
Mobil paman Luca memasuki kediaman Edoardo. Mobilnya memutar ke arah rumah Fiore untuk mengantarkan Daisy.
Sebelum turun. Daisy mencium pipi bibi Victoria. Bibi Victoria sangat tersentuh dengan sikap Daisy.
"Terimakasih, Paman dan Bibi" ucap Daisy.
"Kamu sangat manis dan sopan, Daisy" ucap bibi Victoria menepuk lembut pipi Daisy.
"Sampai jumpa, Max" Daisy menepuk lengan Maxi.
"Kamu tidak mencium pipiku seperti tadi mencium ibu?" tanya Maxi menggoda Daisy.
Daisy memutar bola matanya. Lalu melotot kepada Maxi. Maxi terkekeh melihat mata Daisy. Dia jadi teringat kejadian malam itu saat dia meneropong Daisy di balkon.
"Maxiiiiiii....." Paman dan bibi berseru bersamaan. Maxi semakin terkekeh.
"Aku turun di sini saja bersama Daisy. Mau mengantarnya sampai pintu" Maxi bergegas turun bersama Daisy.
"Memastikan dia selamat sampai rumah" lanjutnya.
Lagi-lagi paman Luca hanya bisa mengggelengkan kepala.
"Dia sedang jatuh cinta.." bibi Victoria berbisik.
"Dia sangat berubah, menjadi sering tersenyum dan ceria" sahut paman Luca.
Maxi mendengar itu. Dia tersenyum senang melihat orangtuanya membicarakannya.
"Aku mendengar kalian. Baiklah ayah dan ibu, silahkan pulang. Nanti aku menyusul" Maxi menutup pintu mobil. Kemudian berjalan di samping Daisy.
"Hhmmh....anak muda" paman Luca bergumam.
"Kamu pun pernah muda, Luca" sahut bibi Victoria. Paman tertawa pelan. Matanya masih melirik ke arah Maxi dan Daisy melalui kaca spion mobil. Mereka sudah sampai di teras rumah Fiore, namun mereka malah duduk di lantai teras dan lanjut berbincang di sana. Maxi tak lepas memandang Daisy dengan wajah berserinya.
"Sangat mirip dengan Bella. Cantik, baik dan pintar. Tidak salah jika Maxi mencintainya" ucap paman dalam hati.
***
Marie melihat orangtuanya mengantar Daisy pulang. Dan Maxi masih menemaninya di teras rumah Fiore. Orangtua dan kakaknya jadi sangat perhatian dengan gadis itu, padahal selama ini mereka tidak pernah dekat dengan Daisy. Marie bergumam dalam hati.
__ADS_1
Dari kejauhan dia melihat Maxi masih berbincang dengan Daisy di sana. Meskipun jarak ke rumah fiore lumayan jauh, tapi jika siang hari masih dapat terlihat jelas. Sepertinya ada sesuatu diantara mereka. Ada hubungan yang tidak biasa sepertinya. Dia melihat Maxi tertawa. Sesuatu yang sangat langka melihat Maxi tertawa. Maxi selama ini selalu memasang muka galak dan dingin.
Marie mengakui jika sebenarnya Daisy sangat cantik. Apalagi saat pesta kebun kemarin, Daisy mengubah penampilannya menjadi sangat cantik. Dia seperti seorang putri. Tapi Marie tidak suka jika ada yang mengalahkannya di kediaman Edoardo. Selama ini dia adalah cucu perempuan keluarga Edoardo yang paling terkenal di luar sana. Orang tahu bahwa Marie selebgram cantik yang pandai bermain piano adalah salah satu cucu keluarga bangsawan Edoardo.
Dia juga ingin menjadi pianis hebat dan berharap bisa ikut serta dalam "Jack Connor Music Festival" bulan depan. Namun proposal yang dia kirim satu bulan yang lalu belum mendapat respon dari pihak label musik Jack Connor.
