
Cedro memeriksa kontrak sewa yang sudah disiapkan oleh timnya dan sudah dicek oleh sekretarisnya. Tapi dia tetap harus mengecek ulang untuk memastikan tidak ada kesalahan. Namun sedari tadi dia tidak bisa fokus. Lembaran kertas kontrak itu seolah isinya hanya kata-kata yang sulit dia mengerti.
Berkali-kali dia menghela nafas. Sangat berat.
"Suatu saat Kakak pasti akan menemukan gadis lain yang memang sudah Tuhan siapkan. Saat ini jangan terbebani dengan hubungan mereka" Clarissa meletakkan map yang berisi gambar desain untuk unit ruangan yang akan disewa.
Cedro mendongak kaget dengan kehadiran Clarissa yang tiba-tiba di depan mejanya.
"Apa maksudmu, Clariss?"Cedro pura-pura tak mengerti dengan ucapan adiknya. Padahal dia sangat mengerti apa maksudnya.
"Sebenarnya kamu mencintainya kan, Kak?" tanya Clarissa. Namun Cedro kembali menunduk dan meraih salah satu map perjanjian kontrak dan membukanya.
"Dan ini...jangan disimpan lagi. Biar aku berikan kepada Daisy". Clarissa membuka laci meja kerja Cedro, lalu mengambil figura foto dari sana.
"Eh, Jangan ambil foto itu, Clariss" Cedro berteriak seraya meraih figura foto dari tangan adiknya. Lalu kembali menyimpannya dalam laci.
"Jika orang lain melihatnya, bisa terjadi salah faham, Kak. Apalagi jika Maxi yang lihat" Clarissa menghela nafas sambil matanya menatap Cedro.
"Sudahlah. Move on. Jangan memendam rasa yang tidak mungkin bisa diungkapkan. Sangat tidak mungkin menjadi nyata" Clarissa masih menatap Kakaknya yang tengah pura-pura sibuk membaca kertas di hadapannya. Padahal pikirannya entah melayang kemana.
"Kontrak ini sudah Kakak tandatangani. Berarti sudah tidak perlu dicek lagi" Clarissa mengarahkan tangannya ke arah tandatangan di bagian bawah lembar kontrak.
Cedro menepuk dahinya. Ternyata tadi dia salah mengambil berkas dari susunan kontrak yang sudah disetujui. Bukan surat kontrak yang masih harus dia periksa.
"Okeeee....aku memang tidak fokus. Tidak bisa konsentrasi sejak tadi pagi. Tidak....sejak semalam saat kudengar pembicaraan ayah dan paman Luca mengenai rencana Maxi menikahi Daisy" Cedro menelungkupkan wajahnya ke atas meja. Nada suaranya mengandung kesedihan.
"Bukankah Kakak tahu bahwa perasaanmu itu salah tempat? Semua orang akan menentang perasaanmu itu. Ayah, Mommy, Kakek dan Nenek sudah pasti akan melarangmu memiliki rasa itu. Termasuk aku" Clarissa kembali menghela nafas. Lalu diambilnya lagi figura foto dari laci meja kerja Cedro.
"Aku akan berikan ini kepada Daisy" Dia memandang pigura foto Daisy yang diambil Cedro saat ulang tahun Daisy sewaktu pesta kebun dua pekan yang lalu.
"Kita bersaudara, Kak. Dia adik kita"gumam Clarissa mengingatkan.
"Adik sepupu, Clariss"sahut Cedro.
"Tetap saja tidak bisa. Ayolah sadar, Kak" Clarissa berdecak.
"Aku mencintainya sejak dia kecil. Saat masih berkaca mata dan seperti kutu buku. Sedangkan Maxi menyukai dia karena sekarang Daisy sudah menunjukkan betapa cantiknya dia"Cedro menyandarkan punggungnya di kursi kerja.
"Maxi tidak tulus mencintai Daisy" gumam Cedro.
"Kata siapa Maxi baru menyukainya saat Daisy berubah penampilan? Dia sejak kecil sudah menyukai Daisy. Bahkan dia sudah merencakan menikahi Daisy sejak lama" sahut Clarissa.
__ADS_1
"Dia sangat tulus mencintai Daisy" lanjut Clarissa.
Cedro menoleh. "Kamu tahu dari mana? kenapa kamu malah mendukung Maxi?"
"Ini bukan soal mendukung atau tidak, Kak. Kenyataannya memang Maxi tulus mencintai Daisy sejak dulu"Clarissa beranjak ke mejanya lalu mengambil tabletnya.
Dia membuka sebuah folder. Lalu memperlihatkan foto-foto tulisan Maxi di buku hariannya yang sempat Clarissa simpan.
Cedro termenung membacanya. Lalu mengusap wajahnya perlahan.
"Tapi Maxi juga sepupu kita"Cedro bergumam.
"Aaah, ayolah. Jangan menutup mata. Kita sudah tahu kan bahwa Maxi bukan anak kandung paman Luca dan Bibi Victoria. Itu kenapa Kakek dan Nenek sangat mendukung hubungan mereka"Clarissa menepiskan tangannya ke udara. Kasihan dengan sikap Cedro yang menutup mata dari semua kenyataan tentang Daisy dan Maxi.
"Kakek dan Nenek?" Cedro semakin merasa putus asa. Clarissa mengangguk.
