
"Kamu dengar kan tadi? Kakek memberimu jabatan sebagai wakil paman Luca. Paman Luca memegang tiga perusahaan. Posisi Maxi kemarin adalah sebagai wakil paman Luca di perusahaan sirup. Banyaklah bertanya pada Maxi. Buang rasa bencimu kepadanya. Bagaimanapun dia lebih senior darimu." Yazid mendengarkan nasehat ibunya dengan sungguh-sungguh.
"Bukankah dia hanya anak angkat paman Luca?"tanya Yazid.
"Dan bukankah selama ini Ibu membenci Maxi?" lanjut Yazid.
"Ibu tidak membenci Maxi. Selama ini ibu hanya kurang akrab saja dengan bibi Victoria karena pernah ada kesalahpahaman di masa lalu. Dulu ibu pikir Maxi adalah anak hasil hubungannya dengan pria lain. Ibu berpikir bibi Victoria menghianati paman Luca."
"Ternyata ibu salah. Maxi adalah anak dari kakaknya bibi Victoria. Kedua orangtua Maxi meninggal saat Maxi masih bayi. Dan pihak dari keluarga ayahnya melepaskan hak asuh dan perwaliannya kepada bibi Victoria"
"Ibu juga sempat iri karena kakek dan nenek terlihat lebih sayang kepada Maxi daripada kepadamu"
"Ternyata dia memang pantas di sayangi. Dia baik dan penurut. Tidak pernah membuat kekacauan di rumah, tidak pernah membuat masalah di sekolah. Justru semasa sekolah dia punya banyak prestasi."Ibu menjelaskan. Mereka duduk di ruangan kerja ibu.
"Jadi...selama aku sekolah dan kuliah yang sering membuat masalah. Itu membuat ibu malu?"tanya Yazid. Dia masih ingat segala kenakalannya.
"Malu karena berarti ibu tidak bisa mendidik kamu dengan baik. Kamu anak Ibu. Ibu tetap sayang padamu. Ibu selalu berharap. Seiring bertambah dewasa, kamu semakin baik" Ibu menatap Yazid dengan senyum penuh harap.
Yazid terdiam. Selama ini dia jarang sekali berbincang dengan ibu. Dia selalu merasa ibu terlalu mengatur dan banyak menuntut. Seperti tadi pagi sebelum berangkat ke kantor. Ibu memaksanya untuk tetap ikut datang ke kantor. Sepanjang perjalanan, ibu juga sangat banyak berpesan. Nanti harus sopan, jangan pasang wajah cemberut atau marah, bersikap menyenangkan dan lain lain. Membuatnya ingin menghilang saja dari bumi.
"Pergilah ke ruangan kerja paman Luca. Tanyakan apa yang bisa kamu kerjakan di sana. Nanti jam lima sore kita pulang bersama. Ayah akan ke sini bersama Zayn. Kita nanti makan malam bersama di luar" ucap Ibu.
"Bagaimana dengan Cleo? dia tidak ikut makan bersama?"Yazid masih duduk dikursinya.
Ibunya menghela nafas berat.
"Dia masih dihukum atas perbuatannya kepada Daisy" jawab ibunya.
"Kenapa dia sangat jahat pada Daisy? setahuku Daisy anak yang baik, tidak pernah mengganggu siapapun. Bahkan dia tidak pernah membalas perbuatan Cleo selama ini"gumam Yazid.
"Aku rasa Ibu dan Ayah juga tahu kalau Cleo selalu berbuat tidak baik pada Daisy. Tapi kalian seolah menutup mata dan membiarkan Cleo terus berbuat seenaknya kepada Daisy" Yazid kali ini menatap ibunya yang serba salah dibuatnya.
"Mungkin Ayah dan Ibu terlalu memanjakan Cleo selama ini. Sampai dia tidak punya batas dan empati kepada orang lain. Bahkan saat dia berbuat tidak baik kepada Daisy sejak kecil. Ibu menganggapnya itu hanya kenakalan anak-anak yang akan hilang jika Cleo beranjak remaja" Ibu menghela nafas lagi.
"Justru semakin menjadi-jadi" Yazid nampak kesal.
"Kita bahas ini lain kali. Sekarang kamu segera ke kantor paman Luca. Belajarlah dengan cepat dan bekerja dengan cerdas" Ibu menunjuk pintu menyuruh Yazid lekas pergi.
"Baik, Bu. Aku ke kantor paman Luca sekarang" Yazid beranjak keluar ruangan kerja ibunya. Dia tahu ibunya sedang sangat sibuk dan tidak mau membahas tentang Cleo.
Kantor ibunya berada di gedung Luxury departement store, sedangkan kantor paman Luca berada di gedung utama. Seharusnya tadi dia langsung saja ke kantor paman Luca. karena hanya turun satu lantai dari ruang rapat tadi. Sekarang dia harus berjalan lumayan jauh lagi.
