"Tuan Maxi, Nona Daisy. Mari kita berkeliling pabrik" Miss Gaby menyadarkan Maxi bahwa mereka sedari tadi diikuti oleh beberapa karyawan. Maxi perlahan melepaskan pelukannya.
Miss Gaby dan beberapa karyawan nampak menahan tawa sekaligus senang melihat kejadian tadi.
Maxi tersenyum malu sambil mencubit pipi Daisy.
"Max. Jangan bercanda. Ingat kita sedang bekerja" bisik Daisy dengan wajah tersipu malu.
"Okee, Daisy. Aku tadi terlalu senang" Maxi meraih tangan Daisy dan menggengamnya.
Daisy berusaha melepaskan genggaman tangan Maxi, tapi tidak berhasil. Karena Maxi semakin mempererat genggamannya.
"Max..." bisik Daisy.
"Tidak apa-apa. Hanya pegangan tangan tidak akan mengurangi keseriusan dalam bekerja" jawab Maxi sambil tersenyum. Daisy tahu semakin dia berusaha melepaskan tangannya. Genggaman tangan Maxi semakin erat.
__ADS_1
Sementara itu, miss Gaby dan beberapa karyawan yang berjalan di belakang mereka hanya bisa tersenyum menatap sepasang anak muda di depan mereka.
***