"Itu kenapa Kakek menempatkan mereka dalam perusahaan yang sama. Agar Maxi menjaga Daisy. Selain memang Maxi sangat bisa diandalkan dalam mengurus perusahaan" Clarissa berjalan kembali ke mejanya.
Dia meletakkan figura foto Daisy. Kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari rak di belakang kursi kerjanya. Memasukan figura itu ke dalam kotak dan membungkusnya dengan kertas berwarna biru muda. Lalu dia mengambil selembar kertas berwarna pink, membuat sebuah gambar bunga dan menuliskan sesuatu di sana.
'Untuk adikku tersayang'
from: Cedro
Cedro menatap adiknya itu sambil mencebikkan lidahnya. Kesal karena Clarissa malah membungkus figura itu menjadi kado.
"Kakak bilang sendiri tadi kepada Maxi bahwa Daisy adalah adik kita" Clarissa menatap sekilas kakaknya, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
"O iya, bagaimana sekolah karate yang kakak buka?" Clarissa mengalihkan topik pembicaraan.
"Hanya tinggal menunggu waktu belajarnya dimulai senin depan dan menunggu dua orang pelatih tiba dari kota Brown" jawab Cedro.
"Sudah adakah yang mendaftar?" tanya Clarissa lagi.
"Sudah ada tiga puluh orang yang mendaftar. Responnya sangat bagus dari masyarakat sekitar. Bahkan ada beberapa yang berasal dari penduduk kota sebelah"Jawab Cedro dengan semangat. Matanya nampak berbinar saat berbicara.
Karate adalah hal yang sangat disukai Cedro. Itulah kenapa Clarissa membahasnya.
"Baguslah. Aku ikut senang"Sahut Clarissa sambil tersenyum. Akhirnya Kakaknya berhenti melamun tak jelas.
"Dimana lokasi sekolahnya?"
__ADS_1
"Di sebelah gedung ini. Semuanya Kakek siapkan dalam waktu yang singkat" sahut Cedro.
Kakeknya memang selalu mendukung apapun ide dan bakat cucu-cucunya. Waktu itu Cedro terbersit ide untuk mendirikan sekolah karate. Karena dia memang seorang atlet karate dan sudah sering memenangkan kejuaran di dalam dan luar negeri. Dia ingin ilmu beladirinya dia bagikan kepada orang lain. Saat dia bercerita kepada ayahnya mengenai ide itu, Kakek yang memang sedang berkumpul bersama mereka di kantor langsung merespon.
Kakek menyuruh Cedro mempersiapkan konsep sekolah yang ingin dia buat. Setelah itu dengan cepat Kakek menginstruksikan renovasi gedung kecil di sebelah pusat perbelanjaan ini menjadi sekolah karate dan mengurus semua perijinannya.
"Kakek memang sangat baik" Clarissa berucap.
"Setiap ide kreatif dan ide bisnis yang menurut Kakek punya prospek bagus ke depannya, pasti akan disegerakan. Direalisasikan saat itu juga" Cedro menimpali.
"Bersyukurlah kita punya Kakek yang sangat baik"ucap Clarissa.
"David Ferguson? kamu pernah dengar namanya,Clariss? Apakah dia seorang pengusaha ternama?"Tiba-tiba Cedro merubah topik pembicaraan. Bertanya kepada Clarissa sambil membaca surat kontrak sewa ditangannya.
Clarissa menoleh cepat.
"Memangnya kenapa dengan dia?" Clarissa balik bertanya.
"Dia menyewa seluruh dari lantai lima untuk butik dan restoran miliknya"jawab Cedro.
Karena surat kontrak sewa yang harus dia periksa sudah selesai. Cedro kembali memeriksa kontrak sewa yang sudah berjalan untuk memeriksa kembali masa sewanya apakah sudah perlu revisi atau belum.
"Ayah yang mengatur dan bertanggungjawab atas kontrak sewanya sebelum aku ke sini" Cedro masih membaca pihak-pihak penandatangan surat kontrak tersebut. Ada nama ayahnya dan nama David Ferguson tertera di sana.
"Dia adalah pemilik Ferguson Waterpark di kota Amber ini" ucap Clarissa.
"Oh ya??" Cedro mengangguk-anggukan kepalanya.
"Dia pengusaha asal Inggris"Clarissa tidak melepaskan pandangannya dari gambar yang sedang dia buat di laptopnya.
"Hhmmmh dari Inggris? Pantas saja aku baru mendengarnya" gumam Cedro.
"Apakah sudah minta sekretaris Kakak memesan tiket cinema?"Tanya Clarissa.
"Sudah. Aku memesan untuk jam tujuh malam"jawab Cedro.
"Jangan dimulai lagi kegalauannya. Kita nanti mau bergembira, menonton cinema sambil makan popcorn...aaah senangnyaaaaa" pekik Clarissa membuat Cedro tidak jadi merasa sedih karena teringat kembali akan Daisy dan Maxi.
"Aaah kau ini, Clariss" desis Cedro sambil tertawa melihat tingkah adiknya yang selalu ceria itu.
"Aku boleh minum soda kan nanti? aku mau menikmati masa remajaku, Kak....yeeeayy" Clarissa kembali memekik.
__ADS_1
Cedro hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Clarissa. Apa hubungannya antara minuman bersoda dengan masa remaja? bukankah justru berhubungan dengan kesehatan tubuh? karena minuman bersoda tidak baik untuk lambung, pikir Cedro.
***