***
Daisy masih membaca sesuatu di depan laptopnya. Dia baru saja menerima kiriman data dari pak Thomas mengenai proyek PT. Fiorella Alessio di kota Amber.
Selama ini ternyata Edoardo group memiliki pabrik di sana. Pabrik tersebut masih atas nama PT. Edoardo Luxury Tea. Pengolahan daun teh menjadi teh siap seduh dalam kemasan kantung atau teh celup. Namun selama ini produksi sangat minim. Tidak pernah mengalami peningkatan produksi. Perusahaan berjalan hanya untuk tetap mempekerjakan para pegawai agar terus mendapatkan penghasilan.
Dengan didirikannya PT.Fiorella Alessio, maka pabrik milik PT. Edoardo Luxury Tea tersebut akan dibeli untuk lebih dikembangkan lagi dengan memproduksi minuman teh siap minum dan jus sari buah dalam kemasan. Karena kota Amber adalah satu dari beberapa daerah penghasil teh dan buah-buahan terbesar di negara Lotus.
Dari semua informasi, Daisy sudah faham arah bisnis ini kemana. Daisy mengerti maksud kakek.
Perusahaan milik ibunya, PT. Benvollio Farm yang sekarang dikelola oleh kuasa di bawah pengawasan kakek Edoardo selaku walinya, akan berpindah pengelolaannya kepada dirinya. Karena usianya kini sudah sah untuk menjalankan perusahaan menurut hukum negara Lotus.
Kelak kedua perusahaan ini bisa bekerjasama dengan sangat baik. Daisy meyakinkan diri sendiri. Dia sangat bersemangat.
__ADS_1
Benvollio Farm bisa menjadi pemasok bahan baku yang diperlukan oleh PT. Fiorella.
Sebuah e-mail baru masuk. Dari Pak Thomas. Jadwal kegiatan selama di kota Amber nanti. Rupanya semua sudah dipersiapkan dengan sangat rapi. Semua dijelaskan pak Thomas dengan sangat detail dalam e-mail tersebut. Mulai dari jadwal keberangkatan, rangkaian kegiatan per hari, tempat menginap dan jadwal kembali ke kota Brown.
Berangkat ke kota Amber menggunakan dua helikopter milik Kakek. Sehingga waktu perjalanan bisa lebih cepat dibandingkan jika melalui jalan darat.
Selama di sana,mereka akan tinggal di Edoardo Luxury Villa dan di Benvollio Mansion untuk Daisy.
Daisy baru mengetahui sekarang jika kakek memiliki villa di sana.
Daisy meneteskan air mata ketika membaca jadwal kegiatan di hari pertama. Berkunjung ke Ultima Casa. Yaitu taman pemakaman tempat ayah, ibu dan Marino beristirahat selamanya. Kerinduan yang selalu dipendam sekarang menjadi air mata yang menggenang di sudut matanya. Ternyata Kakek mengutamakan mengunjungi orang-orang tersayangnya. Kakek tahu betapa dia sangat merindukan mereka.
Telepon di mejanya berbunyi. Dari meja Gabriella.
"Nona, ada tuan Maxi ingin bertemu"
"Persilakan masuk, miss" jawab Daisy. Dengan cepat Daisy mengusap air mata di pelupuk matanya.
"Kamu menangis, Daisy?" tanya Maxi.
"Iya. Teringat Ayah, Ibu dan Marino" jawab Daisy.
"Pekan depan kita akan ke sana, mengunjungi mereka" Maxi duduk di kursi di seberang Daisy. Lalu meletakkan laptop yang dia bawa di atas meja Daisy. Kemudian melepaskan kancing jasnya. Dia duduk bersandar menatap Daisy.
Daisy mengangguk. kembali menghapus air mata yang masih tersisa di sudut matanya.
"Kamu tahu tidak? kamu sangat hebat. Anak seusia kamu seharusnya masih duduk di bangku sekolah. Tapi kamu sudah duduk di sini menjadi seorang CEO" ucap Maxi
"Ayah, Ibu dan Marino pasti bangga melihat kamu sekuat dan sehebat ini"
Memberikan senyum termanis yang dia punya.
Daisy mengangguk lalu menatap Maxi lekat.
"Kenapa kamu sekarang sering tersenyum dan wajah dinginmu hilang?" Tanya Daisy.
Maxi tertawa mendengar pertanyaan Daisy.
"Lihatlah, kamu bahkan tertawa. Kamu sangat manis jika tertawa" ucap Daisy jujur.
"Kamu lebih manis" Maxi balik membalas tatapan Daisy tanpa berkedip. Daisy tersipu.
"Kamu yang bisa membuatku seperti ini" gumam Maxi.
"Benarkah??" tanya Daisy. Maxi mengangguk.
"Maka, jika kamu sedih dan tak bahagia. Kemungkinan senyum di wajahku hilang lagi" gumam Maxi. Daisy tersenyum.
