NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA

NAMAKU DAISY - BUKAN BEBEK BURUK RUPA
7. Dia Sudah Menyukaimu Sejak Dulu


__ADS_3

Saat berjalan menuju rumah Fiore, Maxi menyusul Daisy. Mensejajari langkahnya.


"Daisy......" panggil Maxi. Dia sudah berjalan di samping Daisy.


"Butuh waktu sembilan tahun untuk bisa menyebut namaku, kakak Maxi?" ucap Daisy tanpa menoleh.


Maxi terkekeh. Gadis kecil di sebelahnya pasti sedang memasang wajah tidak suka. Dia bisa membayangkannya.


Lalu diliriknya gadis itu. Benar saja, wajahnya sedikit merengut kesal dengan bibir ditekuk. Tapi tetap saja lucu bagi Maxi.


"Kamu selalu lucu" gumamnya.


"Memangnya aku badut?" desis Daisy.


" Aah tentu saja bukan badut. Kamu adalah bebek kecil"ucap Maxi. Daisy menghentikan langkahnya.


"Namaku Daisy..."


"Fiorella Alessio" Maxi memotong ucapan Daisy.


"Kamu tadi sangat mengagumkan" ucap Maxi.


"Terimakasih" ucap Daisy seraya berbelok menuju rumahnya.


"Rumahmu ke arah sana, Kakaaak" Ucap Daisy saat Maxi terus berjalan di sampingnya.


"Aaah aku sampai lupa" Maxi nampak kecewa karena dia masih ingin di dekat Daisy.


"Padahal aku masih ingin berbicara denganmu" ucap Maxi .


"Ada yang ingin disampaikan kepadaku?" tanya Daisy.


"Banyak..cuma tidak sekarang. Lain kali saja kita berbicara lagi"Jawab Maxi.


"Baiklah, sampai jumpa" ucap Daisy. Daisy merasa heran. Kenapa Maxi sekarang berubah jadi baik dan ramah. Tapi kalau dia bersikap baik seperti itu, dia terlihat sedikit menyenangkan. Meskipun masih agak menyebalkan karena masih mengatainya bebek kecil. Pikir Daisy.


Daisy sudah sampai di pintu masuk rumahnya. Ia menoleh ke belakang. Maxi masih di tempat tadi. Daisy merasa ini seperti kejadian beberapa tahun lalu saat malam-malam dia dikurung Cleo di perpustakaan. Waktu itu, Maxi menunggunya sampai masuk ke dalam rumah.


Maxi melambaikan tangannya kepada Daisy. Daisy membalas lambaian tangannya. Karena di belakang Maxi ada Cleo yang sedang menatap Maxi dan dirinya dengan kesal.


Maxi tersenyum senang. Daisy juga. Karena dia bisa membuat Cleo kesal terbakar cemburu.


Sejak dia mendengar kejadian di perpustakaan waktu itu. Dia tahu bahwa Cleo menyukai Maxi. Selama ini Cleo selalu membencinya dan selalu mencari cara untuk membully nya. Bukan bermaksud balas dendam. Dia hanya sedikit saja mengerjai Cleo. Walaupun dia tahu, pasti Cleo semakin membencinya.


Daisy masuk ke kamarnya.


"Taraaaaaaaa......" Clarissa berteriak di balik pintu kamarnya. Membuat Daisy memasang kuda-kuda dengan sigap.


"Wooow..wooow...sabaar...ini aku Clarissa" Clarissa berteriak.


Daisy terkekeh. Lalu menurunkan kedua tangannya dari posisi kuda-kuda.


"Kamu mengagetkanku, Clariss" Daisy masuk ke kamarnya seraya meletakkan tas selempangnya di atas meja belajar.


"Dengan dandanan cantik seperti itu, bisa-bisanya dengan sigap memasang kuda-kuda" Clarissa bertepuk tangan.


"Hari ini ulang tahunmu, aku ingin memberikan kejutan. Malah aku yang terkejut" Clarissa mencubit pipi Daisy. Daisy meringis.


"Bagaimana bisa aku tidak tahu bahwa kamu sangat hebat bermain piano" gumam Clarissa.


"Jangan-jangan kamu punya keahlian lain yang semua orang tidak mengetahuinya?" Clarissa menatap Daisy sambil tersenyum dan mata seolah menyelidik.

__ADS_1


"Aah, aku hanya bisa sedikit saja bermain piano, Clariss" Daisy merendah.


"Kamu memang anak yang tidak sombong"Clarissa mencubit pipi Daisy lagi dengan gemas.


Daisy kembali meringis pelan.


"Kamu membawakanku kado?"seketika Daisy melompat senang melihat sebuah kotak persegi panjang terbungkus rapi dengan pita pink di atas tempat tidurnya.


"Lihatlah. Semoga kamu menyukainya" kata Clarissa penuh semangat.


