NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
20. Pria Berkuda di Atas Bukit


__ADS_3

Pagi ini Daisy bangun dengan badan yang segar. Semalam dia tidur sangat nyenyak. Dia bahkan tidak menyimak semua pembicaraan Clarissa di saat mereka berbincang sebelum tidur. Daisy merasa sedang dibacakan dongeng oleh Clarissa.


Dia melihat sekeliling. Tidak ada Clarissa. Daisy melirik jam di dinding. Masih jam lima pagi. Kemana Clarissa di waktu sepagi ini?.


"Haaallooo, adik manis. Selamat pagi. Kulihat tidurmu sangat nyenyak. Jadi aku tidak tega membangunkanmu lebih awal" Clarissa muncul dari balik pintu balkon kamar. Dia memakai sweater dan celana jeans. Sudah cantik dan sangat ceria.


Daisy tersenyum sambil melepaskan guling yang sedari tadi dia peluk.


"Kamu sudah mandi? Sudah sangat cantik saja sepagi ini" gumam Daisy.


"Aku mandi satu jam yang lalu. Di udara pagi sedingin ini tadinya aku berencana mandi dengan air hangat. Tapi kurasa jika aku mandi dengan air dingin justru akan membuatku lebih segar" ucap Clarissa bersemangat.


"Iya, memang lebih baik jika mandi dengan air dingin. Badan menjadi lebih segar" sahut Daisy.


"Baiklah. Aku mandi dahulu Clariss" Daisy bergegas masuk ke kamar mandi.


Nanti setelah mandi, mungkin ia akan berkeliling rumah sebentar sebelum saraoan dan berangkat melihat perkebunan. Dia ingin melihat kamar Ayah dan Ibu. Juga kamar Marino.


Sayup-sayup terdengar pintu kamar mandi diketuk.


"Daisy, aku pergi sebentar ke vila Kakek. Kameraku tertinggal di sana. Aku akan kembali secepatnya sebelum waktu sarapan" kepala Clarissa muncul melongok dibalik pintu. Setelah Daisy mengijinkannya membuka pintu.


"Baiklah, hati-hati di jalan" sahut Daisy yang sedang berendam air dingini dalam bath tub.


"Sepagi ini kamu berendam air dingin, nona Daisy? Aku tadi mandi pakai shower saja bergegas selesai saking dinginnya. Bisa-bisanya kamu dengan santai berendam di bak yang dingin itu. Kamu memang seorang putri" ucap Clarissa sambil menutup pintu kamar mandi. Dia menggelengkan kepalanya.


**


Daisy membuka pintu kamar orangtuanya. Masih sama seperti dulu dan sangat terawat. Setiap hari pelayan membersihkan dan membuka jendela dan semua tirai agar udara dan sinar matahari bisa masuk.


Daisy duduk di meja rias milik Ibunya. Memandang pigura potret mereka berempat yang sedang tertawa bahagia. Dia memeluk pigura itu seraya menahan tangis dengan menghela nafas panjang.


"Aku sayang kalian. Aku merindukan kalian. Semoga kalian bahagia di sana" bisik Daisy.


Perlahan dia berjalan menuju balkon. Dari balkon kamar orangtuanya, dia bisa melihat pemandangan luas ke arah danau.


Tapi dia agak tercengang karena bukit seberang dekat danau sekarang sudah berubah menjadi perkebunan bunga. Daisy yakin itu bukan milik keluarga Benvollio. Karena wilayah perkebunan milik mereka hanya sampai batas danau kecil itu.


Tiba-tiba suara kuda meringkik. Daisy mencari sumber suara itu. Nampak seorang pria memakai jaket tebal sedang menunggang kudanya di atas bukit bunga itu. Dia menatap Daisy lalu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum hormat. Daisy dengan ragu membalas senyumnya seraya menganggukan kepala. Pria berkuda itu turun dari bukit dan menyusuri pinggiran danau. Sesekali dia menoleh kembali ke arah Daisy seraya tersenyum.


Kamudian pria itu kembali menyusuri jalan setapak diantara pohon-pohon bunga yang mulai berkembang.


Suara mobil masuk ke dalam gerbang. Clarissa. Dia turun seraya menenteng kameranya. "Aku tidak terlambat untuk sarapan kan?" ucap Clarissa kepada Daisy yang mematung di pagar balkon.


Daisy menggeleng. Clarissa mengangkat ibu jarinya.

__ADS_1


Daisy begegas menuju ruang makan.


"Hati-hati dengan pria berkuda itu" ucap Clarissa saat mereka duduk di kursi meja makan.


Daisy menoleh kaget. Bagaimana mungkin Clarissa tahu tentang lelaki berkuda itu.


Clarissa membetulkan kacamatanya. Jarang-jarang dia memakainya.


"Kacamata ini bisa berfungsi seperti teropong. Bisa ku ubah fungsinya sesuai kebutuhan" dia memperlihatkan semacam tombol pengatur di bagian frame kacamatanya.


"Aaaah itu sebabnya kamu bisa melihat orang berkuda di atas bukit tadi dengan jelas"Daisy mengangguk mengerti.


"Namanya David Ferguson. Keluarga bangsawan Ferguson yang baru saja pindah ke kota Amber setahun yang lalu" ucap Clarissa.


"Mereka membuka perkebunan bunga di wilayah utara kota Amber seluas sekitar sepuluh hektare. Selain itu mereka juga membangun water park di ujung utara kota Amber" lanjut Clarissa.


Daisy terkejut.


