
Maxi duduk di teras kamarnya di vila Edoardo. Matanya menatap ke arah bangunan kediaman Benvollio yang berada di bukit yang berhadapan dengan bukit tempat vila Edoardo berada. Daisy mungkin sedang berbincang dengan Clarissa mengenang masa-masa kecilnya. Maxi merasa tenang ada Clarissa datang menemani Daisy.
Tiba-tiba sebuah surat jatuh dari genggaman tangannya. Dia meraih kembali kertas berwarna putih keemasan itu dari lantai.
Tadi dia menerima surat itu dari staff yang datang bersama Clarissa dari kota Brown.
Kepada yang terhormat
Sir. Maxi Edward Hamilton
Putra dari Sir. Edward Hamilton.
Saya George Graham dengan segala hormat memberitahukan kepada tuan muda untuk menghadiri sidang penandatanganan pengalihan harta kekayaan dari tuan besar Sir. Edward Hamilton kepada tuan muda sebagai pewaris sah.
Mohon kehadiran tuan muda dikonfirmasikan kepada saya agar saya dapat mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan tuan muda.
Berikut saya lampirkan surat resmi dari pengadilan yang ditujukan kepada anda.
Semoga tuan muda senantiasa dalam kesehatan yang baik.
Hormat saya,
George Graham
Maxi membuka surat beramplop cokelat yang dikirmkan bersamaan dengan surat dari George. George adalah penasehat hukum mendiang ayahnya di inggris.
Maxi membaca surat dari pengadilan tersebut.
Sidang penandatanganan itu bulan depan di tanggal 15. Masih sekitar 20 hari dari sekarang.
Dia menghela nafas. Dia tahu ke depannya dia yang akan menjadi pemilik sah perkebunan anggur dan semua bisnis mendiang ayahnya. Dia senang karena akhirnya bisnis hasil kerja keras ayahnya tidak berhasil dirampas oleh sepupu ayahnya, paman Bryan yang sangat serakah.
Namun ke depannya dia tidak mau terlibat langsung dalam pengelolaannya. Dia bahkan berencana menjual semua itu dan menikmati kehidupannya di negara Lotus. Mendirikan perusahaan baru dan yayasan sosial untuk anak-anak yatim dan kurang mampu, meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh kedua orangtuanya.
__ADS_1
Dia hanya ingin hidup bahagia bersama Daisy dan anak-anak mereka kelak.
Maxi tadi sudah memberitahu ayah Luca melalui sambungan telepon. Ayah Luca akan memastikan kebenaran surat tersebut melalui penasehat hukum keluarga Edoardo. Ayah Luca menyarankan agar Maxi juga memberitahu kakek Edoardo mengenai surat itu. Saat selesai makan malam bersama tadi akhirnya Maxi menunnjukkan surat itu kepada Kakek. Tentu saja saat Daisy dan Clarissa sudah dia antar pulang.
Kebetulan tadi Kakek memanggilnya ke ruangan kerja membahas rapat besok bersama partner bisnis dari Inggris.
Maxi sudah mempersiapkan semua materi rapat untuk besok dan sudah dia tunjukkan kepada Kakek. Kakek sangat puas melihat persiapan Maxi.
"Selesaikan sampai tuntas urusan warisan orangtuamu. Pergilah ke South Wales. Kakek percaya kamu bisa atasi semua. Nanti ada pengawal yang menemanimu. Berbahaya jika pergi seorang diri" ucap Kakek tadi saat Maxi memperlihatkan surat dari pengadilan.
"Pakai jet pribadi saja. Jangan naik pesawat komersil. Terlalu berbahaya" kata Kakek lagi.
"Dalam dunia bisnis. Musuh selalu ada. Bahkan orang yang terlihat baikpun berpeluang jadi musuh kita"
"Apa yang kamu alami sekarang memang harus kamu hadapi dengan berani. Apalagi ini mengenai hak waris harta yang nilainya sangat banyak. Orangtuamu sudah jadi korban keserakahan mereka yang ingin merampasnya. Jangan biarkan dirimu menjadi korban berikutnya" Kakek melanjutkan perkataannya.
"Terimakasih banyak, Kakek" ucap Maxi dari hati yang paling dalam. Bagaimana dia tidak berterimakasih kepada kakek Edoardo. Kakek dan Nenek selalu memperlakukannya seperti cucu kandung mereka sejak dia dibawa ke kediaman Edoardo dua puluh tiga tahun yang lalu oleh ayah Luca dan Ibu Victoria. Saat dia masih bayi merah berusia tiga bulan.