Daisy membukanya. Sepasang flat shoes merk Manolo Blahnik berwarna abu-abu.


"Cantik sekali..."Daisy langsung memasangkan di kakinya dan berjalan di depan cermin.


"Aku tahu seleramu" Clarissa senang karena sepatu itu sangat pas di kaki Daisy yang jenjang dan putih bersih.


"Terimakasih, Kaka sayaaang.." Daisy merangkul Clarissa erat.


"Sama-sama, little sister" ucap Clarissa.


"Aku rasa Maxi menyukaimu sejak dulu" ucap Clarissa membuat perhatian Daisy teralihkan dari sepatu barunya.


"Maxi?" tanya Daisy dengan dahi berkerut.


Kenapa tiba-tiba membahas Maxi?, pikir Daisy.


"Iya Maxi. Kakak sepupu kita. Yang tadi di pesta selalu menatapmu nyaris tak berkedip" jawab Clarissa. Daisy terkekeh.


"Iyaa..aku tahu Maxi kakak sepupu kita. Tidak usah menjelaskan seperti itupun aku tahu" ucap Daisy.


"Maksudku, kenapa tiba-tiba membahas Maxi? tidak adakah bahasan lain yang lebih seru untuk dibicarakan di hari ulangtahunku ini?" tanya Daisy.


"Dari sekian banyak hal yang ada di dunia, kenapa memilih Maxi. Kenapa bukan tentang bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan sepatu Manolo blahnik ini?" tanya Daisy lagi.


"Kamu mengintaiku, Claris" desis Daisy.


"Tidak perlu mengintai. Semua orang bisa melihat kalian berjalan bersama tadi" bantah Clarissa dengan senyum meledek lagi.


"Dia yang mengejarku tadi. Kami hanya berbincang sedikit hal basa basi" Daisy masih memandangi sepatu barunya.


"Dia bisa berbasa basi?"tanya Clarissa bergumam.


"Aah iya hari ini dia sangat aneh. Tadi di pesta kebun, membawakanmu jus strawberry dan juga potongan buah"


"Tapi dia sejak dulu memang sudah menyukaimu. Aku pernah membaca tulisannya di buku hariannya sekitar dua tahun yang lalu. Aaah...ternyata anak laki-lakipun suka menulis diary" ucap Clarissa.


Daisy menoleh. Clarissa membaca buku harian Maxi?


"Saat itu liburan sekolah, aku pulang dari asrama. Ketika ke perpustakaan aku menemukan sebuah buku tergeletak di bawah meja. Ternyata buku harian milik Maxi. Bukan karena aku menyelinap. Aku tidak berani menyelinap ke kamar anak laki-laki. Apalagi kamar Maxi" Clarissa menjelaskan. Khawatir Daisy mengiranya menyelinap ke kamar Maxi.


Daisy tertawa. Clarissa memang bernasib dan berbakat jadi detektif sepertinya.


"Aku sempat memfoto semua tulisannya. Aku masih menyimpannya" Clarissa membuka ipadnya.


"Namanya Daisy Fiorella Alessio. Kedua adik perempuanku memanggilnya bebek buruk rupa. Tapi menurutku dia bebek cantik. Dia memang seperti bebek, lucu dan kalau berjalan selalu pelan" Clarissa membacakan tulisan dalam foto yang dia simpan.


Daisy menggelengkan kepalanya. Hhmmmm jadi dia benar-benar menyebutku bebek, gumam Daisy.


"Dia cantik. Kurasa bukan hanya aku yang menyadari bahwa dia cantik. Yazid dan Cedro juga tahu bahwa bebek kecil itu cantik. Dia pikir dengan memakai kacamata lebar dan rambut berponi dan kepang, dia akan terlihat jelek. Padahal itu membuatnya sangat menggemaskan dan sangat lucu"


"Aaah tidak..tidak mungkin aku suka padanya. bebek kecil itu hanya lucu. Lagipula tetap saja dia adalah adik sepupuku"

__ADS_1


"Aku selalu khawatir dia diganggu Marie, Joane dan Cleo. Jadi setiap ada acara keluarga, aku merasa harus selalu menjaganya meskipun dari jauh. Tidak rela rasanya jika dia diganggu dan disakiti"


Clarissa terdiam sejenak. "He is your guardian angel". ucapnya mengedipkan sebelah matanya kepada Daisy.


Daisy tersipu malu mendengarnya.


Padahal Clarissa sudah berulang kali membacanya. Tapi masih selau merasa lucu jika membaca tulisan-tulisan Maxi.


"Bebek kecil itu sangat pintar. Di usianya yang baru lima belas tahun, dia sudah kuliah. Buatku itu sangat keren."


Clarissa menghentikan bacaannya. Dia sangat setuju dengan Maxi. Adik sepupunya ini memang sangat keren.