Pada saat pesta kebun hari minggu kemarin. Dia sengaja bermain piano dengan membawakan lagu happy birthday untuk Daisy. Berharap tuan Connor yang hadir sebagai tamu kakek bisa melihat kemampuannya bermain piano. Kemungkinan bisa menarik perhatian tuan Connor sangat ada. Karena menjadi salah satu anggota keluarga Edoardo adalah salah satu modal utama untuk bisa dikenal orang-orang kalangan atas di kota Brown, bahkan di semua kota di negara Lotus.
Namun perhatian tuan Connor justru fokus ke permainan Daisy yang ternyata bisa bermain piano dengan sangat hebat. Tuan Connor bahkan memberikan tepuk tangannya seraya berdiri dari duduknya, memperlihatkan bahwa dia sangat terkesan dengan permainan piano Daisy. Marie mengakui kemampuan Daisy bermain piano ternyata jauh di atasnya. Padahal selama ini dia atau bahkan yang lainpun tidak pernah tahu bahwa Daisy bisa bermain piano. Anak itu selama ini hanya terkenal dengan kecerdasannya dalam bidang akademik.
Marie sendiri masih sangat terkesan dengan permainan piano Daisy yang membawakan karya hebat "reverie". Bagaimana Daisy dengan luwesnya bermain, juga saat di atas panggung anak itu seketika menjadi sangat mengagumkan dengan gaya anggun dan berkelasnya. Tentu saja Marie sangat iri. Anak kecil yang selalu dia panggil dengan sebutan bebek buruk rupa itu bisa membuatnya sangat terkesan.
Marie sudah berkali-kali mencoba memainkan 'Reverie' dengan piano di kamarnya tapi gagal terus. Beberapa nada, sulit dia kuasai. Akhirnya dia menyerah.
***
Usai makan malam, Maxi duduk di ruang keluarga. Ikut bergabung bersama Ayah, Ibu, Marie dan Joane. Membuat keempat pasang mata di sana menatapnya heran.
"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Maxi mengarahkan kedua telunjuknya ke dirinya sendiri. "Tidak boleh?" Maxi bersiap-siap bangun dari duduknya.
"Tentu saja boleh" jawab Ibu cepat.
"Biasanya kamu langsung mengurung diri di kamar setiap makan malam" ayah berbicara dari balik kertas surat yang dibacanya.
"Lihatlah, acara wisuda siang tadi masuk berita nasional" Maxi berseru.
Semua menoleh ke arah televisi.
Nampak Daisy berdiri menerima penghargaan suma cumlaude. Disorot pula Kakek Edoardo dan nenek Luisa. Bahkan sesi mereka berfoto bersama kakek dan nenek setelah acara wisudapun masuk dalam berita. Maxi bahkan tidak menyadari jika acara tadi diliput televisi nasional.
"Aah ...kitapun ada disana" Ibu nampak senang. Maxi tahu pasti besok ibu akan ramai jadi perbincangan di perkumpulan sosialnya. Karena masuk berita nasional berkat prestasi salah satu keponakannya.
"Selain pintar, Daisy memang anak yang manis dan sopan"gumam Ibu, dia teringat saat kemarin daisy menciup pipinya. Dia bisa metasakan betapa tulusnya anak itu.
"Kenapa bebek buruk rupa itu menjadi sangat istimewa sekarang?"Joane meraih remote dan mematikan televisi.
Ayah dan ibu terkejut dengan ucapan Joane. Marie hanya menarik nafas, karena dia juga sepertinya kesal dengan berita di televisi. Tapi dia tidak berani bicara buruk tentang Daisy. Karena dia rasa saat ini Maxi ada hubungan istimewa dengan gadis itu.
Terlebih orangtua dan kakaknya ada di sana dan terlihat sangat bangga.
__ADS_1
"Joane, namanya Daisy. Berhenti memanggilnya bebek buruk rupa" Ayah menatap Joane lekat.
Lalu Ayah kembali menyalakan televisi. Acara wisuda masih berlanjut. Nampak Kakek diwawancarai oleh reporter.