"Oh iya. Kenapa kamu ke sini?" tanya Daisy membuat Maxi ingat dengan tujuannya.
"Kalau kubilang aku merindukanmu, apakah kamu percaya?" tanya Maxi
"Percaya" jawab Daisy. Maxi tertawa. Daisy memang tipe gadis yang bicara apa adanya dan tidak rumit .
"Dan kamu bilang ke paman Luca bahwa kamu akan membahas mengenai pekerjaan kita di kota Amber kan?" lanjut Daisy.
__ADS_1
"Sudah tahu. Kenapa masih bertanya, nona Daisy?" Maxi tergelak di kursinya.
"Hanya ingin bertanya saja" jawab Daisy.
"Senang sekali. Bekerja dengan orang yang kita sayang setiap hari" Maxi bergumam. Dia membuka laptopnya. Membuka sebuah file.
"Ini rencana strategi pemasaran dan branding produk kita nanti. Aku minta pendapatmu, sebelum aku nanti presentasikan ke kakek. Aku baru membuatnya tadi" Maxi mengarahkan laptopnya kepada Daisy.
Daisy melihat slide demi slide dengan terpana. Sesekali dia menatap Maxi dengan kagum.
"Dalam waktu hanya satu jam, kamu sudah membuat sesuatu yang menakjubkan seperti ini?" tanya Daisy. Dia kembali melihat slide-slide itu.
"Itu belum sempurna. Aku baru membuat garis besarnya saja. Kalau menurutmu ini oke, aku akan teruskan. Setelah selesai, aku akan menunjukkannya hasil akhirnya lagi kepadamu"jawab Maxi.
"Aku sebenarnya sudah lama membuat draftnya. Sebelumnya aku pernah membuat seperti ini untuk perusahaan syrup yang dikelola ayah"
"Dan untuk perusahaan kita ini, aku hanya perlu tambahan sedikit ide untuk lebih berbeda. Sama-sama produk minuman, namun berbeda target pasarnya. Karena produk kita ini jangkauan pasarnya lebih luas. Minuman ini bisa dikonsumsi dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Namun target utamanya adalah kalangan remaja" Maxi menjelaskan.
Daisy menyimak dengan sangat antusias. Sesekali Daisy bertanya atau memberikan sedikit ide yang muncul di kepalanya. Hingga tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah tiga jam berdiskusi.
Sampai ketika pintu ruangan Daisy diketuk. Paman Luca muncul dengan tergesa. Dibelakangnya, nampak Gabriella.
"Tadi Direktur Luca menanyakan tuan Maxi. Saya jawab ada bersama nona. Beliau langsung masuk. Saya tidak sempat menelepon Nona"ucap Gabriela.
"Tidak apa-apa, Miss Gaby. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu" sahut Daisy menenangkan.
Paman Luca menatap kartu pegawai Gabriella.
"Miss..Gaby??" tanya paman Luca.
"Iya, paman. Kami sangat akrab. Aku memanggilnya miss Gaby" jawab Daisy. Paman Luca mengangguk seolah mengerti.
Gabriella segera keluar ruangan ketika Daisy memberi isyarat bahwa dia boleh pergi.
Paman Luca melihat laptop Maxi yang masih terbuka di atas meja Daisy.
"Wooww..sangat mengagumkan, Maxi" Paman Luca membuka setiap slide.
"Berjam-jam kamu di sini dan tidak mendengar panggilan ayah diponsel. Ada Yazid tadi ke ruangan ayah, ayah mau minta kamu siapkan serah terima pekerjaan kepada Yazid"
"Ternyata kalian membahas ini. Kalian sangat hebat" paman Luca menggeser slide berikutnya.
"Ayah pikir aku ke sini mau apa? aku tadi ijin kepada ayah hendak membahas pekerjaan dengan Daisy" gumam Maxi.
Paman Luca tertawa pelan. Dia menggeser slide berikutnya lagi, tidak menghiraukan Maxi.
"Ayah pikir hanya sebentar. Termyata sampai tiga jam. Ayah khawatir kamu bukan hanya membahas pekerjaan" gumam paman Luca sambil tertawa pelan. Matanya tetap fokus pada layar laptop.
Maxi dan Daisy tertawa mendengar ucapan paman Luca.
"Ayah, ini rahasia perusahaan PT. Fiorella Alessio. Tidak boleh dilihat oleh orang dari luar perusahaan" Maxi menatap ayahnya yang masih fokus memperhatikan layar laptop.
"Aku ayahmu, Maxi" sahut ayahnya tanpa menoleh.
Daisy tertawa pelan, begitu juga Maxi. Dia sengaja menggoda ayahnya. Dia yakin, ayah berpikir yang macam-macam. Karena mengetuk pintu langsung masuk. Tanpa menunggu Daisy menjawab. Hhmh, memangnya ayah pikir dia dan Daisy anak muda seperti apa. Ayah ini seperti baru kenal saja, pikir Maxi.
__ADS_1
***