"Bagaimana mungkin aku bisa akrab dengannya. Jika berada di dekatnya saja aku sudah merasa degdegan. Akhirnya bersikap pura-pura galak saja"


"Mungkin aku harus menunggunya dua tahun lagi. Saat usianya tujuh belas tahun. Saat ini dia masih anak-anak." Dia menghentikan bacaannya.


Clarissa menutup ipadnya.


"Kira-kira dia mau melakukan apa saat usiamu tujuh belas tahun?" Clarissa menatap Daisy.


"Mana aku tahu, Clariss" Daisy mengangkat kedua bahunya.


"Aku rasa dia memang jatuh cinta padamu sejak dulu. Coba kamu pikir. Dia tampan dan usianya sudah dua puluh tiga tahun. Tapi sampai saat ini dia belum pernah dekat dengan seorang gadis" Clarissa duduk di samping Daisy.


"Dia sendiri menulis bahwa dia tidak mungkin suka padaku. Lagipula kita semua bersaudara sepupu. Mana bolehlah punya perasaan seperti itu" ucap Daisy.


"Tapi ternyata dia selalu menjagamu dari gangguan Marie, Joane dan Cleo. Artinya dia menyayangimu"


"Dia berani membiarkan dirinya menyukaimu, karena dia bukan anak kandung paman Luca. Maxi adalah anak dari kakak perempuan bibi Victoria di Inggris yang sudah meninggal, begitupun ayahnya Maxi sudah meninggal. Ku dengar ayahnya Maxi sangat kaya di sana. Maxi dibawa dan diasuh bibi Victoria karena keluarga jauh dari pihak ayahnya tidak berhak atas hak asuhnya. Mereka dinyatakan tidak memenuhi persyaratan untuk mengurus Maxi" Clarissa berhenti bercerita. Daisy memandangnya takjub.


"Aku tahu darimana???" Tanya Clarissa sudah menebak pertanyaan yang akan Daisy lontarkan.


Daisy mengangguk.


"Aku pernah melihat sebuah surat yang dikirim dari Inggris. Tapi salah kirim ke rumahku. Tentu saja aku tidak membukanya. Aku memasukannya ke dalam kotak surat rumah mereka. Ditujukan untuk sir. Maxi Edward Hamilton, putra dari Sir Edward Hamilton. Biasanya orang yang memakai gelar sir, itu adalah bangsawan. Seperti keluarga kita. Di depan nama selalu disematkan gelar itu. Lalu aku coba mencari tahu tentang siapa sebenarnya Sir Edward Hamilton ini"


"Ternyata mendiang ayahnya Maxi adalah seorang bangsawan kaya di Inggris. Dia adalah pemilik salahsatu perkebunan anggur terluas disana, turun temurun dari kakeknya. Ayahnya anak tunggal. Sangat aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Menyumbangkan sebagian laba usahanya untuk kepentingan sosial. Ayahnya meninggal dalam kecelakaan mobil. Tidak lama ibunya menyusul meninggal karena kecelakaan juga"


"Jadi sebenarnya dia anak yatim piatu. Sama seperti aku" gumam Daisy.


"Dia tahu siapa dia sebenarnya. Itulah kenapa dia berani mendekatimu. Karena Kakek dan Nenek pun tidak akan melarangnya" ucap Clarissa.


"Kamu memang lebih cocok jadi detektif, Clariss." Daisy merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


"Apakah ada yang tahu soal ini selain kamu?" tanya Daisy.


"Sepertinya Cedro dan Cleo tahu. Tapi hanya sekedar tahu bahwa Maxi bukan anak kandung paman Luca dan Bibi Victoria. Mereka tidak tahu siapa Maxi yang sebenarnya. Tidak tahu tentang latar belakang Maxi" jawab Clarissa.


"Jadi bersiap-siaplah menghadapi Cleo...hehehehe" Clarissa tertawa.


"Dia sangat menyukai Maxi sejak dulu" lanjut Clarissa.


"Aku bukan saingannya. Aku tidak tertarik dengan Maxi" ucap Daisy sambil meletakkan sepatu barunya di rak sepatu di dalam ruangan wadrobenya.


"Hhhmmmhh..kita lihat saja nanti. Kalian akan sering bertemu di perusahaan. Cinta akan datang karena terbiasa." Clarissa terkekeh.


Daisy hanya tertawa mendengar celoteh Clarissa.


Aaah...Lagi-lagi dia sudah mengetahui hal yang masih rahasia. Daisy bahkan belum memberitahu siapapun kalau dia akan ikut membantu kakek di perusahaan.


Sepertinya Clarissa memiliki jaringan khusus di lingkungan keluarga Edoardo. Karena dia selalu tahu hal-hal yang masih rahasia di keluarga ini.

__ADS_1


Memang dasar Nona detektif, gumam Daisy seraya melirik kakak sepupunya itu.


__ADS_2