"Aku baru tahu jika ada water park di kota Amber" gumam Daisy.


"Jika sudah ada waktu senggang, kita bermain berkeliling kota Amber. Sudah ramai sekarang. Sekalian kita memgunjungi pusat perbelanjaan miliylk Kakek yang sudah dibangun di sana" Clarissa kembali membuat Daisy terkejut.


Mereka memang datang menggunakan helikopter dari kota Brown langsung ke vila milik Kakek. Jadi tidak melewati pusat kota.


Daisy juga tidak terlalu memperhatikan dari atas helikopter saat mereka tiba di atas kota Amber.


"Memang bekum banyak yang tahu mengenai pusat perbelanjaan ini. Kakek mempercayakan pengelolaannya kepada ayahku" Clarissa menyudahi pembicaraannya ketika dua orang pelayan wanita datang membawakan menu sarapan.


Clarissa memandang mangkuk yang berisi buah berwarna hijau dengan seksama. Dia belum pernah melihatnya.


"Ini buah Zaitun" ucap Daisy.


"Bukankah Zaitun hanya untuk membuat minyak?" Clarissa mengambil sebuah. Lalu diperhatikannya buah itu.


"Ini buah Zaitun muda. Rasanya enak. Cobalah" ucap Daisy.


"Jika buah Zaitun yang sudah tua, itulah yang dibuat untuk minyak" ucap Daisy lagi.


"Di halaman belakang rumah ini ada dua pohon Zaitun. Entahlah mungkin pohon Zaitun yang kami punya usianya sudah puluhan tahun. Karena menurut Nenekku, sejak beliau kecil pohon itu sudah ada"


"Konon pohon Zaitun bisa berumur hingga ribuan tahun" Daisy menggigit sebuah Zaitun dan mengunyahnya dengan nikmat.


"Coba kamu cari tahu tentang pohon Zaitun. Kamu kan seorang detektif" ucap Daisy membuat Clarissa tertawa.


"Aku detektif. Bukan ilmuwan atau peneliti tanaman, Adik cantik" Clarissa mencolek pipi Daisy.

__ADS_1


Daisy terkekeh. Dia sengaja menggoda Clarissa.


"Buah ini selalu ada di setiap sarapan sejak aku kecil. Ibuku selalu menyediakannya di meja makan. Bisa dicampur dalam salad juga. Sangat baik untuk kesehatan dan kecantikan" Ucap Daisy.


"Pantas saja kulitmu sangat halus dan cantik. Ternyata ini rahasianya" gumam Clarissa berseloroh.


Daisy kembali tertawa dibuatnya.


Mereka memulai sarapan berdua dalam keheningan. Setelah semua hidangan sudah tersaji di atas meja makan.


"Ingat kata-kataku tadi. Jangan terlalu dekat dengan pria berkuda tadi. Suatu saat dia pasti berusaha mengenalmu" Ucap Clarissa saat mereka selesai sarapan dan duduk di kursi taman seraya menunggu sopir dan Gabriella yang akan mengantar Daisy ke perkebunan.


"Apakah kamu bisa meramal juga?" tanya Daisy menggoda Clarissa sambil menatap perkebunan bunga di bukit seberang.


"Cara dia menatapmu seperti cara Maxi menatapmu pertama kali bertemu" sahut Clarissa.


"Apakah kamu mau disukai dan dicintai oleh pria lain selain Maxi?" tanya Clarissa.


Daisy menggeleng.


"Cukup Maxi saja, Clariss" gumam Daisy.


"Aku rasa setiap pria yang melihatmu pasti mengagumi kecantikanmu. Tapi tidak semua bisa kamu cintai kan? dan tidak semua bisa mencintaimu seperti Maxi"


"Jikapun ada, itu akan menyulitkanmu" ucap Clarissa


"Aah insting detektif ya. Kamu hebat Clariss"ucap Daisy.


Tidak lama mobil yang akan mengantar Daisy sudah tiba. Gabriella turun dari mobil dan mempersilakan Daisy naik ke dalam mobil.


"Apakah kamu mau ikut denganku berkeliling perkebunan?" tanya Daisy kepada Clarissa.


"Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu. Lagipula aku akan ke pusat kota dan bertemu ayahku dan Cedro disana" Sahut Clarissa.


"Cedro ada di sini?" tanya Daisy terkejut.


"Dia ambil kelas kuliah online sejak pertengahan tahun lalu. Jadi dia bisa sambil belajar bekerja bersama ayah mengelola pusat perbelanjaan di sini"


"Aku akan kembali ke sini sore nanti" ucap Clarissa.


"Hhmmh, baiklah. Sampaikan salamku untuk paman dan Cedro" Daisy memeluk Clarissa.


"Ingat ya pesan kakakmu yang keren ini. Hati-hati dengan pria itu" Clarissa melirikan matanya ke arah bukit di seberang mereka.


Daisy mengerjapkan matanya ke arah bukti seberang. Samar-samar terdengar ringkikan kuda yang keras. Sepertinya kudanya sedang merasakan kesakitan. Nampak pria berkuda tadi memacu kudanya agak cepat seraya memandang Daisy lalu menganggukkan kepalanya. Daisy membalas anggukannya. Pria itu semakin menjauh, namun suara kudanya masih terdengar jelas dan membuat Daisy khawatir akan keadaan kudanya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan berhati-hati. Terimakasih sudah mengingatkanku" bisik Daisy. Dia bisa menebak tatapan pria tadi. Dan dia merasa apa yang dikatakan Clarissa benar. Dia harus berhati-hati.


****


__ADS_2