Sepupu ayahnya dari nenek, paman Bryan sangat ingin memiliki semua harta ayahnya. Padahal jarta yang ayahnya miliki adalah warisan dari kakeknya. Jadi tidak ada hubungannya dengan paman Bryan. Setelah peristiwa kecelakaan mobil yang mengakibatkan ayahnya meninggal paman Bryan pernah membakar rumah tempat tinggal ibu dan Maxi. Juga sebagian kebun anggur setelah mengancam ibu untuk menadatangani surat pengalihan hak pengelolaan perkebunan. Lalu dia membuat skenario seolah itu adalah kecelakaan. Beruntung saat itu Maxi dan ibunya masih selamat. Maxi tahu semua itu dari cerita Ibu Victoria.
Tidak hanya paman Bryan, anak-anaknya pun turut membantu misi paman Bryan untuk berusaha merampas harta peninggalan ayah Maxi.
Namun kecelakaan mobil yang ditumpangi Ibu dan Maxi tidak dapat dihindari ketika ternyata remnya bermasalah mengakibatkan mobil menabrak tebing. Ibunya meninggal di tempat kejadian. Maxi yang masih bayi berusia tiga bulan selamat. Namun dia cidera di bagian kaki sebelah kanannya karena terkena pecahan kaca. Luka itu masih berbekas hingga sekarang. Karena lukanya cukup dalam waktu itu.
Ada saja upaya licik mereka untuk mengambil alih itu semua. Dengan cara berusaha melenyapkan Maxi. Itu kenapa Ibu Victoria dan ayah Luca membawanya ke negara Lotus. Karena paman Bryan dan keluarganya tidak bisa masuk ke negara Lotus. Nama mereka sudah masuk daftar hitam yang dilarang masuk ke negara Lotus berkat usaha Kakek Edoardo.
Saat usia Maxi dua puluh tahun, dia beberapa kali datang ke Inggris untuk memenuhi panggilan pengadilan terkait penelusuran hak waris. Setelah rangkaian pemeriksa sekarang semua sudah selesai. Waktunya pengesahan atas kepemilikan harta waris kedua orangtuanya.
Tentu saja dia tidak bisa datang sendiri kesana. Dia harus bersama pengawal. Seperti kata Kakek. Karena bisa jadi keluarga paman Bryan sudah mempersiapkan rencana jahat lagi untuk melenyapkannya.
Criing....sebuah pesan masuk di ponselnya. Clarissa.
Maxi, jika kamu hendak bepergian. Jangan beritahukan tanggal keberangkatanmu yang sebenarnya kepada orang yang mengirimimu surat tadi.
__ADS_1
Pesan baru masuk lagi.
Aku tidak mau kamu celaka. Karena itu akan membuat Daisy terluka dan hancur. Selalu bersikap hati-hati.
Maxi mengerutkan dahinya. Bagaimana mungkin Clarissa tahu mengenai rencana keberangkatannya ke Inggris. Surat tadi dia terima dalam keadaan masih tersegel rapi.
Darimana juga Clarissa bisa tahu siapa yang tadi mengiriminya surat.
Selama kamu pergi, aku akan menemani Daisy. Maka jagalah dirimu dengan baik hingga kembali lagi dalam keadaan selamat.
Bersikap seolah aku tidak pernah bicara seperti ini di depan Daisy.
Aku tahu siapa George Graham. Penasehat hukum ayahmu. Namun dia juga penasehat hukum sepupu ayahmu.
Maxi terkejut membaca pesan Clarissa. Bagaimana detektif cilik itu bisa tahu siapa George Graham.
Aku bukan detektif cilik lagi, Maxi. Aku memang seorang detektif.
Hah, mulai bergaya membaca pikiran. Maxi tersenyum sendiri.
Jangan mentertawakan aku kalau tidak mau kualat.
Maxi tertawa kali ini.
Clarissa memang berbakat jadi detektif sejak kecil. Dia pandai menganalisa segala sesuatu dan mencari barang bukti. Pandai menebak isi pikiran orang lain dan mampu menilai arti sikap dan bahasa tubuh seseorang.
Oke, Clarissa. Aku menurut padamu kali ini. Maxi membalas pesan Clarissa. Kalau tidak, bisa dikirim pesan lagi secara bertubi-tubi oleh gadis itu.
Dia menguap. Matanya sudah merasakan kantuk yang sangat. Sepertinya dia harus segera tidur.
Sebelum matanya tidak dapat menahan kantuk, dia mengirim pesan suara kepada Daisy.
"Selamat tidur, Daisyku. Semoga tidurmu nyenyak dan besok pagi kamu bangun dalam keadaan bugar. Aku juga tidur sekarang. Sudah sangat mengantuk. See you tomorrow" Maxi menekan tombol kirim. Tidak lama kemudian dia sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
***