"Dia memang istimewa, Joane. Sejak dulu" ujar Maxi dingin menatap tajam Joane. Joane membuang muka kesal.
"Daisy adalah calon istriku, aku tidak mau mendengar siapapun menghinanya" Maxi memasang wajah kaku dan dinginnya seraya meninggalkan ruangan keluarga. Senyum di wajahnya seketika sirna.
Dia tidak suka siapapun menghina atau menyakiti Daisy.
"Istirahatlah, Maxi. Besok kau mulai bekerja lagi" Ayah berkata dengan tenang. Lalu menatap Joane lagi.
"Calon istri? bagaimana bisa mereka akan menikah. Jadi selama ini Kak Maxi menyukai bebek buruk rupa itu?" ucap Joane tidak percaya.
"Berhenti memanggilnya bebek buruk rupa. Tidak pantas berkata seperti itu. Lagipula Daisy sangat cantik" Ibu menatap Joane seraya menghela nafas.
"Joane, mulailah menjaga sikap dan cara berbicaramu. Kamu bukan anak kecil lagi. Kamu sudah sembilan belas tahun sekarang" kata ayah.
"Berhenti merendahkan siapapun. Karena itu tidak akan membuatmu lebih hebat. Hebatlah dengan prestasi dan kebaikan-kebaikanmu, Joane" Ibu menimpali.
"Lihatlah surat yang ayah terima, kamu mendapat teguran dari kampus karena kedapatan berkata-kata kasar kepada salah satu mahasiswa di kampus dan mendorongnya hingga terjatuh" ayahnya menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Joane, bisakah kamu berhenti membuat masalah? jangan hanya karena kampus tempatmu kuliah disupport oleh dana bantuan dari keluarga Edoardo lantas kamu berbuat seenaknya di sana. Ini sangat memalukan, Joane" ayah menghela nafas berat.
"Jika kamu tidak bisa menjadi mahasiswa berprestasi, jadilah mahasiswa yang baik. Itu sudah cukup buat ayah. Ayah dan ibu tidak pernah menuntut nilai sempurna kepada kalian. Cukup dengan berperilaku baik, itu sudah membuat ayah dan ibu senang" Ayah berbicara dengan nada yang tetap tenang. Namun terlihat wajah ayah sangat menahan rasa marah dan kecewa.
Ayah beranjak pergi meninggalkan ruang keluarga. Disusul ibu. Joane melemparkan bantal sofa disebelahnya ke karpet di lantai.
"Perilaku burukmu di kampus membuat malu ayah dan ibu, Joane. Satu kampus kita tahu kejadian itu. Kamu melakukannya didepan banyak orang. Dan banyak yang merekam" Marie yang duduk di sebelahnya membuka ponsel dan memperlihatkan video kejadian itu yang dia lihat di group chat kampus.
"Kak Marie pun sering mem-bully orang" sahut Joane.
"Tapi aku tidak pernah melakukannya dengan kasar seperti kamu. Aku melakukannya dengan elegan" Marie membela diri.
"Tidak ada istilah elegan untuk tindakan bulyying. Bullying adalah tindakan tidak terpuji" Maxi tiba-tiba muncul dari taman belakang. Rupanya dia tadi tidak pergi ke kamarnya. Dia melewati kedua adik perempuannya sambil menatap tajam. Membuat dua perempuan itu ketakutan lalu saling tatap dalam diam.
"Apakah kalian tidak merasa malu dengan perilaku kalian? Itu bahkan bisa membuat malu keluarga besar" kata Maxi lagi.
Maxi tidak habis pikir dengan kedua adik perempuannya itu. Selalu saja membuat ayah dan ibu mereka pusing dengan segala kelakuan buruknya di sekolah dan kampus.
__ADS_1
Dia meninggalkan kedua adiknya yang masih terdiam ketakutan. Sambil menaiki tangga menuju kamar, dia mematikan lampu ruangan keluarga. Membuat Marie dan Joane berteriak ketakutan dan bergegas menuju kamar masing-masing.
***